Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29# BADAI TIGA MATA
Dinding tebing hitam yang menjulang menuju dataran tinggi Menara Merah terasa seperti tembok kematian yang mustahil ditembus. Angin menderu kencang, membawa debu kristal yang perih saat mengenai mata. Lima belas penyintas itu kini berada di posisi paling rentan, terpaku di dinding tebing dengan tali tambang, mencoba memanjat inci demi inci menuju puncak.
Namun, langit yang memerah tiba-tiba terbelah oleh raungan mekanis yang memekakkan telinga.
"Di atas kita! Mereka datang!" teriak Harry sambil menempelkan tubuhnya ke dinding batu.
Dari puncak tebing, lima ekor Phenix Omega merayap turun dengan kecepatan yang mengerikan. Lima kaki panjang mereka menancap kuat di dinding vertikal seolah gravitasi tidak berlaku bagi mereka. Tiga mata kuning besar di wajah hitam pekat itu berpendar, mengunci target-target manusia yang sedang tergantung lemas.
"Rony, sekarang!" perintah Arlo.
Rony, yang posisinya berada sedikit lebih tinggi dari yang lain, menunjukkan kehebatannya. Ia tidak hanya ahli melacak, tapi juga seorang pemanah akrobatik. Dengan kaki yang dikaitkan pada tali, Rony melepaskan pegangan tangannya, membiarkan tubuhnya bergelantung terbalik di ketinggian ratusan meter.
"Makan ini, monster sialan!" raung Rony. Ia melepaskan tiga anak panah sekaligus. Sret! Sret! Sret! Ketiga anak panah itu tepat sasaran, menghantam mata-mata kuning salah satu Phenix Omega yang sedang merayap menuju Lily dan Tom.
Monster itu memekik, tubuh hitamnya bergetar hebat sebelum kehilangan keseimbangan dan jatuh bebas ke dasar jurang yang gelap.
"Bagus, Rony! Satu jatuh!" teriak Tom sambil menghujamkan kapaknya ke kaki monster lain yang mencoba menyambar kepalanya.
Namun, situasi menjadi sangat kritis di bagian tengah barisan. Cicilia terjepit di sebuah ceruk batu sempit saat seekor Phenix Omega lain mengarahkan salah satu kaki tajamnya tepat ke jantungnya. Cicilia terengah-engah, punggungnya menempel di batu yang buntu.
"Cici! Menunduk!" jerit Naya dari bawah.
Kaki monster itu menghujam, meleset hanya beberapa milimeter dari leher Cicilia. Dengan adrenalin yang memuncak, Cicilia tidak membiarkan rasa takut melumpuhkannya. Ia menarik busur panahnya dalam jarak yang sangat dekat, mengarahkan matanya yang tajam tepat ke arah pusat segitiga mata kuning monster itu.
"Kau tidak akan membawaku hari ini!" teriak Cicilia. Ia melepaskan anak panah jarak dekat yang diledakkan oleh sisa bubuk kimia dari Harry. BOOM! Ledakan kecil itu menghancurkan wajah monster tersebut, membuat tubuhnya jatuh terlempar dari dinding tebing. Cicilia terduduk lemas di ceruk itu, nafasnya memburu, hampir saja ia menjadi korban jika ia telat sepersekian detik.
Di sisi lain, Rayden yang sedang berjuang keras memanjat dengan satu tangan sehatnya, kembali menunjukkan ke-absurd-annya. Seekor Phenix Omega mencoba menjangkau tas pancinya yang tergantung di punggung.
"Hei! Berhenti menyentuh harta karunku!" teriak Rayden panik. Ia melepaskan pegangannya sejenak, mengambil sebuah garpu besar dari saku tasnya dan menusukkannya secara acak ke arah kaki monster itu. "Ambil ini! Rasakan kekuatan dapur!"
Entah karena keberuntungan atau memang takdir, garpu itu masuk ke celah sendi kaki monster tersebut, membuatnya tersentak kaget. Finn yang berada tepat di bawah Rayden langsung memanfaatkan momen itu untuk melompat dan menusukkan belatinya ke perut makhluk itu.
"Ray! Kau benar-benar menggunakan garpu di tengah perang? Kau gila atau jenius?!" teriak Finn sambil tertawa histeris di tengah ketegangan maut.
"Aku hanya memanfaatkan apa yang ada, Finn! Jangan protes!" balas Rayden sambil kembali memegang tali dengan wajah pucat pasi.
Zephyr dan Arlo bekerja sama di garis depan pertahanan udara. Zephyr melompat dari satu tonjolan batu ke tonjolan lain dengan kelincahan yang mustahil, menebas kaki-kaki Phenix Omega yang mencoba menghambat laju pendakian. Selene menggunakan kemampuannya untuk membaca gerakan angin, memperingatkan tim setiap kali ada serangan mendadak dari arah buta.
"Sedikit lagi! Puncak sudah di depan mata!" teriak Arlo, otot lengannya sudah menegang maksimal.
Dokter Luz dan Dasha membantu menjaga barisan belakang, memastikan tidak ada Silvan Striker yang merayap naik menyusul mereka. Rick dan Harry terus memberikan tembakan penutup bagi Naya dan Lily yang sedang berusaha mencapai bibir tebing.
"Rony, jaga sisi kiri! Ada satu lagi yang muncul dari balik awan debu!" perintah Rick.
Rony kembali menarik busurnya, keringat mengucur deras di dahinya. "Aku melihatnya! Dia milikku!" Rony melepaskan tembakan presisi yang menembus sendi kaki monster terakhir, membuatnya limbung dan jatuh menimpa tebing di bawahnya.
Pertempuran vertikal itu sangat menguras tenaga dan mental. Setiap dari mereka kini dipenuhi luka lecet baru karena bergesekan dengan batu tajam dan cakar monster. Namun, satu per satu dari mereka mulai berhasil menggapai bibir tebing.
Arlo adalah yang pertama sampai di atas, ia segera mengulurkan tangan untuk menarik Selene, lalu membantu Naya dan yang lainnya. Saat semua orang sudah berada di dataran tinggi, mereka jatuh terduduk, terengah-engah dengan dada yang naik turun.
Mereka menoleh ke depan, dan jantung mereka seolah berhenti berdetak. Di sana, di tengah dataran luas yang gersang dan dipenuhi kilatan listrik statis, berdiri Gerbang Utama Menara Merah. Jaraknya kini hanya tinggal beberapa ratus meter lagi. Bangunan itu tampak jauh lebih besar dan mengerikan dari dekat, dengan cahaya merah yang berdenyut dari puncaknya seperti detak jantung monster yang sesungguhnya.
"Kita sampai..." bisik Naya, air mata mengalir di pipinya yang kotor.
"Belum sampai di dalam, Naya," sahut Arlo sambil berdiri tegak, memandangi pintu gerbang raksasa yang tertutup rapat itu. "Ini baru permulaan dari akhir."
Rayden merangkak mendekati teman-temannya, masih memegang garpunya yang bengkok. "Jika di dalam sana ada monster yang lebih besar, aku harap dia takut pada peralatan makan," gumamnya, membuat Lira hanya bisa menggelengkan kepala sambil memegang bahu Rayden yang masih terluka.
Fajar sudah hilang, digantikan oleh cahaya merah pekat dari Menara. Mereka berdiri bersisian lima belas jiwa yang telah melewati neraka bersama siap melangkah menuju gerbang terakhir di episode selanjutnya.
Btw semangat terusss min!!