🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 | Pertemuan Tiga Bunga
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Tangan ku gemetar pelan saat aku merapikan tumpukan map kulit di atas meja jati di kantor pusat Samantha Holdings. Di luar jendela, langit Shanghai berwarna ungu gelap, dihiasi lampu-lampu kota yang tampak seperti taburan berlian. Namun, perhatian ku sepenuhnya tersita oleh jadwal yang baru saja ku susun.
"Malam ini bukan sekadar acara amal," gumam ku sambil menelan ludah. "Ini adalah arena gladiator. Dan aku... aku adalah orang yang membukakan pintu singa nya."
Aku melihat ke arah cermin kecil di sudut ruangan. Seragam sekretaris ku setelan rok pensil hitam dan kemeja sutra putih tampak sempurna, namun mata ku menunjukkan kelelahan yang dalam. Bukan lelah fisik, melainkan lelah mental karena harus menyeimbangkan ego para wanita luar biasa yang mengelilingi Tuan Satya.
Sebagai orang yang diselamatkan oleh nya dari jalanan yang dingin, aku merasa memiliki kewajiban untuk menjaga stabilitas hidup nya. Namun, bagaimana bisa aku menjaga stabilitas jika malam ini, di perjamuan amal Blue Dragon, tiga wanita paling berpengaruh di Shanghai duduk di meja yang sama?
"Lin Xia, apakah semua-nya sudah siap?"
Suara bariton itu membuat ku tersentak. Tuan Satya berdiri di pintu, mengenakan tuksedo hitam pekat dengan aksen perak di kerah nya. Penampilan nya sangat megah, memancarkan aura otoritas yang membuat ruangan terasa lebih sempit. Mata nya yang merah-emas tampak redup namun tajam, seolah dia sudah tahu badai apa yang menanti nya.
"Sudah, Tuan," jawab ku sambil membungkuk. "Meja nomor satu. Anda akan duduk bersama Nona Wang Meiling, Nona Zhao Wei, dan... Detektif Chen dari Kepolisian Pusat."
Tuan Satya menaikkan sebelah alis-nya, lalu sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di bibir nya. "Kau... Kenapa memasukkan polisi ke meja makan malam konglomerat dan artis? Kamu berani sekali, Xia."
"Detektif Chen memaksa, Tuan. Dia bilang ini bagian dari pengawasan rutin terhadap donatur besar," jawab ku jujur, meskipun aku tahu alasan sebenarnya jauh lebih pribadi.
"Menarik," gumam Satya. Dia melangkah mendekat, jari nya menyentuh dagu ku sebentar, sebuah gerakan yang selalu membuat jantung ku seolah berhenti berdetak. "Jangan khawatir, Xia. Kekacauan adalah tempat di mana aku paling merasa hidup. Mari kita berangkat."
Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton di dekorasi dengan kemewahan yang hampir menyakitkan mata. Aroma bunga lili putih dan parfum mahal memenuhi udara. Saat kami memasuki ruangan, kebisingan obrolan para tamu mendadak melandai. Semua mata tertuju pada Tuan Satya.
Aku berjalan dua langkah di belakang-nya, memegang daftar dokumen yang berisi detail sumbangan malam ini. Namun, fokus ku tertuju pada meja bundar di tengah ruangan.
Di sana, mereka sudah menunggu.
Wang Meiling duduk dengan punggung tegak, mengenakan gaun cheongsam merah marun yang memamerkan lekuk tubuh nya yang sempurna. Di atas kepala nya, aku melihat aura emas yang tajam, aura seorang ratu yang sedang menandai wilayah nya.
Di samping nya, Zhao Wei tampak memukau dengan gaun malam sutra putih tanpa lengan. Dia tersenyum pada para fotografer, namun mata nya terus melirik ke arah pintu masuk. Aura nya berwarna perak berkilauan, penuh dengan pesona bintang yang haus akan perhatian.
Dan yang paling mengejutkan, Detektif Chen. Dia tidak lagi mengenakan jaket kulit nya. Malam ini dia mengenakan gaun hitam sederhana namun sangat pas di tubuh nya yang atletis. Rambut nya yang biasa nya di kuncir kuda kini terurai, tampak memberikan kesan feminin yang berbahaya. Aura nya terlihat berwarna biru baja dingin, waspada, namun ada retakan emosional di dalam nya.
"Selamat malam, Nona-nona," suara Tuan Satya memecah keheningan yang tegang saat kami tiba di meja.
