Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lukisan yang Tertunda
Tiga minggu telah berlalu sejak pertemuan di hujan, sejak Bima mengajak Kay masuk ke kosnya, sejak pengakuan jujur yang membuat hati Kay berbunga-bunga. Tiga minggu yang terasa seperti tiga tahun karena sejak hari itu, Bima menghilang.
Awalnya Kay berpikir mungkin Bima sibuk dengan ujian tengah semester. Ia mencoba mengirim pesan lewat Instagram—hanya sapaan ringan, "Hai, lagi sibuk?"—tapi tidak pernah dibalas. Status online Bima muncul sesekali, tapi pesan Kay selalu terabaikan.
"Mungkin dia emang sibuk, Kay," hibur Mika suatu siang di kantin FEB. "Anak ILKOM tuh terkenal deadliner. Tugas coding bisa bikin orang lupa dunia."
Tapi Kay tidak yakin. Ia sudah beberapa kali ke perpustakaan lantai tiga, duduk di meja yang sama, menunggu berjam-jam. Bima tidak pernah muncul. Ia ke kantin teknik, bertanya-tanya pada penjual nasi pecel, dan mendapat jawaban bahwa Bima memang sudah tiga minggu tidak ke sana.
Rasa cemas mulai merayap. Apa Bima sakit? Apa ada masalah? Atau mungkin... mungkin Bima sengaja menghindar?
Minggu keempat, Kay memutuskan untuk mencari Bima ke kosnya. Ia ingat lokasinya—kos tua di daerah Sekip dengan cat kusam dan pagar besi berkarat.
Sore itu ia mengenakan kaos putih polos dan celana jeans, tampil sederhana agar tidak mencolok. Rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya tanpa riasan berarti.
Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu gerbang. Seorang bapak tua dengan sarung dan kaos oblong keluar dari kamar pojok.
"Cari siapa, Mbak?"
"Bima, Pak. Bima Wijaya. Anak kos sini."
Bapak itu mengerutkan kening. "Bima? Wah, Mbak, Bima udah nggak kos sini lagi."
Kay terperanjat. "Apa? Pindah? Kapan?"
"Udah dua mingguan kali ya. Katanya dia cari kos yang lebih murah. Saya juga nggak tahu pindah ke mana."
Dua minggu. Berarti seminggu setelah pertemuan mereka, Bima pindah. Tanpa kabar. Tanpa pamit.
Kay berterima kasih pada bapak itu, lalu berjalan gontai meninggalkan kos. Hatinya terasa hancur. Kenapa Bima pergi begitu saja? Kenapa tidak memberi tahu? Apa yang salah?
Ia mencoba menelepon Mika, suaranya bergetar. "Mik, Bima pindah kos. Nggak ada yang tahu ke mana."
Mika terdiam beberapa saat. "Kay, lo di mana? Gue jemput."
---
Sementara itu, di sebuah kos sederhana di daerah Demak, Bima sedang bersiap untuk bekerja. Kos barunya lebih kecil dari sebelumnya—hanya kamar 2x3 meter dengan satu jendela kecil menghadap ke lorong sempit. Tapi sewa bulanannya lebih murah, dan itu yang penting.
Hari ini ia mengenakan jaket ojek online berwarna hijau, masker, dan helm. Ponsel lama yang sudah retak layarnya menempel di dashboard sepeda motor bututnya—motor bekas yang ia beli dari tabungan KIP-Kuliah.
Sejak dua minggu lalu, ia memutuskan untuk jadi ojek online di sela-sela waktu kosong. Uang KIP hanya cukup untuk SPP dan makan minimal, tapi ibunya di kampung butuh kiriman. Bapak kos sebelumnya baik hati memberi dispensasi, tapi Bima tidak mau terus bergantung.
Pagi itu ia sudah keliling sejak jam 7. Orderan datang silih berganti—antar orang ke kampus, ke stasiun, ke pasar. Saat jam istirahat tiba, ia mampir di warung pinggir jalan, memesan nasi bungkus dan es teh.
Ponselnya bergetar. Bukan orderan, tapi notifikasi dari Instagram.
kayanaaaa: Bim? Lo di mana? Gue cari lo ke kos lama, kata bapaknya lo pindah. Kenapa nggak bilang-bilang? Gue khawatir.
Bima menatap pesan itu lama. Ia bisa membayangkan wajah Kay saat mengetik pesan itu—kening berkerut, bibir digigit, mata penuh tanya. Gadis itu pasti cemas, mungkin marah, mungkin sedih.
Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Akhirnya ia mematikan notifikasi dan memasukkan ponsel ke saku.
"Maafin gue, Kay," gumamnya. "Gue bukan orang yang tepat buat lo."
Bima melanjutkan narik. Sepanjang hari itu ia berkeliling Jogja, mengantar penumpang ke berbagai tempat. Sore harinya, tanpa sengaja, ia melewati kampus UGM. Dari kejauhan, ia melihat Kay duduk di taman dekat fakultas ekonomi, ditemani Mika. Bahu Kay turun naik—menangis? Mungkin.
