NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Dinner

Saat ini Samudra sudah sampai di kantor. Ia berjalan menuju ruangannya dengan langkah tenang seperti biasanya. Pintu kaca gedung kantor yang besar terbuka otomatis ketika ia masuk. Para karyawan yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala sebagai bentuk salam hormat.

“Selamat pagi, Pak.”

Samudra hanya mengangguk singkat sebagai balasan.

Di belakangnya, seseorang berjalan dengan langkah cepat menyusul. Ia adalah Sania, asisten pribadi Samudra yang sejak tadi sudah menunggu di depan gedung.

Wanita itu segera berjalan mengikuti Samudra sambil membawa tablet berisi jadwal kerja hari ini.

Namun pagi itu Sania sempat memperhatikan sesuatu yang tidak biasa.

Ada rona yang berbeda di wajah atasannya.

Entahlah.

Sejak lima tahun pernikahan Samudra dan sejak lima tahun lalu pria itu menyandang status sebagai seorang ayah, ini adalah pertama kalinya Sania melihat Samudra datang ke kantor dengan ekspresi yang… cukup bahagia. Walaupun hanya tipis saja.

Namun jelas terlihat ada kebahagiaan diwajahnya yang datar itu.

Samudra bahkan sempat tersenyum kecil kepada petugas resepsionis di lobi tadi.

Hal yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sania sendiri sampai sempat bertanya-tanya dalam hati.

Ada apa dengan Pak Samudra pagi ini?

Karena selama ini ia sangat tahu bagaimana sifat atasannya itu.

Samudra dikenal sebagai orang yang dingin, serius, dan jarang sekali menunjukkan emosi di tempat kerja.

Apalagi tersenyum kepada orang lain.

Langkah mereka berhenti di depan ruang kerja Samudra.

Sania segera membuka pintu untuknya.

“Selamat pagi, Pak. Hari ini ada agenda meeting dengan klien di salah satu restoran yang sudah saya booking minggu lalu,” ucap Sania sambil melihat catatan di tabletnya.

Samudra masuk ke ruangannya lalu meletakkan tas kerjanya di meja.

“Jam berapa?” tanyanya singkat.

“Jam sebelas siang, Pak. Dengan pihak Arwana Group.”

Samudra mengangguk.

“Baik.”

Sania melanjutkan,

“Lalu setelah itu ada beberapa berkas yang perlu Bapak tandatangani. Saya sudah siapkan di meja.”

Samudra melirik tumpukan map yang cukup tinggi di sisi meja kerjanya.

“Hmm.”

Ia lalu membuka jasnya sedikit dan duduk di kursi kerja. Sania masih berdiri di depannya.

Biasanya setelah menyampaikan jadwal, Samudra langsung menyuruhnya keluar.

Namun hari ini pria itu justru terlihat sedikit lebih santai. Ia bahkan menyandarkan tubuhnya di kursi.

Sania yang sejak tadi memperhatikan perubahan kecil itu akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Pak…” panggilnya ragu.

Samudra mengangkat pandangan.

“Iya?”

Sania tersenyum kecil.

“Bapak kelihatan… berbeda hari ini.”

Samudra mengernyit sedikit.

“Berbeda?”

“Iya,” jawab Sania pelan. “Seperti sedang dalam suasana hati yang baik.”

Samudra terdiam sebentar. Ia bahkan sempat berpikir sejenak.

Benarkah?

Namun akhirnya ia hanya menjawab singkat,

“Biasa saja.”

Sania tertawa kecil.

“Kalau Bapak bilang begitu… ya sudah.”

Namun jauh di dalam hati, Sania cukup yakin. Atasannya itu sedang berada dalam mood yang jauh lebih baik dari biasanya.

Samudra kemudian meraih salah satu map di meja. Ia mulai membuka berkas dan membaca isinya.

“Baik, kalau tidak ada yang lain saya kembali ke meja dulu, Pak,” ujar Sania.

“Iya.”

Sania pun keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup, ruangan kembali hening.

Samudra membaca beberapa dokumen lalu menandatangani satu per satu.

Namun entah kenapa pikirannya tidak benar-benar fokus pada pekerjaan.

Bayangan seseorang justru muncul di kepalanya. Seorang wanita yang tadi pagi berdiri di dapur dengan apron sederhana.

