Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14 — BERGERAK MELALUI BAYANG-BAYANG
"Kalian berbicara tentang apa?"tanya Yue Yan ketika mereka kembali berdua.
Yue Yan merasa sedikit cemburu saat melihat mereka di taman tadi. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut.
"Tidak ada, hanya membahas pekerjaan."
"Benarkah?"
"Yue, kau harus melanjutkan sekolahmu."i apa Kenzo mengalihkan perhatian Yue Yan agar tidak bertanya lebih lanjut.
"Aku tidak mau!!"
"Nenek... lihatlah Yue Yan."
"Yue Yan... dengarkan kata Kak Huang."sela nenek panti.
"Nenek... aku ingin mencari uang untuk biaya hidup kita."
"Apa yang kau katakan, urusan uang serahkan kepadaku."potong Kenzo tegas.
"Kau belum waktunya untuk memikirkannya."
"Tidak mau, pokoknya aku ingin mencari uang."
"K-kau...!!"
"Nenek... nasehatin dia."
"Sudah sudah... Yue Yan, Huang, kalian ini selalu saja bertengkar."
"Tapi nek..."
"Sudah... nanti biar nenek yang urus."
"Baiklah."Kenzo pun menghentikan perdebatan nya.
Kenzo terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan perkataannya"Nek, aku ada pekerjaan."dia mulai bersuara setelah kebisuan sesat"Aku pamit dulu."
"Baiklah, berhati-hatilah, jaga kesehatanmu."
"Baik Nek..."ucap Kenzo memeluk nenek panti.
"Nenek, aku juga pamit."ucap Liu Xiang
"Baik, terima kasih Nona Liu."ucap nenek panti tersenyum sambil sedikit memperlihatkan gestur hormat.
"Tak perlu sungkan Nek, kalian kan keluarga Kenzo, jadi sepantasnya aku sebagai bosnya memperhatikan keluarga bawahannya."
"Baiklah, kami pergi dulu Nek."
Mereka pun meninggalkan Zhenzhu. Kenzo tidak menoleh ke belakang. Tidak melihat Yue Yan yang berdiri di jendela, menatap mobilnya pergi.
Keesokan harinya, setelah menjalankan misi, Kenzo kembali datang ke bar untuk melihat Lin Xian Mei menyanyi. Midnight Memories. Tempat yang sama. Suara yang sama. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Setelah mendengarkan nyanyiannya, Kenzo pun memberikan bunga dan amplop berisi uang 1 juta Yuan kepada Lin Xian. Mawar putih, segar, tanpa kartu ucapan. Hadiah yang tak bisa dilacak.
Hadiah tersebut dititipkannya kepada Manajer Midnight Memories. Wanita dengan gaun hitam, elegan, berbahaya. Sama seperti Liu Xiang, Tapi versi yang lebih tua, lebih keras. Matanya menyelidik Kenzo, menilai, mencari kelemahan. Dia melihat. Dia tahu. Tapi dia tak berkata apa-apa.
"Nona Mei, tunggu."
"Manajer, ada apa?"
"Seseorang memberikan ini kepadaku untukmu."
"Lagi?"
Lin Xian Mei pun mencari keberadaan orang yang memberikan hadiah tersebut. Matanya menyapu penonton, satu per satu. Tapi tidak ada yang aneh. Tidak ada yang mencolok.
"Manajer, sebenarnya siapa dia?"
"Aku sendiri tidak tahu, tapi dia selalu datang melihatmu bernyanyi dan memberikan hadiah."
Setelah sampai di apartemennya, Lin Xian Mei meletakkan jaketnya di sofa. Lalu melepaskan pakaiannya dan pergi mandi. Air hangat membasuh tubuhnya, tapi pikirannya melayang.
"Sebenarnya siapa pria yang memberiku hadiah."
Dalam pikirnya, Lin Xian Mei terus terbayang tentang pria misterius. Pria yang tidak pernah menunjukkan wajah. Tapi selalu ada. Selalu mengamati. Seperti bayangan.
