"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERTINGGAL DI PERON YANG SAMA
Kanaya kini bekerja di sebuah perusahaan distribusi farmasi berskala nasional. Ini bukan lagi toko grosir milik Tante Rosa, dan ini bukan lagi tempat yang bisa dijangkau ibunya dalam sepuluh menit. Ia melamar sendiri, menembus ketatnya seleksi dengan modal ijazahnya yang selama ini tersimpan rapi, serta ketegasan mental yang tertempa selama bertahun-tahun hidup dalam tekanan.
Di kantor baru ini, Kanaya dikenal sebagai sosok yang profesional, jarang bicara urusan pribadi, namun sangat efisien dalam bekerja. Ia telah membangun citra sebagai wanita mandiri yang tidak butuh sandaran siapa pun.
Suatu siang, saat sedang merapikan berkas laporan bulanan, Wanda, rekan kerjanya yang paling cerewet, mendekat dengan wajah penuh rahasia.
"Nay, Pak Farid kenal nggak? Manager Personalia itu lho. Dia nanyain kamu terus, kayaknya pengen kenal lebih jauh," bisik Wanda sambil menyenggol bahu Kanaya.
Kanaya hanya mendongak sekilas, tangannya masih sibuk menandai beberapa angka di kertas. "Pak Farid yang di lantai tiga? Aku cuma kenal dia sebagai atasan di HRD, Wan. Memangnya kenapa?"
"Aduh, Naya sayang... Pak Farid itu masih lajang, mapan, ganteng lagi. Tadi pas di kantin dia nanya ke aku, 'Wanda, temanmu yang namanya Kanaya itu sudah ada yang punya belum?' Gitu katanya! Dia pengen kenal personal, Nay. Kamu nggak mau coba buka hati sedikit? Sudah berapa lama sih kamu menjomblo?"
Kanaya terdiam sejenak. Mendengar kata "buka hati" rasanya seperti diingatkan pada luka lama yang sudah kering namun masih meninggalkan bekas. Bayangan Hendri dan postingan foto setahun lalu sempat melintas, tapi dengan cepat ia tepis.
"Aku ke sini buat kerja, Wan, bukan buat cari jodoh," jawab Kanaya datar, tanpa senyum sedikit pun. "Lagipula, aku lebih suka hidup tenang seperti sekarang. Tidak ada drama, tidak ada yang perlu dicemaskan."
"Tapi Nay, hidup bukan cuma soal kerja dan urus Ibu di rumah. Kamu masih muda, Pak Farid itu orang baik, lho. Nggak ada salahnya kan kalau cuma sekadar kenal?"
Kanaya meletakkan pulpennya. Ia menatap Wanda dengan tatapan yang sulit diartikan. Di satu sisi, ia merasa tersanjung, namun di sisi lain, ketakutan akan pengulangan masa lalu—tentang laki-laki yang mungkin akan dikecewakan oleh kerumitan keluarganya—masih membekas kuat.
"Bilang sama Pak Farid, kalau soal urusan kantor, aku siap bicara kapan saja. Tapi kalau soal personal... aku rasa aku belum tertarik," ucap Kanaya final.
Wanda hanya bisa menghela napas, ia tahu kalau Kanaya sudah bicara dengan nada seperti itu, tidak akan ada yang bisa membantahnya. Namun, jauh di lubuk hati Kanaya, ia mulai bertanya-tanya: sampai kapan ia akan terus berlari dari kemungkinan untuk dicintai lagi?
Hari itu, Kanaya baru saja keluar dari ruang arsip dengan tumpukan dokumen di tangannya. Koridor kantor yang biasanya terasa luas mendadak menyempit ketika ia melihat sosok pria yang sangat ia kenali sedang berdiri di depan pintu ruang rapat, didampingi oleh Pak Farid.
Jantung Kanaya seakan berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara langkah sepatunya sendiri yang kini terasa berat. Itu Hendri. Pria itu tampak lebih dewasa, mengenakan kemeja formal yang rapi, tampak seperti perwakilan vendor atau mitra bisnis yang sedang mengurus kerja sama besar dengan perusahaannya.
