NovelToon NovelToon
Pilot'S Barbaric Triplets

Pilot'S Barbaric Triplets

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Konglomerat berpura-pura miskin / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Office Romance
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞

______________________________________________

"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?

Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.

Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.

Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.

Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Raungan deru motor triplets membelah pagi di parkiran SMA Garuda. Bukan sebagai pewaris yang dielu-elukan, mereka tiba sebagai siswa baru, menyembunyikan identitas di balik seragam. Bagi dunia luar, mereka hanyalah murid pindahan. Namun, di balik itu, tersembunyi misi rahasia yang hanya mereka bertiga yang tahu.

Cia, dengan metik merahnya, memancarkan aura pemberontak yang sulit disembunyikan. Kilatan matanya menantang, seolah siap membakar aturan yang mengekang.

Varo, dengan senyum mempesona, menebar jala pesona yang siap menjerat siapa saja. Senyumnya menyimpan janji petualangan dan godaan yang sulit ditolak. Namun, di balik senyum itu, tersembunyi kesepian dan keinginan untuk diterima apa adanya, bukan karena nama besar keluarganya.

Vano, dengan aura dingin yang menusuk, menyimpan beban tanggung jawab seorang sulung. Ketegasan terpancar dari setiap gerak tubuhnya, menyiratkan kekuatan yang tersembunyi.

"Sandiwara dimulai," bisik Vano, suaranya nyaris tak terdengar di tengah hiruk pikuk parkiran. Namun, kata-katanya menggantung, memuat tekad dan peringatan. Sebelum melangkah ke koridor sekolah, Vano bergerak selangkah lebih maju, dengan meretas CCTV SMA Garuda demi menguasai setiap sudut labirin barunya.

Tanpa ragu, langkah mereka mantap menuju ruang kepala sekolah. Di depan pintu bertuliskan "Ruang Kepala Sekolah," mereka berhenti, menarik napas dalam.

"Siap?" bisik Varo, senyumnya mengembang, menyembunyikan ketegangan. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ia selalu menyukai tantangan, terutama jika itu melibatkan sedikit drama.

"Hmn!" jawab Vano singkat, namun penuh keyakinan. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diri. Baginya, ini bukan hanya sandiwara, tapi tugas yang harus diselesaikan dengan sempurna.

Di dalam ruangan, seorang pria paruh baya berkacamata menyambut mereka. Tatapannya menyelidik, namun terselubung keramahan yang terlalu dibuat-buat. Ada sesuatu yang aneh dalam tatapannya, seolah ia tahu lebih dari yang seharusnya.

"Permisi, Pak! Kami murid baru di SMA Garuda ini!" sapa Varo, mewakili kedua saudaranya yang memasang wajah datar. Ia sengaja memberikan senyum terbaiknya, mencoba memecah suasana yang tegang.

"Kalian pasti Tuan Muda dan Nona Muda kan? Silakan duduk!" sambutnya ramah.

Cia mendecak dalam hati. Apa kepala sekolah ini tahu sesuatu?

Triplets saling pandang, kebingungan melanda. Saling bertukar kode melalui tatapan, mencoba membaca pikiran satu sama lain.

Kepala sekolah terkekeh pelan, menangkap kebingungan di wajah murid barunya. "Tenang saja, saya tidak akan membongkar rahasia kalian. Tuan Nathan sudah menjelaskan semuanya. Semoga kalian betah di SMA Garuda ini," lanjutnya, menjelaskan teka-teki. Namun, ada nada sinis yang tersembunyi dalam kata-katanya.

"CK! Dasar papa!" gerutu Cia dalam hati, merasa dikhianati.

Triplets menghela napas lega. Hampir saja sandiwara mereka gagal sebelum dimulai.

Setelah mendapat informasi tentang kelas masing-masing, mereka berpamitan. Vano menuju ke kelas XI-IPA 1, sementara Varo dan Cia menuju kelas XI-IPS 2.

"Selamat pagi," sapa seorang guru wanita ramah. "Kamu pasti murid baru. Silakan perkenalkan diri." ucapnya saat melihat Vano masuk ke dalam kelasnya.

Vano mengangguk tipis. "Alvano, panggil saja Vano." ujarnya singkat, tanpa basa-basi. Ia berjalan menuju bangku kosong di sudut kelas, tanpa menunggu dipersilakan.

Bisikan-bisikan langsung terdengar. Sebagian siswi menatapnya kagum, terpukau dengan ketampanannya. Namun, Vano tak peduli. Ia sudah kebal dengan tatapan seperti itu. Baginya, tatapan itu hanyalah topeng.

