Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 - pertemuan dengan bayangan hitam
Kabut pagi menyelimuti pinggiran hutan dekat Sekte Batu Awan. Udara dingin menusuk tulang, namun bagi Qing Lin, itu hanya bagian dari latihan. Ia membawa pedang kayu dan kapak kecilnya, berjalan tanpa tergesa-gesa di jalur yang membelah hutan lebat.
Hari ini berbeda dari sebelumnya. Sekte telah menugaskan Qing Lin untuk patroli di wilayah pinggir yang baru saja dilaporkan sebagai sarang makhluk iblis tingkat menengah. Liang He sendiri yang memberikan instruksi singkat.
“Jangan provokasi mereka, tapi jangan mundur,” katanya. “Ini uji nyata. Kau harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan… gunakan instingmu.”
Qing Lin mengangguk pelan. Kata-kata Liang He tidak memberinya rasa takut. Ia hanya mengerti satu hal: ia harus bertahan, dan menjadi lebih kuat tanpa melanggar prinsipnya.
Ia melangkah masuk ke wilayah hutan.
Bau tanah basah dan daun busuk menyeruak. Pepohonan tinggi menutupi sinar matahari yang masih rendah. Setiap langkah terdengar jelas di antara kabut, namun bagi Qing Lin, itu bukan masalah. Qi dalam tubuhnya telah padat, inti Sutra Darah Sunyi berdenyut pelan, memberi kestabilan pada tubuhnya.
Namun yang datang berikutnya bukanlah langkah biasa.
Sebuah bayangan hitam melintas cepat di antara pepohonan, begitu cepat hingga Qing Lin hampir tidak melihatnya. Sekejap, suara geraman rendah terdengar—makhluk iblis tingkat menengah muncul.
Makhluk itu lebih besar dari serigala abu bertaring sebelumnya. Tubuhnya ramping namun kuat, kulitnya gelap seperti bayangan malam, dan matanya merah menyala. Cakar panjangnya tampak seperti bisa merobek batu.
Qing Lin berhenti, menarik napas panjang. Ia duduk bersila sejenak, menenangkan diri, dan mengatur napas. Sutra Darah Sunyi merespons, berputar lebih cepat, mengalir ke setiap sendi, otot, dan tulang. Tubuhnya mulai terasa lebih ringan, refleks lebih cepat.
“Pelan… tapi pasti,” bisiknya.
Makhluk iblis itu mengendus udara, mendeteksi kehadirannya, lalu melompat ke arah Qing Lin.
Pertempuran dimulai.
Qing Lin menghindar dengan gerakan sederhana, menekankan keseimbangan dan ritme. Sutra Darah Sunyi menyerap energi dari gerakan makhluk itu, bukan melalui darah, tapi melalui getaran dan tekanan.
Setiap ayunan cakar menghantam udara di dekatnya, menghasilkan gelombang energi kecil yang diserap tubuhnya. Ini berbeda dari latihan sebelumnya. Di sini, gerakan makhluk iblis lebih cepat, lebih tajam, dan berbahaya.
Qing Lin menunduk, menggeser kapak ke samping, dan mendorong diri menjauh. Tangan dan kakinya terasa lebih kuat dari sebelumnya—tanda pertama bahwa inti Sutra Darah Sunyi memberinya lonjakan fisik nyata.
Namun yang paling sulit adalah mengendalikan emosi. Makhluk ini agresif, liar, dan menyerang tanpa alasan. Qing Lin ingin melawan, tapi hatinya menahan—ia tidak ingin membunuh tanpa alasan.
Makhluk itu melompat lagi, kali ini dengan cakar menyapu ke arah perutnya. Qing Lin menggulung tubuhnya, berguling ke tanah lembab, dan menendang batu di dekatnya. Dampak kecil dari batu itu membuat makhluk itu terhuyung.
Sutra Darah Sunyi merespons. Qi mulai memadat lebih cepat, inti di dadanya berdenyut lebih kuat. Tubuhnya kini memiliki refleks lebih tajam, otot lebih padat, dan ketahanan lebih tinggi.
