NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Kelicikan Ronal Ketua Geng TamVan

Awan menghitam pekat menggelayuti langit biru di atas sekolah SMA Harapan Bangsa, tirai awan tebal yang menyelimuti langit menjadi tanda pasti bahwa hujan lebat dan badai akan segera datang menghampiri. Angin kencang mulai menerbangkan daun-daun kering di halaman sekolah, sementara beberapa siswa yang sedang berjalan pulang tergesa-gesa mencari tempat berteduh.

Di tengah suasana yang mulai mendung itu, Ronal—siswa kelas 10F yang dikenal sebagai ketua geng TAMVAN—berdiri di sudut koridor dengan senyum licik yang terpampang jelas di wajahnya. Matanya yang tajam tertuju ke arah arahan tempat Romi biasanya keluar setelah jam sekolah, dan kelicikan yang tersembunyi di dalam dirinya mulai merencanakan niat jahat yang sudah dia pikirkan sejak beberapa hari yang lalu.

"Anak gembel itu emang harus di kasih pelajaran yang sedikit keras, agar dia paham dengan siapa dia berhadapan," ujar Ronal dalam hati, bibirnya sedikit mengerut menunjukkan rasa tidak suka yang mendalam. Dia merasa tersisih karena perhatian Yuli—yang selama ini dia anggap sebagai "miliknya"—tampaknya mulai terpengaruh oleh keberadaan Romi, bahkan hanya sekadar bertemu di luar sekolah.

Tidak lama kemudian, tetesan gerimis kecil mulai jatuh perlahan, lalu berubah menjadi hujan deras yang menusuk dengan cepat. Ratusan ribu titik-titik air hujan jatuh ke permukaan tanah, membuat genangan air mulai terbentuk di setiap sudut halaman sekolah, dan juga membasahi genting besi sekolah yang mengeluarkan bunyi gemericik khas setiap kali tetesan air menyentuhnya.

Beberapa siswa dan siswi terjebak di lorong sekolah karena tidak membawa payung, mereka berkumpul di bawah teras gedung sambil menunggu hujan reda. Namun ada juga yang tidak keberatan dan terus menerjang hujan yang semakin deras itu, berlari cepat menuju gerbang sekolah dengan baju seragam putih mereka perlahan-lahan menjadi basah kuyup dan menempel di tubuh.

Ronal tetap berdiri kokoh di tempatnya, payung hitamnya melindunginya dari tetesan hujan. Saat pandangannya menyapu ke arah gerbang utama, matanya langsung bersinar saat melihat sebuah mobil mewah warna hitam melaju perlahan dan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Pintu mobil terbuka dan Yuli keluar dengan gaya anggun, mengenakan jas sekolah yang sudah dilipat rapi di tangannya, sementara sopirnya membuka payung besar untuk melindunginya dari hujan.

Tanpa berpikir dua kali, Ronal mulai berlari kecil dengan hati-hati menghindari genangan air, mendekati Yuli dengan langkah yang penuh percaya diri.

"Haii Yuli, salam kenal," ucapnya dengan suara yang sengaja dibuat ramah, tangan kanannya sudah siap untuk bersalaman.

Yuli hanya melihat sekilas ke arah Ronal, wajahnya menunjukkan ekspresi acuh tak acuh yang khas darinya. Dia berdiri dengan sikap angkuh, pundaknya sedikit membungkuk ke belakang dan segera memalingkan wajahnya dari Ronal seolah tidak ingin melihat sosoknya sama sekali.

"Perkenalkan Nama gue Ronal kelas 10F," ucap Ronal lagi dengan sabar, tangannya tetap diulurkan ke depan badannya meskipun sudah jelas tidak dihiraukan.

"Gue udah tahu, loe kan yang mendapatkan bintang penghargaan siswa terkeren, terbeken, terganteng dan termodis dari seluruh Siswa kelas 10 dan juga loe Ketua geng Tamvan," ucap Yuli dengan nada datar, tidak sedikit pun menunjukkan rasa kagum meskipun kata-katanya terdengar seperti pujian.

"Terima kasih Yuli atas pujiannya buat gue," ucap Ronal dengan senyum lebar, merasa puas karena namanya sudah dikenal oleh Yuli.

"Gak usah terima kasih segala, itu gak penting bagi gue," jawab Yuli dengan cepat, masih tidak mau melihat wajah Ronal.

"Ya bagaimanapun juga gue harus berterima kasih karena loe juga udah mau berbincang-bincang dengan gue," ucap Ronal dengan sikap yang tetap sopan, tidak mau menyerah begitu saja.

"Oke gak jadi masalah kok, kalau loe bersikeras memaksa diri loe sendiri untuk mengucapkan terima kasih kepada gue dan gue terima ucapan terima kasih loe ke Gue," ucap Yuli dengan sedikit kesal, mulai merasa tidak nyaman karena sudah terlalu lama berbicara dengan Ronal.

"Bagaimana kalau nanti setelah pulang sekolah loe gue traktir di restoran Japanese, pasti loe suka dengan masakannya," ajak Ronal dengan penuh harapan, mencoba menarik perhatian Yuli dengan tawaran yang dia anggap menarik.

"Gue belum tahu bisa atau tidaknya, yang pasti jika bisa atau gak bisa gue akan hubungin loe," jawab Yuli dengan suara yang sudah mulai menunjukkan bahwa dia ingin segera pergi.

