NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN BAYANGAN DAN BIBIR YANG BERDUSTA

Malam di kediaman Zhang terasa lebih dingin dari biasanya. Meskipun mesin pemanas ruangan bekerja dengan sempurna, Alya tetap merasa menggigil di bawah selimut sutranya. Sejak kejadian malam itu—saat ia berpura-pura tidur dan mendengar bisikan mengerikan Mei Hua—Alya tidak pernah lagi merasa aman. Setiap sudut ruangan yang megah ini kini tampak seperti mata yang mengawasinya. Setiap pelayan yang tersenyum padanya kini terlihat seperti sipir penjara yang siap melaporkan setiap langkahnya.

Pagi ini, Alya terbangun dengan pikiran yang jauh lebih jernih. Hal ini terjadi karena semalam, secara sembunyi-sembunyi, Zhang Liyun masuk ke kamarnya saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Liyun, satu-satunya orang yang memiliki akses tanpa dicurigai, telah menukar botol "vitamin" perak milik Alya dengan botol yang dikirimkan oleh Wei Jun dan Han Zhihao.

"Minum ini, Alya. Jangan telan apa pun yang diberikan Mei Lin atau kakak iparku," bisik Liyun saat itu sambil menggenggam tangan Alya. "Mereka mencoba menumpulkan pikiranmu. Jangan biarkan mereka menang."

Berkat obat penawar itu, kabut di otak Alya mulai terangkat. Namun, ia tahu ia harus tetap berperan sebagai "gadis bodoh" yang linglung agar Mei Hua tidak curiga.

Siang harinya, Alya diminta oleh Madam Liu Xian untuk mengantarkan dokumen penting ke ruang kerja Zhang Liang. Biasanya, Chen Yiren yang melakukan tugas ini, namun Yiren sedang berada di luar untuk urusan logistik syukuran.

Alya berjalan pelan menyusuri koridor panjang yang sunyi. Langkah kakinya yang beralaskan sandal rumah tidak menimbulkan suara di atas karpet tebal. Saat ia sampai di depan pintu jati besar ruang kerja suaminya, ia melihat pintu itu sedikit terbuka—hanya celah kecil, namun cukup untuk memperlihatkan apa yang ada di dalamnya.

Tangannya yang hendak mengetuk pintu mendadak membeku.

Di dalam sana, Zhang Liang tidak sedang bekerja. Ia sedang duduk di kursi kebesarannya, namun di pangkuannya duduk Chen Yiren. Tangan Liang berada di pinggang Yiren, sementara Yiren melingkarkan lengannya di leher Liang dengan posesif.

"Liang... kapan kita akan mengakhirinya?" suara Yiren terdengar manja, sangat jauh dari nada angkuh yang biasanya ia gunakan pada Alya. "Mei Hua sudah mendapatkan apa yang dia mau, tapi aku? Aku lelah menjadi bayangan di belakang gadismu yang udik itu."

Liang menghela napas, menyandarkan kepalanya di bahu Yiren. "Bersabarlah, Yiren. Begitu anak-anak itu lahir dan Alya pergi, posisimu akan jelas. Kau tahu siapa yang sebenarnya memegang hatiku setelah Mei Hua."

"Tapi kau menyentuhnya setiap malam masa subur, Liang. Itu membuatku muak," keluh Yiren sambil mengecup rahang Liang.

"Itu hanya tugas, Yiren. Tidak lebih dari sekadar menandatangani kontrak. Tubuhku mungkin di sana, tapi pikiranku selalu padamu dan Mei Hua. Alya hanyalah alat yang harus kita rawat sampai masa panen tiba."

Alya merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia sudah tahu bahwa Liang tidak mencintainya. Ia sudah tahu bahwa ia hanya alat. Namun mendengar suaminya membahas "masa panen" seolah-olah dirinya adalah sebidang tanah pertanian membuatnya merasa begitu rendah. Hina.

