"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 The Awakening
Aroma antiseptik yang samar bercampur dengan wangi lilin aromaterapi lavender memenuhi kamar luas bernuansa minimalis itu. Shine mengerang kecil, kelopak matanya terasa seberat timah saat mencoba terbuka. Hal pertama yang ia rasakan bukan lagi kekosongan yang menyakitkan atau rasa dingin yang menggigit tulang, melainkan sebuah ledakan energi yang hangat, padat, dan sangat asing.
Ia menatap langit-langit kamar. Biasanya, setelah penglihatan paksa, ia akan merasa seperti ponsel dengan baterai satu persen—redup dan hampir mati. Tapi sekarang? Jantungnya berdegup kuat. Aliran darahnya terasa panas, seolah-olah seseorang baru saja menyuntikkan sinar matahari langsung ke dalam nadinya.
Shine menyentuh bibirnya. Bayangan pria di restoran tadi muncul begitu saja. Pria dengan celemek hitam, tato yang mengintip dari balik lengan baju, dan sepasang mata bulat yang menatapnya seolah ia adalah seluruh dunia.
"Gila..." bisik Shine pelan. Suaranya tidak serak seperti biasanya. Ia bangkit berdiri, dan keajaiban terjadi; kepalanya tidak pusing sama sekali.
Sementara itu, di lantai bawah, atmosfernya jauh berbeda. Ruang kerja Jin bukan lagi tempat untuk negosiasi bisnis bernilai miliaran won, melainkan ruang sidang yang mencekam.
Kim Seokjin duduk di balik meja mahoninya, melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Di sampingnya, Suga berdiri menyandarkan tubuh di rak buku, melipat tangan di depan dada dengan wajah sedingin es. Di depan mereka, RM berdiri tegak, tanpa ekspresi, meski ia tahu dirinya sedang berada di ujung tanduk.
"Jelaskan lagi, Namjoon," suara Jin rendah, tipe suara yang membuat bawahan di kantornya ingin mengundurkan diri seketika. "Bagaimana bisa seorang koki—bukan dokter, bukan saudara sedarah, bukan pula sepupunya—bisa membuat Shine pulih dalam hitungan detik?"
RM menarik napas panjang. "Saya tidak bisa menjelaskan secara teknis, Tuan. Nona Shine hampir pingsan, dan pria itu... Jeon Jungkook, dia bergerak lebih cepat dari saya. Begitu dia menyentuh Nona, warna kulit Nona langsung kembali normal. Itu... itu tidak masuk akal, tapi saya melihatnya sendiri."
"Jeon Jungkook," Suga bergumam, menyebut nama itu seolah itu adalah jenis penyakit baru. "Aku sudah memeriksa riwayat klinis Shine selama sepuluh tahun. Hanya kita yang memiliki kecocokan energi. Secara medis, pria ini seharusnya tidak mungkin menjadi katalisator."
Suga melangkah maju, menatap RM dengan mata sipitnya yang tajam. "Kau yakin tidak ada kontak fisik lain? Hanya pelukan?"
"Hanya pelukan, Dokter," jawab RM tegas.
Jin memijat pangkal hidungnya. "Cari tahu segalanya tentang dia. Aku ingin tahu apa warna kesukaannya, siapa teman TK-nya, hingga berapa jumlah garam yang dia pakai dalam masakannya. Kalau dia punya niat buruk memanfaatkan kekuatan Shine, aku sendiri yang akan memastikan restorannya rata dengan tanah."
Suga mendengus, aura sister complex-nya meradang. "Jangan hanya restorannya, Hyung. Kalau dia berani menyentuh Shine lagi tanpa izin medis dariku, aku akan memastikan dia tidak bisa menggunakan tangannya lagi untuk memegang pisau dapur."
Di sudut lain kota Seoul, di sebuah apartemen yang terletak tepat di atas restoran Euphoria, Jeon Jungkook sedang mengalami malam terpanjang dalam hidupnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur, membiarkan kamarnya gelap gulita. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar, menyinari tangannya yang terus bergerak gelisah. Jungkook menatap telapak tangannya sendiri. Masih ada getaran aneh di sana. Rasa hangat yang tertinggal setelah ia mendekap gadis itu—Shine—terasa seperti candu yang baru saja ia cicipi.
"Siapa kau sebenarnya?" gumam Jungkook pada kegelapan.
Pikirannya melayang ke mimpi-mimpi yang menghantuinya selama bertahun-tahun. Dalam mimpi itu, ia selalu berada di sebuah taman yang penuh kabut, melihat seorang gadis kecil menangis di balik pohon besar. Ia selalu ingin mendekat, namun terbangun tepat sebelum bisa menyentuhnya.
Hari ini, gadis di mimpi itu menjelma menjadi nyata. Bukan lagi kabut, melainkan tubuh hangat yang pas dalam dekapannya. Namun, ada sesuatu yang mengganggunya. Saat menyentuh Shine, Jungkook merasa separuh dari dirinya—energi yang selama ini membuatnya merasa 'penuh'—seolah tersedot keluar, mengalir menuju gadis itu. Anehnya, ia tidak merasa lelah. Ia justru merasa lega, seolah-olah energi itu memang diciptakan hanya untuk diberikan kepada Shine.
