Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pagi itu, mentari baru saja mengintip di ufuk timur, menyinari kaca-kaca gedung pencakar langit Jakarta. Namun, di dalam apartemennya, Hana sudah bergerak lebih cepat dari cahaya.
Ia tidak ingin mengulang kesalahan kemarin. Kejadian semalam - bentakan Arlan, pelukan paksa, dan tatapan penuh obsesi itu - sudah cukup menjadi peringatan.
Hana mematikan kompor. Tidak ada nasi goreng, tidak ada aroma kopi yang sengaja ia siapkan untuk menyambut tamu paginya.
Dengan gerakan taktis, ia menyambar tas kerjanya dan melangkah ke arah panel pintu digital di samping pintu masuk.
Jemarinya menari lincah di atas layar sentuh, mengganti kombinasi angka yang selama ini Arlan ketahui dengan mudah.
Beep ... Beep ... Beep ...
Sandi diganti. Akses Arlan resmi terputus.
Hana menarik napas panjang, mengunci pintu, dan melangkah menuju lift. Ia harus sampai di kantor Adrian sebelum pukul tujuh. Ia butuh ketenangan sebelum badai yang sesungguhnya datang pukul sembilan nanti.
Tepat pukul 08.00 WIB, koridor apartemen lantai 12 itu bergema oleh langkah kaki yang mantap dan siulan ringan. Arlan Mahendra datang dengan setelan abu-abu gelap yang rapi.
Ia membawa sebuah kantung kertas berisi roti artisan mahal, berniat melakukan rekonsiliasi setelah kemarahannya semalam.
Baginya, Hana hanyalah wanita yang sedang merajuk, dan seperti biasa, ia merasa bisa menjinakkan peliharaannya itu.
"Pagi, Sayang..." gumam Arlan penuh percaya diri saat berdiri di depan unit 1205.
Ia menekan deretan angka sandi yang sudah ia hafal di luar kepala. Namun, bukannya suara klik mekanis yang merdu, ia justru disambut oleh suara dengung peringatan yang tajam.
Tettt !!!
Arlan mengerutkan kening. "Salah pencet?"
Ia mencoba lagi. Lebih lambat. Lebih teliti.
Tettt !!!
Wajah Arlan yang semula cerah seketika berubah mendung. Darahnya mulai mendidih. Ia mencoba untuk ketiga kalinya dengan emosi yang mulai meluap, namun hasilnya tetap sama.
Sandi itu telah diganti. Hana telah mengunci pintunya, secara harfiah dan kiasan.
"Hana! Buka pintunya!" Arlan menggedor pintu kayu jati itu dengan keras. "Hana! Jangan kekanak-kanakan! Buka!"
Hening. Tidak ada sahutan dari dalam.
Arlan merogoh ponselnya, menekan nomor Hana dengan kasar. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan ..."
"Sialan!" Arlan memukul dinding di samping pintu.
Napasnya memburu. Ia merasa otoritasnya sebagai suami baru saja diinjak-injak. Dengan langkah lebar dan wajah merah padam, ia berbalik menuju lift.
Roti mahal di tangannya ia buang ke tempat sampah di sudut koridor. Ia melajukan mobilnya menuju Mahendra Group dengan kecepatan tinggi, memaki setiap kendaraan yang menghalangi jalannya.
Ia ingin meluapkan amarahnya pada pekerjaan, tanpa tahu bahwa pekerjaan justru akan membawanya kembali ke hadapan wanita yang baru saja menguncinya di luar.
Sementara itu, di lantai eksekutif Gavriel Corp, Hana sudah duduk di ruangannya sejak pukul 07.15 WIB. Di hadapannya, Adrian berdiri sambil menyesap espreso pahit, menatap Hana dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau datang sangat pagi. Menghindari seseorang?" tanya Adrian pelan.
Hana mendongak dari tumpukan berkasnya. "Aku hanya ingin fokus. Rapat jam sembilan nanti adalah penentu kelangsungan proyek integrasi vendor. Aku tidak ingin ada distraksi."
Adrian meletakkan cangkirnya, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di pinggir meja Hana, memperkecil jarak di antara mereka.
"Arlan akan ada di sana, Hana. Kau siap?"
Hana tertegun. "Arlan? Bukankah asistennya, Dani, yang mengonfirmasi kehadiran? Mahendra Group mengirim tim teknis, bukan CEO-nya."
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan muslihat. "Aku sengaja meminta sekretarisku untuk mengubah lokasi rapat ke Restoran The Peak. Aku juga memastikan bahwa agenda hari ini terlihat seperti pertemuan antar pemilik modal. Dan mengingat Arlan sedang panik karena beberapa vendornya mulai goyah, dia pasti akan datang sendiri untuk menyelamatkan mukanya."
Hana menatap Adrian dengan takjub sekaligus ngeri. Pria ini mengatur segalanya seperti papan catur. "Kau ingin kami bertemu dalam situasi profesional?"
"Aku ingin kau melihatnya hancur dalam situasi profesional, Hana," bisik Adrian. "Aku ingin dia sadar bahwa di meja perundingan, kau bukan lagi istrinya yang penurut, melainkan lawan yang bisa melenyapkan kerajaannya."