Dengan tangan gemetar, Alya meletakkan dokumen itu di meja kecil di luar pintu, lalu berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju kamarnya. Ia tidak menangis dengan suara keras. Ia menutup mulutnya dengan bantal, membiarkan air mata membasahi kain sutra yang mahal itu.

Di kantor pusat Zhihao Tech, Han Zhihao sedang menatap layar monitornya dengan ekspresi yang sanggup membunuh siapa pun yang berani masuk ke ruangannya. Melalui mikrofon kecil yang ia tanam di ponsel yang ia berikan pada Liyun—yang kebetulan berada di dekat area ruang kerja Liang—ia mendengar seluruh percakapan antara Liang dan Yiren.

"Brengsek kau, Liang," desis Zhihao.

Ia menekan sebuah tombol di keyboard-nya, membuka data pribadi Chen Yiren. Dalam hitungan detik, seluruh sejarah keuangan Yiren terpampang. Ia menemukan beberapa transaksi mencurigakan antara Yiren dan sebuah klinik medis swasta yang tidak berafiliasi dengan keluarga Zhang.

Zhihao segera menghubungi Luo Cheng.

"Cheng, kau benar. Mereka tidak hanya menggunakan Alya, mereka sedang menipu Liang juga. Yiren dan Mei Hua punya agenda sendiri. Aku menemukan bukti bahwa Yiren secara rutin mengirimkan uang ke Dr. Kelvin Huang. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pewaris di sini."

Luo Cheng, yang sedang berada di area tambangnya, berteriak di telepon. "Aku akan ke sana sekarang! Aku akan menyeret Liang keluar dari ruangan itu!"

"Jangan bodoh, Cheng!" bentak Zhihao. "Jika kau bergerak sekarang, Alya yang akan jadi korbannya. Mereka akan mempercepat rencana mereka untuk melenyapkannya. Kita harus bermain halus. Biarkan Wei Jun yang masuk. Dia satu-satunya yang bisa bicara dengan Liang tanpa memicu perkelahian fisik."

Sore harinya, Wei Jun datang ke kediaman Zhang dengan alasan ingin meminjam buku referensi hukum maritim dari perpustakaan pribadi Liang. Ia tahu Liang sedang pergi ke pelabuhan, dan Mei Hua sedang beristirahat setelah "sesi pengobatan".

Di perpustakaan yang megah itu, ia menemukan Alya sedang duduk di pojok ruangan, menatap jendela dengan pandangan kosong. Wajahnya pucat, dan ada bekas merah di matanya.

"Alya," panggil Wei Jun lembut.

Alya tersentak, mencoba menghapus air matanya dengan cepat. "Tuan Wei Jun... maaf, saya tidak tahu Anda di sini."

Wei Jun melangkah mendekat, mengabaikan jarak sosial yang seharusnya dijaga. Ia duduk di samping Alya. "Kau baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat, bukan?"

Alya menoleh, terkejut. "Bagaimana Anda..."

"Aku tahu segalanya di rumah ini, Alya. Lebih dari yang kau bayangkan," Wei Jun mengambil tangan Alya, dan kali ini Alya tidak menariknya. "Dengar padaku. Kau tidak sendirian. Liang mungkin buta, tapi aku, Zhihao, dan Luo Cheng... kami melihatmu. Kami melihat apa yang mereka lakukan padamu."

"Kenapa?" bisik Alya. "Kenapa kalian peduli pada saya? Saya hanya gadis miskin yang menjual rahim saya."

Wei Jun menatap mata Alya dengan intensitas yang membuat napas Alya tertahan. "Karena di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini, kau adalah satu-satunya hal yang nyata, Alya. Kau adalah berlian yang dibuang ke lumpur, dan aku tidak suka melihat keindahan dirusak oleh tangan-tangan kotor."

