Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK !
Deya berlari menaiki undakan tangga satu per satu disertai dengan isak tangis yang tak bisa disembunyikan lagi. Gadis itu membanting pintu dengan keras hingga terdengar sampai ruang tamu.
Kia hanya bisa menarik nafas dalam sembari memejamkan mata.
“Saya ke atas sebentar ya semuanya.” Pamitnya dan menyusul Deya ke kamar.
Dari balik kamarnya sang ibu dapat mendengar isakan tangis putrinya.
Hiks,,
Hiks,,
Hiks,,
“Deya, ibu bisa masuk nak ?” Tanyanya dari balik pintu kamar.
Hening, tidak ada jawaban dari dalam.
“Deee, sayang, ibu masuk ya.” Pinta Kia kembali.
Dilihatnya sang putri yang menangis sejadi-jadinya di atas tempat tidur.
Melihat hal tersebut sungguh membuat hati Kia teriris.
“Sayaaang ibu.” Iba Kia seraya menghampiri Deya.
“Kenapa bu ?”
“Kenapa ?”
“Kenapa ayah tega sekali ?”
Hiks,
Hiks,
“Apa aku ini menjadi beban bagi kalian berdua ?”
“Apa aku ini memang sudah benar-benar menjadi aib bagi kalian sehingga jalan yang kalian pilih adalah perjodohan ini ?”
Kia menggeleng pelan, “Ibu tidak tahu nak, ibu sama sekali tidak tahu. Ini adalah rencana ayah mu dan ayah Rico.”
“Rico ?” Deya bertanya disela isakannya dengan kening yang berkerut.
“Iya, nama laki-laki itu Rico nak.”
“Sungguh berbanding terbalik dengan penampilannya yang urak-urakan begitu.”
Kia hanya mengelus lembut surai hitam sang putri.
Kini keduanya sama-sama diam dan larut dalam pikirannya masing-masing.
Deya masih mengingat jelas ucapan ayah nya di ruang tamu tadi.
“Deya, nak, ini keluarga pak Handoko. Datang kesini melamarmu untuk putranya.” Samsu langsung to the point sesaat setelah Deya duduk di tengah kedua orang tuanya.
Deya begitu tersentak, telinganya sudah tak bisa lagi menerima suara apapun, yang bisa didengar hanya suara detakan jantungnya yang berpacu. Matanya melotot dengan tajam namun sesaat kemudian retinanya digenangi cairan yang siap untuk menetes.
Ia menatap satu persatu tamu yang ada dirumahnya malam ini, mulai dari Pak Handoko, Ibu Yani, dan berakhir di Rico. Laki-laki yang katanya ingin melamar.
Deya menatap laki-laki itu dengan sayu namun sarat akan amarah. Dalam pandangannya Rico adalah laki-laki yang begitu berantakan, rambut yang tak tersisir rapi, kaos oblong kusut serta celana panjang yang sudah pudar warna. Sungguh berbanding terbalik dengannya, ia sangat memperhatikan penampilan, karena ia adalah seorang banker yang harus bertemu dengan orang banyak setiap hari.
“Dia, dia yang akan ayah jodohkan denganku. Apa tidak salah. Kesan pertama saja aku sudah merasa ilfeel begini.”
Rico yang menyadari bahwa ia sedang diperhatikan, ia membuka mulut “Kenapa menatap ku seperti itu ? Kamu terpesona dengan ku ?”
Deya tak merespon apapun, ia hanya menggeleng berkali-kali.
“Nggak yah, aku mohon nggak yah.” Pintanya dengan memelas.
Samsu hanya menggeleng keras.
“Buu.” Kini ia kembali memelas pada sang ibu, berharap akan pertolongan.
Respon sang ibu hanya memejamkan mata dan menggenggam erat tangan Deya.
Kemana lagi ia harus meminta, ia sungguh sudah terpojok. Sepertinya Samsu benar-benar ingin menjodohkan nya dengan laki-laki itu.
“Maaf saya tidak bisa.” Ucapnya dan berlari pergi dari ruang tamu.
Kedua orang tua Rico tampak kebingungan dengan reaksi Deya yang jelas-jelas tak akan bisa menerima Rico putra mereka.
Suara ketukan pintu menyadarkan mereka dari lamunan,
Tok,, tok,, tok,,
“Deya, ayah mau masuk boleh ?” Tanya Samsu di ambang pintu yang tak tertutup rapat.
