Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lowongan Pekerjaan
Emily tidak tahu sudah berapa lama ia menyeret kopernya menjauh dari gedung apartemen di bawah terik matahari dan tatapan curiga orang-orang di sekitarnya. Ia mengabaikan semuanya dan terus berjalan menyusuri jalan.
Ketika kakinya terasa seperti akan menyerah dan keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya, akhirnya ia berhenti.
Meski kelelahan, Emily merasa lega saat gedung apartemen Liam sudah tidak terlihat lagi. Ia telah tiba di tempat yang belum pernah ia kunjungi dan benar-benar jauh dari kehidupan pria itu.
“Di mana aku sekarang?” gumam Emily. Ia melihat ke sekeliling, tetapi tidak mengenali lingkungannya.
Ia belum pernah ke area ini, sebuah jalan yang dipenuhi kafe, restoran, toko, dan butik. Para pejalan kaki tampak rapi dan bergaya, dan pepohonan tinggi serta taman bunga tertata rapi di sepanjang trotoar.
Yang mengejutkan, ia bisa melihat gedung-gedung perkantoran dan apartemen tinggi menjulang di kejauhan.
Emily terengah kaget ketika menyadari bahwa ia hanya berjarak beberapa blok dari kawasan pusat bisnis, tempat orang-orang kaya tinggal. Ia dan Liam pernah bermimpi memiliki kantor di area ini, tempat hanya perusahaan besar yang memiliki kantor pusat.
“Ya Tuhan! Sejauh apa aku sudah berjalan?”
Emily tersenyum pahit ketika memeriksa jam digitalnya dan melihat bahwa ia telah berjalan 20.100 langkah, hampir sembilan mil.
Seketika, ia merasa seluruh ototnya mengkhianatinya. Ia terlalu lelah dan hampir terjatuh. Untungnya, ia berhasil berpegangan pada kopernya.
Ia merasa kakinya bengkak dan panas, membuatnya sangat merindukan mandi air hangat, meski menemukan tempat untuk menginap terasa tidak pasti.
“Aku harus mencari tempat untuk menginap malam ini sebelum memeriksa apartemen studio baru besok,” pikirnya sambil memeriksa kopernya.
Emily perlahan merasakan sakit di hatinya, dan pandangannya mengabur saat ia menahan air mata. Ia merasa lelah dan marah ketika menyadari bahwa kopernya pun seakan menyerah, hanya tersisa tiga roda.
Ia terlalu teralihkan saat berjalan sehingga tidak menyadari apa pun sampai tiba di tempat ini.
Emily menghela napas dalam-dalam dan terus berjalan menuju halte bus untuk mencari taksi. Setelah beberapa langkah, ia melihat sebuah kafe cantik dua lantai dengan lampu-lampu hangat yang terlihat nyaman tidak jauh di depan.
Seolah ada sesuatu yang menariknya, ia mendapati dirinya sudah berdiri tepat di depan pintu masuk kafe itu.
Dari luar, ia bisa melihat kafe itu ramai. Tiga meja ditempati pasangan yang menikmati kopi sore mereka, dan hanya satu barista wanita yang melayani tiga orang dalam antrian.
Emily masuk ke dalam kafe sambil menyeret kopernya yang rusak. Ia merasa sangat lapar, karena hanya makan sandwich di pagi hari. Setelah berjalan selama tiga jam, ia merasa hampir pingsan.
Ia harus makan sesuatu, atau ia akan berakhir di ruang gawat darurat, mungkin pingsan di jalan karena kelelahan—sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi.
Setelah meletakkan kopernya di meja sudut, ia mengantri untuk memesan makanan dan minuman. Ia menunggu beberapa menit sebelum barista wanita itu akhirnya menerima pesanannya.
Melihat betapa lelahnya wanita itu, Emily merasa kasihan. Sebagai seseorang yang memiliki sertifikat barista, ia ingin membantu membuatkan kopi.
“Kau bekerja sendirian?” tanya Emily saat barista mulai membuatkan iced latte dan smoked beef panini untuk makan siangnya yang terlambat.
