NovelToon NovelToon
Agen Paling Dingin

Agen Paling Dingin

Status: tamat
Genre:Gangster / Action / Komedi / Tamat
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang tadinya hanya seorang pemuda biasa, tapi, kehidupan yang sulit membuatnya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang agen.
Bukan hal yang mudah karena Wawan, tokoh utama di cerita ini sebenarnya adalah seorang penakut yang mengharapkan hidup normal dan santai.
Tapi, lama kelamaan Wawan menjadi terbiasa dengan pekerjaan berbahaya itu dan malah menjadi agen paling hebat di kesatuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arhan

Daerah perkampungan, tempat yang di kelilingi hutan yang lebat dan memiliki suasana yang sejuk.

Di salah satu kampung, terlihat ada seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan sedang mengumpulkan kayu bakar.

Ia seorang diri berkeliling hutan hingga akhirnya ia mendapatkan semua yang ia butuhkan yaitu kayu bakar.

"Fyuhh!!"

"Harusnya ini cukup untuk dua hari!" Ucapnya sambil mengelap keringat di dahinya.

Tak langsung pulang begitu saja.

Pemuda itu terlebih dahulu pergi ke sungai untuk bersih-bersih.

Ketika pemuda itu sedang membersihkan wajah dan tangannya, ia tiba-tiba saja tersentak seakan merasakan sesuatu yang berbahaya sedang mendekat.

Whoosss!!

Benar saja. Sebuah pisau yang sangat tajam melesat cepat ke arah si Pemuda dari arah belakang.

Untungnya, si Pemuda memiliki refleks yang cepat hingga ia bisa menghindari serangan tadi tepat waktu.

"Siapa itu!?" Teriaknya sambil memasang postur waspada.

Seseorang kemudian keluar dari balik semak-semak dan berkata... "Lumayan. Meskipun kamu lengah tadi, tapi reflek kamu masih cepat!"

Seorang kakek-kakek berjalan mendekat sambil mengelus-elus jenggot putihnya yang panjang.

Melihat yang keluar adalah seorang kakek-kakek, si Pemuda menurunkan kewaspadaannya dan menghela nafas lega.

"Kakek?!... Aku kira siapa yang menyerangku secara tiba-tiba tadi!" Kata si Pemuda.

"Tapi kenapa kakek tiba-tiba saja menyerangku di tengah hutan seperti ini?!"

Si kakek menjawab. "Apa lagi? Tentu saja untuk menguji hasil latihanmu selama belasan tahun ini!"

"Oh, begitu...!" Si Pemuda tampak agan tidak puas karena tadi jantungnya benar-benar berdetak kencang.

Ia pikir ada seseorang sedang mengincar nyawanya, makanya ia panik dan khawatir.

Setelah itu, keduanya kembali secara bersama-sama ke rumah mereka yang ada di dekat sebuah kampung.

Meskipun di bilang dekat, tapi rumah kakek dan cucunya itu sebenernya agak berjarak dari kampung mereka.

Mereka berdua agak menyendiri di sebuah gubuk sederhana.

Awalnya semuanya tampak biasa saja.

Kakek dan cucu itu tampak ngobrol sambil berjalan pulang.

Tapi, tiba-tiba saja ekspresi si kakek berubah ketika melihat ada dua orang sedang berdiri di depan gubuk sederhananya.

Yang berdiri itu memakai jas hitam dan tampaknya, keberadaan dua orang itu membuat si kakek agak waspada.

"Hm?... Sepertinya kita kedatangan tamu!?" Kata si Pemuda ketika ia melihat ke arah dua orang yang berdiri di depan rumahnya.

"Tamu atau bukan, kita belum bisa pastikan itu!" Kata si kakek, serius hingga alis matanya berkerut.

Si Pemuda terdiam sejenak.

Ia sadar apa yang mau di sampaikan kakeknya itu.

Kemudian mereka mendekati dua orang yang berdiri di depan rumah mereka itu dengan penuh kewaspadaan.

"Siapa kalian!?" Tanya si Kakek.

Ia datang dari arah belakang dua orang yang berdiri tadi.

Dua orang itu pun berbalik ke arah si Kakek dan si Pemuda.

Ternyata... Dua orang itu adalah Wawan dan komandan.

Komandan langsung memperkenalkan dirinya tanpa banyak basa-basi. "Saya komandan baru departemen agen rahasia!"

"Dan yang ada di samping saya adalah agen muda kami!" Yang ia maksud tentu saja adalah Wawan yang berdiri tepat di sampingnya.

Mendengar kalau dia orang yang ada di hadapannya itu berasal dari departemen agen rahasia, si Kakek agak menurunkan kewaspadaannya.

"Ada perlu apa kalian datang ke sini!?"