Sementara itu, Kenzo telah mendapatkan apartemen barunya. Di sebuah komplek pemukiman sederhana. Wilayah tersebut dikenal sangat keras. Sering terjadi perkelahian antar geng. Sering terjadi kejahatan-kejahatan lain. Tempat yang sempurna untuk menghilang.
Di dalam apartemennya, Kenzo sedang merawat dan membersihkan pistolnya. Glock 17. Hitam, dingin, efisien. Sama seperti dirinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nada yang asing. Nada kerja.
("Halo.")
("Pergilah ke sebuah taman di dekat Hotel Star.")
("Dan tunggu instruksi selanjutnya.")
Tut... tut... tut...
Setelah menerima telepon, Kenzo pun mengambil jaket hitamnya. Memakai sarung tangan karet hitam di kedua tangannya. Persiapan. Ritual. Transformasi dari manusia menjadi bayangan.
Kenzo pun menutup kepalanya dengan kerudung jaketnya. Berjalan keluar dari apartemen, menuju ke mobilnya. McLaren F1. Hadiah yang sekarang terasa seperti beban.
Saat tiba di parkiran mobil, Kenzo melihat 2 orang sedang melakukan sesuatu terhadap mobil miliknya. Merusak. Mencuri. Atau lebih buruk.
"Cepat... cepat..."
"Hei diam, aku sedang berusaha."
Tanpa disadari mereka. Terlalu fokus pada kunci. Terlalu bodoh untuk melihat sekeliling.
"Apa yang sedang kalian lakukan terhadap mobilku?"
"Siapa itu?!!"
Kedua preman tersebut menoleh ke belakang. Namun tak mendapati seseorang di sana. Hanya bayangan. Hanya kegelapan.
"Kau tadi mendengar suara kan?"
"Kau juga mendengar suara?"
Mereka saling berpandangan. Mata melebar, napas memburu. Tiba-tiba terdengar suara besi terjatuh.
Trang... tang... tang... tang...
"Wasau...!!!"
Mereka berdua terperanjat mendengar suara tersebut. Tubuh mereka bergetar, kaki mereka lemas.
"S-siapa di sana?!!!"
"K-kalau berani t-tunjukkan diri!!"
Dari balik bayangan, Kenzo melemparkan kertas bertuliskan S.O.D. Jatuh tepat di kaki para preman tersebut. Putih, bersih, tak terlihat tangan yang melempar.
Dengan mata melotot dan terkejut, kedua preman itu mengambil tulisan S.O.D. Tangan mereka gemetar. Bibir mereka bergetar.
"S-Shadow?!!!"
Mereka berdua pun berlari ketakutan. Hingga ter-kencing-kencing. Jejak basah di aspal. Bau amonia menyengat. Kenzo keluar dari bayang-bayang. Melihat mereka pergi. Tidak mengejar. Tidak perlu.
Lalu masuk ke dalam mobilnya. Melaju ke arah Hotel Star. Jalanan malam sepi. Lampu-lampu berlalu seperti kenangan.
Setelah memarkirkan mobilnya di bahu jalan, di antara taman dan hotel, dia menyalakan rokoknya. Asap naik, menyatu dengan kabut malam.
Ding.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Kenzo pun membuka pesan tersebut. Lalu membaca semua data-data sang target.
Ternyata targetnya adalah seorang yang berada di pemerintahan. Terjerat kasus korupsi dan suap. Kebal terhadap hukum. Karena sebuah kasus pelecehan, target dipersidangan dinyatakan tidak bersalah. Lalu gadis tersebut berbalik menjadi terdakwa atas pencemaran nama baik. Harus membayar denda sebesar 300 miliar.
Karena tekanan publik dan depresi, akhirnya gadis tersebut tewas bunuh diri. Dan gadis tersebut adalah putri dari klien yang menyewa S.O.D.