~~
Pukul 09.00 WIB. Ruang VIP Restoran The Peak tampak sangat elegan dengan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
Arlan tiba lebih dulu bersama Dani, asistennya. Ia tampak gelisah, sesekali membenarkan letak dasinya.
Ia datang karena Dani melaporkan bahwa ada investor misterius dari Gavriel Corp yang ingin membahas soal pengambilalihan jalur distribusi vendor utamanya.
"Siapa sebenarnya yang kita temui, Dani?" tanya Arlan tajam.
"Hanya disebut perwakilan eksekutif dari pihak Gavriel, Pak. Mereka sangat tertutup," jawab Dani gugup.
Pintu geser ruangan itu terbuka. Arlan berdiri secara formal untuk menyambut tamunya. Namun, detik berikutnya, tubuhnya membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat siapa yang melangkah masuk.
Hana Ayunindya.
Hana tampak luar biasa memukau dengan setelan power suit berwarna putih tulang. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan leher jenjangnya yang kini bersih tanpa tanda apapun, berkat pulasan concealer yang sempurna.
Di belakangnya, Adrian Gavriel melangkah dengan angkuh, tangannya secara posesif berada di pinggang Hana saat mereka mendekati meja.
"Selamat pagi, Pak Arlan," sapa Hana dengan suara yang begitu tenang, begitu profesional, seolah ciuman dan pertengkaran kemarin tidak pernah terjadi.
Arlan terpaku, mulutnya sedikit terbuka. "Hana? Kau... apa yang kau lakukan di sini?"
Adrian menarikkan kursi untuk Hana, lalu duduk di sampingnya. "Hana adalah Manajer Strategis yang memegang kendali penuh atas akuisisi vendor Mahendra Group, Pak Arlan. Aku pikir kau sudah tahu betapa kompetennya istrimu ini di dunia bisnis."
Wajah Arlan berubah dari pucat menjadi merah padam. Ia menatap asistennya dengan pandangan membunuh, lalu kembali menatap Hana.
Ia merasa dijebak. Ia merasa dipermalukan di depan asistennya sendiri.
"Ini lelucon macam apa?" desis Arlan, suaranya bergetar karena emosi. "Hana, pulang sekarang. Kita bicara di rumah!"
"Maaf, Pak Arlan," sahut Hana sambil membuka tabletnya dan menampilkan grafik penurunan performa Mahendra Group. "Di ruangan ini, saya adalah representasi dari Gavriel Corp. Kita di sini untuk membicarakan bisnis, bukan urusan rumah tangga yang ..."
"Hana!" Arlan menggebrak meja.
Adrian bersandar di kursinya, menatap Arlan dengan pandangan merendahkan. "Tenanglah, Arlan. Jangan biarkan emosimu merusak sisa-sisa sahammu yang berharga. Hana telah menyiapkan proposal. Jika kau setuju, Gavriel Corp akan menyuntikkan dana. Jika tidak... yah, kau tahu sendiri vendor-vendormu sudah mengantre untuk memutuskan kontrak pagi ini."
Sepanjang rapat, Arlan tidak bisa fokus. Setiap kali Hana menjelaskan angka, Arlan hanya bisa menatap bibir Hana.
Bibir yang pernah ia cium, namun kini mengeluarkan kalimat-kalimat yang mencekik leher perusahaannya.
Ia merasa Hana sengaja melakukannya. Ia merasa Hana sedang membalas dendam dengan cara yang paling elegan.
Lebih menyakitkan lagi adalah melihat bagaimana Adrian sesekali berbisik di telinga Hana, atau bagaimana tangan Adrian menyentuh bahu Hana untuk memberikan dukungan.
Arlan merasa seolah-olah ia adalah orang asing yang sedang menonton kemesraan istrinya dengan pria lain di depan matanya sendiri.
"Jadi, bagaimana Pak Arlan?" tanya Hana, menutup presentasinya dengan senyum tipis yang mematikan. "Apakah Anda akan menandatangani nota kesepahaman ini?"
Arlan menatap dokumen di depannya, lalu menatap Hana. Di mata Hana, ia tidak lagi melihat cinta atau pengabdian. Ia melihat tebing tinggi yang dingin dan tak terjangkau.
"Kau benar-benar berubah, Hana," bisik Arlan lirih.
"Aku tidak berubah, Mas," sahut Hana, beralih menggunakan panggilan 'Mas' hanya untuk menyindir. "Aku hanya baru menyadari bahwa selama ini aku memberikan mutiara pada seseorang yang lebih suka bermain di lumpur."
Rapat itu berakhir dengan Arlan yang terpaksa menandatangani dokumen yang merugikannya, hanya demi menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan instan.
Saat mereka berdiri untuk meninggalkan ruangan, Arlan mencoba meraih tangan Hana.
"Han, sandi apartemen..."
Hana menarik tangannya dengan anggun. "Sandi itu diganti karena penghuninya butuh keamanan dari gangguan luar, Mas. Dan mulai sekarang, urusan kita hanya sebatas apa yang tertulis di kertas tadi."
Hana melangkah pergi bersama Adrian, meninggalkan Arlan yang berdiri gemetar menahan malu dan amarah di tengah restoran mewah itu.
...----------------...
Next Episode ....
ya terimasaja jd keset laki lu sm maura trus jd pengasuh sekalian.
ingat jng minta cerai lagi ngisin ngisini wedok an labil.