NovelToon NovelToon
Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."

Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.

Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.

Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.

"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Cek Kosong dan Harga Diri

Kupersembahkan tubuh yang kau anggap lemah

Sebagai tumbal untuk mahkota yang kukejar

Kau pikir kau menandatangani cek kosong?

Sayang, kau baru saja menulis namamu di lembar terakhir

Sebuah buku yang akan kurebahkan sebagai saksi

Saat nanti aku berdiri di atas takhta

Dan kau berlutut di bawahnya

---

Matahari sore merambat masuk melalui celah tirai beludru, menciptakan garis-garis emas di lantai marmer kamar kerja Alana. Di luar, halaman belakang rumah megah itu tampak tenang—air mancur berbentuk dewi Yunani memercikkan riak kecil, bunga-bunga mawar merah di sepanjang pagar batu sedang mekar sempurna. Indah. Tenang. Seperti tidak ada yang salah.

Tapi Alana tahu, di taman itu, tiga tahun lalu Viola pertama kali "tersandung" ke pelukan Richard.

Ia masih ingat betul. Saat itu musim hujan. Viola datang basah kuyup, pura-pura berteduh, padahal ia punya mobil mewah yang terparkir di luar pagar. Richard yang "kebetulan" sedang memangkas mawar—ia yang tidak pernah menyentuh tanaman apa pun seumur hidupnya—bergegas keluar membawa payung. Alana melihat dari jendela ini, dari kamar kerja ini, sambil memegang secangkir teh yang makin lama makin dingin.

Sejak hari itu, Viola selalu punya alasan untuk datang.

Dan Alana? Alana selalu punya alasan untuk diam.

Pintu kamar kerja terbuka tanpa ketukan.

Richard masuk dengan setelan jas abu-abu, rambut disisir rapi ke belakang, wajah tampan yang dulu membuat Alana percaya pada dongeng. Ia meletakkan setumpuk dokumen di atas meja Alana—tepat di atas buku catatan ayah yang selalu Alana baca setiap malam.

"Tanda tangan di sini, di sini, dan di sini." Richard menunjuk dengan ujung jari, tanpa menatap mata Alana. "Semua halaman."

Alana menatap dokumen itu. Kertas-kertas putih dengan segel merah di sudutnya. Akta Pengalihan Hak Milik. Surat Kuasa Penuh. Pernyataan Pelepasan Aset.

Ia tidak perlu membaca detailnya. Ia tahu persis apa isinya. Lucas sudah mengirimkan salinannya seminggu lalu, lengkap dengan analisis hukum dan catatan merah di setiap klausul yang merugikannya. Richard mengalihkan seluruh saham atas nama Alana—warisan ayahnya—ke perusahaan baru atas nama Richard dan Viola. Perusahaan yang didirikan tiga bulan lalu, dengan alamat kantor yang sama dengan apartemen Viola.

"Boleh aku baca dulu?" Alana bertanya, suaranya lembut, hampir berbisik.

Richard menghela napas, jengkel. "Sudah, Lan. Ini cuma formalitas. Kamu kan nggak ngerti masalah bisnis. Percayalah sama aku."

Percayalah sama aku.

Alana menarik sudut bibir, membentuk senyum yang sama seperti tiga tahun lalu saat ia berjalan ke pelaminan. Senyum yang sama seperti saat ia menerima sumpah cinta Richard di depan penghulu, keluarga, dan teman-teman. Senyum yang sama seperti saat ayahnya terbaring di rumah sakit dan Richard berjanji akan "menjaga semuanya".

Senyum yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun kecuali pada cermin di kamar mandi, saat air pancuran mengalir deras menutupi suara isaknya.

"Baiklah." Alana meraih pulpen—pulpen emas pemberian ayahnya, hadiah kelulusan SMA dulu. "Kalau kamu bilang begitu."

Ia menandatangani.

Satu per satu. Halaman demi halaman. Namanya tercetak rapi di atas kertas-kertas yang akan mengubah hidupnya menjadi debu. Tangannya tidak gemetar. Napasnya tidak tersendat. Matanya tidak basah.

Richard memperhatikan dari samping, dan Alana bisa merasakan sorot matanya—penuh kemenangan, penuh ejekan, penuh keyakinan bahwa ia adalah pemenang dalam permainan ini.

Bodoh.

Alana mendengar Richard berbisik dalam hati. Ia tidak perlu menjadi cenayang untuk tahu. Semua tergambar jelas di wajah Richard. Di ujung bibirnya yang hampir tersenyum. Di matanya yang berbinar-binar.

Ia menyelesaikan halaman terakhir. Meletakkan pulpen. Merapikan dokumen.

Richard langsung mengambil tumpukan itu, hampir merenggutnya dari atas meja. "Bagus. Nanti aku urus sisanya." Ia berbalik, melangkah menuju pintu.

"Richard."

Ia berhenti. Menoleh setengah badan.

Alana menatapnya, masih dengan senyum lembut itu. "Kamu mau makan malam di rumah? Aku masakkan ayam goreng kesukaanmu."

