Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Kesepakatan
Langit Jakarta tampak kabut, udara tak sesegar di Ponorogo Gus Hafiz menutup laptopnya.
Setelah urusannya di Jakarta selesai, Gus Hafiz tak langsung kembali ke Jawa Timur.
Ia justru mengambil arah berbeda.
Menuju Jawa Tengah Kudus.
Tanpa memberi kabar Anisa.
Sore itu, pondok cabang Darul Huda terasa lengang. Libur masih berlangsung. Sebagian besar santri pulang. Halaman ndalem tampak sepi, hanya suara gesekan sapu lidi yang terdengar pelan.
Anisa sedang menyapu halaman.
Gerakannya pelan. Seolah ia sengaja menyibukkan diri agar tak sempat berpikir tentang dirinya yang patah.
Kerudungnya terikat rapi. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.
Tiba-tiba langkah berat terdengar di belakangnya.
Ia tak menoleh.
Sampai suara itu menyapa.
“Kenapa ndak ngasih kabar, Mas?”
Suaranya rendah. Tegas. Sangat ia kenal.
Jantung Anisa hampir meloncat.
Sapu di tangannya berhenti bergerak.
Ia membalik badan perlahan.
Dan benar.
Gus Hafiz berdiri di sana. Kemejanya yang ia gulung setengah lengan, tampak rapi dikenakan, raut wajahnya lelah tapi sorot matanya tajam menatapnya.
Anisa cepat menunduk. Tatapannya jatuh ke tanah.
“Takut mengganggu,” sahutnya pendek.
Jawaban yang terlalu klise. Untuk sekelas suami istri.
Gus Hafiz tersenyum tipis.
“Mengganggu?” ulangnya, sedikit mengernyit.
Seolah kata itu tak masuk di logikanya.
Anisa menarik napas pelan.
Ia diam.
Tangannya kembali menggenggam gagang sapu, meski tak lagi menyapu.
“Gus ada perlu apa?” dan pertanyaan itu terdengar sangat tidak normal, untuk ia lontarkan. Tapi Anisa tak punya pilihan kata yang tepat untuk sekedar menjaga emosinya. “Ini ndak hari sambang.” lanjutnya.
Nada itu, dingin, berjarak dan terdengar sangat formal.
Gus Hafiz mengamati wajah Anisa beberapa detik.
“Kamu kenapa?” tanyanya langsung. “Nada bicaramu kembali ke mode awal. Judes.”
Ceplos Gus Hafiz.
Biasanya Anisa akan langsung membantah.
Atau minimal menghela napas kesal.
Tapi kali ini ia hanya diam.
Tak ada sanggahan.
Tak ada ekspresi. Hanya wajah yang seperti menahan sesuatu.
Gus Hafiz melangkah sedikit lebih dekat.
“Mas sudah izin ke Nyai. Kita keluar.”
Anisa akhirnya mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
Ada sesuatu yang berbeda di mata Anisa. Bukan marah. Bukan kesal.
Lebih seperti… luka yang disembunyikan.
“Kalau aku ndak bersedia?” tanyanya pelan, tapi tegas. “Apa panjenengan tetap maksa?”
Pertanyaan itu membuat Gus Hafiz terdiam sesaat.
Ia tak terbiasa ditantang seperti itu.
Beberapa detik berlalu.
Gus Hafiz mengangguk kecil.
“Ya,” jawabnya jujur. “Mas akan paksa kamu.”
Anisa tertegun.
“Kita butuh tempat yang privasi,” lanjutnya. “Di sini ndak leluasa buat ngobrol.”
Nada suaranya tidak keras.
Tapi tak memberi ruang untuk menolak.
Angin berhembus pelan di halaman yang sepi. Anisa menatapnya lama.
Inilah lelaki yang katanya dulu menunggu Afifah. Inilah lelaki yang mungkin sedang dipertimbangkan untuk dilepaskan darinya.
Inilah lelaki yang tanpa sadar sudah memenuhi hatinya.
Ia menghela napas panjang.
Mungkin… ini memang waktunya.
Waktunya untuk berhenti bersembunyi.
Waktunya untuk berhenti pura-pura tak peduli dengan perasaannya sendiri.
Ia mengangguk pelan.
“Baik.”
Suaranya tenang.
***
Mobil berhenti di sebuah kafe yang sudah tak asing bagi mereka.
Tempat biasa.
Tempat yang dulu pernah mereka datangi.
Kini justru terasa seperti ruang sidang bagi hati Anisa.
Mereka duduk berhadapan.
Meja kayu kecil di antara mereka terasa seperti jarak yang tak bisa diseberangi.
