Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan yang Menyesakkan
Debu beterbangan di atas panggung kayu Desa Karangwangi, menciptakan tirai tipis yang memisahkan Subosito dengan Mahesa.
Suhu udara di sekitar Subosito terus naik, sebuah anomali yang hanya disadari oleh mereka yang berada dalam jarak terjangkau dengan dirinya.
Panggung kayu di bawah telapak kaki telanjang Subosito mulai mengeluarkan suara derit yang aneh, seolah serat-serat kayu itu tengah ditekan oleh hawa panas yang merembes dari pori-pori kulitnya.
Mahesa—sang lawan, berdiri dengan kuda-kuda yang tak tergoyahkan. Mata yang tajam tidak lagi menatap wajah Subosito, melainkan mengirimkan uap tipis yang mulai keluar dari bahu pemuda itu.
"Kau bertahan dengan sangat baik, Anak Muda," bisik Mahesa, suaranya hampir tenggelam oleh sorak-sorai penonton yang haus akan darah. "Tapi dalam bela diri, menahan diri adalah beban yang akan mematahkan tulangmu sendiri. Berhenti, atau kau akan hancur!"
Mahesa menerjang kembali, kali ini serangannya jauh lebih agresif. Pria itu meluncurkan serangkaian pukulan telapak tangan yang mengarah pada titik-titik vital di dada Subosito.
Setiap sentuhan Mahesa terasa seperti hantaman palu godam yang dingin, sangat kontras dengan lava yang sedang bergejolak di dalam nadi Subosito.
"Jangan, jangan sekarang!" batin Subosito merintih.
Di dalam kepalanya, suara pekikan Garuda Paksi semakin melengking. Punggungnya terasa seperti ditempeli pelat besi yang baru diangkat dari tungku pembakaran.
Subosito tahu, jika dirinya melepaskan satu pukulan saja dengan emosi yang meledak, Mahesa tidak hanya akan terlempar, tapi akan hangus menjadi abu seperti Suro Digdoyo di Padepokan Gagak Hitam.
Subosito tidak ingin menjadi pembunuh lagi.
Dirinya tidak ingin tangannya bersimbah darah dari orang yang sebenarnya hanya sedang bertanding secara jantan.
Subosito memejamkan mata, memvisualisasikan air terjun dingin di lereng Lawu yang pernah dia kunjungi. Subosito menarik napas dalam-dalam, memaksa hawa panas itu kembali turun ke pusat sumsum tulang belakangnya. Dirinya memilih untuk menjadi samsak bernyawa.
DUAK!
Satu tendangan Mahesa mendarat telak di tulang rusuk kiri Subosito. Pemuda itu terpental, menyeret tubuhnya di atas panggung hingga ke tepian. Penonton berteriak, mengira pertandingan akan berakhir.
Namun, dengan sisa tenaga dan tekad yang murni berasal dari kehendak sisi manusianya, Subosito bangkit kembali.
Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Anehnya, darah itu tidak menguap. Itu pertanda baik; sisi manusianya masih memegang kendali.
"Hanya itu?" tanya Subosito dengan suara serak.
Mahesa tampak terkejut melihat daya tahan pemuda di depannya. Mahesa kembali merangsek maju.
Kali ini Subosito tidak lagi hanya diam. Pemuda itu menggunakan teknik yang paling dasar, sekaligus paling sulit dikuasai: mengalir seperti udara.
Saat Mahesa melayangkan pukulan lurus ke arah wajahnya, Subosito tidak menangkis. Subosito menutup kepalanya hanya beberapa jengkal, membiarkan kepalan tangan Mahesa lewat di samping telinga.
Pada saat yang bersamaan, Subosito menangkap pergelangan tangan Mahesa dan menggunakan berat badan lawan untuk menariknya lebih jauh ke depan.
Ini adalah pertaruhan terakhir, Subosito tidak menggunakan api, Subosito menggunakan gravitasi dan momentum.
Mahesa kehilangan keseimbangan untuk sesaat. Di momen yang sempit itu, Subosito memutar tubuhnya, memberikan sikutannya ke arah ulu hati Mahesa—bukan dengan ledakan kekuatan, melainkan dengan posisi yang tepat.
BUGH!
Mahesa terbatuk hebat, untuk pertama kalinya dalam turnamen itu, sang jagoan dari kulon itu tergeletak di atas panggung.
Subosito merasa tubuhnya gemetar hebat. Panas di punggung sudah mencapai puncaknya, hampir menembus kulitnya. Mungkin jika dirinya bergerak sekali lagi untuk menyerang, segel itu akan pecah.
Subosito hanya berdiri diam, menatap Mahesa dan berharap agar pria itu tidak bangkit lagi. Mahesa mendongak, dia melihat mata Subosito yang kini murni berwarna cokelat.
Tubuh Mahesa bergetar hebat karena menahan beban yang tak terbayangkan. Mahesa melihat ketulusan—dan penderitaan—di sana.
Perlahan, Mahesa mengangkat tangannya ke udara.
