Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penutupan damai tentang rasa
"Kabar ku baik." Sebria menoleh sekilas lalu beralih melihat Byan di atas brankar. "Aku baru tahu kalau tante Diana sudah meninggal."
"Iya." Jehan menyandarkan tubuh di dinding sofa. "Hanya Byan yang tersisa dari keluarga inti ku."
Sebria mengangguk. "Aku kembali ke toko ya. Kalau Byan bangun kabari saja. Nomor yang dia pakai menelpon saat itu adalah nomorku."
"Iya." Jehan berdiri berniat mengantar Sebria keluar. "Disini kamu tinggal dimana?"
"Aku tinggal bersama orang tua ku, Je. Cerita nya panjang." Ada senyum pahit terlukis di bibir berbentuk hati itu.
"Aku senang kamu sudah bisa jalan."
"Keona bilang kamu datang menjenguk ku." Sebria berkata sambil mengecup pelipis Byan. "Cepat sembuh ya... Nanti tante kesini lagi kalau kamu sudah bangun."
"Terimakasih sudah bawa Byan kesini."
"Sama-sama, Je. Aku ke toko dulu jangan lupa telpon aku nanti kalau dia bangun." Meski berat Sebria harus kembali ke toko.
Jehan menyadari bahwa pertemuan ini bukan tentang memulai kembali apa yang sudah patah, melainkan tentang penutupan yang damai. Ia merasa lega dan bahagia bisa berbicara dengan Sebria tanpa beban amarah atau penyesalan. Di dalam ruang rawat Byan yang sunyi, mereka menemukan kembali titik temu sebagai dua orang dewasa yang pernah saling mengenal.
Ruang rawat vvip itu hanya menyisakan sunyi, sesekali dipecah oleh desis halus mesin oksigen. Jehan duduk di samping tempat tidur menggenggam jemari mungil putranya yang terasa dingin. Di bawah balutan perban yang melingkar di kepala, wajah anak laki-laki itu tampak begitu tenang, seolah ia hanya sedang bermimpi panjang, bukan sedang dalam pengaruh bius.
Setiap embusan napas Byan yang terlihat dari balik masker oksigen adalah syukur terbesar bagi Jehan. Sebagai orang tua tunggal, pemandangan ini menghancurkan hatinya. Biasanya, jam seperti ini adalah waktu di mana Byan menonton TV atau bersepeda di halaman rumah.
Jehan terus membisikkan kata-kata penyemangat di telinga anaknya, berharap suara nya bisa menjadi kompas yang menuntun Byan kembali sadar. Ia tidak akan beranjak, tidak akan memejamkan mata, sampai binar di mata putranya kembali menyapa pagi.
"Pak saya bawa perlengkapan Nak Byan. Kalau punya Bapak, nanti ambil sendiri saya tidak tahu apa yang harus di bawa. Dimana pemilik toko tadi?" Bi Merry mencari keberadaan Sebria.
"Namanya Sebria Adreena Mahren. Dia bukan orang lain. Dia adalah calon istri saya yang sebenarnya. Mama nya— Byan adalah sahabat nya. Saya melakukan kesalahan besar saat dia bekerja keluar kota. Kami putus karena Ayusa hamil Byan. Dia mengalah agar Byan tetap hidup dalam keluarga utuh. Sebria pernah menikah tapi sudah bercerai. Kalau bicara sama dia jangan menyinggung tentang anak, pernikahan dan keluarga nya. Pembahasan itu sangat sensitif untuknya. Melihatnya bisa sehat dan berjalan saja saya sudah bersyukur." Ujar Jehan panjang lebar.
Bi Merry mengangguk tanpa di jelaskan secara rinci. Ia tahu arah cerita itu kemana. Bi Merry sangat terkejut setelah mendengar rahasia masa lalu majikannya. "Iya pak, saya mengerti."
Jehan seketika menegakkan punggungnya. Jemari kecil yang sejak tadi digenggamnya mulai bergerak hanya sebuah kedutan lemah, namun bagi Jehan itu adalah ledakan harapan.
Perlahan, kelopak mata sang anak bergetar hebat. Di bawah cahaya lampu ruang rawat yang lembut, mata itu terbuka sedikit, tampak sayu dan kebingungan akibat sisa pengaruh anatesi umum. Dunianya masih berputar, bayang-bayang langit-langit putih rumah sakit tampak kabur di matanya yang memerah.