Anisa lebih banyak diam. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Pandangannya tak pernah benar-benar terangkat.
Gus Hafiz memperhatikannya sejak tadi.
“Apa ada sesuatu?” tanyanya akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Anisa tak langsung menjawab.
Ia seperti sedang merangkai kata. Memilih kalimat yang tak akan membuatnya terlihat terlalu lemah.
Atau mungkin… terlalu berharap.
“Gus…” suaranya pelan.
Ada jeda panjang.
Gus Hafiz mengangguk kecil. “Katakan, apa yang mau kamu katakan, ndak usah dipendam.”
Anisa menelan ludah.
“Aku tahu… aku bukan wanita pilihan Gus Hafiz.”
Kalimat pertama itu saja sudah menguras napasnya.
Gus Hafiz sedikit mengernyit.
Anisa melanjutkan sebelum ia kehilangan keberanian.
“Dan aku tahu… hingga detik ini, dan mungkin sampai kapan pun… aku bukan perempuan yang pantas berdiri di sisi Gus Hafiz.”
Senyumnya tipis. Hampa tersirat di setiap getar suaranya.
“Karena itu… boleh aku minta satu hal?”
Kening Gus Hafiz berkerut semakin dalam.
“Mas masih ndak paham ke mana arah pembicaraanmu.”
Anisa tersenyum hambar.
“Aku tahu panjenengan orang yang cerdas, Gus. Ndak mungkin panjenengan ndak paham maksudku.”
“Ngomong yang jelas, Anisa. Ndak usah kemana-mana.”
Anisa mengangguk.
Matanya sudah memerah. Tapi ia menahannya.
Baik.
Ia akan bicara dengan jelas. Anisa menarik napasnya sebelum akhirnya kembali berbicara.
“Sebelum kita menikah… Gus Hafiz sedang menunggu seseorang”
Ia berhenti sebentar.
“Dan itu satu-satunya perempuan yang panjenengan tunggu selama belasan tahun. Benar?”
Gus Hafiz tersenyum kecil senyum yang penuh makna.
Tanpa ragu Gus Hafiz mengangguk.
“Iya. Itu benar. Ndak saya pungkiri, aku menunggunya.”
Jawaban itu seperti pisau pertama, yang menembus dadanya.
Seketika Anisa merasakan udara di sekitarnya menipis, dadanya serasa menciut terikat.
Namun ia tetap memaksa melanjutkan bertanya.
“Gus mencintainya?”
Tak ada nada bercanda. Tak ada nada menguji di sana.
Hanya ingin memastikan.
Dan Gus Hafiz menjawab tanpa beban.
“Ya… sangat. Mencintainya.”
Dunia Anisa seakan berhenti.
Dan itu jawaban langsung dari Gus Hafiz. Bahkan pria yang telah dah menjadi suaminya, mengakui jika semua fakta itu benar.
Telinga Anisa terasa berdenging.
Suara di kafe mendadak terasa jauh. Orang-orang di sekitar seperti bergerak tanpa suara.
Kata itu menggema di kepalanya.
Sangat mencintainya.
Dadanya seperti diremas kuat-kuat.
Selama ini ia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin perasaan itu sudah lewat. Bahwa mungkin Gus Hafiz sudah belajar merelakan Ustadzah Afifah. Tapi nyatanya tidak.
Perasaan itu masih ada.
Dan diucapkan dengan begitu yakin.
Anisa menunduk cepat agar lelaki di depannya tak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Jadi benar…
Gus Hafiz sangat mencintai Ustadzah Afifah?
Dan Semua ucapan Umi Laila itu fakta yang selama ini Gus Hafiz tutupi.
Hanya jeda, dan suara angin yang mengibas daun padi.
Anisa tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih seperti napas patah.
“Berarti…benar, aku memang bukan siapa-siapa, untukmu Gus”
Kalimat itu hampir saja lolos dari mulutnya.
Tangannya di bawah meja mengepal, menahan getar.
Ia tak boleh menangis di sini.
Tidak di depannya.
Tidak setelah pengakuan sejujur itu.
Tapi hatinya sudah terlanjur runtuh.
Dan untuk pertama kalinya, Anisa benar-benar merasa, Ia mencintai lelaki yang tak pernah benar-benar ia miliki hatinya.
Pengakuan Gus Hafiz bukan sekadar merenggut harapan Anisa.
Itu seperti membunuh sesuatu yang baru saja tumbuh pelan di dalam dadanya.
Bukan salah siapa-siapa.
Tapi karena kini ia tahu, ia sedang mencintai lelaki yang dengan jujur berkata bahwa hatinya, masih milik orang lain.
