"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."
Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.
Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbaikan
Malam itu, kemewahan apartemen penthouse Serena seolah memudar, menyisakan ruang yang terasa seperti flat kecil mereka tujuh tahun lalu. Tidak ada gairah yang meledak-ledak, tidak ada drama yang diteriakkan. Hanya ada keheningan yang berat, namun entah bagaimana, terasa hangat.
Setelah pasta yang mendingin itu habis, mereka berpindah ke tempat tidur luas milik Serena. Nicholas merebahkan tubuhnya, menarik Serena ke dalam pelukannya dengan posesif. Ia menyandarkan dagunya di puncak kepala Serena, sementara tangannya melingkar erat di pinggang wanita itu, seolah jika ia melonggarkan pegangannya sedikit saja, Serena akan menghilang bersama kabut pagi Paris.
Serena tidak menolak. Ia membiarkan kepalanya bersandar di dada Nicholas, mendengarkan detak jantung pria itu yang berirama tenang namun kuat. Ia menghirup aroma tubuh Nicholas, campuran antara parfum mahal dan aroma maskulin yang selalu ia rindukan.
"Aku merindukanmu, Serena," bisik Nicholas ke tengah kegelapan kamar.
Serena terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara parau. "Aku tidak memaafkanmu, Nicholas."
"Aku tahu," jawab Nicholas pelan, sambil mengecup dahi Serena.
Satu jam berlalu, Nicholas mencoba membelai rambutnya. Serena bergumam lagi tanpa membuka mata, "Jangan pikir karena aku di sini, artinya aku memaafkanmu. Aku masih membencimu karena Valerie."
"Aku akan menyelesaikannya," janji Nicholas.
Menjelang dini hari, saat kantuk mulai menyerang, Serena kembali berbisik, hampir seperti igauan yang menyakitkan. "Kau benar-benar bajingan karena meninggalkan tanda di leherku lalu pergi dengan wanita lain... aku tidak memaafkanmu."
Nicholas hanya bisa mengeratkan pelukannya, menerima setiap kutukan dan kalimat tidak maaf dari bibir Serena sebagai hukuman yang layak ia terima. Ia tahu, kata tidak memaafkan yang diucapkan Serena sepanjang malam sebenarnya adalah cara wanita itu melindungi hatinya yang sudah telanjur luluh.
Bagi Nicholas, tetap diizinkan memeluk Serena sepanjang malam tanpa diusir sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
Mereka tertidur dalam posisi itu, saling mendekap erat di tengah hubungan yang statusnya masih menggantung di antara cinta yang dalam dan luka yang belum sembuh.
Sinar matahari pagi mulai menembus tirai tipis apartemen, menyinari wajah Serena yang tampak sembab. Ia terbangun dan menyadari tangan Nicholas masih melingkar protektif di pinggangnya.
Untuk beberapa detik, ia membiarkan dirinya terhanyut dalam kenyamanan yang sudah tujuh tahun ia rindukan. Namun, suara getar ponsel di atas nakas seketika menariknya kembali ke realitas yang pahit.
Serena melihat jam. Pukul 07.00 pagi. Iris atau Marie bisa muncul kapan saja dengan jadwal kegiatan atau pakaian baru.
"Nick... bangun," bisik Serena sambil menggoyangkan bahu Nicholas.
Nicholas mengerang pelan, mencoba menarik Serena lebih dekat ke dalam pelukannya. "Lima menit lagi, Serena..."
"Tidak. Kau harus pergi sekarang," suara Serena mendadak kembali dingin dan tegas. Ia melepaskan tangan Nicholas dari tubuhnya dan duduk di tepi tempat tidur, merapikan rambutnya yang berantakan.
Nicholas ikut duduk, matanya yang masih mengantuk menatap Serena dengan bingung. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Realitas sedang menjemput, Nicholas," Serena berdiri, mengambil kemeja Nicholas yang tergeletak di lantai dan melemparkannya ke arah pria itu. "Asistenku akan segera datang. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun melihatmu di sini. Hubungan kita... semalam itu... itu belum mengubah apa pun. Kau masih calon tunangan Valerie di mata dunia."
Nicholas menghela napas panjang, frustrasinya kembali memuncak. "Semalam aku sudah bilang, aku akan menyelesaikan semuanya. Aku tidak ingin bersembunyi lagi seperti pencuri."
"Tapi kau belum menyelesaikannya," potong Serena tajam. Ia menunjuk ke arah pintu. "Pergilah. Gunakan pintu belakang jika perlu. Aku belum siap menghadapi semua kekacauan ini, Nicholas. Kepalaku masih berisik dengan kalimat tidak memaafkanmu yang aku ucapkan semalam."
Nicholas berdiri, ia melangkah mendekat dan mencium kening Serena dengan lembut, ciuman yang penuh janji. "Aku akan pergi. Tapi jangan harap kau bisa kembali menjadi asing setelah malam ini. Aku akan membereskan Valerie, lalu aku akan datang lagi sebagai pria yang layak kau beri maaf."
Nicholas memakai jasnya, menatap Serena sekali lagi dengan tatapan yang membara, lalu melangkah keluar sebelum Iris menekan bel pintu.
Serena menyandarkan punggungnya di pintu setelah Nicholas pergi, jantungnya berdegup kencang. Ia belum siap. Ia takut jika ia terlalu cepat membuka hati, ia akan hancur lebih parah dari sebelumnya.
Serena masih berdiri mematung di balik pintu setelah suara langkah kaki Nicholas menghilang di lorong.
