💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 – LEVERAGE
Seorang kurir mengantar amplop tebal tersegel resmi ke meja Alinea. Bukan sekadar surel, tapi dokumen fisik yang menuntut perhatian penuh. Alinea membukanya perlahan, menatap lembaran kertas mahal dengan kop surat Artha Group.
Isi proposal itu jauh di atas standar konsultan biasa. Angkanya fantastis, ditambah hak ambil keputusan yang sangat luas. Nama Alinea sudah tercetak rapi di sana, sejajar dengan jajaran eksekutif perusahaan.
Ini bukan lagi soal bakat, tapi posisi strategis di pusat proyek. Artha Group terang-terangan memberinya akses khusus untuk masuk ke lingkaran terdalam. Alinea menatap baris demi baris teks itu dengan ekspresi datar.
Alinea memasukkan kembali dokumen itu ke map tanpa ekspresi. Sambil menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin, dia menatap ke luar jendela gedung tinggi.
Tawaran ini bisa jadi senjata sekaligus jebakan kalau dia salah langkah. Setidaknya, sekarang Arsenio tidak bisa lagi bergerak sendiri tanpa bayang-bayangnya.
Sekretarisnya masuk menanyakan jadwal pertemuan dengan Artha Group siang ini. Alinea hanya menoleh tenang, dia tahu kalau terburu-buru cuma bakal menjatuhkan nilai tawarannya.
"Bilang ke mereka, saya butuh tujuh puluh dua jam buat pelajari detailnya," ucapnya pendek. Suaranya tetap tenang, tidak sedikitpun goyah oleh angka di dokumen itu. Dia ingin Artha Group mulai merasa cemas karena jeda waktu tersebut.
Alinea mengunci map itu di laci mejanya. Tiga hari adalah waktu yang pas buat membiarkan Arsenio menebak-nebak langkahnya. Dia lebih memilih dicari daripada harus mengejar, meski peluang kekuasaan sudah di depan mata.
Alinea bangkit dan merapikan blazernya seolah tidak terjadi apa-apa. Baginya, ketenangan adalah kunci dalam negosiasi besar. Permainan baru saja dimulai.
Dia mematikan lampu ruang kerja, lalu melangkah keluar kantor dengan kepala tegak.
Notifikasi masuk dari nomor tak dikenal, ternyata Orion Capital—rival berat Artha Group selama sepuluh tahun terakhir. Isinya bukan tawaran kerja biasa, tapi undangan diskusi privat soal kolaborasi strategis.
Orion yang biasanya tertutup kini mendadak membuka pintu. Nama Alinea rupanya sudah mulai terdengar sampai ke luar Artha Group.
Alinea sadar ini bisa jadi bumerang buat proyeknya. Kalau dia datang ke Orion, nilai tawarannya di Artha Group bisa melonjak atau malah hancur total. Dia memutar ponsel di meja, menimbang risiko dari langkah ini.
Alinea membalas pesan itu, menyetujui pertemuan di sebuah galeri seni privat.
Kabar soal Orion bocor ke pasar modal dan bikin pemegang saham Artha Group mulai gerah. Alinea sengaja diam saja tanpa membantah. Dia tahu Arsenio pasti sudah dengar kabar ini.
Orion bukan lawan biasa,mereka siap menerkam kalau Artha Group salah langkah. Sekarang, posisi Alinea benar-benar di atas angin.
Alinea tidak mau jadi pengkhianat, tapi dia juga tidak mau cuma jadi bawahan yang gampang diganti.
Orion adalah kartu as untuk menekan Arsenio. Sekarang, dia bukan lagi sekadar konsultan, tapi aset yang diperebutkan dua raksasa.
Dia menghapus pesan di ponselnya, lalu berangkat ke lokasi pertemuan.
Pertemuan di galeri itu singkat. Orang Orion langsung menunjukkan celah yang selama ini diabaikan Arsenio.
Alinea menyimak tanpa menjanjikan apa pun.
Dia ingin membuktikan kalau kontrak mahal tidak bisa mengikatnya. Sekarang, orang-orang mulai memperhitungkan pengaruhnya di luar Artha Group.
Alinea keluar, lalu memesan taksi menuju kantor pusat.
Kabar pertemuan di galeri itu cepat menyebar di bursa. Nama Alinea mendadak jadi bahan omongan para bos dan analis. Telepon di kantor Artha Group pun tidak berhenti berdering menanyakan status kerja sama mereka.
