Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Sang Naga Merah
Hutan di sisi timur akademi bergetar hebat. Burung-burung gagak sihir beterbangan menjauh, merasakan lonjakan energi yang tidak stabil dan liar. Di tengah kawah reruntuhan pohon, Hyoudou Issei berdiri dengan tubuh yang mulai dibungkus oleh lempengan baja merah organik. Suara detak jantung naga terdengar berdentum keras, menggema di seluruh penjuru arena.
"Ddraig... berikan aku semua yang kau punya! Aku tidak peduli dengan tubuhku!" Issei meraung. Cahaya merah menyilaukan meledak, menelan sosoknya dalam pilar energi yang masif.
[ Peringatan: Gejolak Energi Terdeteksi. ]
[ Subjek: Hyoudou Issei. ]
* Status: Balance Breaker (Tidak Sempurna/Versi Emosional).
* Level Ancaman: Meningkat ke Senior (Sesaat).
Riser berdiri di batas hutan, hanya beberapa meter dari pusat ledakan energi tersebut. Angin kencang yang dihasilkan oleh transformasi Issei menerpa rambut pirangnya, namun dia tetap berdiri tegak dengan tangan yang masih berada di saku celana. Ekspresinya datar, hampir terlihat bosan, seolah-olah dia hanya sedang menonton pertunjukan jalanan yang tidak terlalu menarik.
"Issei... Issei," Riser menghela napas pendek. "Kau mengorbankan masa depan sel-sel tubuhmu hanya untuk kekuatan pinjaman yang bahkan tidak bisa kau kendalikan sepenuhnya. Betapa menyedihkannya menjadi seorang pahlawan."
"Tutup mulutmu!"
Dari balik debu, Issei melesat keluar. Penampilannya kini berubah total. Sebuah armor merah menutupi seluruh tubuhnya, lengkap dengan permata hijau yang berdenyut di tangan dan dadanya. Meskipun bentuknya belum sesempurna Scale Mail yang seharusnya, kecepatan dan kekuatannya meningkat puluhan kali lipat.
BUM!
Issei menghantamkan tinjunya ke arah wajah Riser. Riser hanya sedikit memiringkan kepalanya, membiarkan tinju berlapis baja itu lewat beberapa milimeter dari telinganya. Gelombang udara dari serangan itu menghancurkan deretan pohon di belakang Riser hingga rata dengan tanah.
"Kenapa kau menghindar?! Bertarunglah denganku secara jantan!" Issei kembali menyerang dengan serangkaian pukulan beruntun yang menciptakan dentuman sonik.
Riser bergerak dengan sangat minimalis. Dia tidak melakukan gerakan besar, hanya geseran kaki kecil dan putaran pinggang yang halus. Di mata penonton yang menyaksikan layar sihir di dunia bawah, Riser tampak seperti bayangan yang tidak bisa disentuh oleh amukan naga merah.
"Kau ingin aku bertarung?" Riser menangkap satu pukulan Issei dengan telapak tangan kanannya. Kali ini, dia tidak menggunakan Full Counter. Dia menggunakan kekuatan fisik murninya yang telah diperkuat oleh sinkronisasi jiwa Meliodas.
Krak!
Suara logam retak terdengar jelas. Armor di tangan Issei retak di bawah tekanan genggaman Riser.
"A-apa...?" Mata Issei di balik helm armornya melebar. "Bagaimana mungkin kau bisa merusak armor naga hanya dengan tangan kosong tanpa sihir?!"
Riser menarik Issei mendekat, memperpendek jarak hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Mata Riser yang berpendar jingga kini menunjukkan sedikit kegelapan yang pekat di bagian pupilnya.
"Kau terlalu bergantung pada 'Boost', Issei. Kau lupa bahwa di balik semua alat itu, kau hanyalah manusia lemah yang tidak pernah melatih ototmu sendiri," ucap Riser dingin.
Riser melepaskan tangan Issei dan memberikan satu serangan singkat ke ulu hati Issei—bukan pukulan, melainkan hanya dorongan telapak tangan yang disertai ledakan energi terkompresi.
DUAK!
Issei terlempar mundur, armor di bagian dadanya hancur berantakan. Dia terseret di tanah sejauh lima puluh meter sebelum akhirnya berhenti menabrak bongkahan batu besar.