Pandangannya tertuju pada seorang siswi di pojok kelas. Ia duduk sendirian, tenggelam dalam buku, seolah tak tertarik dengan kehadirannya. Ada sesuatu dalam diri siswi itu yang menarik perhatian Vano. Bukan hanya karena ia berbeda, tapi karena ada kesedihan yang terpancar dari matanya.

 _______&&_______

Sementara Vano berusaha memecahkan misteri siswi penyendiri di kelas IPA, di kelas lain, Varo dan Cia menghadapi tantangan berbeda.

Pintu kelas XI-IPS 2 terbuka, menampilkan Varo dan Cia yang memasuki ruangan dengan santai.

Bu Ana, seorang guru muda yang enerjik, tersenyum ramah. "Selamat datang di kelas XI-IPS 2. Silakan perkenalkan diri kalian."

Varo, seperti biasa, langsung mengambil alih panggung. Ia mendekat ke arah Bu Ana, memberikan senyum terbaiknya. "Halo semuanya, saya Alvaro, panggil saja Varo. Senang bertemu dengan kalian! Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik!" Ia menebar senyum menawan, membuat sebagian besar siswi tersipu malu. Ia tahu bagaimana cara memanipulasi orang dengan pesonanya.

Cia mendengus pelan. Ia malas berbasa-basi. Baginya, semua ini hanyalah formalitas belaka. "Alicia," ujarnya singkat, lalu mencari tempat duduk kosong. Ia memilih tempat yang paling jauh dari keramaian, berharap bisa menyendiri.

"Baiklah! Silahkan duduk di bangku yang kosong ya!" balas Bu Ana ramah. Ia menatap Cia dengan prihatin. Ia tahu bahwa Cia menyimpan sesuatu yang tersembunyi.

Varo melirik Cia, lalu mengikuti adiknya itu mencari tempat duduk. Ia melihat Cia berjalan menuju bangku kosong di pojok kelas, dekat sekelompok siswi yang tampak sinis menatapnya. Ia merasakan bahaya. Ia tahu bahwa Cia akan segera menghadapi masalah.

"Sepertinya kita akan punya teman baru," bisik seorang siswi berambut merah, menatap Cia dengan tatapan meremehkan. Ia menyeringai, seolah sudah merencanakan sesuatu yang buruk.

"Semoga saja dia tidak membuat masalah di sini," timpal siswi lainnya sinis. Ia melirik pakaian Cia dari atas ke bawah, menunjukkan rasa jijik.

Varo merasa khawatir. Bukan takut adiknya menjadi korban, justru sebaliknya. Ia tahu temperamen Cia. Jika ia merasa terganggu, ia bisa meledak kapan saja, dan ia tidak akan segan-segan untuk melukai siapapun yang menghalangi jalannya.

"Gue akan duduk di dekat lo," bisik Varo.

"Tidak perlu," jawab Cia malas. "Aku bisa menjaga diriku sendiri." bisiknya pelan.

Varo menghela napas. Ia tahu ia tak bisa memaksa Cia. Ia hanya bisa berharap Cia bisa melewati ujian kesabaran di hari pertama sekolah. Ia menyadari bahwa ini adalah bagian dari permainannya.

Akhirnya, ia memilih duduk tak jauh dari Cia, mengawasi adiknya dari kejauhan. Ia siap untuk turun tangan jika situasi menjadi tidak terkendali.

"Oke, anak-anak," kata Bu Ana, memulai pelajaran. "Mari kita lanjutkan materi yang kemarin …"

Saat pelajaran berlangsung, Cia merasa tak nyaman dengan tatapan dari kelompok siswi di dekatnya. Mereka terus menatapnya dengan tatapan meremehkan, seolah Cia adalah orang asing yang tak pantas berada di kelas itu. Ia merasa seperti sedang berada di kandang singa, dikelilingi oleh para predator yang siap menerkamnya.

Cia mencoba mengabaikan mereka, tapi semakin lama, ia semakin terganggu. Ia merasa diintimidasi.

"Sialan, apa mau mereka?" gerutunya dalam hati, berusaha menahan diri. Ia tahu bahwa ia tidak boleh terpancing emosi.

Ia melirik kelompok siswi itu, dan melihat salah satu dari mereka tersenyum sinis padanya. Senyum itu adalah tantangan, sebuah provokasi yang membuatnya semakin marah. Cia mengepalkan tangannya. Ia tak akan membiarkan mereka meremehkannya.

Saat jam istirahat tiba, kelompok siswi yang tadinya menatap sinis, kini mendekati Cia. Mereka bergerak seperti serigala yang mengelilingi mangsanya.