Barista itu terkejut dengan pertanyaan Emily. Ia tersenyum tipis dan mengangguk.
“Ya, temanku mengundurkan diri dua hari lalu, dan yang satu lagi tidak bisa datang, dia sedang memiliki masalah kesehatan,” jawabnya sopan, meski jejak kelelahan tampak di matanya.
“Aku turut prihatin mendengarnya,” kata Emily dengan simpati.
Barista itu hanya tersenyum sebagai jawaban. Namun kemudian ia berkata, “Kami membuka lowongan baru untuk barista, tetapi belum ada yang melamar.”
Rasa penasaran Emily muncul. Setelah mengabdikan seluruh masa mudanya untuk membantu mantan brengseknya, Liam, membangun bisnis konstruksinya, pria itu justru mengkhianatinya. Sekarang, ia membutuhkan pekerjaan cepat untuk mencari nafkah sebelum mulai mencari peluang karier yang lebih baik.
“Apa syarat dan ketentuannya untuk melamar?” tanya Emily penasaran. Meski memiliki sertifikat barista, ia tidak punya pengalaman di industri tersebut.
Barista itu kembali menatap Emily, terkejut dengan ketertarikannya. Kilatan harapan terlihat di matanya saat ia berkata, “Jika kau ingin melamar, kau perlu menunjukkan sertifikat baristamu.”
Emily tertegun. “Semudah itu?”
“Aku mengerti.”
“Baiklah, ini iced latte dan smoked beef panini-mu, selamat menikmati,” kata barista itu sambil tersenyum.
Emily menerima pesanannya, tetapi tidak langsung kembali ke mejanya. Ia bertanya, “Bagaimana cara aku melamar?”
Barista itu berjalan mendekat, matanya berbinar. “Kau benar-benar tertarik? Kau punya sertifikatnya?”
“Ya. Tapi jujur saja, aku tidak punya pengalaman bekerja di kafe. Aku hanya membuat kopi di rumah,” kata Emily sambil tersenyum kecut.
Emily khawatir wanita itu akan menolaknya. Ia mulai merasa gugup saat menunggu jawabannya.
“Nona, kau tidak memerlukan pengalaman kerja. Kami membutuhkan seseorang yang bisa menggunakan mesin ini.” Senyum lebar menghiasi wajahnya saat ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Emily. “Selamat datang di Big Star Cafe. Kapan kau ingin mulai? Bisakah kau mulai besok?”
Emily terkejut. Ia tidak menyangka wanita itu akan memintanya mulai segera. Mengapa begitu mudah mendapatkan pekerjaan di sini? Ia merasa curiga. Meski begitu, ia dengan canggung menerima jabatan tangan itu. “Kak—”
“Panggil aku Tessa,” katanya sambil menunjuk papan nama di dadanya. “Makanlah dulu. Kita bicarakan nanti. Ah, siapa namamu?”
“Emily,” jawabnya sebelum berjalan kembali ke mejanya.
...
Emily memakan smoked beef panini-nya dan menghabiskan iced latte-nya hanya dalam beberapa menit. Ia merasa lebih baik sekarang, dan pikirannya bisa fokus pada kesempatan kerja itu.
Ia melirik ke arah Tessa yang sedang beberes. Beberapa pelanggan telah pergi, dan tidak ada yang menunggu untuk memesan.
Sambil menunggu Tessa selesai, Emily memeriksa ponselnya. Ia menemukan banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Sylvie dan Liam.
Ia memutuskan untuk mengabaikan mereka, tidak peduli sedikit pun!
Namun, jantungnya berdegup kencang saat ia melihat pesan dari Perawat Lola, seorang perawat senior di Happy Years Home—panti jompo tempat neneknya kini tinggal.
“Apa terjadi sesuatu pada Nenek? Ya Tuhan… Semoga nenek baik-baik saja,” tangan Emily gemetar saat membuka pesan itu, tetapi beberapa detik kemudian, ponselnya hampir terjatuh ketika ia membaca isi pesan tersebut.
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk