NovelToon NovelToon
Benih Tertukar Duren Sawit

Benih Tertukar Duren Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:86.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

Demi tidak dijual pada pria beristri, Sienna Anindita nekat melakukan prosedur bayi tabung. Baginya, kehamilan adalah menuju kebebasan. Namun, kesalahan medis fatal mengubah hidupnya menjadi incaran maut. Benih yang tertanam di rahimnya ternyata milik Kalendra Elson, pemimpin sindikat Black Lotus yang kejam dan impoten. Sienna tidak tahu bahwa benih itu seharusnya sudah dimusnahkan. Dia juga tidak tahu bahwa bayi yang dilahirkannya memiliki kembaran yang kini berada dalam dekapan sang mafia.

"Kau pikir bisa lari setelah mencuri sesuatu dariku, Sienna?" desis Kalendra dengan tatapan membunuh.

"Aku tidak mencurinya, dan anak ini bukan milikmu!"

Bagi Kalendra, siapa pun yang membawa darah dagingnya hanya punya dua pilihan: tunduk atau lenyap. Namun, ia tidak menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukanlah menghadapi musuh bebuyutan, melainkan menghadapi Rayna, putri kecilnya yang bermulut pedas. Kontras dengan kembarannya, Rayden, yang anti bau dan takut serangga.

"Om belisik telus kayak knalpot motol Bunda. Layna sumpel ya mulutnya pakai kaus kaki Layna yang belum dicuci kalo ndak belhenti malahin Bunda!”

“Lihat mataku, Rayna. Aku adalah alasan kau ada di dunia ini. Aku ayahmu."

"Ayah Layna sudah lama pelginya. Om jangan ngaku-ngaku ya, nanti didatangi hantu Papa asli bisa bikin Om kencing di celana. Om pulang saja, mandi yang belsih, bau ikan salden tau ndak?”

Di antara bayang-bayang maut Black Lotus dan rahasia masa lalu, akankah ia berhasil menjinakkan putri kecilnya dan menaklukkan hati es Sienna? Ataukah Sienna akan jatuh ke pelukan Mahesa yang sudah siap menjadikannya istri ketiga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menangis

Drttt… Drttt…

Ponsel di saku Kalendra bergetar. Kalendra segera mengangkat panggilan dari Marco seraya matanya tetap tertuju pada Mama Ivana yang masih sibuk mengomeli Jovita di sudut lain.

“Ada apa?” tanya Kalendra datar, suaranya sedingin es.

Di seberang sana, Marco melaporkan pergerakan tersembunyi Aluna dan Mahesa membuat rahang Kalendra mengeras. 

“Dia sudah diberi pelajaran, tapi masih tak mengerti juga,” desis Kalendra dengan decakan lidah yang penuh penghinaan. “Apa otaknya sudah kemasukan lintah sampai dia tak bisa berpikir kalau perbuatannya itu hanya akan sia-sia?”

Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di lengan Kalendra. Ia tersentak, mengira ibunya namun ternyata Sienna dengan gurat wajah yang sulit diartikan. Kalendra pun memutus sambungan telepon.

“Ehm, ada apa?” tanyanya berusaha menetralisir suaranya.

Tanpa sepatah kata, Sienna menyodorkan selembar foto, foto terakhir Calista. Kalendra menyambarnya dengan kasar, matanya membelalak menatap potret mendiang istrinya.

“Gimana bisa ini ada padamu? Kamu mencurinya?” tuduh Kalendra tanpa saringan, sebuah kalimat yang meluncur begitu saja dari balik egonya yang defensif.

Sienna tersentak hebat. Dadanya terasa sesak luar biasa. “Mencuri? Apa di mata Anda, aku memang terlihat seperti seorang pencuri?” suaranya bergetar, menahan kesal dan sakit hati. Ia berharap penjelasan bukan tuduhan yang merendahkan martabatnya.

“Kalau begitu, bagaimana foto ini bisa—” Kalendra menggantung kalimatnya, terkejut saat melihat Sienna mendadak berbalik dan berlari keluar. Pria itu terpaku sejenak, sempat menangkap kilatan air mata yang jatuh di pipi wanita itu.

Kepergian Sienna yang tiba-tiba membuat si kembar, Jovita, dan Mama Ivana tersentak bingung. Kalendra akhirnya tersadar dari perkataannya dan bergegas menyusul, diikuti oleh yang lainnya yang ikut keluar dari salon dengan rasa cemas.

Di depan sebuah toko es krim, Kalendra menemukan Sienna terduduk lesu di bangku kayu. Kedua bahunya bergetar hebat, mencoba menahan isak tangis yang nyaris pecah.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kalendra pelan sambil berdiri di sisi bangku. Ia mengulurkan tangan, ingin menyentuh bahu itu untuk menenangkan, namun Sienna menepisnya dengan gerakan cepat yang penuh penolakan.

