NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

diselimut luka dilla

"Kamu, giliran punya uang belanja terus. Bisanya cuma jadi beban suami aja," ucap Ibu mertuanya dengan ketus di depan tukang sayur dan para tetangganya.

Wajah Ana memerah menahan malu. Tak mengapa jika Ibu mertuanya itu melontarkan perkataan apapun padanya. Namun, yang membuat hatinya semakin nyeri itu saat Ibu mertuanya mengatakannya di depan umum. Di depan tukang sayur dan tetangganya.

Padahal, selama ini Ana berusaha menutupi semuanya agar orang luar tak tahu tentang kondisinya. Namun, ternyata Ibu mertuanya itu malah membukanya di tempat umum. Setelah mengambil uang kembalian, Ana langsung pergi dan masuk rumah.

Sejak saat itu, ketika Ana belanja ia selalu diam-diam. Bahkan sering celingak-celinguk saat ia membawa belanjaan, takut ketahuan oleh Ibu mertuanya itu. Ia sudah tak mau mendengarkan perkataan yang membuat hatinya nyeri.

Ana kembali menangis mengingat semuanya, tangan Firman membersihkan bulir bening

"Sudah Teh, jangan menangis lagi. Teteh sekarang fokus untuk pulih, di sini ada Firman yang bersama Teteh." Firman pun menitikkan air matanya.

***

Empat bulan telah berlalu dari kejadian itu, Ana cukup tenang selama berada di rumah Emak. Berkali-kali juga Rama ke rumah. Namun, Ana memberikan jawaban yang sama. Malam ini Ana hanya duduk termenung di kamar yang berukuran kecil itu. Ia meratapi hidup yang semakin keras.

Ana masih bingung dengan keputusan yang akan ia ambil kedepannya. Kini Ana harus berjuang demi masa depan keluarganya. Tapi, akankah nasib baik berpihak padanya? Ataukah nasib buruk yang terus mengikutinya.

"Fir, kalau Mbak Reni masih jadi penyalur untuk orang yang kerja ke kota?"

"Masih, Teh," jawab Firman menatap kakaknya itu.

"Kalau ketemu, Teteh butuh pekerjaan di kota. Kalau ada, Teteh pengen secepatnya pergi."

Firman hanya bisa mengangguk pelan mendengar ucapan kakaknya, ia tak mampu menghentikan niat itu. Sedangkan Ana, ia tak tega jika adiknya itu terus-terusan menjadi tulang punggung keluarga.

Jam 08.30 pagi yang cerah. Setelah sarapan, Ana menjemur pakaian di belakang rumah panggung itu. Namun, tiba-tiba aktivitasnya terhenti saat ada seorang perempuan datang menghampirinya.

"Teh Ana," panggilnya.

"Eh, Mbak Reni." Ana tersenyum menyambutnya.

"Kata Firman Teh Ana mau kerja ke kota?"

"Iya, Mbak, barangkali ada kerjaan buat saya di kota."

"Ada Teh, cuma---"

"Kenapa Mbak?"

"Cuma ini darurat, harus hari ini juga. Soalnya yang kerja di sana sudah berhenti sejak kemarin. Jadi si Ibu majikan gak bisa lama-lama tanpa pekerja."

"Oooh, gitu, tapi Ana enggak punya uang buat ongkos, Mbak."

"Kalau soal ongkos enggak apa-apa, bisa nanti pas sudah gajian. Yang penting siap berangkat sekarang naik mobil travel sama si Amang yang suka nganter ke sana."

"Ya udah atuh, Mbak, Ana mau."

"Siap saya tunggu di rumah."

Ana langsung menyelesaikan menjemur pakaiannya dan masuk rumah.

"Emak, Ana mau berangkat kerja hari ini enggak apa-apa, ya? Tapi Ana merepotkan Emak, jadi jagain Dilla."

"Enggak apa-apa, Nak. Dilla sekarang sudah sekolah, dia sudah tidak merepotkan. Emak hanya menyiapkan makanan Dilla saja, yang nyuci pakaian ada Firman yang bantuin."

"Yang penting kamu betah di sana, punya majikan yang sayang sama kamu. Maafkan Emak... Emak enggak bisa bantu lebih, Emak hanya bisa bantuin jaga Dilla dan mendoakan." Mata itu mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih banyak Mak, atas doanya."

Ana langsung menyimpan beberapa gamis yang sebagiannya sudah mulai pudar ke dalam tas. Tubuh kurusnya dibalut gamis polos dengan hijab berwarna cream. Angin yang berhembus itu sedikit menerbangkan ujung hijabnya.

Ternyata Rama saat tadi pagi berniat akan menemui Ana kembali. Namun, saat tahu Ana akan berangkat ke Jakarta iya langsung menuju tempat Mbak Reni.

Langkah kecilnya menuju rumah Mbak Reni, di sana sudah ada mobil yang sudah diisi beberapa orang. Saat Ana akan masuk ke mobil itu tiba-tiba tangannya dicekal oleh Rama.

"Astaghfirullahal'adziim... Mas, lepaskan." Rama membawa Ana sedikit menjauh dari mobil yang akan ditumpanginya itu.

"Eh, itu suaminya?" tanya salah satu penumpang.

"Katanya sudah jadi mantan." Pak supir menjawab seraya keluar dari tempat duduknya.

"Mas lepaskan!" Ana berusaha melepaskan tangan kokoh itu. Namun, tenaga Ana kalah oleh tenaga Rama.

"Kamu mau ke Jakarta? Mau menjauh dari saya? Kenapa sih kamu itu ngeyel, Ana?!"

"Apa urusan Mas dengan Ana sekarang? Mas, sudah cukup! Mas mau membuat luka di hati Ana semakin dalam?"

"Ayo kita menikah kembali, Ana?! Kamu tak perlu pergi kerja ke kota, kita perbaiki semuanya, ya?"

Haruskah Ana mengurungkan niatnya untuk pergi ke Jakarta dan kembali menjalani rumah tangga bersama Rama? Mungkinkah kali ini Rama akan berubah demi dirinya dan Dilla?

aku lebih baik pergi daripada kamu bocorkan rahasia ini ana

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!