NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Adu Mekanik di Ranjang Tempur

Sementara itu, di sebuah mansion mewah yang letaknya sangat jauh dari gang sempit kos Cika, suasana malam tidak kalah serunya. Jika di kamar kos Cika suasananya pengap oleh keringat dan kecanggungan, di kediaman pribadi milik Raka ini, segalanya terasa mahal dan eksklusif. Mansion yang berdiri megah di kawasan elit itu menjadi saksi bisu sisi gelap dan ambisi pribadi sang perwira yang baru saja naik jabatan.

Raka baru saja melepaskan jam tangan mahalnya dan meletakkan baret serta atribut militernya di atas meja rias dari kayu mahoni. Otot-otot bahunya yang tegap, tampak kaku dan menonjol di balik kemeja hitam ketat yang membalut tubuh perkasa sang perwira. Sebagai pria yang baru saja menapaki jenjang jabatan baru, setiap gerakannya memancarkan otoritas yang dominan, namun malam ini, ada sesuatu yang lebih primitif yang menuntut untuk dilepaskan.

Ia butuh pelampiasan. Sesuatu yang mentah. Sesuatu yang selama ini ia tahan sejak janji suci itu diucapkan beberapa pekan lalu.

Di sudut ruangan, Melani berdiri di depan cermin rias yang besar. Secara objektif, Melani adalah definisi kecantikan yang dipuja banyak orang: kulit putih porselen yang kontras dengan rambut hitam sebahu, serta tubuh ramping dengan lekuk yang simetris. Namun bagi mata Raka yang terbiasa dengan selera yang lebih 'berat'—perempuan dengan lekuk tubuh yang lebih melimpah—Melani awalnya tampak seperti hidangan yang kurang bumbu.

Namun malam ini, Melani memutuskan untuk mengubah menu.

Sebuah aroma mulai memenuhi ruangan. Harum parfum yang tajam, manis, namun memiliki jejak musk yang menggoda—sebuah aroma familiar yang seketika menarik paksa memori Raka ke masa-masa liarnya di kelab malam sebelum ia terbelenggu status pernikahan. Raka terpaku, hidungnya kembang kempis menghirup aroma yang seolah memanggil naluri pemburunya.

Melani mulai bergerak di depan cermin dengan ritme yang sengaja dibuat lambat. Ia mengoleskan serum ke leher jenjangnya, membiarkan jemarinya menari sensual hingga ke batas dada. Dengan gerakan yang tampak tidak sengaja, ia membiarkan tali tipis pakaian dalamnya merosot, menyingkap bahu putih yang berkilau di bawah cahaya lampu. Bibir tebalnya ia basahi dengan ujung lidah, menciptakan suara desahan-desahan kecil saat ia memijat kulitnya sendiri.

Pemandangan itu memutus sisa-saraf kesabaran Raka. Dengan langkah lebar, ia menyambar lengan Melani, memaksa wanita itu berputar hingga tubuh mungilnya terbentur pada kokohnya dada Raka.

"Lo mau buat gue birahi ya, bitch!" desis Raka, suaranya parau, rendah, dan penuh ancaman yang gelap.

Melani tidak merasa takut. Sebaliknya, matanya justru berkilat menantang. Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa ia telah menemukan kunci untuk membuka sisi buas suaminya. "Lidah gue pinter kok..." bisiknya tepat di telinga Raka, sementara tangannya merosot ke bawah, mengunci bagian di balik celana kain Raka yang sudah menegang, siap untuk pertempuran.

Darah Raka mendidih. Ia mendesis penuh gairah saat Melani dengan berani mendorong tubuh besarnya hingga terjatuh ke atas ranjang. Tanpa membuang waktu, Melani menindihnya. Jemari wanita itu bekerja dengan kecepatan yang mengejutkan, merobek paksa kancing kemeja hitam Raka hingga kancing-kancing itu terpental ke lantai.

Begitu resleting celana diturunkan, "senjata" Raka yang selama ini terkurung kini bebas. Melani terpaku sejenak, menatap karya tuhan yang perkasa, panjang, dan berurat di hadapannya. "Panjang dan berurat yah," ucapnya pelan sebelum ia menenggelamkan benda itu ke dalam rongga mulutnya yang hangat.

Raka mengerang keras, tangannya mencengkeram sprei hingga robek. "Ahh, udah berapa kali lo gini? Jago banget, shit!"

Melani mendongak sebentar, matanya sayu karena kenikmatan yang ia ciptakan sendiri. "Belum sampai sepuluh kali," jawabnya dengan tawa nakal sebelum kembali melanjutkan tugasnya. Lidahnya bergerak dengan keahlian yang membuat Raka meracau tidak jelas, menyadari bahwa istri yang ia anggap 'biasa' ini ternyata adalah pemain yang sebanding dengannya.

Tidak tahan hanya menjadi pihak pasif, Raka menyambar bahu Melani. Dengan tenaga militernya, ia membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan kilat. Sekarang Melani yang berada di bawah kuasa tubuh raksasanya.

"Liar banget," ucap Raka singkat. Ia memberikan tamparan ringan di pipi Melani, sebuah hukuman sekaligus rangsangan sebelum menyambar bibir itu dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Tangannya mulai menjelajahi bagian dada Melani yang meski tidak sebesar seleranya, namun terasa begitu pas dan kenyal seperti jeli di dalam genggamannya. Ia meremas dan memainkan kedua bulatan itu hingga Melani mengerang melengkungkan punggung.