Wei Jun mengeluarkan sebuah alat perekam kecil dan meletakkannya di tangan Alya. "Simpan ini. Jika kau mendengar sesuatu yang mencurigakan lagi, tekan tombol merah. Ini akan langsung terhubung ke server Zhihao. Kami akan menjagamu dari jauh."

"Tuan Wei Jun... apakah saya akan selamat?" tanya Alya dengan suara bergetar.

Wei Jun mendekatkan wajahnya, mengecup dahi Alya dengan lembut—sebuah tindakan yang jauh lebih penuh kasih daripada apa pun yang pernah dilakukan Liang. "Aku bersumpah dengan namaku, Alya. Kau dan bayi-bayimu akan selamat. Meskipun aku harus menghancurkan keluarga Zhang untuk melakukannya."

Malam itu, meja makan kembali penuh. Liang tampak segar setelah urusan bisnisnya, sementara Yiren duduk di dekatnya dengan senyum puas yang tersirat. Mei Hua, seperti biasa, berakting sebagai istri yang penuh penderitaan.

Alya makan dengan diam. Ia merasakan tatapan Yiren yang terus-menerus mengawasinya.

"Alya, kau tampak lebih jernih hari ini," ucap Mei Hua tiba-tiba, matanya menyipit. "Apakah kau meminum vitaminmu dengan benar? Mei Lin bilang kau sempat menolaknya tadi pagi."

Jantung Alya berdegup kencang. Ia teringat instruksi Liyun. "Saya meminumnya, Kak. Hanya saja tadi pagi perut saya sangat mual, jadi saya meminumnya agak telat."

"Baguslah," sahut Mei Hua. "Kehamilan kembar butuh nutrisi ekstra. Yiren, tolong pastikan jadwal pemeriksaan minggu depan diatur dengan Dr. Kelvin. Aku ingin memastikan perkembangan otak bayi-bayi itu."

Alya melirik Liang. Pria itu tetap diam, seolah-olah pembicaraan tentang tubuh Alya adalah pembicaraan tentang pengiriman kargo. Rasa benci mulai tumbuh di hati Alya yang selama ini hanya diisi oleh kepatuhan.

Saat makan malam berakhir, Liang memanggil Alya ke kamarnya.

"Alya, ada apa denganmu hari ini? Kau terus menatapku dengan aneh," tanya Liang saat mereka hanya berdua.

Alya mengepalkan tangannya di balik gaun tidurnya. Untuk pertama kalinya, ia ingin berteriak. Namun ia menahannya. "Saya hanya... memikirkan masa depan, Mas."

"Jangan terlalu banyak berpikir. Tugasmu hanya satu: pastikan mereka lahir sehat," ucap Liang sambil melepaskan jam tangannya. "Besok, aku akan pergi ke luar kota selama tiga hari. Yiren akan menemaniku. Mei Hua akan menjagamu di sini."

Alya merasa dingin merayap di punggungnya. Liang pergi bersama selingkuhannya, meninggalkannya sendirian dengan wanita yang ingin menghancurkannya. Ini adalah peluang sekaligus ancaman.

Setelah Liang keluar, Alya mengeluarkan alat perekam dari Wei Jun. Ia menggenggamnya erat. "Ibu... doakan Alya. Alya harus kuat demi anak-anak ini."

Di kegelapan malam, di balik kamera CCTV yang tak terlihat, Han Zhihao melihat Alya menggenggam alat itu. Ia tersenyum tipis. "Bagus, Alya. Mulailah melawan. Aku akan menjadi matamu di saat kau tidak bisa melihat."

Namun, di kamar sebelah, Mei Hua sedang berbicara di telepon dengan suara yang sangat rendah.

"Dokter Kelvin... siapkan prosedur itu untuk bulan depan. Kita tidak bisa menunggu sampai sembilan bulan. Aku ingin bayi-bayi itu keluar lebih cepat. Dan pastikan... Alya tidak perlu bangun lagi setelah operasi itu selesai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!