"Pembicaraan ini akan panjang kalau saya ceritakan secara detail. Jadi saya akan langsung ke intinya saja!"

"Saya butuh bantuan anda karena departemen sudah benar-benar tidak bisa bertahan lebih lama lagi!" Alis mata si Kakek berkerut.

Si Kakek langsung paham kalau masalah ini benar-benar serius.

"Ayo masuk dulu. Biar kita bicara di dalam saja!" Si Kakek membawa Wawan dan komandan masuk untuk bicara.

Komandan pun menceritakan apa yang terjadi pada departemen, mulai dari pembubaran markas pusat hingga penyerangan pihak Yanto yang membuat keadaan menjadi semakin buruk.

"Tidak aku sangka. Ketika aku mendengar kabar keadaan departemen. Keadaannya sudah seburuk ini!" Ia tampak kecewa dan agak sedih.

Biar bagaimanapun. Departemen agen rahasia adalah tempat si Kakek dan rekan-rekannya berjuang dulu untuk memberantas para kriminal.

Tapi sekarang tempat si Kakek pernah berjuang kini hampir saja hilang.

"Maka dari itu. Saya datang ke sini untuk meminta bantuan anda selaku veteran yang punya banyak pengalaman!" Kata komandan serius.

Si Kakek tiba-tiba saja bangun dari tempat duduknya dan menghampiri sebuah foto.

Itu adalah foto si Kakek dan rekan-rekannya ketika masih muda dan masih aktif di departemen.

"Apa gunanya pengalaman kalau tubuhku tidak bisa memanfaatkan itu semua secara maksimal?!"

"Aku sudah tua. Berjalan saja harus di bantu tongkat, bagaimana caranya aku membantu kalian!?" Komandan terdiam.

Ia paham kalau kemampuan si Kakek telah sepenuhnya di tahan oleh tubuhnya yang sudah menua.

Suasana menjadi sangat hening dimana komandan sudah tidak punya apa-apa lagi untuk di katakan.

Di tengah-tengah keheningan itu, si Pemuda tiba-tiba saja berbicara. "Bagaimana kalau aku saja yang membantu!?"

Perhatian semua orang seketika tertuju pada si Pemuda.

"... Kamu paham tidak, apa yang telah kamu katakan. Arhan?!" Kata si kakek pada si Pemuda yang bernama Arhan.

"Aku paham Kek. Aku mungkin bisa saja terbunuh jika aku membantu mereka, tapi...!"

"Mendengar kalau kriminal dan kejahatan merajalela seperti ini, aku mana bisa diam saja tanpa melakukan apa-apa!"

"Dan bukanya Kakek sendiri yang mengajariku semua itu!" Sejenak si Kakek terdiam sambil menatap mata cucunya itu.

Tapi tak lama, ia tiba-tiba saja tersenyum.

"Ya, memang seperti itulah aku mendidikmu!" Meskipun khawatir tapi si Kakek juga merasa bangga akan keputusan cucunya itu.

Bagi si Kakek, cucu yang sudah ia besarkan sejak kecil kini telah tumbuh menjadi seorang Pria yang pemberani.

"Seperti yang sudah kalian dengar. Hanya cucuku yang bisa ikut membantu kalian!"

"Ia masih muda dan tidak punya banyak pengalaman. Jika kalian tidak keberatan kalian bisa membawanya ikut serta bersama kalian!" Kata si Kakek pada komandan.

"Tentu saja tidak. Malahan kami sangat berterima kasih karena kalian mau membantu kami!" Kata komandan.

Anggota baru telah di dapat.

Meksipun anggota itu masih amatir dan kemampuannya masih rata-rata tapi itu sudah jadi bantuan besar bagi departemen.

Keesokan harinya, setelah selesai berpamitan pada si Kakek mereka pun mulai bergerak menuju tempat selanjutnya.

Menggunakan mobilnya komandan mereka menempuh perjalanan ke sebuah tempat yang kurang lebihnya sama seperti tempat tinggalnya Arhan.

Yaitu sebuah pelosok yang jauh dari perkotaan.

Di sana mereka menemukan agen veteran lainnya yang mana agen yang satu ini masih cukup bugar.

Setidaknya ia masih bisa berlari dan memegang senjata meskipun sudah tua.

Agen satu ini tidak punya keluarga karena keluarganya sudah meninggal lebihnya dulu darinya.

Karena itu, ia pribadi yang ikut membantu departemen tanpa di wakilkan oleh cucu ataupun anaknya.

Anggota baru di dapat lagi dan setelah itu mereka lanjut lagi ke tempat berikutnya untuk meminta bantuan.

Semua agen yang mereka tahu mereka datangi.

Meksipun tidak semua agen yang di temui bersedia membantu, tapi sebagian besarnya bersedia ikut membantu.

1
Ai_Li
Saya mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!