Langkah kaki Kanaya melambat, hampir berhenti, namun ia memaksakan diri untuk tetap profesional. Saat jarak mereka hanya tinggal dua meter, mata mereka bertemu. Hendri tampak sama terkejutnya; ia terpaku, mengabaikan Pak Farid yang sedang menjelaskan sesuatu di sampingnya.
"Naya?" panggil Hendri lirih.
Pak Farid menoleh, menatap keduanya bergantian. "Oh, Pak Hendri sudah kenal dengan Kanaya? Dia salah satu staf terbaik kami di bagian distribusi."
Hendri tidak menjawab pertanyaan Pak Farid. Matanya terkunci pada wajah Kanaya—wajah yang dulu selalu ia cari, wajah yang pernah ia lepaskan dengan luka yang mendalam. Ia melangkah sedikit mendekat, mengabaikan batasan profesional di antara mereka.
"Kamu sehat, Nay?" tanyanya dengan nada sendu yang begitu akrab di telinga Kanaya.
Nada suara itu masih sama. Nada yang penuh perlindungan, namun kini dibalut dengan kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Kanaya mencengkeram tumpukan dokumennya hingga kertas-kertas itu sedikit tertekuk di bagian pinggir. Ia bisa merasakan perih yang mendalam di dadanya—rasa sakit yang ia pikir sudah mati setahun yang lalu.
"Sehat, Mas. Seperti yang Mas lihat," jawab Kanaya sesingkat mungkin. Suaranya datar, namun ia harus berjuang mati-matian agar tidak bergetar.
Ia teringat foto Hendri dengan wanita itu. Ia teringat bagaimana ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Hendri sudah bahagia. Namun, melihat sorot mata Hendri sekarang, Kanaya tidak melihat kebahagiaan yang ia bayangkan. Ia justru melihat kerinduan yang sama besarnya dengan miliknya.
"Syukurlah kalau kamu sehat," bisik Hendri lagi. Ia ingin menanyakan banyak hal—tentang ibunya, tentang rumahnya, tentang alasan kenapa Kanaya menghilang tanpa jejak—namun kehadiran Pak Farid di sana membuatnya harus menahan diri.
Pak Farid yang merasakan ketegangan aneh itu mencoba mencairkan suasana. "Wah, dunia sempit ya. Kalau begitu, nanti saat makan siang setelah rapat selesai, kita bisa mengobrol lebih santai."
Kanaya segera menggeleng. "Maaf, Pak Farid, Mas... saya masih ada banyak laporan yang harus diselesaikan di meja. Saya permisi dulu."
Kanaya berjalan melewati Hendri tanpa menoleh lagi. Aroma parfum Hendri yang masih sama sempat terhirup olehnya, mengirimkan gelombang nostalgia yang menyakitkan. Begitu sampai di mejanya, Kanaya terduduk lemas. Ia menyadari satu hal: mematikan hati ternyata jauh lebih mudah daripada memastikan hati itu tetap mati saat orang yang kita cintai berdiri tepat di depan mata.
Wanda tertegun, tangannya yang tadi sibuk merapikan lipstik langsung terhenti di udara. Ia menatap Kanaya yang kini duduk kaku di kursinya, menatap layar komputer yang bahkan belum dinyalakan.
"Kenapa, Nay? Kamu pucat banget," tanya Wanda khawatir, suaranya merendah.
Kanaya mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sesak yang mendadak memenuhi paru-parunya. "Mantan yang kulepasin bukan karena nggak cinta itu, Wan... dia di sini. Dia perwakilan vendor yang lagi rapat sama Pak Farid."
Wanda menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. "Demi apa? Terus, kamu ngomong apa sama dia?"
"Cuma nanya kabar," jawab Kanaya getir. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang nyaris hilang. "Tapi aku lihat tadi... di casing HP-nya, ada foto dia dan istrinya. Dia sudah menikah, Wan. Dia sudah punya hidup baru."
Kanaya memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat menyedihkan. "Lucu ya? Aku di sini mati-matian meyakinkan diri kalau aku sudah nggak apa-apa, tapi lihat foto di balik casing HP-nya saja rasanya kayak dikuliti hidup-hidup. Dia sudah bahagia, dan aku masih di sini, di titik yang sama."