"Papa...?" Bisikan itu sangat tipis, hampir tenggelam oleh desis oksigen, namun terdengar seperti musik terindah di telinga Jehan.
Pria itu mendekat, mengusap dahi putranya dengan tangan gemetar karena lega. "Iya, Nak. Papa di sini. Kamu aman, Sayang."
Anak itu mengerjap pelan, mencoba mengenali sekelilingnya sambil menahan rasa pening yang hebat. Meski masih tampak linglung dan lemah, binar kesadaran itu akhirnya kembali. Jehan mengecup kening putranya lama, merasakan hangat kulit yang menandakan bahwa separuh nyawanya telah benar-benar kembali.
"Tante bunga mana?"
"Tante bunga ke toko untuk beberes nanti papa telpon." Jehan gegas mengeluarkan ponsel lalu mencari nama kontak 'tante bunga' Menelpon beberapa detik Jehan memutuskan telpon dan tersenyum melihat wajah tampan anaknya yang sudah bangun sempurna.
...****************...
Wajah lesu Byan seketika berubah cerah saat pintu ruang rawatnya berayun terbuka. Di sana, Sebria berdiri dengan senyum hangat yang sangat ia kenali. Namun, bukan hanya kehadiran Sebria yang membuatnya bersemangat, melainkan setangkai bunga matahari besar dengan kelopak kuning menyala yang dibawanya.
"Tante Bunga!" seru anak itu lemah namun penuh antusias, memanggil Sebria.
Byan selalu mengagumi bunga-bunga di toko Sebria setiap kali pulang sekolah dan kini, salah satu bunga yang paling ia sukai dibawa langsung ke samping tempat tidurnya. Warna kuning bunga itu seolah membawa sinar matahari masuk ke dalam ruangan rumah sakit yang pucat dan membosankan.
"Halo, Jagoan. Tante bawakan teman untuk menemani kamu di sini supaya cepat sembuh," ucap Sebria lembut sambil mendekat.
Ia meletakkan bunga itu di dalam vas di samping tempat tidur. Manik mata Byan berbinar, tangannya yang masih terpasang infus mencoba meraih kelopak bunga yang lembut tersebut.
Rasa sakit dan pusing setelah dijahit seolah terlupakan sejenak oleh kegembiraan sederhana itu. Ia merasa sangat spesial karena 'Tante Bunga' yang cantik itu mau meluangkan waktu datang menjenguknya.
Jehan yang berdiri di sudut ruangan, hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Hatinya menghangat melihat putranya bisa tersenyum lebar kembali berkat kehadiran Sebria.
"Sekarang kalian berkenalan secara resmi." Jehan mendekat ke sisi brankar. "Ini namanya tante Sebria. Tante ini sahabat mama kamu. Nanti papa ceritakan lagi yang lengkap ya."
"Jadi nama tante, Sebria?"
"Hm, kita pernah ketemu saat kamu masih kecil dan waktu itu seingat tante kamu sedang demam."
"Tapi kenapa tante tidak mengenali aku?" Byan melayangkan protes.
"Karena kita tidak pernah bertemu lagi. Masih ada yang sakit?" Sebria duduk di tepi brankar.
"Kepala yang ada perban nya ini sakit sekali."
"Nanti dikasih anti nyeri lagi. Kamu sudah makan?" Sebria melirik ke pergelangan tangannya jam sudah menunjuk pukul tujuh malam. Waktu memang benar-benar cepat bergeser.
"Sudah. Papa saja yang belum."
Jehan mengangguk. "Nanti papa makan kok sama tante Sebria."
"Bapak bisa pulang ganti baju sama mengambil perlengkapan. Biar saya disini jaga Nak Byan." Sahut Bi Merry
"Kamu belum ganti baju, Je?" Sebria menoleh pada pria dewasa itu.
"Belum nunggu kamu datang sekalian kita makan dulu."
"Ayo nanti kemalaman kamu kembali kesini. Aku sudah mengabari orang rumah pulang terlambat malam ini. Tidak apa-apa mobil ku tinggal disini dulu."