Begitu bel pintu apartemen berbunyi—pertanda Iris atau Marie telah tiba, Serena tersentak. Ia segera berlari ke arah cermin, melihat wajahnya yang sembab dan bibirnya yang sedikit bengkak.
"Sial," umpatnya lirih.
Ia segera naik kembali ke tempat tidur, menarik selimut hingga ke dagu, dan memasang wajah sepucat mungkin saat Iris masuk menggunakan kunci cadangan.
"Serena? Kau belum bangun? Kita punya jadwal pemotretan jam sembilan..." Iris terhenti saat melihat suasana kamar yang sedikit berantakan.
"Aku... aku tidak enak badan, Iris," suara Serena dibuat serak, hampir seperti bisikan. "Kepalaku pusing sekali, mungkin karena kelelahan syuting kemarin. Tolong batalkan semua jadwal hari ini. Aku butuh tidur."
Iris mengerutkan kening. Serena Rousseau yang ia kenal tidak pernah membatalkan jadwal hanya karena pusing. Ia mendekati tempat tidur untuk memeriksa suhu dahi bosnya. "Kau tampak sangat pucat, tapi... Serena, kenapa aroma kamarmu berubah? Ini seperti aroma parfum pria."
Serena menahan napas. "Itu... itu lilin aromaterapi baru. Sudahlah, aku ingin sendiri."
Iris mengangguk curiga, namun saat ia hendak berbalik, matanya menangkap sesuatu di bawah kursi rias. Sebuah kancing manset perak dengan inisial 'NF' yang berkilau terkena sinar matahari. Jantung Serena hampir copot saat melihat arah pandangan Iris.
"Bukan hanya parfum," bisik Iris sambil memungut kancing itu dan mengangkatnya ke udara.
"Sejak kapan Nicholas Feng meninggalkan perhiasannya di lantai kamarmu, Serena? Dan lihat ini..." Iris menunjuk ke arah meja makan kecil di sudut ruangan di mana terdapat dua gelas wine yang masih tersisa sedikit cairannya.
Serena memejamkan mata, merutuk dalam hati atas kecerobohan Nicholas. Topeng ratu es-nya retak seketika di hadapan asisten yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun itu.
"Dia di sini semalam?" tanya Iris dengan nada menuntut, namun juga khawatir. "Serena, kau tahu betapa berbahayanya ini? Media sedang menggila soal Valerie, dan jika mereka tahu Nicholas menginap di sini, kariermu dan reputasimu bisa hancur dalam semalam."
Serena terduduk, melepaskan sandiwara sakitnya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku tahu, Iris. Aku tahu ini gila. Tapi aku tidak bisa mengusirnya semalam... dan sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa."
Iris menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang. "Kau tidak sakit, kau hanya sedang jatuh cinta lagi pada pria yang salah. Tapi kau harus hati-hati, Serena. Nicholas mungkin bisa pergi dengan mudah, tapi kau... kaulah yang akan selalu disalahkan media jika skandal ini pecah."
Iris masih memegang kancing manset perak itu dengan tatapan penuh selidik saat ponsel Serena yang tergeletak di atas nakas berdenting. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang menyala terang.
Iris lebih cepat. Ia melirik layar itu sebelum Serena sempat menyambarnya.
Nicholas: "Aku meninggalkan kancing mansetku di sana, Serena. Anggap itu jaminan bahwa aku akan kembali sore ini. Jangan mencoba kabur atau berpura-pura asing lagi. Aku sudah memesan bahan masakan baru untuk makan malam kita."
Suasana kamar mendadak menjadi sangat dingin. Iris meletakkan kancing itu di telapak tangan Serena, matanya menatap tajam sang aktris.
"Jaminan?" Iris bertanya dengan nada tidak percaya.
"Serena, dia bicara seolah apartemen ini adalah rumahnya. Apa kau sadar betapa nekatnya pria ini? Nicholas Feng baru saja keluar dari sini satu jam yang lalu, dan dia sudah berencana kembali sore ini seolah tidak ada Valerie atau ribuan fotografer di luar sana?"
Serena meremas kancing manset itu di dalam genggamannya, merasakan logam dingin itu menusuk kulitnya. "Dia keras kepala, Iris. Kau tahu itu."
"Ini bukan sekadar keras kepala, ini bunuh diri karier!" Iris berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir.
"Jika dia kembali sore ini dan ada yang melihatnya, kau tidak akan bisa beralasan 'alergi cuaca' lagi. Tanda di lehermu itu mungkin bisa ditutup concealer, tapi keberadaan Nicholas di sini tidak bisa ditutupi dengan apa pun."
Serena terdiam. Ia menatap pesan singkat itu berulang kali. Ada rasa takut yang nyata, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada percikan kebahagiaan yang terlarang karena Nicholas begitu gigih memperjuangkannya.
"Batalkan semua jadwalku untuk seminggu ke depan," ujar Serena tiba-tiba dengan suara yang lebih tenang namun penuh tekad.
"Apa? Kau gila?"
"Bilang pada agensi aku butuh mental health break. Aku tidak bisa bekerja dengan kondisi seperti ini, Iris. Dan jika Nicholas memang ingin datang sore ini untuk menghancurkan segalanya atau memperbaikinya... aku akan memberinya kesempatan untuk melakukannya tanpa gangguan jadwal syuting."
Iris hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa Ratu Es-nya telah benar-benar mencair dan berubah menjadi wanita yang sedang mempertaruhkan segalanya demi cinta lamanya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