Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jujur
"DIRA!"
Zora berlari kecil ke Dira. Wajahnya khawatir. Berita ada laki-laki yang cari Dira dan hampir mengacau di kantor tersebar dengan cepat. Apalagi ada karyawan yang menyebut nama Ethan Ravello. Zora kenal pastinya.
Begitu Dira muncul di laboratorium, ia segera menghampiri wanita itu. Wajah Dira terlihat agak pucat dan tampak sedang berpikir.
"Kamu kenapa? Aku dengar kak Ethan datang ke sini? Dia mau apa? Astaga, bisa-bisanya laki-laki itu ke sini."
Zora sedikit kesal. Dia sudah tahu dari suaminya kalau Dira dan Ethan ternyata mantan kekasih. Zora kaget, tapi juga tidak heran mengingat sikap kesetanan Ethan di pesta ulang tahun kak Bima waktu itu yang hanya bisa dihentikan oleh Dira.
Dira tidak menjawab pertanyaan Zora. Saat ini pikirannya hanya fokus dengan kalimat Ethan di mobil tadi. Lelaki itu memberinya dua pilihan, menikah dengannya dan mengurus Arel bersama, atau Arel akan di rebut darinya.
Tentu saja Dira memilih menikah. Tapi menikah dengan keadaan yang masih membencinya, jelas itu bukan sesuatu hal yang baik untuknya.
"Dira, kau dengar aku?"
Kali ini Dira bergeming. Dia baru sadar Zora berdiri di depannya.
"Ma-maaf. Aku tadi ..."
"Nggak apa-apa. Kamu sama kak Ethan kenapa tadi? Dia nggak nyakitin kamu kan?"
Dira menatap Zora lama. Tatapan tulus itu membuatnya merasa bersalah telah menutupi semuanya dari wanita itu. Setidaknya, dia harus jujur tentang dirinya telah memiliki seorang anak, juga tentang Ethan bukan? Biar bagaimana pun Zora sudah banyak membantunya. Di laboratorium tidak ada siapa-siapa sekarang, hanya mereka berdua. Haruskah dia jujur pada Zora sekarang?
"Zora," katanya kemudian pelan, suaranya nyaris bergetar.
"Mm?" Zora menatapnya lekat, semakin khawatir melihat ekspresi Dira yang tidak biasa.
Dira menarik napas panjang. Tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin.
"Aku mau jujur sama kamu tentang sesuatu yang aku sembunyikan selama ini."
"Tentang kamu mantan kekasihnya kak Ethan?"
Dira terdiam sesaat. Ternyata Zora sudah tahu. Tapi bukan itu yang ingin dia bilang.
"Bukan,"
Zora langsung mengernyit.
"Sebenarnya aku... Aku sudah punya anak."
Kalimat itu pelan. Zora terdiam beberapa detik, seperti sedang mencerna kata-kata Dira kemudian matanya membulat lebar, tapi bukan karena menghakimi, lebih karena terkejut.
"Anak?" ulangnya pelan.
Dira mengangguk.
"Namanya Arel. Umurnya lima tahun."
Zora masih memproses.
"Dan… ayahnya?" Dira menatap lantai.
"Ethan."
Hening kembali. Zora benar-benar tidak menyangka. Hanya suara pendingin ruangan laboratorium yang terdengar samar. Zora akhirnya menghembuskan napas panjang.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita?"
"Karena perusahaan ini nggak akan nerima pegawai yang sudah punya anak atau menikah. Aku bukan Profesor hebat yang di undang langsung sepertimu. Aku cuma karyawan biasa."
Ah betul. Zora pernah dengar aturan tersebut. Aturan macam apa itu? Memangnya kenapa kalau punya anak.
"Lalu, kak Ethan tahu selama ini?"
Dira menggeleng. Zora menatapnya lama. Ia tahu membesa anak sendirian pasti sulit sekali.
"Kenapa nggak kasih tahu? Aku lihat kak Ethan orangnya bertanggungjawab."
"Kami sudah putus waktu itu. Dan ada masalah di antara kami yang membuat Ethan marah besar padaku dan membenciku. Aku ... Aku belum siap cerita."
Bagi Dira itu adalah aib. Dia percaya Zora tidak akan bercerita ke siapapun, tapi dia belum siap saja curhat ke orang lain tentang apa yang dia rasakan selama ini.
Zora mengerti.
Dia meraih tangan Dira.