Samira.

Lalu bayangan lain muncul.

Binar yang dengan polos menyodorkan mangkuk serealnya.

“Ini Papa makan.”

Samudra berhenti menulis. Tangannya sedikit terdiam di atas kertas.

Ia menghela napas pelan.

Kenapa aku jadi kepikiran mereka terus… gumamnya dalam hati.

Samudra menggelengkan kepala seolah mencoba mengusir pikiran itu.

Ia kembali fokus pada berkas di depannya.

Namun beberapa menit kemudian— pikirannya kembali teringat sesuatu.

Tentang ucapan yang tadi pagi keluar dari mulutnya tanpa direncanakan.

“Nanti kita makan di luar.”

Samudra menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya menyentuh dagu.

Apa aku benar-benar mau pulang cepat hari ini…?

Biasanya ia selalu pulang larut malam karena pekerjaan.

Namun entah kenapa— hari ini ia merasa ingin pulang lebih awal.

@@@

Sementara itu, Samira baru saja sampai di depan gerbang sekolah Binar.

Pagi itu suasana di depan sekolah cukup ramai. Banyak orang tua yang mengantar anak-anak mereka. Ada yang datang dengan mobil, ada juga yang menggandeng tangan anaknya sambil berjalan masuk ke halaman sekolah.

Samira menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang.

Ia berjongkok sedikit agar sejajar dengan tinggi Binar.

“Bibi sekolah yang pintar ya,” ucap Samira lembut sambil merapikan kerah seragam putrinya. “Yang baik sama teman-temannya, oke? Nanti Mama jemput Bibi lagi.”

Binar mengangguk semangat.

“Siap, Mama!”

Lalu tiba-tiba wajahnya terlihat sangat antusias.

“Nanti jangan lupa siapin baju Bibi yang bagus buat makan malam sama Papa, oke!” sahutnya dengan mata berbinar-binar.

Samira tersenyum kecil melihat semangat anaknya.

“Iya, iya. Mama nggak lupa kok.”

“Yang cantik ya, Ma!” tambah Binar lagi.

“Iya,” jawab Samira sambil tertawa pelan. “Sekarang masuk sana. Nanti telat.”

Binar langsung mencium tangan ibunya.

“Assalamualaikum, Mama.”

“Waalaikumsalam, sayang.”

Setelah itu Binar berlari kecil masuk ke halaman sekolah bersama anak-anak lain.

Samira berdiri di tempatnya beberapa saat, memperhatikan punggung kecil putrinya yang semakin menjauh.

Ia baru berbalik setelah Binar benar-benar masuk ke dalam kelas.

Namun saat berjalan menuju parkiran, pikiran Samira kembali teringat pada ucapan Samudra pagi tadi.

Makan malam di luar…

Hal sederhana bagi sebagian orang.

Namun bagi Samira, itu terasa seperti sesuatu yang besar.

Selama ini kehidupan rumah tangganya berjalan begitu datar.

Samudra bekerja. Ia mengurus rumah dan Binar. Mereka jarang berbicara panjang bahkan sangat jarang berinteraksi. Makan bersama pun tidak selalu terjadi.

Karena itulah ajakan makan malam tadi terasa begitu… tidak biasa.

Samira membuka pintu mobilnya lalu duduk di kursi pengemudi.

Tangannya sempat berhenti di atas setir. Ia menatap lurus ke depan dengan pikiran yang melayang.

Apa ini hanya kebetulan?

Atau Mas memang ingin… mencoba berubah?

Samira menghela napas pelan. Namun sekali lagi ia mengingatkan dirinya sendiri. Ia tidak boleh terlalu berharap.

Karena harapan sering kali menjadi awal dari kekecewaan. Akhirnya Samira menyalakan mobilnya dan keluar dari area sekolah.

Hari ini ia masih memiliki beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Sementara itu— di dalam kelas Binar.

Anak kecil itu duduk di bangkunya dengan wajah yang terlihat sangat ceria.

Teman sebangkunya yang bernama Lily sampai memperhatikannya.

“Bibi, kamu kok senyum-senyum terus?” tanya Lily penasaran.

Binar langsung menjawab dengan bangga,

“Aku nanti makan malam sama Papa sama Mama!”

“Di mana?”

“Di luar!” jawab Binar dengan mata berbinar.

“Wah enak…”

Binar mengangguk penuh semangat.

“Papa yang ngajak!”

Guru mereka yang kebetulan mendengar percakapan itu ikut tersenyum kecil. Jarang sekali ia mendengar cerita Binar tentang keluarganya.

@@@

Sesuai dengan ucapannya pagi tadi, kini Samudra sudah sampai di rumah. Begitu mobilnya berhenti di halaman, pintu rumah langsung terbuka.

Di sana sudah berdiri Samira dan Binar yang tampaknya memang sudah siap sejak tadi.

Samudra sempat berhenti sejenak ketika melihat mereka.

Samira dan Binar mengenakan dress dengan warna yang senada. Binar memakai dress kecil yang mengembang dengan pita di bagian pinggang, sementara Samira mengenakan dress yang sederhana namun terlihat sangat anggun.

Keduanya tampak cantik.

“Wah…” gumam Samudra pelan.

Binar langsung berlari kecil menghampirinya.

“Hai, sayang. Putri Papa sudah siap?” tanya Samudra sambil menunduk sedikit agar sejajar dengan anaknya.

“Siap, Papa!” jawab Binar dengan wajah ceria.

Melihat bagaimana Samudra menyapa anaknya dengan begitu lembut membuat Samira tersenyum kecil.

Siapa sangka laki-laki yang selama ini dikenal begitu dingin bisa menjadi selembut ini ketika bersama putrinya.

“Papa…” panggil Binar lagi.

“Iya?”

“Nanti beli es krim juga ya!”

Samudra langsung menganggukkan kepalanya.

“Iya. Nanti habis makan malam kita beli es krim.”

“Yeay!” seru Binar girang.

Samira hanya menggeleng kecil melihat tingkah anaknya.

Tak lama kemudian mereka pun berangkat menuju restoran yang sudah dipesan.

Sebenarnya bukan Samudra yang memesannya secara langsung.

Lebih tepatnya Sania, asisten pribadinya, yang mengurus semuanya atas perintah Samudra.

Perjalanan menuju restoran tidak terlalu lama.

Setibanya di sana, seorang pelayan langsung menyambut mereka dengan ramah.

“Selamat malam, Pak Samudra. Silakan ikut saya.”

Ternyata Samudra sudah memesan ruangan khusus sebelumnya.

Pelayan itu kemudian mengantar mereka menuju sebuah ruangan makan yang cukup tenang dan nyaman.

Binar terlihat sangat antusias melihat suasana restoran yang mewah.

“Wah, bagus banget…” bisiknya pelan pada Samira.

Mereka bertiga lalu duduk di meja yang sudah disiapkan.

Tak lama kemudian pelayan datang membawa buku menu.

Samudra mengambil menu itu lalu menoleh ke arah Samira.

“Kamu mau makan apa?” tanyanya.

Samira yang tiba-tiba ditanya seperti itu terlihat sedikit terkejut.

Saking jarangnya Samudra menanyakan pendapatnya, setiap kali itu terjadi Samira selalu merasa canggung.

Ia membuka menu sebentar lalu menatap Samudra lagi.

“Apa ya… aku nggak tahu, Mas,” jawabnya pelan. “Kalau Mas pengen makan apa?”

Samudra menghela napas kecil.

“Kamu nggak ada yang pengen dimakan?” tanyanya lagi.

Samira menggeleng pelan.

“Enggak, Mas.”

Samudra akhirnya kembali melihat menu di tangannya.

“Kalau gitu kita pesan steak saja. Gimana?”

Lalu ia menoleh ke arah Binar.

“Bibi boleh makan steak, kan?”

Binar langsung mengangguk cepat.

“Boleh, Papa! Bibi suka steak!”

Samira ikut tersenyum.

“Iya, Mas. Kebetulan Bibi memang suka itu.”

“Ya sudah.”

Akhirnya steak menjadi pilihan menu makan malam mereka.

Setelah pelayan mencatat pesanan dan pergi, suasana di meja sempat menjadi sedikit hening.

Namun keheningan itu segera pecah oleh suara Binar yang tak berhenti bercerita tentang sekolahnya hari ini.

Samira mendengarkan dengan sabar.