[ Sinkronisasi Jiwa: 48%. ]
[ Kemampuan Aktif: Assault Strength (Pasif). ]
[ Catatan Yui: Kekuatan fisikmu sekarang setara dengan Iblis Kelas Tinggi murni tanpa perlu mengeluarkan setetes pun sihir api. Teruslah tekan dia, mentalnya hampir hancur. ]
Riser berjalan perlahan mendekati Issei yang sedang merangkak bangun dengan sisa-sisa armornya yang mulai menghilang karena kehabisan energi. Riser tidak terburu-buru. Dia ingin Issei merasakan setiap detik keputusasaan ini. Dia ingin Rias Gremory melihat bahwa "harapan" yang dia pertaruhkan pada pionnya hanyalah sebuah ilusi yang rapuh.
"Ayo, Issei. Bangunlah," panggil Riser, suaranya lembut namun mengandung intimidasi yang luar biasa. "Bukankah kau bilang ingin menjadi Harem King? Bagaimana kau bisa melindungi mereka jika kau bahkan tidak bisa membuatku mengeluarkan satu tangan dari saku celanaku?"
Issei menggertakkan giginya, darah mengalir dari sudut bibirnya. "Aku... aku tidak akan menyerah... Demi Buchou... demi Asia...!"
"Kata-kata yang indah," Riser berhenti tepat di depan Issei, membayanginya dengan postur tubuhnya yang dominan. "Tapi di duniaku, keinginan tanpa kekuatan hanyalah sebuah lelucon yang buruk."
Riser mengangkat kaki kanannya, bersiap untuk memberikan serangan penutup yang akan menghancurkan semangat Issei sepenuhnya. Di langit, suara petir Akeno masih beradu dengan ledakan api Yubelluna, namun bagi Issei, dunia seolah menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan sosok Riser yang terlihat seperti monster yang akan melahap eksistensinya.
Hening yang mematikan menyelimuti area hutan. Suara dedaunan yang terbakar dan retakan batu menjadi satu-satunya melodi di tengah drama keputusasaan ini. Issei tersungkur, napasnya terdengar berat dan bergetar, seperti mesin tua yang dipaksa bekerja melampaui batas. Armor merahnya kini hanya tersisa di bagian lengan, itu pun dengan retakan yang merambat seperti jaring laba-laba.
Riser berdiri di hadapannya, sosoknya tampak begitu agung dan menakutkan di bawah temaram cahaya ungu langit arena. Dia menatap Issei dengan pandangan yang sulit diartikan—bukan kebencian murni, melainkan ketidaksabaran seorang guru yang melihat muridnya gagal memahami pelajaran paling dasar.
"Kenapa, Issei? Di mana semua teriakanmu tadi?" Riser bertanya dengan nada yang sangat rendah. "Apa kau menunggu sebuah keajaiban? Di dunia ini, keajaiban hanyalah nama lain dari persiapan yang matang bertemu dengan kesempatan. Dan kau... kau sama sekali tidak bersiap."
"Aku... aku belum... kalah..." Issei mencoba mengangkat kepalanya. Matanya mulai kabur, namun dia masih bisa melihat kaki Riser yang berdiri tegak tanpa noda debu sedikit pun.
"Kau sudah kalah sejak kau berpikir bahwa emosi bisa menggantikan kekuatan," jawab Riser. Dia mengangkat tangannya, dan kali ini, dia tidak memanggil api. Dia hanya memusatkan tekanan udara di telapak tangannya, sebuah teknik manipulasi fisik yang dia pelajari dari integrasi memori Re-Taekwondo.
[ Analisis Kondisi Inang: Hyoudou Issei. ]
[ Integritas Tubuh: 12%. ]
[ Energi Naga: Terkuras habis. ]
[ Tindakan: Eliminasi segera disarankan untuk menjaga ritme pertempuran. ]
Riser melirik ke arah gedung utama sekolah melalui sudut matanya. Dia tahu Rias Gremory sedang menonton ini dengan tangan gemetar. "Lihatlah, Rias. Lihat bagaimana 'Harapan'-mu merangkak di tanah."
