"Jika dunia membuangmu, ingatlah ada satu orang yang akan menghancurkan dunia demi menjemputmu kembali."
Bagi Kyrania Ruella, masa kecil di desa Sukamaju adalah satu-satunya memori indah yang tersisa. Di sana ada Herjuno Allegra, bocah dekil pembawa ketapel yang selalu melindunginya dari nyamuk hingga anak-anak nakal. Namun, takdir memisahkan mereka secara paksa saat Kyra diseret kembali ke kota oleh ayahnya yang serakah. Hidup Kyra bak di neraka. Menjadi istri dari Nathan Sagara, pria kaya yang patriarki dan pelit, Kyra diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia terjebak dalam pernikahan hampa, bahkan nyaris dijual oleh suaminya sendiri demi menutupi hutang keluarga.
Di saat Kyra nyaris menyerah pada hidupnya, Juno kembali. Namun, ia bukan lagi bocah desa pembawa ketapel. Ia kini adalah Herjuno Allegra, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang dingin, berkuasa, dan sangat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lencana OSIS dan Sepeda Ontel
SMA Negeri 1 Sukamaju, Masa Orientasi Siswa.
Masa SMA membawa perubahan fisik yang drastis pada keduanya. Juno bukan lagi bocah ingusan berkaos kusam; tubuhnya mulai meninggi, bahunya melebar karena sering membantu bapaknya mengangkut hasil tani, dan rahangnya mulai tegas. Namun, Kyra bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi ketenangan hati Juno: seorang gadis remaja dengan kecantikan yang mematikan.
Selama MOS (Masa Orientasi Siswa), Kyra menjadi pusat perhatian. Seragam putih-biru yang masih baru dan pita merah-putih di rambutnya membuat Kyra terlihat seperti bidadari yang tersesat di tengah lapangan sekolah yang berdebu.
"Dek, namanya siapa? Nomor telepon rumah ada?" tanya seorang kakak kelas anggota OSIS dengan lencana mengkilap di dadanya, mencoba bergaya keren di depan Kyra.
Kyra menunduk, meremas tali tasnya. "Kyrania, Kak..."
"Kyrania? Nama yang cantik, secantik orangnya. Nanti pulang bareng siapa? Mau diantar pakai motor?" tanya senior lain sambil mengedipkan mata.
Sebelum Kyra sempat menjawab, sebuah bayangan tinggi menutupi sinar matahari yang mengenai wajahnya. Juno berdiri di sana, berdiri tepat di antara Kyra dan gerombolan OSIS itu. Ia mengenakan topi caping (tugas dari panitia) dengan posisi miring, terlihat konyol tapi matanya menatap tajam.
"Dia pulang denganku, Kak. Dan dia nggak butuh kenalan sama orang yang napasnya bau rokok," ucap Juno lantang, suaranya kini sudah pecah menjadi bariton yang berat.
"Wah, anak baru belagu nih! Kamu siapa? Pacarnya?" bentak salah satu senior.
Juno membusungkan dadanya. "Aku Juno. Dan aku adalah alasan kenapa kalian sebaiknya cari mangsa lain kalau nggak mau urusan sama aku."
Juno menarik tangan Kyra menjauh, meninggalkan para senior yang mulai mengumpat kesal.
"Juno, kamu jangan cari masalah..." bisik Kyra khawatir. "Mereka itu kakak kelas."
"Kakak kelas atau bukan, kalau cara mereka menatapmu kayak mau nelan mentah-mentah, aku nggak peduli," jawab Juno ketus, namun genggamannya pada tangan Kyra terasa hangat dan protektif.
Sialnya, gertakan Juno berbuntut panjang. Saat bel pulang berbunyi, Juno dan Kyra dicegat di area perkebunan karet yang sepi menuju jalan pulang. Empat orang senior OSIS tadi sudah menunggu di sana dengan tangan bersedekap.
"Eh, jagoan! Sini kamu!" teriak salah satu dari mereka.
Juno menghentikan langkahnya. Ia menaruh tasnya di tanah dan mendorong Kyra perlahan ke belakang punggungnya. "Ra, kamu lari duluan ke depan. Nanti aku susul."
