Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALING CURIGA
Adik mana yang usia kalian itu bahkan hampir sama?!
Kalimat-kalimat itu terasa seperti kepingan kaca yang tajam, terus berdenting dan terngiang jelas di telinga Dea. Ia hanya bisa mematung di kursi makan, menyaksikan fragmen kehancuran yang tak seharusnya ia lihat dari sosok kakaknya
Ya. Sementara itu, tepat di hadapannya, Vhirel terpaku. Dunia seolah melambat, namun ada kejanggalan dalam reaksinya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja menimpanya—bukan karena kata "putus" yang dilontarkan Sofia, melainkan karena pernyataan yang baru saja di lontarkan oleh Sofia perihal keduanya.
"Hey?" Sapa Maudi mengejutkan. Di meja makan, dihadapannya, matanya menatap Vhirel dan Dea bergantian. "Tumben pada diem? Apa ada sesuatu yang terjadi selama Papa sama Mama tadi pergi?"
"Iya." Tambah Surya melahap makanannya. "Wajah kalian pada tegang gitu. Ada apa?"
"Engga kok, Pa... Ma." Geleng Dea cepat, sebelum di jawab Vhirel. "Semua baik-baik aja, kok. Gak ada apa-apa."
"Beneran?" Desak Maudi.
Dea mengangguk pelan, jemarinya mencengkeram gelas lebih erat dari biasanya. Ia meneguk minumannya cepat-cepat, berharap sensasi dingin itu bisa memadamkan sisa panas yang masih menjalar di pipinya. Tidak mungkin ia menceritakan apa yang baru saja terjadi di kamar itu. Tidak kepada siapa pun.
Tapi, kejadian itu begitu cepat.
Ia terpeleset, sebuah kecelakaan konyol yang seharusnya berakhir dengan tawa atau sekadar permintaan maaf.
Namun, gravitasi berkata lain.
Ia jatuh terjerembap di atas ranjang, dan dalam hitungan detik, Vhirel sudah berada di atasnya?
Bagaimana bisa?
Bahkan, sampai detik ini Ia masih bisa mengingat embusan napas Vhirel yang memburu terasa kuat di kulit lehernya.
Kenapa ia tak mendorongnya menjauh? Ia justru membeku.
Sungguh, ada geletar aneh—sebuah sengatan listrik yang asing namun memabukkan.
Menjalar dari ujung kaki hingga ke dadanya.
Dea terus membatin dalam diri. Dan, untuk pertama kalinya, sosok yang ia panggil 'kakak', yang kini masih berada di sampingnya itu kini terasa seperti orang asing yang sangat ia inginkan.
"Dea?" Kata Maudi lagi.
Wajah Maudi yang semula penuh memandang kedua anaknya, kini tatapannya jatuh pada Dea. Tatapannya, yang sedetik lalu masih memancarkan kasih sayang seorang ibu, kini terkunci pada satu titik, yakni lingkaran perak yang melingkar cantik di leher putrinya. Suasana hangat yang semula menyelimuti meja makan itu mendadak surut, digantikan oleh semilir kecurigaan yang tipis namun tajam.
"Kalung yang kamu pakai itu..." Maudi menggantung kalimatnya, matanya menyipit seolah sedang memindai memori. "... Mama baru lihat. Seingat Mama, Mama belum pernah membelikan kalung itu untukmu."
Dea tersentak. Pertanyaan sederhana itu terasa seperti interogasi besar. Ia merasakan hawa dingin merambat di tengkuknya. Secara naluriah, matanya mencari sosok Vhirel.
Dan, di sampingnya, lelaki itu tampak terpaku, seolah sedang bertarung dengan badai pikirannya sendiri. Dea tahu, ketakutan yang meremas dadanya saat ini tengah menghantui kakaknya juga.
"Ini... kalung ini..." Lidah Dea mendadak kelu. Pikirannya buntu, mencari alasan yang paling masuk akal namun tak kunjung temu.
"Pemberian aku, Ma," sambar Vhirel tiba-tiba.
Suara bariton itu memotong keheningan dengan tegas, meski ada getar samar yang ia sembunyikan dengan apik.