Jungkook beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju dapur kecil di apartemennya. Ia mulai memotong sayuran dengan kecepatan yang tidak wajar, sebuah kebiasaan saat ia sedang gelisah. Suara pisau yang beradu dengan papan talenan menjadi satu-satunya melodi di malam itu.
Pintu apartemennya terbuka. J-Hope masuk dengan wajah mengantuk, membawa dua botol minuman dingin.
"Kook? Kau masih bangun? Ini jam tiga pagi," J-Hope mengerutkan kening melihat adiknya yang sudah berkeringat di depan kompor.
"Hyung, aku tidak bisa tidur," jawab Jungkook tanpa menoleh. "Rasanya... rasanya seperti aku meninggalkan sesuatu yang penting di restoran tadi sore."
J-Hope menyandarkan punggung di pintu kulkas, menatap punggung Jungkook yang tegang. Sebagai kakak, ia tahu ada yang tidak beres. "Maksudmu gadis yang dibawa pengawal besar itu? Jimin menceritakan semuanya padaku. Katanya kau memeluknya seperti sedang memegang nyawamu sendiri."
Jungkook menghentikan gerakan pisaunya. "Dia bukan sekadar pelanggan, Hyung. Dia... dia alasanku tidak pernah tertarik pada wanita lain selama ini. Rasanya aneh, tapi aku merasa aku mengenalnya lebih baik dari siapa pun, meski kami baru bertemu sepuluh detik."
J-Hope menghela napas, berjalan mendekat dan menepuk bahu Jungkook. "Dengar, Kook. Pria yang bersamanya tadi bukan orang sembarangan. Itu RM, tangan kanan keluarga Kim. Jika kau terlibat dengan mereka, hidupmu yang tenang sebagai koki akan berakhir. Kau siap?"
Jungkook membalikkan badannya. Mata bulatnya yang biasanya lembut kini terlihat gelap, penuh tekad yang posesif. "Aku tidak peduli siapa keluarganya, Hyung. Dia terlihat sangat kesakitan tadi. Jika aku satu-satunya yang bisa membuatnya tidak merasa sakit... maka dia adalah tanggung jawabku. Tidak peduli berapa banyak kakak yang harus kuhadapi."
Kembali ke kediaman Kim.
Shine tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar kamar, berjalan perlahan melewati lorong-lorong sunyi. Ia sampai di depan pintu ruang kerja Jin yang masih sedikit terbuka. Suara perdebatan di dalam terdengar samar.
"Kita harus mengisolasi dia, Hyung! Pria itu adalah anomali!" Itu suara Suga.
"Aku tahu! Tapi kau lihat sendiri, pelukanmu bahkan tidak membuatnya bangun secepat itu tadi sore. Kita butuh dia, tapi kita juga harus mengontrolnya," balas Jin.
Shine mengepalkan tangannya di samping gaun tidurnya. Ia benci dibicarakan seolah-olah ia adalah aset perusahaan atau eksperimen laboratorium. Ia benci fakta bahwa kekuatannya membuatnya menjadi beban bagi kakak-kakaknya.
Tiba-tiba, penglihatan itu datang lagi. Singkat, tajam, dan menyakitkan.
Jungkook sedang berdiri di dapur restoran, menatap sebuah foto lama yang terbakar di sudutnya. Di belakangnya, seseorang dengan jas hitam sedang menodongkan senjata.
"Tidak..." bisik Shine. Ia terhuyung, namun kali ini ia tidak jatuh. Energi dari Jungkook yang masih tersisa di tubuhnya memberinya kekuatan untuk tetap tegak.
Ia harus bertemu pria itu lagi. Bukan hanya karena ia butuh energinya, tapi karena ia melihat bahaya yang mendekat ke arah pria yang baru saja menyelamatkannya.
Shine berbalik, kembali ke kamarnya dengan langkah terburu-buru. Di dalam kegelapan, matanya bersinar biru redup—tanda bahwa sang Oracle telah mengambil keputusan. Ia akan keluar dari benteng ini, meski itu artinya ia harus menghadapi kemarahan dua kakaknya yang paling ia sayangi.
Di sisi lain, Jungkook baru saja selesai memasak sebuah hidangan. Beef Wellington yang sempurna. Ia menatap hidangan itu dan tersenyum tipis. "Besok, aku akan membawakan ini untukmu. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi sebelum aku tahu namamu."
Dua jiwa yang saling merindukan dalam mimpi, kini bersiap untuk saling menarik satu sama lain di dunia nyata. Dan di balik bayang-bayang, RM yang berdiri di lorong rumah, hanya bisa menatap pintu kamar Shine dengan perasaan bimbang. Ia melihat Nona mudanya mulai memberontak, dan ia tahu, badai besar sedang menuju keluarga Kim.
...****************...