Tepat saat Riser hendak memberikan serangan terakhir, sebuah pilar energi merah keunguan meluncur deras dari arah gedung sekolah, menghantam tanah di antara Riser dan Issei.
BOOM!
Ledakan itu menciptakan dinding asap dan debu yang pekat. Dari balik kabut tersebut, Rias Gremory muncul. Rambut merahnya yang panjang berkibar tertiup angin kencang, dan matanya memancarkan aura kehancuran yang sangat pekat. Dia tidak lagi berada di ruang komando; dia telah turun ke medan perang sebagai bidak terakhir yang tersisa.
"Cukup, Riser!" Rias berteriak, suaranya mengandung amarah yang murni. "Kau sudah membuktikan kekuatanmu. Jangan sakiti dia lebih jauh lagi!"
Riser hanya mengibaskan tangannya, menghalau sisa-sisa asap di depannya. Dia menatap Rias dengan senyum tipis yang meremehkan. "Akhirnya, sang Putri turun dari menaranya. Tapi sayangnya, kau terlambat. Seorang King yang meninggalkan posisinya untuk menyelamatkan pion yang sudah tidak berguna... itu adalah kesalahan strategis yang fatal."
Rias segera berlutut di samping Issei, mencoba memberikan energi iblis untuk menstabilkan kondisinya. Namun, tangan Issei yang gemetar meraih ujung pakaian Rias. "Bu... chou... maaf... aku tidak bisa..."
"Diamlah, Issei. Kau sudah berjuang dengan baik," bisik Rias, matanya berkaca-kaca.
Riser tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar sangat sinis di tengah kesunyian hutan. "Berjuang dengan baik? Rias, kau sedang menghina konsep perjuangan itu sendiri. Dia hanya menjadi kantong tinjuku sejak menit pertama. Jika ini adalah perang yang sesungguhnya, kepalanya sudah menghiasi gerbang kastelku sepuluh menit yang lalu."
Rias bangkit berdiri, auranya meledak hebat. Lingkaran sihir kehancuran yang sangat besar muncul di belakang punggungnya. "Aku tidak akan membiarkanmu mengambil apa pun dariku hari ini! Jika kau ingin pernikahan ini, kau harus melewati mayatku!"
"Pernikahan?" Riser melangkah maju, perlahan melewati tubuh Issei yang kini mulai memudar menjadi partikel cahaya—tanda bahwa sistem telah mengeliminasinya secara paksa karena kondisinya yang kritis. "Rias, kau masih berpikir aku melakukan semua ini hanya untuk sebuah pernikahan?"
Riser berhenti tepat di depan Rias, jarak mereka hanya terpaut dua meter. Tekanan aura mereka berbenturan, menciptakan percikan energi yang membakar rumput di sekitar mereka.
"Aku melakukan ini untuk menghancurkan narasimu," bisik Riser. "Kau pikir kau bisa melarikan diri dari takdir klanmu hanya dengan mengandalkan keberuntungan? Aku di sini untuk menunjukkan padamu bahwa kebebasan yang kau inginkan harus dibayar dengan kekuatan yang nyata, bukan dengan air mata dan drama."
[ Sinkronisasi Jiwa: 50%. ]
[ Membuka Status Baru: 'The Unstoppable Phoenix'. ]
[ Pesan Yui: Konsentrasi energi Rias sedang mencapai puncaknya. Jika dia melepaskan sihir kehancurannya sekarang, area ini akan rata. Apa kau ingin menggunakan 'Full Counter' atau ingin mengujinya dengan kekuatan murni? ]
Biarkan dia menyerang, Yui. Aku ingin dia melihat puncak keputusasaan saat serangan terkuatnya tidak membuahkan hasil apa pun, batin Riser.
Riser membuka tangannya lebar-lebar, membiarkan tubuhnya terbuka sepenuhnya tanpa pertahanan. "Ayo, Rias Gremory. Gunakan kekuatan kehancuran milik klan Bael itu. Tunjukkan padaku apa kau benar-benar layak disebut sebagai pewaris Gremory, atau kau hanyalah bayangan kakakmu yang tidak berdaya."
Rias meraung, dan pilar energi kehancuran yang sangat besar meledak dari lingkaran sihirnya, menelan sosok Riser sepenuhnya dalam kegelapan yang mematikan.