“Kau masih menanyakan keadaanku setelah bicara seperti itu?” Sienna mendongak. Matanya sembab dan merah, menatap Kalendra dengan binar kekecewaan yang membuat lidah pria itu mendadak kelu. Kalendra hanya bisa diam mematung, sebuah reaksi yang justru semakin menyulut api di hati Sienna.

Sienna mengusap matanya dengan kasar, berdiri tegak menantang tatapan Kalendra. “Foto itu jatuh di teras. Ibu yang menemukannya, bukan aku yang mencurinya, Tuan!” pukas Sienna, berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah.

“Entah kau mau percaya atau tidak, itu terserah Anda. Tapi sebelum Anda menuduh orang lain, cari tahu dulu kebenarannya. Dan lagi, aku sudah putuskan... aku tidak akan menikah denganmu,” tutur Sienna panjang lebar, membuat mata Kalendra membelalak sempurna.

“Tunggu, aku—”

“Sudah cukup!” potong Sienna tajam. “Foto itu telah menjelaskan segalanya. Aku tak mau menikahi pria yang sudah beristri!”

Sienna berbalik, namun tangan kekar Kalendra segera mencekal lengannya.

“Lepaskan!” bentak Sienna lantang.

“Dengarkan penjelasanku dulu!”

Sienna tersenyum getir, sebuah ekspresi paling menyakitkan yang pernah Kalendra lihat. “Aku tak butuh penjelasan. Anda sama saja seperti Mahesa, pembohong!” seru Sienna sambil menghentakkan lengannya saat cengkeraman Kalendra melemah karena rasa terkejut disamakan dengan pria seperti Mahesa.

Di kejauhan, Rayna dan Rayden mematung di samping Jovita. Mereka menyaksikan pertengkaran hebat itu dengan mata polos yang penuh ketakutan.

“Ma, apa yang terjadi pada mereka?” tanya Jovita ke Mama Ivana yang hanya bisa mengedikkan bahu.

Si kembar berlari mendekat. Rayna segera meraih jemari Sienna yang terasa sedingin es. “Bunda, napa sedih? Bunda sama Ayah napa beltengkal? Libutin apa?” tanya bocah itu dengan suara cadel yang pilu.

Sienna tak menjawab. Ia justru mengangkat Rayna ke dalam gendongannya. “Ayo pulang, Rayna. Pamanmu pasti sudah menunggu kita di rumah.”

“Ndak mau, Bunda! Layna masih mau main sama Aunty, Ayah sama Nenek!” Rayna mulai berontak di pelukan ibunya.

“Rayna!” suara Sienna sedikit meninggi, membuat Rayna terdiam. Belum pernah ia melihat bundanya semarah ini. “Jangan melawan! Atau kamu mau pulang dengan pria ini?” telunjuk Sienna mengarah dingin pada Kalendra.

Rayna hanya bisa menyembunyikan wajahnya di leher ibunya. Rayden mencoba maju untuk menahan sang bunda, namun Sienna sudah lebih dulu memutar tubuh dan berjalan cepat menuju pinggir jalan.

“Bundaa…!” teriak Rayden ingin mengejar, namun Kalendra segera menangkap tubuh mungil putranya.

“Dad, kejar Bunda. Jangan biarkan Bunda pergi.” Rayden meronta-ronta dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya.

“Sudah, kita pulang sekarang,” ucap Kalendra datar, meski hatinya terasa seperti diremas.

“Tapi Eden mau sama Bunda!” teriaknya memilukan agar Sienna mendengarnya namun Ibunya sudah masuk ke dalam taksi yang segera berlalu menjauh.

Mama Ivana mendekat dengan wajah penuh tanda tanya. “Kal, apa yang terjadi?”

“Pernikahan batal. Kami tidak akan menikah,” jawab Kalendra singkat.

“Kenapa tiba-tiba?” Jovita menyahut tak percaya. 

“Ini pasti kesalahpahaman, Nak,” ucap Mama Ivana.

“Aku bilang tidak ya tidak! Jangan paksa aku lagi, Ma!” bentak Kalendra, melampiaskan frustrasinya kepada mereka berdua.

“Tidak bisa begitu, Kak! Rayden dan Rayna itu saudara, mereka harus tetap bersama!” Jovita tidak mau kalah.

“Kalian harus menikah!”

“Diam kau, Jovi! Aku tahu apa yang terbaik untuk anakku! Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau ceramahi.” Kalendra kemudian beralih menatap ibunya dengan tatapan penuh kekecewaan.

“Dan Mama, aku kecewa. Mama bilang foto itu ada pada Mama, tapi ternyata ada pada Sienna. Sekarang dia salah paham dan mengira aku pembohong!”