"Aku...menyerah," ucap Mahesa dengan suara tersengal.
Suasana hening seketika di alun-alun Desa Karangwangi. Pengadil yang mengenakan kumis melintang tampak terperangah, begitu pula ribuan penonton. Jagoan mereka, yang tak terkalahkan sepanjang hari, baru saja menyerah kepada seorang pemuda kurus yang tampak hampir pingsan karena kelelahan.
"Pemenangnya... Sito!" teriak pengadil dengan nada ragu.
Meski kali ini dibumbui dengan nada keheranan, sorak-sorai pecah di area penonton. Subosito segera memungut caping bambunya yang terjatuh, menutupi wajahnya kembali sebelum ada orang yang menyadari bahwa matanya sempat berubah warna.
Subosito melangkah turun dari panggung dengan kaki yang terasa seperti kebas.
Di bawah tenda panitia, Subosito menerima sekantong kain kecil yang berisi lima puluh keping emas. Berat kantong itu terasa sangat kontras dengan harga yang harus dibayar dengan nyawa.
Subosito segera berbalik untuk pergi, sesegera mungkin menghilang ke dalam kegelapan hutan sebelum ada prajurit desa yang mulai menghubungkan dirinya dengan sayembara "Setan Api".
“Kau menang dengan cara yang sangat menyakitkan, Nak!"
Subosito tersentak, dari balik bayang-bayang pohon beringin besar dekat pintu keluar desa, berdiri seorang kakek tua yang sejak tadi memperhatikannya.
Kakek itu mengenakan pakaian kumal putih membawa tongkat bambu dengan ikatan kain kuning. Wajahnya penuh keriput, namun matanya bersinar dengan kearifan yang tajam.
Subosito mencoba mengabaikannya, namun kakek itu menghalangi jalannya.
“Kau menahan api itu sampai nadimu hampir pecah,” lanjut si kakek dengan suara yang tenang berwibawa. "Sebuah tindakan yang teruji secara moral, namun bodoh secara lahiriah. Kau tahu apa yang terjadi pada kuali yang terus dipanaskan tapi ditutup rapat? Ia akan meledak, dan ledakannya akan menghancurkan kuali itu sendiri beserta seisi dapurnya!"
Langkah Subosito terhenti. "Siapa kakek ini?" bisiknya penuh selidik.
“Hanya seorang tua yang pernah melihat api yang sama puluhan tahun yang lalu,” kakek itu mendekat, lalu berbisik tepat di telinga Subosito. "Dengarkan aku baik-baik, pewaris Garuda Paksi. Kekuatanmu bukan hanya warisan, itu adalah benalu. Saat ini, dia sedang memakan sumsum tulangmu untuk menjadi santapannya. Jika kau tidak belajar mengendalikannya—bukan hanya menahannya—kau akan mati terbakar dari dalam sebelum bulan purnama berikutnya tiba!"
DEGH!
Subosito merasakan dingin yang menjalar di tengkuknya. "Bagaimana...bagaimana cara mengendalikannya?"
Kakek itu menunjuk ke arah puncak Gunung Lawu yang tertutup awan gelap, ke arah sebuah bukit terlindungi yang jarang dijamah manusia. "Carilah tempat yang disebut Bukit Jobolarangan. Di sana, di antara kabut abadi, kau akan menemukan jawaban. Tapi berhati-hatilah, karena para pemburu dari Gagak Hitam yang tersisa dan para pendekar haus hadiah sudah mulai mencium bau asap yang kau tinggalkan!"
Sebelum Subosito sempat bertanya lebih lanjut, kakek itu sudah melangkah mundur ke dalam kerumunan pasar dan menghilang seolah-olah hanyalah bagian dari fatamorgana panas.
Subosito berdiri memegang kantong emas di tangannya. Kata-kata kakek itu terngiang seperti lonceng kematian.
'Mati terbakar dari dalam.'
Subosito menatap tangannya yang masih memerah. Pemuda itu menyadari bahwa kemenangannya di turnamen tadi hanyalah sebuah penangguhan sementara. Takdir yang sebenarnya sedang menunggunya di tempat yang lebih tinggi, di tempat di mana api dan es bertemu.
Tanpa membuang waktu, Subosito segera melangkah meninggalkan Desa Karangwangi. Subosito tidak lagi menuju pesisir, dia berbalik arah, kembali menuju jantung sang gunung.
Keputusan Subosito untuk mendaki lebih tinggi membawa petualangan baru yang penuh dengan marabahaya alam dan mistis.
Namun, di tengah perjalanannya, Subosito menyadari bahwa dirinya tidak sendirian di hutan tersebut. Sesuatu yang jauh lebih tua dari Padepokan Gagak Hitam sedang mengawasinya dari balik pepohonan kuno.
Mampukah Subosito mencapai Bukit Jobolarangan sebelum api di tubuhnya meledak tak terkendali? Dan siapakah sebenarnya kakek misterius yang mengetahui rahasia Segel Garuda Paksi terseb**ut**?