"Terimakasih sudah mau cerita. Aku akan mencoba berbicara dengan pemimpin perusahaan agar mereka meninjau kembali aturan pegawai yang tidak boleh punya anak. Jangan khawatir, kau akan tetap jadi asistenku. Ini benar-benar karena kau punya potensi itu."
Dira tersenyum tipis.
"Terimakasih."
Zora balas tersenyum.
"Apa kak Ethan melukaimu?" ia masih penasaran kenapa pria itu datang ke sini. Perusahaan tempatnya bekerja ini memang besar, tapi kalau sudah berurusan dengan mafia sekelas Ethan, mereka bukan apa-apa.
"Tidak, dia tidak melukaiku."
"Lalu, kenapa dia menemuimu?"
"Dia sudah tahu aku melahirkan anaknya dan menyembunyikan fakta itu."
"Dia marah?"
Dira mengangguk.
"Tapi semuanya sudah beres. Tidak perlu khawatir."
Zora mengangguk-angguk lega.
"Eh, tapi... Kalau kamu mantan pacarnya kak Ethan, kamu kenal kak Damian dan Matt dong? Talia juga, kamu kenal?"
Dira tersenyum, lalu mengangguk lagi. Zora tercengang.
"Astaga, dunia ini sempit sekali ternyata."
Mereka berdua tertawa bersama. Kemudian fokus bekerja. Zora langsung berubah menjadi profesor yang sangat serius begitu berhadapan dengan apa yang sedang dia teliti.
Zora langsung mengenakan sarung tangan dan menatap hasil kultur sel di bawah mikroskop. Wajahnya berubah fokus, tajam, profesional.
"Medium yang kamu siapkan tadi pagi sudah diganti?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
"Sudah. Aku tambahkan growth factor sesuai protokol yang kamu revisi semalam," jawab Dira, refleks kembali ke mode kerja.
Di meja stainless, inkubator kecil berdengung pelan. Beberapa tabung reaksi tersusun rapi, masing-masing diberi label kode proyek.
"Viabilitasnya naik tiga persen," gumam Zora setelah beberapa menit mengamati.
"Lumayan."
Dira mencatat cepat di tablet. Tangannya kini jauh lebih stabil dibanding beberapa menit lalu. Bekerja selalu menjadi caranya menenangkan diri. Namun pikirannya tetap sesekali melayang pada wajah Ethan di mobil tadi. Tatapan tajam itu. Nada dinginnya, semua itu masih teringat jelas di wajahnya.
"Dira."
"Iya?"
"Kamu yakin baik-baik saja?"
Dira terdiam sepersekian detik sebelum mengangguk.
"Mm."
Zora meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis.
"Jangan terlalu dipaksakan kalau tidak bisa fokus. Kamu bisa pulang. Aku akan menyelesaikan sendiri."
"Tapi ..."
"Dengar, aku yang tidak fokus kalau melihatmu seperti itu."
Akhirnya Dira mengangguk.
"Baiklah. Aku bereskan meja dulu."
Zora menepuk bahunya pelan sebelum kembali ke mikroskop.
"Hati-hati di jalan."
Dira hanya tersenyum tipis.
Ia melepas jas lab, menggantungnya rapi, lalu membereskan catatan dan memastikan semua sampel tersimpan sesuai prosedur. Rutinitas kecil itu biasanya menenangkan, tapi kali ini pikirannya terlalu riuh.
Langkahnya terasa lebih berat saat keluar dari laboratorium. Lorong kantor sudah jauh lebih sepi. Beberapa karyawan yang masih lembur meliriknya sekilas, mungkin masih membicarakan insiden siang tadi.
Begitu sampai di lobi, ponselnya kembali bergetar.
Satu pesan.
Dari Ethan. Pria itu sudah menyimpan nomornya tadi. Ternyata nomor pria itu masih sama dengan enam tahun lalu.
Dira belum menghapus kontaknya meski ia sudah ganti hape.
Waktumu berpikir sampai besok. Aku akan menghubungimu besok.
Dira menghembuskan nafas berat. Ia berpikir keras sambil berjalan.
Ini demi Arel Dira. Demi kebahagiaan anakmu. Kau tidak boleh egois. Kau juga tidak bisa melawannya di pengadilan.
Kalimat itu terus ia katakan dalam hatinya. Yang penting sekarang kau adalah, Arel memiliki keluarga yang utuh.
terimakasih thor udah up