NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 Setengah Sembilan di Sekolah

Aku masuk sekolah setengah sembilan. Kepala masih cenat-cenut, badan pegal, tapi aku nggak bisa santai. Semua barang dari malam sebelumnya sudah kususun rapih, tapi kepala masih penuh sama semua hal yang harus kelar hari ini. Rasanya capek nggak cuma fisik, tapi mental. Semua numpuk.

Tara datang lebih dulu, senyumnya tipis. Aku cuma angguk. Gak ada energi buat senyum balik. Rasanya semua yang kemarin malam bikin aku greget dan bingung, tapi harus jalan lagi hari ini. Aku liat sekeliling.

Sekolah mulai ramai. Beberapa teman nyapa, tapi aku cuma jawab seadanya. Rasanya kayak mulut berat banget, kepala cenat-cenut, tapi harus terus jalan. Aku liat jam tangan. Masih terlalu pagi untuk semua ini. Kami mulai nyiapin semua kebutuhan di ruang pramuka. Snack, minuman, tenda, perlengkapan kecil lain. Semua harus kelar. Tangan masih pegal, kaki capek, kepala cenat-cenut. Tapi aku tahan. Semua harus kelar. Kalau aku mundur sekarang, semuanya bakal berantakan.

Faris datang, langsung nyapa Tara. Aku cuma ngangguk dari jauh. Rasanya nggak mood buat ngobrol. Semua orang bisa santai, tapi aku nggak. Capek mental numpuk. Greget masih ada. Bingung nggak hilang.

Aku tarik napas panjang, mulai nyusun ulang snack yang kemarin masih tercecer. Tara sibuk ngatur tenda. Aku ambil perlengkapan lain. Rasanya kayak semua tangan harus bergerak terus, kepala cenat-cenut, tapi nggak boleh berhenti.

Capek fisik jelas ada, tapi capek mental lebih berat. Aku cuma tahan. Semuanya harus kelar hari ini.

Beberapa teman masuk, liat aku dan Tara lagi beresin barang. Mereka senyum, nanya sedikit, tapi aku cuma angguk. Rasanya nggak bisa santai. Semua mata kayak ngeliat aku, tapi aku nggak peduli. Greget tetap ada, bingung nggak hilang, capek numpuk. Aku liat dompet di tas. Masih ada.

Rasanya satu hal kecil berhasil, tapi semua tanggung jawab masih di pundak aku. Snack harus siap, tenda harus siap, perlengkapan lain harus kelar. Kepala cenat-cenut. Tangan pegal. Kaki capek. Tapi semua harus kelar. Aku tahan semua itu sendiri.

“Eh, Naya, ini mau ditaruh di mana?” Tara nanya sambil angkat beberapa snack. Aku liat barang-barang yang belum ditempatin. Rasanya pengin teriak, tapi aku tahan. Aku cuma jawab singkat, “Taruh sini aja.”

Tara manggut-manggut, lalu lanjut nyusun. Aku ambil beberapa kotak lain, mulai susun di rak. Rasanya kayak muter-muter, tapi nggak bisa berhenti. Semua orang kayak santai, tapi aku nggak. Kepala cenat-cenut makin terasa. Greget tetap ada. Bingung nggak hilang. Aku liat Faris lagi ngobrol sama beberapa teman. Mereka tertawa. Aku cuma diam.

Rasanya kayak mereka nggak paham apa yang aku rasain. Semua capek mental numpuk, tapi mereka bisa santai. Aku tarik napas panjang, tangan pegal, kaki capek, kepala cenat-cenut. Tapi semua harus kelar.

Beberapa snack mulai habis tempatnya. Aku harus pindahin lagi, rapihin lagi. Rasanya kayak semua berantakan sendiri. Tapi aku tahan. Capek fisik jelas ada. Kepala cenat-cenut makin berat. Greget tetap nempel. Bingung nggak hilang. Aku cuma tahan. Semua harus kelar.

Tara liat aku lagi nyusun snack, senyum tipis. Aku balas angguk. Rasanya nggak ada energi buat senyum lagi. Semua capek mental, greget, bingung, numpuk. Tapi aku harus jalan lagi. Semua harus kelar hari ini.

Setelah beberapa menit, Rara datang. Dia liat semua barang, terus komentar singkat. Rasanya biasa aja buat dia, tapi buat aku kayak tambahan beban. Kepala cenat-cenut makin berat. Greget tetap ada.