Jovita mendengus, menatap kakaknya dengan pandangan menghakimi. “Jadi gara-gara foto itu? Kau belum jujur kalau kau sudah menduda lima tahun ini? Kenapa malah menyalahkan Mama?”

Kalendra tidak menjawab. Ia merasa pening yang luar biasa. Tanpa berkata-kata lagi, ia menggendong Rayden yang masih sesenggukan masuk ke dalam mobil.

“Bunda…” lirih Rayden di sela isakannya.

Jovita menatap kepergian mobil kakaknya dengan getir. “Gini nih alasan Kak Calista cepat meninggal dulu. Kurangnya komunikasi. Sifat kakumu itu yang membunuh Calista, Kak,” gumamnya pedih pada dirinya sendiri. Bayangan masa lalu saat Kalendra terlalu sibuk pada Black Lotus hingga mengabaikan sakit istrinya kini kembali menghantui.

“Ma, Mama susul Kak Kalendra. Biar Jovita yang bicara pada Sienna,” putus Jovita tegas. Mama Ivana mengangguk dan keduanya pun berpisah untuk segera meluruskan kesalahpahaman ini.

Sepulangnya Sienna, wanita itu segera menuju ke arah pintu sambil menggendong Rayna. Pada saat ia mau membuka pintu, pintu itu terbuka duluan oleh Harris.

“Oh, Sienna… kenapa Rayna menangis?” tanya pria berkacamata itu. Sienna tak bicara, ia langsung menubruk dada kakaknya dengan air mata yang berlinang membuat Harris tambah bingung. 

Scarlett yang melihat keadaan anak dan cucunya, secepatnya mengambil alih sambil menenangkan Rayna.

“Kenapa ini? Kok pulang nangis-nangis begini?” tanya Scarlett.

“Dia pembohong, Bu. Dia sama saja dengan Mahesa. Dia sudah punya istri dan mau menjadikan aku istri kedua. Bahkan dia menuduhku pencuri. Hatiku sakit sekali, Bu.” Tangis Sienna tak dapat membendung air matanya sampai-sampai ingusnya meler.

Harris mengepal tangan, kemarahan terpancar di matanya. Tak lama seseorang mengetuk pintu.

“Itu pasti Tuan Kalendra. Aku tak mau bertemu dia, Bu,” ucap Sienna masuk ke kamarnya dan membawa Rayna. 

Harris membuka pintu untuk bicara pada Kalendra. Tetapi yang datang itu Jovita.

“PAK HARRIS! TOLONG JANGAN DITUTUP PINTUNYA. AKU MAU BICARA PADA KAK SIENNA. INI PENTING!”

“Aissh… saya tahu, tapi tidak usah teriak. Anda mau bikin saya tuli?” desis pria dewasa itu, dongkol. 

“Ma-maaf, Pak, hehe…” ucap Jovita cengengesan.

“Aunty… hik.. hik.. napa Bunda belsedih? Aunty tahu ndak?” isak Rayna datang dan memeluk Jovita.

“Cup… cup… preman kecil Aunty bisa menangis juga. Maaf ya, kayaknya Ayah dan Ibumu lagi salah paham. Sekarang Aunty ke sini mau jelasin semua. Rayna mau kan bantu Aunty?”

“Tunggu, tadi kau bilang apa? Preman kecil?” Harris menangkap lengan Jovita sebelum ia masuk.

“Bu-bukan, Anda salah dengar. Saya ke dalam dulu ya. Permisi,” ucap Jovita secepat kilat pergi ke arah kamar Sienna membuat Harris mendengus ditinggal sendiri.

......................

Getok tuh Kalendra, udah bikin nangis adikmu, Ris.

1
Heni Mulyani
lanjut
Adinda
🤣🤣🤣🤣🤣
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Putusri Martini
ceritanya menarik 👍👍
tia
thor pingi tau besar ny rayna sama boca ninja
Mom Ilaa: kalo bnyk yg mau, insya Allah author bikin versi remajanya /Smile/
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
layna di lawan👍🤣🤣
Iqlima Al Jazira: good job layna👍🤩
total 2 replies
yumi chan
mudh2 ank cpt bsr..aku ingin bc rayna dm deva di wktu rmja
Mom Ilaa: author selesain ini dulu y /Smile/
total 1 replies
Adinda
lanjut thor
Mom Ilaa: siap kak
total 1 replies
tia
jangan keburu tamat thor
Heni Mulyani
lanjut😍😍
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mantab 👍👍👍👍👍👍
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣 yg sebleng itu kamu layna
Iqlima Al Jazira
next thor👍..
GO.. GO.. layna🤩
tia
lanjut thor
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/😍
Iqlima Al Jazira
layna, kami tunggu aksi mu🤣🤣
Hesty
jgn ada pelakorrr rhooirrr
ririen handayani
setujuuuu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tia: lanjut thor bonus lebaran update yg banyak 🤣
total 1 replies
Adinda
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!