Sementara Samudra… untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, benar-benar duduk dan menikmati momen makan malam bersama keluarganya.

@@@

Malam ini terasa cukup berbeda bagi pasangan Samira dan Samudra. Kali ini Samudra yang mengurus Binar, mulai dari memotong makanan, meniup yang masih panas, hingga menyuapi anak kecil itu dengan sabar.

Ia dengan telaten memotong steak di piring Binar menjadi potongan-potongan kecil, lalu sesekali menyuapkannya.

Melihat itu membuat Samira tersenyum tanpa sadar.

“Kamu makan saja, Mas. Kalau sudah dipotong begitu nanti Binar juga bisa makan sendiri kok,” ujar Samira lembut.

Samudra yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya.

Namun tetap saja perhatiannya lebih banyak tertuju pada Binar.

Setiap kali Binar membuka mulut untuk menerima suapan, sebuah senyum tipis selalu tersungging di bibir Samudra.

“Enak, sayang?” tanya Samudra.

Binar yang sedang mengunyah langsung mengangguk cepat.

“Enak, Papa!” jawabnya sambil mengacungkan jempol kecilnya.

Hal itu membuat kedua orang tuanya tidak kuasa menahan senyum.

Binar memang selalu berhasil membuat suasana menjadi hangat. Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba ponsel Samira yang terletak di meja bergetar.

Samira melirik layar ponselnya. Nama mertuanya muncul di sana. Ia segera mengangkat telepon itu.

“Halo, Mah. Ada apa?” tanya Samira begitu menjawab panggilan dari Sinta.

Di seberang sana, suara ibu mertuanya terdengar cukup santai.

“Ah, enggak. Mama cuma mau tanya… besok kamu bisa ke rumah Mama nggak?” tanya Sinta.

Samira berpikir sebentar.

“Bisa saja sih, Mah. Emangnya ada apa?”

“Enggak apa-apa sih, cuma—”

Sinta tiba-tiba berhenti bicara. Ia sepertinya mendengar sesuatu dari arah ponsel Samira.

“Eh, tunggu dulu. Kok suaranya ramai begitu? Kamu lagi di mana?” tanya Sinta penasaran.

Samira sempat melirik ke arah Samudra dan Binar yang masih makan.

“A… ini aku lagi makan malam di luar sama Mas Samudra,” jawab Samira.

Di seberang sana Sinta terdiam beberapa detik.

“Makan… di luar?” ulangnya sedikit kaget.

“Iya, Mah.”

“Oh…”

Sinta seolah tidak tahu harus berkata apa.

Ia tahu betul seperti apa hubungan rumah tangga putranya selama ini.

Karena itu mendengar Samudra mengajak makan malam di luar terasa cukup mengejutkan.

“Ya sudah deh. Nanti Mama WA saja ya,” ujar Sinta akhirnya.

“Iya, Mah.”

Setelah itu panggilan pun berakhir.

Samira meletakkan kembali ponselnya di meja.

Samudra yang sejak tadi memperhatikan sempat bertanya,

“Mama aku?”

“Iya,” jawab Samira singkat. “Mama cuma tanya besok aku bisa ke rumah atau tidak.”

Samudra mengangguk pelan lalu kembali memotong steak di piringnya.

Namun di dalam hatinya ia sedikit penasaran.

Kenapa ibunya tiba-tiba menelepon?

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Fina Silaban Tio II
cerita luar biasa
Itz_zara: Thank u, sudah mampor bacanya🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
akhirnya ya🥺
Itz_zara: finally🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Betul itu😍
Itz_zara: wajib ya, kak🙏
total 1 replies
Favmatcha_girl
Biarin😝
Itz_zara: Hahah diledekin terus🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gak jadi kayaknya mah, anaknya lagi kecintaan🤭
Itz_zara: Batal ya, anaknya mulai sadar🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben amat🤭
Itz_zara: Ada maunya kali🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gampang ya nyuruh² orang😅
Itz_zara: Banyak duit kak😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Itz_zara: 🙁🙁🙁🙁🙁
total 1 replies
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Itz_zara: Lagi bahagia nihh😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Itz_zara: Remaja kali ah kasamaran, ehh semuanya boleh kasmaran deng🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Itz_zara: Bukan bapaknya Ya, kak😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!