NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 32

Iring-iringan mobil mewah itu membelah kegelapan, lalu berhenti tepat di depan mansion megah dengan pencahayaan temaram. Lampu-lampu pijar berwarna jingga menyiram taman luas yang mengelilingi bangunan, menciptakan suasana tenang yang justru terasa mencekam.

Kali ini Jay datang tidak bersama Drew. Jay memberikan perintah khusus untuk Drew.

Kedatangan Jay sudah dikonfirmasi oleh pengawal pribadi Baron. Di wilayah abu-abu perbatasan kota itu, hukum hanya sebatas bayangan. Dua faksi besar berdiri saling berhadapan—para pengawal dengan tangan tersembunyi di balik jas, jemari siap menyentuh pelatuk. Tatapan mereka saling mengunci, tegang, menunggu satu percikan kecil untuk meledak.

Jay melangkah masuk dengan tenang. Pembawaannya seperti serigala yang menyusup ke wilayah musuh tanpa gentar.

Di ruang tengah yang luas, Baron berdiri di sisi meja biliar. Denting stik dan benturan bola menjadi satu-satunya suara yang memecah sunyi.

Tak!

Satu bola masuk ke lubang sudut.

Tanpa berkata apa-apa, Jay mengambil stik dari rak. Ia berdiri di sisi berlawanan dan mulai bermain.

“Kau mengambil keputusan yang sangat nekat, Jay,” ujar Baron sambil menggosok ujung stiknya dengan kapur biru. Tatapannya tak beralih dari susunan bola.

“Tidak juga,” sahut Jay dingin. Ia membungkuk, membidik. “Justru ini yang kuinginkan. Kalaupun aku mati malam ini, setidaknya aku mati sebagai pria bebas. Bukan anjing yang dirantai.”

“Jackman tidak akan membiarkanmu bernapas. Dia benar-benar akan membunuhmu.”

Braak!

Tiga bola masuk sekaligus ke lubang berbeda.

“Zavier sudah mengumpulkan semua petinggi mafia tadi siang,” lanjut Baron, kini menatap Jay dengan lebih serius.

“Kau ikut?” tanya Jay singkat.

Baron tersenyum tipis. “Aku hanya melihat-lihat suasana.”

“Dan hasilnya?”

“Lima faksi terkuat memilih abstain. Mereka tidak ingin memihak. Sisanya…” Baron berhenti sejenak. “Bertekuk lutut di bawah perintah Zavier.”

Jay tertawa hambar. Ia memutar stik di tangannya seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada permainan di hadapannya.

“Itu tidak akan cukup,” ucapnya pelan. “Semua wilayah strategis milik Jackman sudah berada dalam kendaliku.”

“Benar. Tapi jika Jackman sendiri yang angkat bicara—”

“Tidak,” potong Jay tajam. “Zavier tidak akan sanggup mengelola itu. Kekuasaan Jackman terlalu rumit untuk otaknya. Mafia-mafia itu bekerja sama dengannya karena mereka haus wilayah. Dan hanya aku yang tahu cara menjinakkan mereka.”

Baron bersandar pada meja, wajahnya kini benar-benar serius.

“Kabarnya, Zavier akan membawa seluruh pasukan yang memihaknya untuk menyerangmu secara langsung.”

Jay menegakkan punggungnya. Kilat di matanya berubah dingin, mematikan.

“Aku justru sedang menunggu momen itu.”

Belum sempat Baron menanggapi, pintu ruang tengah terbuka keras.

Salah satu anak buah Baron masuk dengan napas terengah.

“Tuan—”

Baron menoleh tajam. “Apa?”

Pria itu melirik Jay sekilas sebelum akhirnya berbicara, “ Saya mendapatkan informasi. Ada penyerbuan di gudang senjata milik tuan Jay. Sekitar tiga puluh orang. Bersenjata lengkap.”

Ruangan seketika membeku.

Jay tidak langsung bereaksi. Ia justru menurunkan stiknya dengan tenang, lalu mengambil ponsel dari saku dalam jasnya.

Satu pesan masuk.

Hanya dua kata.

“Gudang timur. Di serang.”*

Jay telah membangun bisnis nya sendiri di luar bisnis ayahnya. Jay dengan cerdik telah membangun perusahaan nya sendiri, wilayahnya sendiri, san hampir seluruh perdagangan Jackman hanyalah cangkang, semua bisnis gelap telah berpindah tangan pada Jay. Alur serta Lajur perdagangan pun telah di belokkan oleh Jay.

Jay tersenyum tipis.

Baron memperhatikan perubahan ekspresi itu. “Kau sudah tahu?”

“Sudah kuduga,” jawab Jay ringan. “Zavier terlalu tidak sabaran. Ku pikir dia sudah benar-benar berubah. Tapi tidak. Otaknya masih se kecil udang.”

“Jika gudangmu jatuh, kau kehilangan suplai.”

Jay menatap Baron lurus. “Gudang itu hanya umpan.”

Baron mengernyit.

“Semua senjata berat sudah kupindahkan dua hari lalu. Yang tersisa di sana hanya seperempat dari stok lama… dan beberapa kejutan kecil.”

“Jebakan?” tanya Baron.

Jay tak menjawab. Ia hanya memasukkan kembali ponselnya.

————

Di sisi lain kota—

Gudang tua yang menjadi gedung penyimpanan barang milik Jay pribadi, di kawasan industri itu kini dipenuhi suara tembakan.

Dor! Dor! Dor!