Richard tertawa kecil—tertawa yang penuh rasa iba. "Malam ini aku ada meeting, Lan. Makan sama klien. Nanti kalau sudah larut, aku tidur di ruang kerja aja, biar nggak ganggu kamu."

Tidur di ruang kerja. Ruang kerja yang pintunya menghadap langsung ke kamar Viola.

Alana mengangguk. "Baiklah. Jaga kesehatan."

Pintu tertutup. Langkah kaki Richard menjauh, bergema di lorong marmer, lalu menghilang.

Alana diam.

Lima detik. Sepuluh. Tiga puluh.

Lalu ia berdiri, berjalan ke pintu, dan menguncinya dari dalam. Bunyi 'klik' kecil terdengar, dan tiba-tiba bahunya turun. Semua ketegangan yang ia tahan selama berjam-jam, berhari-hari, bertahun-tahun, perlahan menguap.

Ia kembali ke meja. Duduk di kursi ayahnya—kursi kulit tua yang selalu berderit kecil saat dipakai. Alana membuka laci paling bawah, menggeser tumpukan kertas-kertas lama, dan menekan papan kayu di dasar laci. Sebuah panel rahasia terbuka.

Di dalamnya, sebuah buku catatan tua bersampul coklat. Buku milik ayahnya.

Alana mengeluarkannya, membuka halaman pertama. Tulisan tangan ayahnya yang rapi memenuhi setiap baris:

"Untuk Alana, putriku satu-satunya—

Jika kau membaca ini, mungkin aku sudah tiada.

Ingatlah: dalam hidup, kau akan bertemu banyak serigala berbulu domba.

Mereka akan datang dengan senyuman, dengan janji-janji manis, dengan cinta yang berpura-pura.

Jangan lawan mereka dengan teriakan.

Jangan lawan mereka dengan air mata.

Lawan mereka dengan kesabaran.

Diam-diam, pelajari kelemahan mereka.

Sembunyi di balik bayangan, bangun kekuatanmu.

Dan saat mereka paling yakin telah menang...

Saat itulah kau bangkit.

Bangkit dan ambil kembali semuanya.

Ayah bangga padamu. Ayah tahu kau bisa."

Air mata Alana jatuh. Tapi ia tersenyum.

Ia mencium halaman itu, lalu membalik ke halaman belakang. Di sana, ia mulai menulis dengan pulpen emas pemberian ayahnya:

"Hari ke-1.095.

Hari ini aku menandatangani pengalihan saham.

Richard tertawa dalam hati, memanggilku bodoh.

Ia tidak tahu, aku sudah memindahkan 60% aset cair ke rekening atas nama yayasan ayah seminggu lalu.

Ia tidak tahu, Lucas sudah menyusup ke sistem perusahaannya dan mengumpulkan semua bukti.

Ia tidak tahu, aku punya rekaman percakapannya dengan Viola selama dua tahun terakhir.

Ia tidak tahu, Nathan Pramana sudah setuju bekerja sama denganku.

Ia tidak tahu, Viola akan segera menyadari bahwa ia bukan satu-satunya aktris di rumah ini.

Ia tidak tahu, permainan baru saja dimulai.

Dan akulah yang membuat aturan."

Alana menutup buku. Menyimpannya kembali di tempat rahasia. Menutup laci.

Lalu ia berjalan ke jendela, membuka tirai lebar-lebar. Di taman bawah, Viola sedang duduk di bangku batu, pura-pura membaca buku. Matanya sesekali melirik ke arah rumah, menunggu sesuatu. Atau seseorang.

Alana melihatnya. Viola mendongak, menangkap pandangan Alana. Untuk sesaat, dua wanita itu bertatapan.

Alana tersenyum—sama seperti tadi, senyum lembut seorang istri yang tidak tahu apa-apa. Viola membalas dengan senyum manis, lalu kembali menunduk pada bukunya.

Di balik jendela, Alana berbisik pelan, cukup untuk didengar dirinya sendiri:

"Nikmati sisa waktumu, Sahabat. Sebentar lagi, taman ini akan aku ubah menjadi ladang duri. Dan kau akan merasakan bagaimana rasanya tertusuk tanpa bisa berteriak."

Malam itu, Alana memasak ayam goreng untuk dirinya sendiri.

Ia makan sendirian di meja panjang yang bisa menampung dua puluh orang. Lampu kristal di atasnya berkilauan, memantulkan cahaya ke piring-piring porselen mahal yang tidak pernah dipakai. Hanya satu piring yang terisi. Satu gelas. Satu sendok.

Setelah selesai, ia mencuci piringnya sendiri. Menaruhnya kembali di lemari. Lalu naik ke kamar, mandi, berganti piyama sutra merah—warna yang dulu Viola bilang "terlalu berani" untuknya.