Ia merasakan energi mengalir dari makhluk itu—bukan melalui darah, tapi melalui kekuatan yang diterimanya dari kontak fisik. Ini adalah metode pertumbuhan baru: tanpa membunuh, tapi tetap menyerap energi untuk bertahan.
Pertempuran berlangsung berjam-jam.
Qing Lin mulai mengenali pola gerakan makhluk itu. Setiap lompatan, ayunan, dan serangan memiliki ritme. Ia mengikuti ritme itu, menggunakan setiap celah untuk menyesuaikan aliran Sutra Darah Sunyi.
Makhluk itu melompat tinggi, menyerang dengan kedua cakar, tapi Qing Lin mundur, menggeser tubuh, dan memutar kapak dengan presisi. Gerakan sederhana, tapi Sutra Darah Sunyi membuatnya lebih cepat dari yang terlihat.
Pada satu titik, makhluk itu jatuh ke tanah karena tersandung akar pohon. Qing Lin tidak menyerang. Ia hanya menahan napas, membiarkan Sutra Darah Sunyi menyerap sedikit energi dari kejadian itu.
“Aku tidak ingin kau mati… tapi aku harus menjadi lebih kuat,” gumamnya pelan.
Saat malam mulai menutup hutan, makhluk itu tampak kelelahan. Matanya merah menyala, tetapi gerakannya melambat. Qing Lin berdiri tegak, tangannya gemetar sedikit, namun langkahnya mantap.
Ia merasakan inti Sutra Darah Sunyi di dadanya semakin padat. Lonjakan fisik yang nyata terjadi—otot lebih tegas, refleks lebih cepat, dan kekuatan yang sebelumnya tersembunyi kini muncul samar.
“Pertama… lonjakan nyata,” gumamnya. “Aku… masih polos, tapi… aku harus bertahan.”
Makhluk itu akhirnya mundur, hilang ke dalam bayangan pepohonan. Tidak ada kematian, tidak ada darah menetes. Hanya pengalaman dan pertumbuhan.
Qing Lin duduk di atas batu besar, napas teratur. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tetapi karena Sutra Darah Sunyi menyesuaikan diri dengan lonjakan energi yang baru.
“Ini… baru permulaan,” bisiknya.
Di sekte, berita tentang keberhasilannya menyebar dengan cepat. Murid luar yang sebelumnya menertawakannya kini menghindar. Murid dalam mulai menatapnya dengan tatapan serius, bahkan penatua Gu Yan dan Shen mulai mencatat dan memantau pergerakannya.
Satu hal jelas: Qing Lin telah mengalami lonjakan pertama level kultivasi nyata, meskipun masih polos dan tanpa akar spiritual.
Beberapa hari berikutnya, Qing Lin terus berlatih, menyesuaikan diri dengan lonjakan kekuatan pertama.
Gerakannya lebih presisi.
Napas lebih stabil.
Otot dan refleks meningkat.
Namun ia tetap berhati-hati. Sutra Darah Sunyi yang baru terbentuk masih sensitif, bisa lepas kendali jika ia terburu-buru.
“Pelan… tapi pasti,” gumamnya, menekan aliran energi.
Di sisi lain, murid luar mulai melihatnya dengan rasa takut samar, respek, dan bahkan iri. Murid dalam kini tahu bahwa Qing Lin bukan sekadar murid luar biasa biasa—ia adalah ancaman yang tidak bisa diabaikan.
Malam hari, Qing Lin kembali ke pinggir hutan. Ia duduk bersila di batu besar, menatap bintang yang tertutup kabut. Sutra Darah Sunyi berputar di dalam tubuhnya, berdenyut, memadat, dan membentuk batas baru.
Ia menutup mata, merasakan inti yang kini lebih padat dari sebelumnya. Tubuhnya lebih ringan, refleks lebih cepat, dan bahkan indera pendengaran terasa lebih tajam.
“Aku masih ingin hidup sederhana… tapi dunia tidak membiarkan,” bisiknya.
Dalam keheningan malam, Sutra Darah Sunyi berdenyut. Qi dalam tubuhnya kini stabil, siap menghadapi uji berikutnya.