Wanda bangkit dari kursinya, berpindah duduk di samping Kanaya dan mengusap bahu temannya itu. "Nay, kamu sudah melakukan hal yang luar biasa dengan ngelepasin dia demi Ibumu. Itu pengorbanan, bukan kekalahan."
"Tapi rasanya kayak kalah, Wan," bisik Kanaya. "Rasanya kayak aku satu-satunya yang tertinggal di stasiun, sementara keretanya sudah jalan jauh sama penumpang lain. Aku yang minta dia pergi, aku yang blokir dia, aku yang bilang jangan cari aku lagi. Tapi pas benar-benar melihat dia punya orang lain... ternyata sesakit ini."
Di luar ruangan, rapat antara perusahaan dan vendor masih berlangsung. Kanaya tahu, selama beberapa bulan ke depan, ia mungkin akan sering bertemu Hendri karena proyek kerja sama ini. Ia harus melihat wajah itu, mendengar suara itu, dan—yang paling menyakitkan—melihat bukti nyata bahwa ruang di hati Hendri sudah terisi oleh wanita yang lebih beruntung darinya.
Kanaya menarik laci mejanya, mengambil sebuah map berkas untuk menutupi tangannya yang gemetar. Ia harus profesional. Ia tidak boleh membiarkan Pak Farid atau siapa pun tahu bahwa di balik wajah dinginnya, ada luka yang baru saja menganga kembali.
"Wan izinin aku ya, aku mau ke cafe dulu takut nanti mas Hendri nemuin aku atau gmn"ucap Kanaya
Wanda menatap Kanaya dengan tatapan iba. Ia tahu rekannya itu sedang berada di titik nadir. Melihat seseorang yang kita cintai sudah menjadi milik orang lain, lalu harus berurusan secara profesional dengannya, adalah definisi siksaan yang nyata.
"Iya, Nay. Pergi saja. Nanti kalau Pak Farid atau yang lain nanya, aku bilang kamu lagi ada urusan mendesak di luar untuk cek sampel atau apa lah. Kamu butuh napas, Nay," ucap Wanda sambil menepuk lengan Kanaya meyakinkan.
Kanaya menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju lift. Ia tidak ingin berpapasan lagi dengan Hendri di lobi. Pikirannya kalut. Bayangan foto wanita di balik casing ponsel Hendri itu seolah menghantamnya berulang kali. Seseorang yang dulu begitu memujanya, kini memiliki dunia baru yang tidak melibatkan dirinya sama sekali.
Ia memilih sebuah kafe kecil yang letaknya agak tersembunyi, beberapa blok dari kantornya. Setelah memesan kopi yang ia biarkan dingin tanpa disentuh, Kanaya duduk di sudut paling pojok, menatap keluar jendela ke arah jalanan yang ramai.
"Harusnya aku senang," gumam Kanaya pada dirinya sendiri. "Itu kan yang aku mau? Dia bahagia, dia punya pendamping, dia tidak terbebani oleh hidupku yang berantakan."
Namun, hati tidak pernah bisa diajak berkompromi secara logika. Ada rasa sesak yang tak terlukiskan saat menyadari bahwa pengorbanannya telah membuahkan hasil: Hendri sudah benar-benar melupakannya. Pria itu tidak lagi menunggunya, tidak lagi mencarinya. Pria itu sudah pulang ke rumah yang berbeda.
Tiba-tiba, ponsel Kanaya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun ia sangat menghafal pola ketikannya.
"Aku tahu kamu menghindar. Aku tidak bermaksud mengusik hidupmu, Nay. Aku hanya ingin memastikan kamu benar-benar baik-baik saja setelah semua yang kita lalui. Proyek ini akan berjalan tiga bulan, dan aku tidak ingin kita seperti orang asing yang bermusuhan."
Kanaya menatap pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak membalas. Ia justru meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.
Ia menyadari satu kenyataan pahit: Hendri sudah melangkah maju dengan membawa kenangan mereka sebagai pelajaran, sementara Kanaya masih berdiri di tempat yang sama, membawa kenangan itu sebagai beban.