Sontak, Maudi dan Surya tersentak pelan, alis mereka bertaut dalam keterkejutan yang nyata.
"Kenapa? Papa sama Mama kok kaget kayak gitu?" Tanya Vhirel dengan polosnya, matanya bergantian menatap kedua orang tuanya yang mendadak mematung. "Aku beli kalung itu sebagai permohonan maafku yang kemarin," lanjut Vhirel, menyusun narasi instan dengan sisa ketenangannya. "Waktu aku ajak Dea pergi ke mall, aku melihatnya dan merasa itu cocok untuknya. Jadi, aku memberikannya."
Pernyataan itu meluncur, menjadi perisai rapuh di tengah tatapan selidik kedua orang tua mereka. Bukannya meredakan situasi, jawaban itu justru membuat kecurigaan yang menggantung di udara terasa semakin mencekam.
Sementara itu, di bawah meja, jemari Dea meremas ujung bajunya, menyadari bahwa satu rahasia kini telah melahirkan rahasia lainnya.
"Kenapa? Salah ya, Pa... Ma... kalau aku nge beliin kalung buat adikku sendiri?"
"Uhm." Maudi menghela napas pelan. Detik berikutnya, ia menggeleng. "E-enggak kok, gak salah. Gak ada yang salah. Iya, kan... Pa?"
"I-Iya, aneh aja."
Vhirel menaikan sebelah alisnya. "Aneh?"
Rasa curiga dan penuh tanya itu kini berbalik saat kata 'aneh' meluncur dari bibir Surya.
“Kalung… untuk adikmu...” ucapnya dengan nada setengah terbata, setengah menahan keterkejutan yang berusaha ia sembunyikan. "Ba-bagus sekali. Papa sama Mama... gak nyangka aja, kok bisa kamu kasih kalung itu pada adikmu."
Vhirel semakin kebingungan.
"Maksud Papa..."
"Maksud Papa sama Mama... kalung itu kayaknya cukup mahal." Timpal Maudi cepat. "Tumben, kamu kasih kalung semewah itu pada adikmu? Selama ini kan... kamu gak pernah kasih Dea—"
"Justru itu, Pa… Ma," potong Vhirel cepat. "Selama ini aku gak pernah kasih barang mewah pada adikku sendiri, karena aku belum sukses dan punya cukup uang. Sekarang… aku pengen, sekali aja, aku bisa bikin Dea senyum lagi, gak marah lagi kayak kemarin-kemarin. Ya... bukan soal mahal atau murahnya, tapi… aku pengen dia tahu, di balik nyebelinnya aku... kalau aku adalah kakak yang peduli."
Surya dan Maudi mengangguk pelan. Ada perasaan lega yang terpancar dari wajah mereka, seolah beban yang tak terlihat tadi perlahan mengendur. Senyum tipis menghiasi bibir Maudi, sementara Surya hanya mendesis lembut dengan tatapan yang bermakna tanda pengakuan dan dukungan memandang Vhirel.
"Uhm... Pa, Ma. aku tidur duluan, ya." Kata Dea kemudian.
Maudi menarik alisnya sambil menatap Dea. "Lho… makanan kamu belum habis, sayang?"
Dea mengangguk cepat, tangannya memegang perut. "Iya, Ma… Dea udah kenyang." Jawabnya pelan, suaranya bercampur antara rasa kikuk dan kenyang mendadak, seolah rasa hangat di hati membuatnya lupa menikmati sisa makanan di piring.
"Dea... pergi ke dulu ke kamar ya, Ma..." Sambung Dea. "... mau tidur dulu. Habis makan jadi ngantuk."
Maudi tersenyum lembut. Surya juga menatap Dea dengan senyum hangat. Sementara itu, Vhirel tetap duduk di kursinya, sudut matanya mulai mengikuti langkah Dea yang kini beranjak dan berjalan menuju kamar. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, campuran lega dan hangat, masih terngiang di pikirannya peristiwa tadi—lebih terasa daripada kata 'putus' yang sempat diucapkan Sofia.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,