Dalam rapat tertutup pagi ini, jajaran direksi tidak lagi meributkan soal Arsenio karena mereka cuma fokus pada ketakutan kehilangan orang sepintar Alinea ke tangan saingan.
Arsenio menatap layar monitor yang menampilkan grafik pasar. Dia sadar jika Alinea pergi, dia bukan hanya kehilangan klien, tapi juga dianggap gagal menjaga orang hebat di timnya.
Arsenio membatalkan semua jadwal sore ini. Dia berjalan melewati lorong kantor dan merasakan tatapan aneh dari para staf yang biasanya menunduk.
Suasana kerja mendadak berubah. Orang-orang yang tadinya takut dipecat, sekarang justru cemas kalau Alinea benar-benar pergi dan tidak ada lagi yang membela mereka.
Arsenio merasa terpojok karena Orion terus mengawasi. Dia tidak bisa lagi mengatur Alinea sesuka hati karena kendali sudah berpindah tangan.
Arsenio sadar dia butuh Alinea untuk menjaga posisinya di depan pemegang saham. Tanpa wanita itu, dia hanya akan terlihat gagal.
Dia berdiri di depan pintu ruang kerja Alinea, lalu mengetuknya tanpa menunggu izin masuk.
Arsenio menyodorkan kontrak baru dengan syarat eksklusivitas mutlak untuk mengunci posisi Alinea.
Alinea menolak tanda tangan dan menyebut harga kebebasannya jauh lebih mahal dari jabatan itu.
Alinea menggeser tablet ramping ke tengah meja, tepat di atas draft kontrak Arsenio. Layarnya menyala, menampilkan logo Orion Capital dengan angka yang jauh lebih agresif. Arsenio memindai dokumen digital itu tanpa ekspresi, meski ia tahu struktur penawaran firma global tersebut tidak main-main. Ruangan terasa menyempit saat ambisi keduanya beradu di atas marmer hitam.
"Orion tidak minta eksklusivitas, mereka minta eksekusi," ucap Alinea memecah sunyi. Ia bersandar santai, kontras dengan ketegangan yang memancar dari pundak Arsenio.
Baginya, angka di layar itu adalah pengakuan atas daya tawar yang ia genggam. Satu ketukan jari, dan layar tablet itu kembali gelap.
Arsenio tetap diam, menyadari taktik gertakannya baru saja berbalik menyerang diri sendiri. Ia mengira jabatan Deputy cukup untuk menjinakkan Alinea, sementara pihak luar menawarkan kemitraan strategis.
Ketegangan ini bukan lagi soal proyek, melainkan siapa yang sebenarnya memegang kendali pasar. Arsenio mulai menghitung sisa waktu sebelum karirnya benar-benar tamat.
"Kalau stabilitas yang Anda cari, beri saya alasan kuat untuk tetap," suara Alinea terdengar dingin. Tidak ada nada memohon, hanya tuntutan revisi total atas struktur kerja sama mereka. Fokusnya bukan pada kenyamanan jabatan, melainkan otoritas yang nyata. Ia menatap lurus ke mata pria di depannya tanpa ragu sedikitpun.
"Saya tidak cari promosi di sini," tambah Alinea memberi penekanan. Ia menjeda kalimatnya, membiarkan Arsenio mencerna beban dari kata-kata tersebut. Pertemuan ini adalah ajang pengukuran nilai di mata pemegang saham. Alinea berdiri, mengambil kembali tabletnya, dan bersiap meninggalkan ruangan tanpa jawaban pasti.
Arsenio hanya memperhatikan punggung Alinea yang menjauh menuju pintu keluar. Dalam empat puluh delapan jam, laporan kepemimpinan harus sampai ke tangan dewan direksi. Jika nama Alinea hilang dari daftar sekutu, posisinya berada di ujung tanduk.
Langkah kaki Alinea bergema di lorong, meninggalkan tumpukan kertas yang kini terasa sampah.
Keputusan besar harus diambil sebelum matahari terbit jika Artha Group tidak ingin kehilangan aset berharganya. Di luar sana, Orion Capital menunggu dengan kontrak yang jauh lebih menggoda.
Arsenio menarik napas panjang, lalu segera menghubungi ketua dewan komisaris melalui jalur pribadi. Ia tahu, egonya harus segera dikubur jika ingin tetap bertahan.
👍
🙆✨🔥
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹
terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