Hati Bima mencelos. Tapi ia tidak berhenti. Ia memutar motornya dan pergi ke arah berlawanan.
"Maafin gue," bisiknya lagi.
---
Seminggu kemudian, Kay duduk di kamarnya, menatap langit-langit dengan mata kosong. Dinding kamarnya yang luas dengan hiasan foto-foto liburan terasa mengekang. Ia sudah berhenti mencari Bima—bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tahu lagi harus ke mana.
Mika sudah menyarankan untuk move on. "Kay, mungkin dia emang nggak pengin sama lo. Cowok cuek kayak gitu susah ditebak. Mending lo terima aja kenyataan."
Tapi Kay tidak bisa. Ada sesuatu di mata Bima waktu terakhir mereka bertemu—sesuatu yang membuatnya yakin Bima juga merasakan hal yang sama. Lalu kenapa ia pergi?
Hujan mulai turun di luar. Kay memandangi jendela, teringat hujan pertama mereka, hujan kedua mereka, payung, dan kata-kata Bima: "Gue nggak bisa berhenti ngeliat lo."
"Bohong," bisiknya.
Bel pintu rumah berbunyi. Kay tidak bergerak—Bi Inem pasti yang membukakan. Beberapa menit kemudian, Bi Inem mengetuk pintu kamarnya.
"Nak Kay, ada paket."
"Taruh aja, Bi."
"Ini paket penting katanya. Suruh langsung dibuka."
Kay menghela napas, bangkit dari tempat tidur. Di tangan Bi Inem, sebuah amplop coklat ukuran besar, cukup tebal, dengan nama dan alamatnya tertulis rapi. Tidak ada nama pengirim.
Ia mengambil amplop itu, membuka segelnya dengan hati-hati. Di dalam, ada sebuah buku sketsa—buku sketsa yang familiar, dengan sampul hitam polos dan sudut-sudut yang sedikit lecet.
Jantung Kay berhenti berdetak.
Ia membuka halaman pertama. Di sana, sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan rapi:
"Untuk Kay.
Maaf gue pergi tanpa kabar. Gue bukan orang baik, tapi gue orang yang tepat waktu buat ngejalanin janji. Ini lukisan yang gue janjikan. Semoga lo suka.
Dari seseorang yang nggak bisa berhenti ngeliat lo."
Kay membalik halaman dengan tangan gemetar. Dan di sana, di atas kertas berwarna krem, terhampar lukisan dirinya yang sempurna.
Bukan sekadar sketsa biasa. Ini lukisan lengkap dengan arsiran detail, dengan permainan cahaya dan bayangan yang membuat gambar itu hampir hidup.
Kay sedang berdiri di antara rak buku perpustakaan, memegang sebuah buku, rambutnya tergerai, matanya menatap sesuatu di kejauhan.
Ada ekspresi di wajahnya—bukan senyum, bukan sedih, tapi semacam kerinduan. Seperti sedang mencari sesuatu yang hilang.
Kay mengenali momen itu. Itu adalah hari pertama ia melihat Bima di perpustakaan, hari ketika Bima menggambarnya tanpa sepengetahuannya. Tapi lukisan ini bukan dari hari itu. Ini lukisan yang baru, dengan detail yang lebih matang, dengan emosi yang lebih dalam.
Ia membalik halaman berikutnya. Masih dirinya—kali ini sedang duduk di kantin, menatap ke arah meja lain. Lukisan lain. Dan halaman berikutnya, dan berikutnya. Semuanya dirinya.
Kay, di berbagai sudut kampus. Kay, dengan berbagai ekspresi. Kay, dengan berbagai pose. Ada yang sedang tersenyum, ada yang sedang melamun, ada yang sedang marah.
Ada yang sedang menangis—lukisan yang paling membuatnya tersentak—wajahnya dengan air mata di pipi, mungkin saat ia sedih memikirkan keluarganya.
Setiap lukisan punya tanggal kecil di pojok bawah. Ada yang dua bulan lalu, sebulan lalu, bahkan ada yang seminggu setelah Bima menghilang. Berarti ia masih menggambar Kay, bahkan saat menghindar.
Di halaman terakhir, sebuah amplop kecil terselip. Kay membukanya dengan hati-hati. Isinya sebuah foto polaroid—foto dirinya sedang tidur di meja perpustakaan, sama seperti foto di Instagram-nya dulu. Di balik foto itu, tulisan tangan Bima:
"Ini Kay yang paling asli. Yang capek, yang lelah, yang berjuang. Kay yang gue suka."
Air mata Kay jatuh. Ia menekan foto itu ke dadanya, menangis sesenggukan. Bima tidak pergi. Bima masih ada—di suatu tempat, menggambarnya, memikirkannya. Tapi kenapa ia tidak muncul?
"Bim, lo di mana?" isaknya.