"Hai, anak baru!" sapa siswi berambut merah yang bernama Viona dengan nada mengejek. "Sepertinya lo salah masuk kelas." Ianjutnya menyeringai sinis.

Cia menatap Viona dan tiga dayangnya itu dengan tatapan menantang tak sedikitpun getar. "Apa maksud lo?!" tanyanya datar. Ia siap untuk bertempur jika di perlukan.

"Kelas ini bukan tempat untuk anak-anak manja dan kismin seperti lo!" timpal Nindi sahabat dari Viona. "Di sini, kami yang berkuasa." lanjut Nia mendekat ke arah Cia, menginvasi ruang pribadi mereka.

"Benarkah?!" balas Cia, menyeringai. Senyumnya adalah cerminan dari kegelapan yang ada dalam dirinya. "Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang lebih kuat di antara kita." Ia mendorong kursi ke belakang, berdiri tegak siap menghadapi para pembully di hadapannya.

Varo, yang melihat kejadian itu dari kejauhan, langsung mendekat menghampiri Cia. Ia tahu ini tidak akan berakhir baik jika emosi Cia terus di pancing.

"Cia!" serunya berusaha mengingatkan sang adik. Varo meraih tangan Cia, mencoba menariknya menjauh.

"Tenang saja, Varo," balas Cia, tanpa mengalihkan pandangannya dari kelompok siswi itu. "Gue bisa mengatasi mereka!"

"Haha, ternyata kamu punya nyali juga ya?" desis Viona, sebagai ketua dari geng tersebut, dengan nada mengejek. Matanya menyipit, meremehkan sosok Cia yang berdiri di hadapannya.

Viona menjilat bibir bawahnya, lalu melanjutkan dengan nada yang dibuat-buat lembut, "Hay tampan, baiknya kamu jangan ikut campur deh!" Pupil matanya membesar, menatap Varo dengan tatapan terpesona. Aura menggoda terpancar dari setiap gerak tubuhnya. Viona berusaha memancarkan pesonanya, berharap Varo terpengaruh dan berpihak padanya.

"Lo terlalu manis untuk terlibat dalam masalah seperti ini," bisiknya dengan nada menggoda, berusaha meraih tangan Varo.

Bersambung ...

1
Muft Smoker
waah waah ad yg cemburu nii ,,
🤭🤭

kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,
Surya
ya Thor lebih tegas lagi Cianya
Surya
lanjut kak keren banget ceritanya
Juli Restiarini
lanjutnya jangan lama2 lgi seru ni
riniandara: mohon maaf belum bisa up rutin karena, author lagi berduka ayah author meninggal dunia.
total 1 replies
Surya
Cerita yang menarik untuk di baca.. karakter yang kuat aku sih suka kak terima kasih
Surya
Varo kebagian juga, aku mu juga dong di angkat jadi cucunya Opa Anggara/Facepalm//Grin/
Surya
ancaman pamungkas buat Cia kocar kacil /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Surya
wah bab pertama sih udah keliatan seru banget karakter utamanya dapat bangat. semoga kedepannya lebih seru semangat kak./Heart//Heart//Heart//Rose//Rose//Rose/
mimi
gak tau aja Bu Fani kalau ini triplenya Ratu dan Nathan /Facepalm//Facepalm/
mimi
lanjut kak, semakin menarik kak triple Alatas dan Nugroho ini mah di lawan./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
_bunda@dlan_
thour karakter x cia lebih ditegassin lgi donk, kyak ibunya 🤣
mimi: setuju lebih greget lagi Thor
total 2 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
mimi
salah cari lawan ini mah
mimi
seru banget aku suka
mimi
wah triple bereaksi nih pasti seru banget... semangat ya thor awalnya sudah menarik dan penasaran aku suka karakter tokoh yang kuat.
riniandara
Jangan lupa tinggalkan jejak yang teman-teman/Applaud//Pooh-pooh/
riniandara
Hay semua! apa kabarnya. Semoga semua dalam keadaan sehat dan mudah rejeki ya. terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karya sederhana author semoga menghibur. jika kalian suka jangan lupa like dan kasih vitamin yang banyak buat author supaya rajin dan semangat untuk up/Applaud//Applaud/ terimakasih.
Muft Smoker: siap kak author ,,
semangat truus ,,
total 3 replies
Mama lilik Lilik
ini kisah anak² ratu dan Nathan ya KK author, hmmm sepertinya menarik 👍💪semangat kk, terimakasih 🙏
riniandara: iya kakak. terima kasih supportnya/Applaud//Applaud//Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!