Dan anehnya…
Ia tetap tak bisa membencinya.
Itulah yang paling menyakitkan bagi Anisa.
Anisa menarik napas panjang. Ia merapikan ekspresinya. Menegakkan bahu. Menelan luka bulat-bulat.
Ia tidak ingin terlihat patah.
Tidak ingin tampak memohon.
Jika memang ia hanya persinggahan, maka ia akan berdiri dengan harga diri.
Anisa lantas mengalihkan pembicaraan.
“Gus,” suaranya lebih tenang sekarang. Terlalu tenang. “Sebentar lagi Ramadhan.”
Gus Hafiz masih menatapnya. Tajam. Seolah mencoba membaca apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kalimat-kalimatnya.
“Hem...” Gumam Gus Hafiz sambil mengangguk.
“Selama bulan suci nanti…” Anisa berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “aku minta panjenengan ndak usah menemui aku.”
Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka.
Sunyi.
Kening Gus Hafiz langsung berkerut.
“Maksudmu?”
“Aku ingin fokus ibadah. Fokus sekolah. Fokus memperbaiki diri.”
Ia menunduk sedikit. Menghindari tatapan lelaki yang berhasil membuat dadanya berhenti berdetak setiap mata mereka bertemu.
“Mas , masih ndak paham.” Nada Gus Hafiz mulai lebih tegas. “Kamu melarang suamimu sendiri menemui kamu. Alasannya?”
Pertanyaan itu mengandung tekanan.
Tapi Anisa tak mundur.
“Ya aku ingin fokus dengan sekolahku dan ibadahku.”
Jawabannya singkat, tegas.
Tak memberi celah.
Padahal di balik kalimat sederhana itu, ada alasan yang tak ingin Anisa ucapkan.
Karena aku ingin belajar melepaskan perlahan Gus.
Karena aku ndak sanggup melihatmu, karena hatimu bukan untukku.
Karena aku harus menjaga diriku sendiri… sebelum semuanya benar-benar diambil dariku.
Kalimat-kalimat itu, hanya sanggup terucap dalam hatinya saja.
Tatapan Gus Hafiz tak lepas dari wajah Anisa.
Ada sesuatu yang berbeda dari istri kecilnya hari ini.
Lebih dingin.
Lebih jauh.
Lebih… tertutup.
Gus Hafiz menghela napas panjang.
Ia sadar satu hal.
Ia tak boleh memaksa.
Istri di hadapannya ini bukan sekadar Gadis remaja, ia bahkan belum genap delapan belas tahun.
Dan sebagai lelaki, sebagai suami,
Ia punya tanggung jawab menjaga, bukan menekan.
“Oke...,” ucapnya akhirnya.
Satu kata.
Namun berat.
"Tapi mas punya satu permintaan, dan itu ndak boleh kamu tolak.”
Anisa mengangguk kecil.
" Yang penting, sarat itu ndak melanggar syariat." Ujar Anisa.
"Tentu tidak." Gus Hafiz dengan tenang menjawabnya.
Entah kenapa, persetujuan itu justru lebih menyakitkan bagi Anisa.
Seolah-olah kepergiannya memang tak terlalu berarti.
Anisa tersenyum tipis.
“Maturnuwun, Gus.”
Gus Hafiz mengangguk.
Di luar, matahari mulai condong ke barat.
Di dalam kafe kecil itu, dua orang duduk berhadapan.
Satu mencoba bertahan dengan perasaan yang tak pernah diminta.
Satu lagi mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah, dari diri istri kecilnya.
***
Mereka sudah selesai makan. Hidangan di piring mereka sudah habis.
Gus Hafiz. Berjalan kearah kasir. Setelah melakukan pembayaran, Gus Hafiz mengajak Anisa kembali ke mobil.
Setelah dari kafe, mobil tak langsung kembali ke pondok.
Anisa baru menyadari arah mobil berubah ketika jalan mulai menanjak.
Udara semakin dingin.
Pepohonan tinggi menjulang. Kabut tipis mulai turun.
“Gus…” Anisa melirik ke samping. “Ini bukan arah pondok.”
Gus Hafiz tetap fokus menyetir.
“Iya.”
“Iya… maksudnya?”
Tanya Anisa, sedikit ngegas suaranya.
Gus Hafiz menoleh.
"Rendahkan suaramu, Dek..."
Gus Hafiz tak lupa menegur Anisa. Jika tindak tanduknya kurang pantas.
"Gus jangan bercanda."
Gus Hafiz bukannya menjawab.
Ia malah tersenyum, menatap Anisa.