“Iya, masuk saja.” Jawab Kia mewakili Deya.
Samsu berjalan perlahan sambil menatap Deya dengan tenang. Sedangkan yang ditatap malah balik menatapnya dengan penuh kekecewaan.
“Apa aku ini aib bagi kalian berdua ?” Tanya dengan tanpa berbasa basi lagi.
“Apa aku ini memang benar-benar harus menikah ? Padahal usia ku saja baru 28 tahun.” Ia kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
“Seburuk itu aku dimata kalian hanya karena aku belum menikah ? Lebih-lebih ayah ingin menjodohkan aku dengan laki-laki seberantakan itu ?”
Samsu hanya duduk diam dikursi meja belajar Deya. Kia berusaha menenangkan sang putri namun usahanya hanya sia-sia.
“Dengar ayah dulu.” Ucap Samsu dengan nada rendah namun sangat dingin.
“Kenapa ? Kenapa aku harus mendengar ayah ? Sedangkan ayah tidak mendengarkan aku ? Apa ayah sama ibu punya hutang sama mereka, sehingga aku harus menikah dengannya. Dengan laki-laki yang bahkan aku tak tahu asal usulnya. Laki-laki yang bahkan aku tak tahu kesehariannya. Ayaaah.” Ucap Deya dengan berapi-api dan bederai air mata.
“Laksmi Deyandra.” Samsu memanggil Deya dengan nama lengkapnya.
Deya seketika mematung dan memejamkan mata yang kian beranak sungai. “Ayah tega sekali.” Ucapnya lirih bahkan hampir tak terdengar.
“Duduk dan dengar ayah baik-baik.”
Samsu beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tepat di depan sang putri. Dipeluknya Deya yang masih berlinang air mata. Laki-laki paruh baya itu mengelus lembut puncak kepala anak satu-satunya itu.
“Ayah cukup mengenal keluarga mereka nak, ayah rasa kamu akan aman dan benar-benar dilindungi oleh Rico. Ayah tau ini sungguh mendadak dan tak ada dalam rencana mu. Tapi ayah dan ibu menginginkan yang terbaik untukmu. Dan ayah rasa dia adalah yang tebaik untukmu. Mungkin kamu akan bertanya-tanya saat ini, tapi kelak kamu akan mengetahui jawabannya. Percaya sama ayah nak.” Tutur Samsu panjang.
“Ayah, aku belum mau menikah. Aku masih ingin berbakti sama kalian dulu. Aku masih ingin sama kalian. Aku juga nggak mau sama dia ayah. Bagaimana dia akan melindungi ku sedangkan dari cara dia berpakaian saja seperti orang tak terurus. Aku mohon ayah, jangan.” Ucapnya yang masih berada dalam dekapan sang ayah.
“Jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya. Kamu tidak akan pernah pergi dari kami, kamu tetap anak kami. Apakah kamu sudah punya calon mu sendiri ?” Tanya Samsu dan melepas pelukannya.
Deya hanya menggeleng sambil menyeka air matanya, “Tapi dari penampilannya saja dia tidak semeyakinkan itu ayah.”
“Kamu mungkin belum mengenalnya, makanya kamu bilang seperti itu. Jangan cepat menyimpulkan sesuatu nak. Kenali dia dulu, jika kedepannya kamu tidak cocok kami tidak akan memaksa.” Timpal Kia menengahi antara ayah dan anak itu.
“Ayah rasa pasti cocok bu, Rico anak yang baik.”
“Jika ayah rasa dia anak yang baik kenapa tidak langsung saja menikahkan aku dengannya, kenapa harus aku tahu lebih dulu.” Sarkas Deya dengan lembut.
Samsu sudah ingin mengangkat bicara, namun ditahan oleh Kia dengan isyarat gelengan kepala.
“Kamu istirahat yah sayang, sudah malam. Besok kamu harus kerja kan. Jangan nangis lagi ya. Masa mau kerja dengan mata yang sembab, apa kata teman-teman kantormu.” Kia menenangkan Deya dan mengajak Samasu untuk beranjak dari kamar Deya.
“Ayah akan memberikan kontakmu pada Rico.” Ucap Samsu sebelum tubuhnya benar-benar sempurna keluar dari kamar Deya.
“NGGAK MAU.” Jawab Deya dengan cukup keras.