Sebelum tidur, ia membuka ponsel. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di kontak:

"Semua sudah siap. Tinggal menunggu perintahmu. —L"

Alana membalas singkat:

"Tunggu. Biarkan mereka terbang lebih tinggi. Semakin tinggi mereka terbang, semakin sakit saat jatuh."

Ia mematikan lampu. Memejamkan mata.

Di seberang kota, di sebuah apartemen mewah, Richard dan Viola sedang merayakan kemenangan dengan sampanye mahal. Mereka tertawa, berpelukan, merencanakan masa depan tanpa Alana.

Mereka tidak tahu.

Mereka tidak tahu bahwa di rumah megah yang sunyi itu, seorang wanita yang mereka anggap bodoh sedang tersenyum dalam tidurnya.

Senyum seorang ratu yang sedang menyusun strategi.

Senyum mawar yang diam-diam menumbuhkan duri.

[Bersambung...](⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

✦ ✦ ✦

Kau pikir kau menang karena aku menandatangani kertas-kertas itu?

Kau pikir kau pintar karena aku tidak banyak bertanya?

Sayang, aku sedang membangun istana dari pecahan yang kau buat.

Dan saat istana itu berdiri, kau akan melihat namamu tertulis di setiap batu bata.

Sebagai peringatan:

Jangan pernah meremehkan wanita yang sedang diam.

Karena diamnya adalah badai yang sedang memilih waktu.

1
gaby
Ayah Alana sama bajingannya seperti Ricard. Istri pertama dia buang sampai depresi & berakhir masuk RSJ. Ada yg percaya jgnlah menjahati org baik, karena karma buruk akan menimpa keturunan kita. Mungkin yg di alami Alana buah karma kebejatan ayahnya. Alana anak kesayangan, jd karma menimpanya agar Wijaya merasakan sakitnya melihat wanita baik2 di khianati. Seperti ibu kandung Alana yg dia buang, bahkan Alana pun ga di kenalkan dgn ibu kandungnya. Seolah2 istri baru ayahnya adalah ibu kandung Alana.
gaby
Jgn2 bapaknya Alana pemain perempuan jg kaya Ricard. Td di bilang istri pertama, kalo ada kata Pertama, artinya ada yg selanjutnya alias bukan istri satu2nya
Zahra Ningtiyas
semakin gregetan
lin sya
sedih klo baca alur Alana, smga Nathan bsa secara perlahan mengobati kekecewaan Krn pengkhianatan suami dan sahabat, alana pntas bahagia cuma gak beruntung aj ktmu org serakah, Nathan tulus orgnya bisa jdi jodoh mski alana tkut buka perasaan lgi👍
Arix Zhufa
mereka ber 2 tidak kah di bui?
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
gaby: Betul ka, tindakan mreka kriminal. Merampok, slingkuh, zinah, & suami Kdrt. Ini negara hukum, masa pelaku kriminal ga di penjara. Walau penjara mungkin cuma sebentar, tp seenggaknya penjara bisa menghancurkan mental, karir, & nama baik mreka. Kalo ga dipenjarakan, minimal di viralkan, biar netizen yg menghukum
total 1 replies
Arix Zhufa
Richard ini aneh...

selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄
gaby: Richad mokondo ka, ga mau modal buat bayar hotel. Kalo drmh mertua kan gratis tuh
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh kok malah antusias
Nurlaila Syahputri
Ceritanya bagus dikhianati dengan balas dendam Sempurna👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Arix Zhufa
cerita nya seru
Aisyah Suyuti
bagus
Arix Zhufa
aq bacanya sambil nahan nafas
Osie
loh diawal kan udah buat janji dgn nathan kok sekarang spti baru kenal lagi
Osie
laahh alana jgn lama lama action nya..kasihan rumah peninggalan ortu mu dijadikan tempat berzina.
Osie
mampir aku nyaaahh..baca sipnosis sptinya seru..moga sesuai ekspektasiku n moga ini cerita sp end🙏🙏
Arix Zhufa
mampir thor...kayak nya seru
JulinMeow20
novel jiplakan karya orang lain
JulinMeow20
kalau nulis itu hasil pemikiran sendiri kak jangan jiplak hasil karya orang lain 🙏 ada hukumnya loh kayak gitu🙏
Ammarcihuy Muhammad: Kok melepem Lempar batu sembunyi Tangan kucur. Adukan aja kak Anonymous sama Noveltoon biar akun nya ke band selamanya. mengotori cerita KK jadi
total 3 replies
gaby
Kayanya seru. Tp aq liat profil othornya, bny bgt novel barunya. Yakin sanggup nulis update beberapa judul skaligus?? Mudah2an ga hiatus di tengah jalan, karena critanya bagus
Ammarcihuy Muhammad: Eh bagudung buktikan Fitnahan mu. Brani berbuat brani tanggung jawab bulan puasa menghasut orang dan memfitnah
total 3 replies
Anonymous MC
ceritanya terlalu manis tuk dikenang
Roma Biskuit
Jadilah Mawar ,Indah dilihat jika salah orang durinya akan menusuk daging mu. mantaaaap👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!