Aku cuma angguk, nggak jawab banyak. Semua harus kelar. Faris mulai bantu aku geser beberapa rak. Aku liat jam tangan. Waktu berjalan pelan. Rasanya semua bergerak lambat, tapi aku nggak bisa berhenti. Capek fisik ada, capek mental lebih berat. Greget di dada tetap ada. Bingung nggak hilang. Tapi semua harus kelar.

Tara dan Faris ngobrol sebentar, aku cuma duduk sebentar di kursi. Kepala cenat-cenut. Tangan pegal. Kaki capek. Tapi aku nggak bisa santai. Semua harus kelar. Greget tetap ada. Bingung tetap ada. Rasanya kayak semua orang bisa santai, aku nggak.

Aku ambil beberapa snack lagi, susun di rak. Tangan pegal makin terasa. Kepala cenat-cenut makin berat. Tapi aku tahan. Semua harus kelar. Kalau aku mundur sekarang, semuanya bakal berantakan. Greget tetap ada, bingung nggak hilang.

Beberapa teman datang nanya hal sepele, aku jawab seadanya. Rasanya pengin marah, tapi aku tahan. Capek mental lebih berat dari capek fisik. Semua harus kelar. Kepala cenat-cenut makin terasa. Greget tetap nempel. Bingung nggak hilang.

Setelah beberapa lama, semua snack, minuman, dan tenda udah kelar. Aku duduk di tangga, napas berat. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget tetap ada. Rasanya kayak habis perang. Tapi satu hal lega: semua perlengkapan kelar.

Aku liat Tara, dia tersenyum tipis. Aku balas angguk. Senyum aku nggak hangat. Rasanya capek mental lebih berat daripada capek fisik. Semua tanggung jawab masih nempel di pundak aku. Greget masih ada. Bingung nggak hilang. Tapi semua harus kelar.

Aku tarik napas panjang, siapin diri buat tugas berikutnya. Kepala cenat-cenut makin berat, tangan pegal, kaki capek, greget tetap nempel. Tapi aku tahan. Semua harus kelar. Rasanya semua orang bisa santai, aku nggak.

Faris liat aku duduk sebentar, tanya apa aku capek. Aku cuma angguk. Rasanya capek mental, greget, bingung numpuk, tapi aku tahan. Semua harus kelar. Semua tanggung jawab masih di pundak aku.

Aku liat dompet di tas lagi. Masih ada. Rasanya satu hal kecil berhasil. Tapi kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget tetap ada. Bingung nggak hilang. Semua harus kelar. Aku cuma tarik napas, duduk sebentar, ngerasain semua capek sendiri.

 Jam setengah sepuluh, sekolah makin ramai. Aku harus kelar semua sebelum diklat mulai. Kepala cenat-cenut makin terasa, tangan pegal, kaki capek, greget tetap nempel. Semua tanggung jawab masih jatuh ke aku. Aku tahan semua sendiri.

Aku liat Tara lagi nyusun tenda. Aku bantu beberapa bagian. Rasanya kayak muter-muter nggak kelar, tapi aku tahan.

Capek fisik jelas ada. Kepala cenat-cenut makin berat. Greget tetap ada. Bingung nggak hilang. Semua harus kelar. Beberapa teman lain mulai bantu. Aku cuma ngatur beberapa bagian, tetap fokus.

Rasanya kayak semua bergerak lambat, tapi aku nggak bisa santai. Capek mental numpuk. Kepala cenat-cenut makin terasa. Tangan pegal, kaki capek. Tapi semua harus kelar.

Setelah semuanya selesai, aku duduk di tangga, tarik napas panjang. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget tetap nempel. Tapi satu hal lega: semua perlengkapan siap. Rasanya kayak menang kecil di tengah kekacauan besar.

Aku liat Tara tersenyum tipis lagi. Aku balas angguk. Senyum aku nggak hangat. Capek mental lebih berat daripada capek fisik. Semua tanggung jawab masih di pundak aku. Greget tetap ada. Bingung nggak hilang.

Aku tarik napas panjang, siapin diri buat sesi berikutnya. Kepala cenat-cenut makin terasa, tangan pegal, kaki capek, greget tetap nempel. Tapi aku tahu: semua harus kelar. Semua tanggung jawab masih jatuh ke aku. Semua orang bisa santai, aku nggak.

Malam itu, aku sadar satu hal: capek mental lebih berat daripada capek fisik. Greget tetap nempel, bingung nggak hilang. Tapi semua harus kelar.

Aku cuma duduk sebentar, ngerasain semua capek sendiri. Besok semua bakal mulai lagi, tapi malam ini aku biarin kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget, dan bingung numpuk di pundak aku sendiri.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!