Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Vano mengangkat tubuhnya sedikit, lalu bersandar pada kepala ranjang sambil menatap Iren dengan senyum yang sulit ia sembunyikan.
“Kamu lupa?” tanyanya ringan, seolah semalam hanyalah hal biasa bagi mereka.
Iren menatapnya dengan campuran marah dan panik. “Jawab pertanyaanku. Kenapa kamu ada di sini? Lalu di mana Kevin?”
Vano menghela napas pelan dan mengusap wajahnya. “Kamu yang menarikku masuk. Kamu pikir aku Kevin, dan kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan.”
Jantung Iren berdegup keras. “Tidak mungkin,” bantahnya cepat. “Kamu pasti bohong. Lagi pula, kenapa semalam kamu bisa ada di rumahku?”
“Karena aku khawatir. Kamu tidak bisa dihubungi, jadi aku datang ke sini,” jawab Vano tenang. “Waktu aku masuk, kamu sudah dalam keadaan tidak terkendali sambil memanggil nama Kevin.”
Kepala Iren terasa berputar. Ia berusaha mengingat lebih jelas, tetapi yang muncul hanya potongan-potongan samar, cahaya temaram, aroma terapi yang pekat, dan sosok lelaki yang datang saat kesadarannya hampir hilang. Ia memang tidak pernah benar-benar melihat wajahnya.
“Kamu bohong,” ucapnya lagi, namun kali ini suaranya tidak setegas tadi.
Vano menatapnya lurus. “Untuk apa aku berbohong? Bukankah ini yang selama ini kamu mau?”
Iren menelan ludah. Dadanya sesak. Jika itu benar, maka rencananya hancur total. Ia yakin semalam adalah langkah untuk mengikat Kevin, tetapi kenyataan justru mempermalukannya.
“Kita sudah pernah bersama sebelumnya,” lanjut Vano dengan nada lebih rendah. “Semalam bukan hal baru bagi kita.”
“Diam,” potong Iren tajam. “Jangan pernah mengungkit masa lalu.”
Vano tersenyum tipis. “Masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai.”
Iren turun dari ranjang dengan tergesa, meraih pakaian yang berserakan di lantai. Tangannya gemetar saat mengenakan gaunnya. Ia berusaha terlihat tenang meski pikirannya kacau.
“Anggap saja ini kesalahan,” ucapnya dingin tanpa menatap Vano. “Dan jangan pernah berpikir kamu bisa memanfaatkannya.”
“Kesalahan?” Vano bangkit dan melangkah mendekat. Tiba-tiba ia menarik tangan Iren dan mencengkeramnya erat.
“Iren, setelah semua yang terjadi kamu masih merasa dirimu istri yang baik? Kamu belum sah bercerai, tapi sudah tidur dengan lelaki lain. Harga dirimu sudah tidak ada.”
Untuk pertama kalinya Iren melihat sisi Vano yang begitu kejam, sama seperti saat lelaki itu meninggalkannya dulu tanpa perasaan. Saat itu juga ia sadar betapa bodohnya dirinya pernah menyia-nyiakan Kevin demi Vano.
“Meskipun begitu, aku masih yakin Kevin mencintaiku,” ucap Iren, mencoba terdengar percaya diri agar Vano berhenti meremehkannya.
Vano melepaskan tangannya lalu tertawa keras. “Lucu sekali.”
“Tidak ada yang lucu, Vano. Aku akan menjelaskan semuanya pada Kevin, dan aku yakin dia akan kembali padaku. Dia masih sangat mencintaiku.”
“Kalau benar dia mencintaimu, dengan rencanamu yang menjijikkan itu dia pasti tetap bertahan,” balas Vano tajam. “Tapi dia pergi, Iren.”
Iren mundur selangkah. Ucapan itu seperti menyadarkannya pada satu fakta yang tak ingin ia terima.
Vano menatapnya lekat. “Lima tahun lalu aku dan Kevin adalah sahabat baik. Kami pernah bertaruh sesuatu. Kamu tahu apa yang kami pertaruhkan?”
Ia memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan.
“Kamu. Sekali lagi, kamu, Iren. Jadi jangan merasa kamu begitu penting dalam hidupnya. Dulu dia memang mencintaimu sampai mempertaruhkan segalanya. Tapi sekarang?”
Hening menggantung di antara mereka.
“Semua sudah berakhir,” imbuh Vano pelan namun pasti. Setelah itu ia meraih bajunya yang tergeletak di lantai, mengenakannya dengan tenang seolah tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Tanpa menoleh lebih lama, ia melangkah keluar dan meninggalkan Iren seorang diri di dalam kamar yang tiba-tiba terasa begitu sunyi.
Iren masih berdiri mematung. Ucapan Vano barusan terus terngiang di kepalanya, bercampur dengan sisa emosi dan rasa malu yang belum sempat ia telan. Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran yang mulai merayap masuk.
“Tidak mungkin. Vano pasti bohong. Aku dan Kevin bersama bukan karena taruhan,” gumamnya lirih, lebih seperti meyakinkan diri sendiri daripada membantah Vano.