"Kau terlambat lima menit, Satya," Meiling berkata sambil menyesap sampanye nya. Dia menatap ku sekilas dengan tatapan meremehkan. "Sekretaris mu sepertinya butuh pelatihan manajemen waktu lebih lanjut."
"Waktu saya adalah milik Tuan Satya, Nona Wang," jawab ku dengan nada datar yang sopan, meski hati ku mendidih.
"Oh, jangan salahkan sekretaris cantik ini, Meiling," Zhao Wei menimpali dengan suara yang merdu namun mengandung racun. "Satya adalah pria sibuk. Lagipula, pria sehebat dia memang pantas untuk dinanti. Benar kan, Tuan Satya?"
Zhao Wei mengulurkan tangan nya, membiarkan jemari nya menyentuh lengan tuksedo Satya dengan gerakan yang tampak natural namun sangat provokatif.
"Tentu saja," jawab Satya tenang sambil duduk di kursi utama, tepat di antara Meiling dan Zhao Wei. Aku berdiri di belakang nya, seperti bayangan yang merekam setiap detail konfrontasi ini.
Detektif Chen, yang sejak tadi hanya diam sambil mengamati, akhirnya bicara. "Saya tidak menyangka pertemuan rutin kepolisian akan dilakukan di meja makan yang harga nya setara dengan anggaran bensin satu batalyon patroli."
Satya menoleh pada Chen. "Keamanan adalah investasi, Detektif. Dan investasi terbaik biasa nya dilakukan sambil menikmati hidangan penutup yang manis."
"Manis?" Chen mendengus kecil. "Saya melihat lebih banyak duri daripada gula di meja ini."
Makanan mulai disajikan, namun tidak ada yang benar-benar makan. Dialog di meja itu terasa seperti denting pedang yang beradu.
"Satya, aku sudah memesan villa di Swiss untuk liburan musim dingin kita," Meiling berkata dengan suara yang cukup keras agar didengar oleh kedua wanita lain nya. "Hanya kita berdua. Aku butuh privasi mu untuk membahas ekspansi Samantha Holdings di Eropa."
"Eropa terdengar membosankan," Zhao Wei menyela sambil memainkan garpu perak nya. "Satya, aku akan syuting film baru di Maladewa bulan depan. Sutradara nya meminta ku membawa konsultan khusus untuk riset karakter pengusaha sukses. Aku rasa tidak ada yang lebih baik dari mu."
"Konsultan?" Meiling tertawa sinis. "Kau ingin membawa Direktur Strategi ku untuk menjadi asisten di lokasi syuting? Kau terlalu banyak berakting, Zhao Wei."
"Lebih baik berakting daripada menjadi robot korporat yang dingin, Meiling," balas Zhao Wei tajam.
Aku melihat Detektif Chen hanya memperhatikan interaksi itu dengan senyum miring. "Kalian berdua tampak sangat sibuk menjadwalkan hidup pria ini. Apakah kalian tidak berpikir bahwa Tuan Satya mungkin punya rencana lain? Seperti, misal nya, memberikan kesaksian resmi di kantor saya besok pagi?"
"Detektif, apakah kau sedang mengajak ku berkencan di ruang interogasi?" tanya Satya dengan nada menggoda.
Pipi Chen tampak sedikit memerah, namun dia tetap dapat mempertahankan wajah datar nya. "Itu tergantung apakah kau akan berbohong atau mengatakan yang sebenarnya, Satya."
"Luar biasa," gumam ku. "Tuan Satya dikepung oleh tiga predator paling berbahaya di Shanghai, dan dia justru tampak seperti sedang menikmati pertunjukan komedi."
Teknik Tuan Satya sangat luar biasa. Dia tidak memihak. Saat Meiling bicara, dia memberikan perhatian penuh dengan tatapan yang dalam. Saat Zhao Wei merayu, dia membalas dengan senyuman tipis yang membuat sang artis tersipu. Dan saat Chen menekan nya, dia menjawab dengan logika yang tak tergoyahkan namun tetap misterius.
Tiba-tiba, panitia acara mengumumkan sesi lelang amal. Sebuah kalung permata langka The Eye of the Dragon dipajang di panggung.
"Aku menginginkan kalung itu," bisik Meiling. "Satya, beli itu untuk ku sebagai simbol kemitraan kita."
"Aku rasa kalung itu lebih cocok dengan gaun malam ku," sahut Zhao Wei dengan nada menantang.
Satya tidak melihat ke arah kalung itu. Dia menatap ku. "Lin Xia, berapa anggaran sumbangan kita malam ini?"