Bi Inem yang mendengar tangis Kay masuk ke kamar, memeluknya erat. "Sudah, Nak. Sudah."
"Bi, aku harus cari dia. aku harus tahu kenapa dia pergi."
Bi Inem mengusap punggung Kay dengan lembut. "Nak, laki-laki kadang punya alasan sendiri buat pergi. Mungkin dia lagi berjuang. Mungkin dia nggak mau kamu lihat dia dalam keadaan susah."
"Tapi aku nggak peduli dia susah!"
"Itu kamu, Nak. Tapi dia belum tentu siap nerima itu."
Kay terdiam, merenung. Bi Inem benar. Bima mungkin sedang berjuang dengan hidupnya—mungkin cari uang, mungkin ada masalah keluarga. Dan ia pergi bukan karena tidak sayang, tapi karena tidak mau merepotkan.
Malam itu, Kay menatap lukisan-lukisan itu satu per satu. Ia menghitung totalnya—dua puluh tiga lukisan dirinya. Dua puluh tiga sudut pandang Bima tentang dirinya. Dua puluh tiga bukti bahwa selama ini Bima melihatnya, memperhatikannya, mengingatnya.
Ia menemukan satu lukisan yang berbeda. Di sudut bawah, Bima menggambar dirinya sendiri—sedang duduk di kursi, memegang pensil, dengan ekspresi lelah tapi damai. Di bawahnya tertulis:
"Gue cuma bisa gambar. Tapi kalo gambar bisa ngomong, gue mau bilang: maaf, dan terima kasih."
Kay tersenyum di tengah air mata. "Dasar cuek," bisiknya. "Minta maaf aja lewat gambar."
Tapi ia mengerti. Itu bahasa cinta Bima—bukan kata-kata, bukan perhatian berlebihan, tapi karya. Dan lukisan-lukisan ini adalah surat cinta terpanjang yang pernah ia terima.
---
Besoknya, Kay memutuskan untuk mencari Bima lagi. Tapi kali ini dengan cara berbeda. Ia memposting satu lukisan Bima—lukisan dirinya di perpustakaan—di Instagram dengan caption:
"Ada seseorang yang suka ngasih hadiah tanpa tanda tangan. Kalo kamu baca ini, ketemu aku di tempat pertama kali aku liat kamu. Jam 3 sore. Aku tunggu."
Ia tahu Bima mungkin tidak punya Instagram aktif, atau mungkin memblokirnya. Tapi ia harus mencoba.
Jam 3 sore, Kay berdiri di selasar Fakultas Ekonomika dan Bisnis, tempat pertama kali ia melihat Bima berjalan di hujan. Hari itu cerah, tidak ada hujan. Tapi Kay membawa payung—payung yang sama, sebagai simbol.
Ia menunggu. Satu jam. Dua jam. Bima tidak datang.
Saat matahari mulai tenggelam, Kay menghela napas pasrah. Mungkin Bima tidak membaca pesannya. Mungkin Bima tidak mau datang. Atau mungkin...
"Lo nunggu gue?"
Kay menoleh cepat. Di belakangnya, berdiri Bima dengan jaket ojek online, masker diturunkan, wajah lelah tapi mata yang sama—mata dalam yang melihatnya.
"Bima!"
Tanpa pikir panjang, Kay berlari dan memeluknya erat. Bima kaku beberapa saat, lalu perlahan tangannya melingkar di pinggang Kay.
"Gue kira lo ninggalin gue," isak Kay di bahu Bima.
Bima menghela napas. "Gue nggak ninggalin lo. Gue cuma... nggak mau ganggu."
"Ganggu apanya?!"
Bima melepaskan pelukan, menatap Kay dengan serius. "Gue jadi ojek online, Kay. Buat cari uang tambahan. Hidup gue berantakan, gue nggak punya apa-apa. Lo pantas dapet yang lebih baik dari—"
Kay menutup mulut Bima dengan tangannya. "Berhenti. Lo denger gue: gue nggak peduli lo jadi apa. Lo bisa jadi apa aja, gue tetap mau sama lo. Tapi kalo lo pergi tanpa kabar, gue sedih. Ngerti?"
Bima menatapnya lama. Lalu untuk pertama kalinya, ia tersenyum—senyum tulus, lebar, yang membuat matanya berbinar.
"Ngerti."
"Janji nggak akan gitu lagi?"
"Janji."
Kay tersenyum, lalu memeluknya lagi. "Dasar cuek."
"Cuek tapi sayang."
Kay tertawa. "Itu baru pertama kali lo ngomong sayang."
Bima mengangkat bahu. "Mungkin nggak yang terakhir."
Sore itu, di selasar yang sama, dua insan saling berpelukan. Tidak ada hujan, tapi ada kehangatan yang lebih dari cukup. Dan di saku jaket Bima, sebuah sketsa baru tergulung—sketsa Kay menunggunya dengan payung di tengah sore cerah.
Karena Bima tidak pernah berhenti menggambar Kay. Dan mungkin, tidak akan pernah.