Tangan Raka terus menelusuri ke bawah, mengangkat paha Melani yang ramping hingga posisi wanita itu terbuka sepenuhnya. Ia menampar pelan pantat Melani yang padat, menciptakan suara plak yang menggema, disusul rintihan keluhan nakal dari bibir istrinya.

Saat jemarinya mencapai titik inti, Raka mendapati wilayah itu sudah sangat basah, seolah-olah sebuah bendungan baru saja runtuh. Jemarinya meluncur masuk tanpa hambatan ke dalam liang yang hangat dan lembap itu.

"Ahhh, sial! Enak banget..." racau Melani, tubuhnya gemetar hebat.

"Suka?" tanya Raka dengan senyum bejat yang belum pernah diperlihatkannya pada siapa pun.

"Coba jilat," pinta Melani dengan suara memohon, namun Raka tampaknya punya rencana lain. Ia ingin segera menuntaskan dahaganya.

Tanpa aba-aba, Raka memposisikan dirinya. Senjata besarnya yang sudah berdenyut itu kini ia arahkan pada lubang yang sudah terlumasi sempurna. Dalam satu dorongan kuat, ia masuk. Lolos begitu saja tanpa perlawanan dari selaput dara yang seharusnya ada di sana.

Raka terhenti sejenak, menatap tajam ke mata Melani yang setengah tertutup. "Lo udah nggak perawan ya, Mel?"

Bukannya merasa malu, Melani justru memeluk leher Raka lebih erat, menariknya lebih dekat. "Ahhh... emang itu penting sekarang?" jawabnya dengan napas terputus-putus. Tubuhnya terasa penuh, terisi secara maksimal oleh kekuatan Raka yang menghujam jauh ke dalam rahimnya.

Pertanyaan itu menjadi pemicu kemarahan sekaligus gairah yang meledak. Raka tidak peduli lagi dengan masa lalu. Ia mulai bergerak dengan ritme yang kasar dan cepat, seperti mesin perang yang tak mengenal lelah. Setiap hantaman menciptakan suara pertemuan kulit yang nyaring di keheningan malam.

Melani menerima setiap serangan itu dengan pekikan nikmat, kakinya melingkar erat di pinggang Raka, memastikan tidak ada ruang yang tersisa. Mereka berdua tenggelam dalam pusaran syahwat yang gelap, hingga akhirnya, dengan satu geraman panjang yang menggetarkan dada, Raka menumpahkan seluruh beban dan hasratnya di dalam sana, bersamaan dengan tubuh Melani yang mengejang hebat menuju titik klimaks yang paling menghancurkan.

Namun, Raka bukanlah pria yang mudah dipuaskan hanya dengan satu kali pelepasan. Napasnya yang memburu di ceruk leher Melani perlahan berubah menjadi gigitan kecil yang menuntut. Belum sempat Melani menetralkan detak jantungnya yang menggila, ia merasakan milik Raka kembali mengeras dan berdenyut di dalam dirinya, seolah menolak untuk tunduk pada kelelahan.

"Baru satu ronde, Mel. Jangan harap lo bisa tidur secepat itu," geram Raka dengan suara rendah yang menggetarkan dada.

Dengan satu sentakan kasar namun terkendali, Raka menarik dirinya keluar hingga terdengar suara plop yang basah, hanya untuk membalikkan tubuh Melani dalam posisi menungging yang merendahkan. Ia mencengkeram pinggang ramping itu dengan kedua tangannya yang besar, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulit pucat istrinya.

Tanpa peringatan, Raka kembali menghujamkan miliknya yang masih menegang panas dari arah belakang. Melani memekik, tangannya mencengkeram sprei hingga urat-urat di jemarinya menonjol. Sudut masuk yang berbeda ini menyentuh titik terdalam yang membuat seluruh tubuh Melani tersengat listrik. Raka bergerak dengan tempo yang lebih liar, seolah-olah ia sedang menaklukkan medan tempur yang paling menantang.

Suara hantaman kulit yang bertemu kulit bergema ritmis di kamar luas itu, bercampur dengan desahan parau Raka dan jeritan nikmat Melani yang tak lagi tertahan. Raka sengaja memperlambat gerakannya saat merasakan dinding rahim Melani menjepitnya dengan sangat ketat, lalu tiba-tiba menghujam dengan kekuatan penuh, membuat Melani berkali-kali mencapai puncak yang bertubi-tubi.

"Raka... ahh! Lebih cepat... tolong! Anjng enak banget sialn!" racau Melani dengan suara serak, kepalanya mendongak dengan mata terpejam erat.

Raka tidak memberikan ampun. Ia memacu gerakannya hingga mencapai batas kecepatan maksimal, membawa mereka berdua kembali ke tepi jurang kegilaan. Saat ledakan gairah itu kembali datang, Raka mengunci tubuh Melani dalam pelukan erat dari belakang, menenggelamkan wajahnya di rambut Melani sambil mengerang hebat saat cairan hangatnya kembali memenuhi rongga terdalam istrinya, menyatukan mereka dalam klimaks yang menghancurkan nalar.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!