Setelah melihat foto dari target, Kenzo mulai meluap emosinya. Malam itu, angin tiba-tiba berhembus kencang. Daun-daun berjatuhan. Sampah beterbangan.
Dan tiba-tiba, suasana sekitar menjadi hening dan mencekam. Seperti alam sendiri tahu. Seperti maut sudah dekat.
Tak lama, sang target pun muncul dari dalam hotel. Masuk ke dalam mobil yang dikawal 4 orang bodyguard dan satu mobil patroli. Konvoi yang sombong. Konvoi yang mengundang kematian.
Target pun meninggalkan hotel. Kenzo menyalakan mobilnya. Lalu mengikuti mereka dari belakang. Jarak aman. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
Setelah melaju beberapa lama, dan situasi jalanan mulai lenggang, Kenzo mempercepat laju kendaraannya. Menyalip mereka. Mesin McLaren mengaung.
Saat mobil Kenzo dan mobil pejabat tersebut sejajar, dengan cepat Kenzo melemparkan setangkai ranting yang runcing. Ke arah ban depan mobil pejabat tersebut. Tepat. Presisi. Hasil latihan berjam-jam.
Membuat mobil tersebut tiba-tiba oleng. Menabrak mobil patroli di depannya. Sehingga dua mobil tersebut terpelanting. Berputar 3 kali di udara. Sebelum meledak. Api menjulang. Kaca beterbangan. Suara ledakan menggema di malam yang sunyi.
Kenzo memperlambat laju mobilnya. Lalu melemparkan kain berlambang tengkorak bertuliskan S.O.D. Jatuh di aspal yang hangat. Tanda tangan. Pesan. Peringatan.
Setelah itu, dia melajukan mobilnya. Meninggalkan TKP. Tak ada yang melihat wajahnya. Tak ada yang bisa mengidentifikasi. Hanya bayangan. Hanya maut.
Keesokan paginya, kematian gubernur pun diberitakan di media. Namun jejak kematiannya dikatakan murni sebuah kecelakaan. Mobil meledak. Ban pecah. Tabrakan. Tidak ada pembunuhan. Tidak ada Shadow of Death.
Walaupun ditemukan kain bertuliskan S.O.D, polisi tidak memiliki bukti apapun. Semua yang terjadi di TKP karena sebuah ranting yang menusuk ban mobil. Yang mengakibatkan sebuah kecelakaan mobil gubernur tersebut. Kasus tutup. File ditutup. Tapi semua orang tahu.
("Halo.")
("Ken, klien semalam secara pribadi ingin mengirimkan sebuah video kepadamu.")
("Apa kau ingin melihatnya?")
("Berikan kepadaku.")
Lalu Kenzo pun memutar video yang dikirim lewat pesan WeChat. Seorang ayah paruh baya, berusia sekitar 50 tahun, dengan air mata yang berlinang. Membuat rekaman dirinya. Wajahnya hancur. Hidupnya hancur. Tapi ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang hangat. Terima kasih.
("Tuan Bayangan, aku sungguh berterima kasih.")
("Akhirnya dendam putriku terbalaskan.")
("Dan aku yakin jika selain putriku, masih banyak korban-korban lainnya.")
("Sekali lagi terima kasih.")
("Bagi kami rakyat biasa, kau adalah seorang pahlawan.")
("Pahlawan yang bergerak melalui bayang-bayang.")
("Tuan Bayangan, kami akan selalu mendukungmu.")
Kenzo menyandarkan kepalanya. Dengan mata yang berkaca-kaca. Dan emosi yang tak stabil, Kenzo berusaha menahan diri setelah melihat rekaman video dari kliennya. Tangan kanannya menggenggam ponsel erat-erat. Bibirnya bergetar. Bukan karena sedih. Karena sesuatu yang sudah lama mati. Sesuatu yang bernama keadilan.
...$ BERSAMBUNG $...