Namun keyakinannya mulai goyah ketika ia teringat satu hal yang dulu tak pernah ia pertanyakan, soal saham dan suntikan dana untuk perusahaannya. Setelah Kevin meninggalkan keluarga Haris, lelaki itu tiba-tiba mampu mengucurkan dana besar untuk menyelamatkan bisnisnya. Saat itu Iren hanya merasa bersyukur dan menganggapnya sebagai bukti cinta, tanpa pernah mencari tahu dari mana kekuatan finansial itu berasal.
Kini semuanya terasa berbeda. Saham atas namanya ternyata terhubung dengan perusahaan yang masih berkaitan dengan Vano. Fakta itu menghantamnya keras. Jika memang ada kaitan di balik semua itu, maka ucapan Vano tadi mungkin bukan sekadar kebohongan untuk menyakitinya.
Tubuh Iren melemah. Ia terduduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong, untuk pertama kalinya meragukan hubungan yang selama ini begitu ia banggakan.
***
Hari-hari berlalu begitu saja, tanpa Kevin sadari kini sudah satu minggu sejak kejadian di rumah sakit itu. Sejak hari itu pula Lidya benar-benar menghilang dari hidupnya. Perempuan itu langsung mengundurkan diri, ponselnya tak pernah aktif, dan setiap kali Kevin berniat mencarinya, selalu ada sesuatu dalam dirinya yang menahan.
Namun di sisi lain, ada bagian lain yang justru terus memanggil nama wanita itu.
Kevin merasa ada yang hilang. Perasaannya tidak tenang, seolah rutinitas yang selama ini berjalan normal tiba-tiba kehilangan makna. Ia tetap datang ke kantor, tetap menghadiri rapat, tetap menandatangani berkas, tetapi semuanya terasa hambar.
Saat ini ia duduk di ruang kerjanya, memandangi tumpukan dokumen yang seharusnya menjadi prioritasnya sebagai pimpinan perusahaan. Alih-alih fokus, pikirannya justru melayang ke sosok yang berusaha ia lupakan.
“Apa aku benar-benar menyukainya?” gumamnya pelan.
Pertanyaan itu terasa asing di telinganya sendiri. Ia bukan tipe lelaki yang mudah goyah oleh perasaan, tetapi sejak Lidya pergi, ruang kosong itu terasa nyata. Bahkan hal sederhana seperti tidak adanya pesan di ponselnya mampu membuat dadanya terasa sesak.
Kevin meraih ponselnya sekali lagi, menatap layar yang tetap sunyi tanpa notifikasi dari Lidya. Ia mengembuskannya napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kebiasaan yang belum hilang.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu ini bukan sekadar kebiasaan. Ia merindukannya.
“Pak Kevin, Anda melamun lagi?” tanya Roy, asisten pribadi barunya yang tiba-tiba sudah berdiri di depan meja.
Kevin tersentak dan buru-buru meletakkan ponselnya. “Tidak. Saya tidak melamun,” jawabnya cepat. “Dan saya juga tidak memikirkannya.”
Roy mengangkat alisnya tipis. “Saya juga tidak menuduh Bapak memikirkan siapa pun.”
Kevin langsung menatapnya dengan sorot tajam yang biasanya cukup untuk membuat lawan bicaranya memilih diam. “Kalau begitu, fokus saja pada pekerjaanmu.”
Roy berdeham pelan, berusaha tetap profesional meski aura ruang kerja itu terasa tegang. “Rapat dengan direksi lima belas menit lagi. Berkas revisi kerja sama sudah saya letakkan di meja Bapak sejak tadi pagi.”
Kevin melirik tumpukan dokumen yang bahkan belum ia sentuh. Rahangnya mengeras. Ia, yang biasanya selalu selangkah lebih cepat dari siapa pun, kini justru tertinggal oleh pikirannya sendiri.
“Batalkan,” ucapnya tiba-tiba.
Roy terlihat terkejut. “Maaf, Pak?”
“Rapatnya. Tunda satu jam.”
Roy ragu sejenak. “Direktur utama cabang sudah dalam perjalanan.”
Kevin terdiam. Ia tahu dirinya bertindak tidak profesional, tetapi kepalanya terasa terlalu penuh oleh Lidya.
“Satu jam,” ulangnya tegas.
“Baik, Pak.”
Roy berbalik keluar, tetapi sebelum pintu benar-benar tertutup, Kevin memanggilnya lagi. “Roy.”
Asisten itu menoleh. “Ya, Pak?”
Kevin terdiam beberapa detik, seolah sedang berperang dengan egonya sendiri. “Cari tahu di mana Lidya berada dan sibuk apa.”
Ruangan mendadak sunyi.
Roy tidak langsung menjawab. “Maaf, Pak. Kalau saya mencari tahu tentang Bu Lidya apa tidak melanggar privasi? Nanti takutnya—"
“Saya tidak meminta pendapatmu,” potong Kevin dingin. “Lakukan saja apa yang saya suruh.”
Roy mengangguk cepat. “Baik, Pak.”
Setelah pintu tertutup, Kevin menyandarkan tubuhnya pada kursi. Ia mengusap wajahnya kasar, menyadari satu hal yang selama ini ia hindari. Ia bisa berbohong pada Roy. Ia bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun ia tidak bisa lagi berbohong pada dirinya sendiri.
Ponsel Kevin berdering keras menandakan ada panggilan masuk, Kevin pikir itu Lidya tapi suara di seberang sana justru membuat darahnya mendidih.