Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SELAMAT DATANG DI NERAKA BERKEDOK KANTOR
Setelah kegagalan yang menyakitkan di PT Sumber Makmur Sejahtera, Bagas tidak membiarkan dirinya terpuruk terlalu lama. Baginya, menganggur satu hari lagi berarti melihat Ibunya mencuci satu bal baju tambahan. Tekad itu membawanya ke sebuah ruko berlantai tiga di daerah pinggiran yang papan namanya mentereng "Mitra Solusi Kreatif Digital & Marketing Agency".
Lamarannya kali ini diterima dengan sangat cepat. Tanpa wawancara berbelit, tanpa ditanya soal "Om Darwin", Bagas langsung disuruh masuk esok harinya. "Kita di sini sistemnya kekeluargaan, Gas. Kita tumbuh bareng, lembur bareng, sukses bareng," ujar sang manajer, Pak mulyono, seorang pria yang rambutnya selalu klimis tapi matanya terlihat sangat lelah.
Hari pertama bekerja, Bagas datang dengan kemeja paling rapi yang ia punya. Ia membayangkan sebuah meja kerja yang bersih dengan komputer canggih. Namun, realitanya? Ia diberikan sebuah laptop tua yang suaranya seperti mesin parut kelapa dan ditempatkan di sebuah meja kayu yang kakinya diganjal tumpukan koran agar tidak goyang.
"Gas, karena kamu baru, tugas pertama kamu gampang kok," ujar seorang senior bernama Rian yang mukanya sudah keriput padahal umurnya baru dua puluh lima tahun. "Cukup input data pelanggan dari sepuluh tahun terakhir ke sistem baru. Oh ya, jangan lupa, sore ini ada revisi desain buat klien, kamu bantu edit ya."
Bagas mengangguk patuh. "Siap, Mas. Tapi saya kan melamar jadi admin, bukan desainer?"
Rian tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar seperti peringatan bahaya. "Di sini kita semua adalah 'Avengers', Gas. Harus bisa semuanya Multitasking adalah kunci."
Pukul lima sore, saat Bagas sudah bersiap untuk pulang, Pak Mulyono tiba-tiba keluar dari ruangannya dengan wajah panik. "Semuanya perhatian! Ada proyek mendadak dari klien besar. Malam ini kita semua lembur ya. Saya sudah pesan mi instan cup buat semuanya. Semangat, ini demi kemajuan keluarga kita!"
Bagas menatap ponselnya. Ada pesan dari Ibu "Gas, pulang jam berapa? Ibu masak sayur lodeh kesukaanmu." Hati Bagas mencelos. Ia ingin sekali pulang, merasakan sayur lodeh yang hangat dan tawa bapaknya. Tapi ia baru bekerja satu hari. Ia takut jika menolak, ia akan langsung dipecat dan kembali jadi beban di rumah. Akhirnya, dengan berat hati, ia membalas "Agak malam, Bu. Ada kerjaan sedikit. Ibu makan duluan ya."
Lembur itu ternyata bukan sekadar satu atau dua jam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan Bagas masih harus memelototi angka-angka di layar laptopnya yang sesekali berkedip blue screen. Di sekelilingnya, suasana sangat tidak sehat. Rian sedang dimarahi habis-habisan oleh Pak Mulyono di depan semua orang karena kesalahan kecil pada warna logo.
"Kamu ini gimana sih? Kerja nggak pakai otak! Mau saya potong gaji kamu bulan ini?" bentak Pak Mulyono sampai urat lehernya keluar.
Rian hanya menunduk, tidak berani membela diri. Bagas merinding melihatnya. Inikah yang mereka sebut "kekeluargaan"? Di rumah Bagas, kalau ada yang salah, mereka bicara baik-baik, bukan diteriaki seperti binatang di depan orang banyak.
Suasana semakin toxic ketika rekan kerja yang lain mulai saling lempar tanggung jawab. "Ini tugas si Bagas harusnya!" seru salah satu karyawan senior yang sejak tadi hanya sibuk bermain game di ponselnya. Bagas yang masih baru hanya bisa diam, mengerjakan pekerjaan orang lain yang ditumpukkan ke mejanya tanpa ada kata tolong.
Pukul satu dini hari, Bagas baru bisa pulang. Karena sudah tidak ada angkot, ia terpaksa berjalan kaki beberapa kilometer sebelum akhirnya menemukan ojek yang masih beroperasi. Uang di sakunya semakin menipis karena ongkos ojek malam yang mahal.
Sesampainya di rumah, lampu depan masih menyala. Di atas meja makan, tertutup tudung saji, ada piring berisi nasi dan sayur lodeh yang sudah dingin. Ada secarik kertas kecil di sampingnya: "Jangan lupa makan, Gas. Jangan capek-capek. Ibu bangga sama kamu."
Bagas duduk di kursi kayu, menyuap nasi dingin itu dengan air mata yang hampir jatuh. Tubuhnya pegal luar biasa, kepalanya pening karena radiasi layar laptop, dan hatinya sakit karena merasa diperlakukan tidak adil di hari pertama. "Dua bulan," bisik Bagas pada diri sendiri. "Saya coba bertahan dua bulan demi pengalaman. Setelah itu, saya harus cari jalan keluar."
Namun, hari-hari selanjutnya justru semakin parah. Bagas diperlakukan seperti asisten pribadi, disuruh membeli rokok, disuruh memfotokopi berkas pribadi manajer, hingga harus menanggung beban kerja tiga orang sekaligus tanpa ada uang lembur sepeser pun. Puncaknya adalah ketika ia mendengar Pak Mulyono berbicara di telepon, merendahkan karyawan-karyawannya sebagai "tenaga kerja murah yang gampang dicari gantinya".
Genap dua bulan bekerja, Bagas merasa dirinya bukan lagi manusia, melainkan sekadar sisa-sisa tenaga yang diperas sampai habis. Wajahnya terlihat pucat, lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas, dan ia mulai sering melamun.
Suatu sore, setelah lagi-lagi dimarahi karena masalah yang bukan kesalahannya, Bagas berdiri di depan cermin toilet kantor. Ia menatap dirinya sendiri. Bagas, tujuanmu bekerja adalah membahagiakan orang tua, bukan membunuh dirimu pelan- pelan di tempat sampah ini, batinnya tegas.
Esok paginya, Bagas masuk ke ruangan Pak Mulyono. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan surat pengunduran diri di atas meja.
"Apa-apaan ini, Gas? Kamu baru dua bulan! Mana loyalitas kamu sebagai keluarga?" tanya Pak Mulyono dengan nada menghina.
Bagas tersenyum, kali ini bukan senyum palsu. "Maaf, Pak. Di keluarga saya, anggota keluarga saling menghargai, bukan saling menginjak. Saya resign hari Bagas keluar dari ruko itu dengan perasaan yang sangat ringan.
Meskipun ia tahu besok ia akan kembali menganggur, meskipun ia tahu ia akan kembali menghadapi pertanyaan "kapan dapat kerja?" dari tetangga, ia tidak menyesal. Ia belajar satu hal penting kebahagiaan orang tua tidak akan tercapai jika nyawa dan mental anaknya sudah hancur lebih dulu.
Ia berjalan pulang menuju gang sempitnya. Kali ini, langkahnya terasa lebih mantap. "Satu neraka sudah lewat. Mari kita cari surga yang sebenarnya, meskipun gajinya mungkin cuma seharga mi ayam," gumamnya sambil tertawa kecil.