Pasukan Zavier merangsek masuk setelah menjebol pintu utama. Mereka menyebar cepat, bergerak taktis di antara peti-peti kayu dan rak besi.

“Bersih! Lanjut ke dalam!” teriak salah satu komandan.

Namun langkah mereka terhenti ketika salah satu anak buah menyadari sesuatu.

“Ini terlalu sepi…”

Klik.

Suara kecil, hampir tak terdengar.

Dalam sepersekian detik, lampu-lampu gudang padam total.

Gelap.

Lalu ledakan kecil terdengar di sudut ruangan—bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengunci. Pintu-pintu baja otomatis jatuh menutup seluruh akses keluar.

“Apa ini—?!” Para pengawal terkejut dan mulai panik.

Tiba-tiba dari atas, tabung-tabung kecil pecah, menyemburkan asap tebal yang membuat mata perih dan napas tersengal.

Di kegelapan itu, tembakan mulai terdengar—namun bukan dari arah yang bisa mereka pastikan.

Anak buah Jay, yang sudah bersembunyi di lorong-lorong tersembunyi, bergerak seperti bayangan.

Satu per satu pasukan Zavier tumbang— di tembaki membabi buta. Darah menggenang di lantai seperti aliran anak sungai.

Di sebuah mobil hitam yang terparkir dua blok dari gudang, tangan seseorang menggenggam ponsel.

“Target masuk perangkap,” lapor suara dari ujung sana. Dan itu adalah Drew.

Orang itu tersenyum tipis di balik kegelapan.

———

Kembali di mansion Baron—

Ponsel Jay bergetar lagi.

Ia membacanya sekilas, lalu menyeringai puas.

“Setengah dari pasukan terbaik Zavier telah di bereskn.”

Baron menghela napas pelan. “Kau benar-benar ingin perang terbuka. Tapi, aku suka. Aku tidak ingin jalan perdagangan di pegang oleh orang yang tidak kompeten. Hanya seperti ini saja dia sudah masuk jebakan.”

Jay diam sejenak.

“Lalu selanjutnya apa yang ingin kau lakukan.”

“Aku sudah mendatangimu, artinya kau tahu maksudnya.” Kata Jay.

“Aku bisa saja berdiri di sampingku untuk masalah pewaris Jackman, tanah kekuasaan para mafia harus di pegang oleh orang yang kompeten. Namun, aku tidak akan senang jika kau mengusik wilayah dagangku.”

“Apa selama ini aku seperti yang kau katakan?”

“Tidak. Kau jauh mengerikan.”

“Kau pun begitu.”

Jay berjalan menuju pintu keluar.

“Tunggu dulu.” Sambung Baron.

”Kau seharusnya menemui 5 faksi mafia. Mereka memiliki kekuatan yang cukup besareskipun sulit di kendalikan karena mereka percaya pada Jackman.”

“Mm… Aku sudah memikirkannya. Dan aku lah yang menjinakkan mereka tentunya mereka akan memihak padaku daripada Zavier.” Jay benar-benar keluar, kali ini langkahnya mantap.

Saat memasuki mobil seorang pengawal pribadi Baron menyapa. Dia adalah Jude. Pria yang sudah Jay kenal lama karena mereka sering bertemu ketika Jay terlibat perdagangan dengan Baronz

“Anda akan perang secara terbuka kali ini Tuan.” Kata Jude.

“Bukan perang,” kata Jay tanpa menoleh.

“Ini pembersihan.”

Jay duduk tenang di belakang.

“Dan sekarang… giliran aku yang bergerak.” Sahut Jay.

“Semoga anda menang.”

“Aku harus menang.” Lanjut Jay.

“Tentu Tuan.” Jude menutup pintu mobil.

Kemudian mesin-mesin mobil mulai menyala.

Malam belum berakhir.

Dan darah baru saja mulai mengalir.

Sedikit demi sedikit, perang benar-benar akan meledak.

Bersambung

1
Arifgreenday
lnjut
samiya
next
May Maya
tuh akibat org ngeyel bgtu Anna Jay GK perlu harum manis dia tuh butuh nya kau n kepatuhan mu skrg dah kyak bgni yg susah Jay blm lg kau jg akan d sakiti hadehhhhh Jay yg sabar ya
wiliss
ngiyiill
graver el mubarak
lanjut
celline
lnjut
gogled
sioop
higdominos
upp
bambangsans
up
lalisafajr
next
johanna
upp lg
Bluekastil
yup
Yuyun
upp
Javiz
next
Laura
lnjut
ppok
upp
@emak aisyah
mampuss siksa sekalian,di bilangin ngeyel,males banget aku Ama orng yang di kasih perhatian malah sok berkuasa segala baik² saja ternyata,rugi sendiri kan Anna² wanita sialan
eva nindia
ngeyel bngett deh anna pdhal klo mau beli nnti z breng am jay 🙈
tpi bgitu la wanita 😅🤭
siapa ni yg nyulik anna, zavier kah atwa si penelepon misterius 🤔
gak kebyang semurka apa c jay skrg...
thor hayu up lagiii 😁
May Maya
Bagus
May Maya
cari masalah n penyakit sendiri ini si namanya ana hrusnya kau bs memahami situasi Jay saat ini kejadian saat d apartemen Jay kan bisa buat mu takut n tau kondisi nya sperti apa sampai2 Jay membawa mu k mention yg jauh agar kau aman eh skrg kau malah ingin pergi k tempat umum d mna para penjahat bs memburu mu sbgai kelemahan jay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!