"Sepuluh juta dollar, Tuan," jawab ku cepat.
Satya mengambil palu lelang di meja nya. Saat harga-nya mencapai angka tujuh juta dollar, dia langsung menekan tombol.
"Sepuluh juta dollar!" teriak juru lelang dengan histeris. "Tuan Satya Samantha memenangkan lelang ini!"
Seluruh ruangan berdiri dan bertepuk tangan. Meiling dan Zhao Wei menatap Satya dengan penuh harap. Siapa yang akan mendapatkan kalung itu? Siapa yang akan dia pilih di depan publik?
Satya berdiri. Dia mengambil kotak beludru berisi kalung itu dari petugas. Namun, dia tidak memberikan nya pada Meiling, dan tidak juga pada Zhao Wei.
Dia berjalan ke arah Detektif Chen.
Ruangan mendadak sunyi. Meiling mengepalkan tangan nya di bawah meja, sementara Zhao Wei menggigit bibir bawah nya karena kecewa.
"Detektif Chen," Satya berbicara dengan nada yang sangat formal namun mengandung kehangatan yang aneh. "Polisi seringkali bekerja dalam bayang-bayang untuk melindungi cahaya kota ini. Anggaplah ini sebagai bentuk apresiasi warga sipil terhadap integritas mu. Gunakan kalung ini untuk dana pensiun janda-janda polisi yang gugur dalam tugas."
Chen tertegun. Dia tidak menyangka Satya akan melakukan langkah diplomasi seperti itu. Dia menerima kotak itu dengan tangan yang sedikit bergetar. "Ini... ini terlalu banyak, Satya."
"Keadilan tidak pernah terlalu mahal, Chen," jawab Satya.
Langkah ini adalah pukulan telak yang brilian. Dengan memberikan kalung itu pada Chen untuk tujuan amal, Satya tidak menyinggung Meiling atau Zhao Wei secara pribadi, namun dia berhasil menunjukkan otoritas-nya dan membuat Detektif Chen semakin merasa berhutang secara emosional pada-nya.
Setelah acara berakhir, aku mendampingi Tuan Satya menuju limusin. Meiling, Zhao Wei, dan Chen berdiri di lobi, menatap keberangkatan kami dengan tatapan yang sama: obsesi.
Di dalam mobil, Tuan Satya bersandar di kursi kulit nya, mata nya terpejam. Dia tampak sangat lelah.
"Apakah saya melakukan kesalahan dengan pengaturan meja nya, Tuan?" tanya ku pelan.
Satya membuka mata nya. Pupil merah-emas nya berkilat di kegelapan kabin mobil. "Tidak, Xia. Kau melakukan nya dengan sempurna. Wanita-wanita itu... mereka adalah kekuatan yang besar. Dan cara terbaik untuk mengendalikan kekuatan adalah dengan membiarkan mereka bersaing untuk mendapatkan perhatian mu."
Dia menarik tangan ku, membuat ku duduk di samping nya. "Kau tahu kenapa aku tidak memberikan kalung itu pada mereka?"
"Karena Anda tidak ingin memicu perang?" tebak ku.
"Bukan," jawab nya sambil membelai rambut ku. "Karena aku ingin mereka tahu bahwa aku bukan milik siapa-siapa. Aku lah yang memiliki mereka. Meiling memiliki uang, Zhao Wei memiliki panggung, dan Chen memiliki hukum. Tapi malam ini, aku membuktikan bahwa aku lah yang memegang tali kekang dari ketiga nya."
Aku menatap wajah nya. Pria ini bukan lagi Satya yang malang dari Jakarta. Dia adalah monster karismatik yang sedang menelan Shanghai bulat-bulat. Dan yang paling menakutkan adalah... aku menyukai setiap detik nya.
"Mereka mungkin wanita-wanita hebat," gumam ku dalam hati sambil menyandarkan kepala ku di bahu nya. "Tapi aku lah yang menyiapkan jadwal nya. Aku lah yang menyiapkan pakaian nya. Dan akulah yang selalu ada di samping nya saat lampu-lampu pesta itu padam. Biarkan mereka berebut perhatian nya di meja makan, karena aku memiliki nya di setiap helai nafas hari-hari nya."
Mobil meluncur menembus kabut malam Shanghai. Di kejauhan, aku bisa melihat Menara Jin Mao berdiri angkuh, persis seperti pria yang ada di samping ku saat ini.
...----------------🍁----------------🍁----------------...