"Nggak mau, Juno! Mereka banyak!" Kyra gemetar, ia melihat salah satu senior sudah mulai menggulung lengan seragamnya.
"Lari, Kyra! Aku bilang lari!" Juno bersiap memasang posisi kuda-kuda yang ia pelajari dari menonton film aksi di TV balai desa.
Tepat saat salah satu senior maju untuk mencengkeram kerah baju Juno, Kyra justru melompat ke depan. Ia merentangkan kedua tangannya, menghalangi Juno. Matanya yang biasanya redup kini berkilat tajam, menatap lurus ke arah para senior itu.
"BERHENTI!" teriak Kyra dengan suara yang sangat lantang sampai burung-burung di pohon karet beterbangan.
Para senior itu tertegun. Mereka tidak menyangka gadis secantik dan sependiam Kyra bisa mengeluarkan suara seberani itu.
"Kalau kalian berani sentuh dia, aku akan lapor ke Pak Kepala Sekolah sekarang juga! Aku tahu nama-nama kalian di lencana itu!" Kyra menunjuk satu per satu dada mereka. "Kak Firman, Kak Dion, Kak Satria! Mau aku laporin karena mengeroyok adik kelas?"
Mendengar ancaman "Kepala Sekolah", nyali para senior itu mendadak menciut. Di SMA itu, Kepala Sekolah terkenal sangat disiplin dan tidak segan mengeluarkan siswa yang berkelahi.
"Cih, berlindung di balik cewek," cibir Firman, sang ketua gerombolan. "Awas kamu ya, Jun. Urusan kita belum selesai."
Mereka akhirnya pergi dengan langkah terburu-buru. Suasana kembali sunyi. Juno menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia menoleh ke Kyra yang masih gemetar karena adrenalin.
"Ra... kamu kok berani banget?" tanya Juno, takjub.
"Habisnya kamu bodoh! Mana mungkin satu lawan empat!" omel Kyra, matanya berkaca-kaca. "Kalau kamu luka gimana? Siapa yang mau bonceng aku pulang?"
Juno terkekeh, ia mengacak rambut Kyra pelan. "Iya, iya, maaf. Tuan Putrinya ternyata sudah bisa jadi singa."
Mereka melanjutkan perjalanan menuju parkiran sepeda di pinggir jalan raya. Hari itu, Juno membawa sepeda ontel tua milik ayahnya yang ukurannya cukup besar.
"Ayo naik. Tenang, sepedanya Pak Tua ini lebih empuk dari BMX-ku yang dulu," ajak Juno.
Kyra duduk di boncengan besi yang sudah diberi alas busa tipis. Tangannya melingkar di pinggang Juno, kepalanya bersandar di punggung cowok itu yang kini terasa sangat lebar dan kokoh.
Juno mulai mengayuh perlahan menembus angin sore. Suara derit sepeda ontel itu seolah menjadi musik pengiring kedamaian mereka.
"Juno?"
"Hmm?"
"Makasih ya... sudah selalu jadi tameng buat aku."
Juno tersenyum lebar, meski Kyra tidak bisa melihatnya. Ia mengayuh dengan lebih semangat, melewati tanjakan dengan tenaga penuh. "Sama-sama, Anak Kota. Selama kakiku masih bisa mengayuh, nggak akan ada yang boleh bikin kamu sedih. Ingat itu."
Mereka tertawa lepas saat melewati turunan curam, membiarkan angin SMA yang penuh warna itu menghapus sisa ketegangan tadi. Bagi Juno, sepeda ontel tua itu serasa mobil mewah asalkan Kyra ada di belakangnya.
😍😍😍
didunia nyata ada gak sihh cowok kayak juno 🤭🤭🤭
kasihan kyra udah terlalu banyak menderita apalagi lg hamil skrng 🥹🙏
cintanya ugal-ugalan bet daahh....
baguslah.... buang eek ayam dapet berlian nih si Kyra.. /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
daripada sama cowok pelit/Bye-Bye/