Tak lama, mobil berhenti di sebuah vila kecil bernuansa kayu. Lampu-lampunya temaram, suasananya tenang. Di kejauhan, siluet pegunungan tampak megah.
Area Gunung Muria.
Anisa benar-benar terdiam.
“Gus… apa maksudnya? Kenapa kita ke sini…?” Suaranya mulai terdengar panik.
Pikirannya langsung ke mana-mana.
Penginapan.
Sepi, dan di pegunungan.
Anisa menelan ludah.
Gus Hafiz turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuknya.
“Ayok turun. Kita sudah sampai.”
Anisa tetap duduk, tak bergerak dari kursinya.
“Gus… ini ndak lucu.”
Protes Anisa.
“Mas juga ndak sedang bercanda.”
Ujar Gus Hafiz, dengan tegas.
"Mau turun sendiri, apa mau Mas gendong?"
Anisa mendelik.
Dengan ragu, Anisa akhirnya turun juga. Seketika Angin gunung menerpa wajahnya.
Saat Anisa sudah keluar dari mobil. Gus Hafiz berdiri tepat di depan Anisa.
“Ini sebagai syarat dari permintaanmu,” ujar Gus Hafiz tenang.
“Syarat?” Anisa mengerutkan kening.
“Kamu minta satu bulan ndak ketemu. Mas izinkan.”
Anisa mengangguk pelan.
“Tapi ndak bisa langsung hilang begitu saja.” Gus Hafiz menatapnya lurus. “Diganti satu minggu. Kamu temani Mas di sini.”
Mata Anisa langsung membesar.
“Satu… minggu?” suaranya hampir melengking. “Maksud panjenengan… kita…?”
Kalimatnya menggantung. Otaknya sudah berlari ke mana-mana.
Wajahnya memerah sampai ke telinga.
Gus Hafiz menatapnya beberapa detik.
Lalu, Ia tersenyum. Senyum tipis, yang sangat jelas.
“Kita gunakan waktu seminggu ini, untuk lebih dekat,” katanya tenang. “Ngobrol. Mas ingin tahu kenapa kamu berubah.”
Anisa masih belum sepenuhnya yakin.
“Cuma… itu?” tanya Anisa, dengan tatapan menyelidik.
“Kira-kira menurutmu Mas mau apa?” tanyanya datar, tapi ada nada jahil tipis di ujungnya.
Anisa langsung salah tingkah.
Gus Hafiz melangkah mendekat satu langkah.
Anisa otomatis mundur setengah langkah.
“Anisa.”
Suara Gus Hafiz lebih rendah.
“Haaa...?”
Gumam Anisa gugup.
“Kamu ini istrinya siapa?”
Pertanyaan itu membuatnya membeku.
“Istrinya… panjenengan.”
“Kalau Mas memang mau apa-apa, Mas ndak perlu jauh-jauh ke Gunung Muria, to...? dimana aja mas bisa...”
Anisa tersedak napas sendiri.
Pipi nya merah total.
“Gus!” protesnya lirih.
Gus Hafiz menahan senyum.
“Ndak usah mikir yang macem-macem. Mas cuma mau kamu berhenti lari.”
Kalimat itu langsung membuat suasana berubah.
Lebih lembut, lebih dalam.
Gus Hafiz membuka pintu penginapan. Ruangannya sederhana. Dua kursi kayu di teras kecil yang menghadap lembah.
“Mas tahu kamu lagi ada sesuatu,” lanjutnya pelan. “Dan Mas ndak mau kamu pikir sendirian.”
Anisa terdiam.
Jadi ini bukan tentang yang ia takutkan.
Bukan tentang… itu.
Melainkan tentang dirinya. Batinnya kaku.
Angin dingin membuat kerudungnya sedikit terbang. Tanpa sadar, Gus Hafiz menahan ujung kerudung itu agar tak tersibak.
Gerakan sederhana.
Tapi membuat jantung Anisa berdebar tak karuan.
“Satu minggu,” ulang Gus Hafiz pelan. “Mas cuma minta kamu jujur.”
Anisa menatapnya.
Lelaki yang katanya mencintai orang lain itu… kini berdiri di depannya, membawa dia ke tempat sunyi hanya untuk meminta kejujuran.
Hatinya yang tadi terasa mati… tiba-tiba berdenyut lagi.
“Kalau aku tetap ndak mau cerita?” tantangnya pelan.
Gus Hafiz mengangkat alis.
“Ya Mas tunggu.”
“Tunggu sampai kapan?”
“Sampai kamu berhenti pura-pura.”
Anisa tercekat, matanya menatap Gus Hafiz lama.