Lalu Ronal dengan cepat mengambil ponselnya dan memasukan nomor hp nya ke dalam ponsel Yuli yang masih dipegang dengan tidak suka. Setelah selesai, Yuli langsung berjalan menjauh menuju kelasnya yang berada di lantai dua, sedangkan Ronal masih berdiri mematung di tempatnya, matanya terus memandangi sosok Yuli yang semakin lama semakin menjauh dengan langkah anggun.

"Tunggu Yuli sebentar lagi ada kejutan khusus untukmu, semoga kejutan ini bisa lebih menambah wawasan kamu tentang seorang laki laki," ucap Ronal dalam hati dengan senyum licik yang kembali muncul.

"Hahahaha hahahaha hahahaha, permainan segera di mulai," gumamnya dengan suara rendah, lalu berbalik berjalan kembali menuju kelasnya 10F dengan langkah yang penuh keyakinan.

Setelah sampai di kelas, Ronal langsung menghampiri Joe—anggota geng TAMVAN yang selalu membantu dia dalam setiap rencana. Mereka berdua pergi ke sudut kelas yang sepi dan terlihat berbincang-bincang dengan suara pelan namun serius.

"Joe apa loe udah siapkan DVD dan majalah Play Boy?" tanya Ronal kepada Joe dengan tatapan yang penuh makna, matanya melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.

"Tentu gue sudah siapkan dengan baik DVD dan Majalah khusus dewasa itu," jawab Joe dengan suara rendah namun bersemangat, tangannya menunjukkan bahwa barang tersebut sudah dia bawa dalam tasnya.

"Apa loe juga sudah bungkus kado dengan rapih?" tanya Ronal lagi kepada Joe dengan penuh perhatian, tidak ingin ada kesalahan dalam rencananya.

"Tentu lah Ronal, semuanya sudah beres, tinggal aku masukan ke dalam tas Yuli dan BOM Meledaaaak," ucap Joe dengan ekspresi senang, sudah tidak sabar untuk melihat reaksi Yuli saat menemukan barang tersebut.

"Oke klo begitu gue tunggu kabar baik dari loe Joe," ucap Ronal dengan suara tegas, lalu menambahkan, "Tapi harus secepatnya dan gak pake lama ya Joe, jangan sampai ada yang melihat kamu melakukan itu."

Lalu keduanya berpisah dengan cepat. Joe langsung meninggalkan kelas 10F dan berjalan dengan hati-hati menuju kelas 10D—kelas Yuli—sementara Ronal berjalan menuju kantin sekolah seolah tidak ada apa-apa yang sedang direncanakan.

Saat waktu istirahat tiba, kebanyakan siswa dan siswi kelas 10D sudah keluar untuk makan atau bersantai di halaman sekolah, membuat kelas tersebut menjadi sepi dan sunyi. Ini merupakan kesempatan terbaik yang ditunggu-tunggu Joe untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Ronal.

Joe bergerak sangat cepat namun tetap berhati-hati, memasuki kelas dengan diam-diam dan memeriksa setiap sudut untuk memastikan benar-benar tidak ada orang yang ada di dalamnya. Setelah yakin aman, dia langsung mendekati meja Yuli yang terletak di bagian belakang kelas dekat jendela. Dengan segala keahliannya, dia membuka sedikit ritsleting tas Yuli yang tergantung di kursi, lalu dengan hati-hati memasukkan paket kado berwarna coklat muda yang sudah dia siapkan—dengan sengaja dituliskan nama "Romi" di bagian luar bungkusan. Setelah itu, dia menutup tas Yuli kembali dengan rapi dan segera keluar dari kelas tanpa menyisakan jejak apapun.

"Pekerjaan selesai...." gumam Joe dengan senyum puas sebelum menghilang ke arah kantin sekolah.

Jam sudah menunjukan pukul 13.45 WIB, hujan sudah mulai reda namun langit masih tampak mendung. Yuli dengan sangat malas berjalan gontai keluar kelasnya, tubuhnya merasa lesu setelah seharian mengikuti pelajaran yang dia anggap membosankan. Dia berjalan perlahan menuju parkiran mobil yang terletak di belakang gedung sekolah.

Pak Yanto—supir pribadi Yuli yang sudah bekerja untuk keluarga Pak Hartawan selama bertahun-tahun—sudah bersiap di dalam mobil mewah mereka, mesinnya sudah menyala untuk menghangatkan kabin mobil. Saat melihat Yuli datang, dia segera keluar dan membuka pintu mobil dengan sopan.

"Selamat siang Non Yuli," sapa Pak Yanto dengan senyum ramah, tangannya tetap memegang pintu mobil agar mudah untuk Yuli masuk.

"Siang juga Pak Yanto," jawab Yuli dengan suara pelan, lalu langsung masuk ke dalam mobil dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi kulit yang empuk. Dia berusaha memejamkan matanya yang terasa berat, menganggap hari ini adalah hari yang paling melelahkan dan menyebalkan yang sulit untuk di ceritakan kepada siapapun.

Sesampainya di rumah orang tua angkatnya di kawasan elit BSD, Yuli langsung keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa dan memasuki rumah dengan langkah lamban. Dia langsung menuju kamarnya yang terletak di lantai atas, tanpa mau berhenti untuk menyapa Ny. Lusi yang sedang berada di ruang tamu.

Setelah masuk ke kamar, Yuli langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur empuk yang dilapisi seprai warna putih. Tas sekolahnya dia lemparkan sembarangan ke arah rak dekat pintu, sepatunya dilepas dan dibuang di bawah tempat tidur, bahkan kaos kaki kotornya pun dia buang sembarangan di lantai kamar yang bersih. Segera setelah itu, dia menutup mata dan mulai merengek karena merasa sangat lelah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!