NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: EVENT HORIZON

Layar ponsel Keyla menyala dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu belajar. Sebuah balasan masuk tepat tiga menit setelah ia mengirim pesan nekad itu.

*Reza (Jurnalistik): Gudang belakang perpus. 10 menit. Datang sendiri atau deal batal.*

Keyla tidak membuang waktu. Ia menyambar jaket hoodie kebesarannya, menutupi seragam batik sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Ia berpamitan singkat pada ibunya yang kini tertidur di sofa dengan mata bengkak—pemandangan yang membakar sumbu keberanian di dada Keyla semakin pendek.

Sekolah di jam lima sore sudah mulai sepi, hanya menyisakan anak-anak basket yang berlatih di lapangan utama dan beberapa anggota OSIS yang sibuk mempersiapkan *class meeting*. Keyla menyelinap lewat koridor samping, menghindari area di mana suara sepatu basket berdecit. Ia tidak siap bertemu Bintang. Tidak dengan wajah sembap dan amarah yang siap meledak ini.

Gudang belakang perpustakaan adalah wilayah tak bertuan. Tempat tumpukan buku paket kadaluwarsa dan bangku-bangku rusak menunggu pemusnahan. Di sana, duduk di atas tumpukan ensiklopedia tahun 90-an, Reza sedang memutar-mutar sebuah *flashdisk* di jarinya. Ketua klub jurnalistik itu memiliki aura seperti detektif swasta yang kurang tidur; kantung mata hitam, rambut berantakan, dan senyum miring yang meremehkan dunia.

"Gue nggak nyangka lo punya nyali, Key," sapa Reza tanpa basa-basi. "Gue pikir lo cuma cewek cengeng yang jago nulis puisi galau."

"Gue butuh bukti itu, Za," suara Keyla terdengar serak namun tegas. Ia berdiri dua meter di depan cowok itu. "Lo benci sistem sekolah ini sama kayak gue. Lo tahu Pak Haris—om-nya Vanya—pakai dana renovasi aula buat kepentingan pribadi. Gue tahu lo punya datanya tapi nggak berani *publish* karena takut dibungkam."

Reza tertawa kecil, suara yang kering. "Dan lo pikir lo bisa apa? Lo cuma siswi penerima beasiswa yang posisinya lagi di ujung tanduk. Gue denger lo dapet SP1?"

Berita di sekolah ini merambat lebih cepat dari kecepatan cahaya. Keyla mengepalkan tangannya di dalam saku jaket.

"Justru karena gue nggak punya apa-apa lagi buat dipertaruhkan, gue bahaya, Za. Orang yang nggak punya jalan keluar cuma punya satu pilihan: nabrak tembok sampai hancur."

Keyla menarik napas panjang, lalu mengeluarkan kartu as-nya. "Lo mau berita eksklusif kan? Gue kasih lo hak penuh buat muat cerita asli tentang Cassiopeia. Bukti bahwa Vanya penipu, *draft* asli surat-surat gue, tanggal pengiriman, semuanya. Lo bakal dapet *headline* paling panas sepanjang sejarah majalah sekolah. 'Runtuhnya Ratu Sekolah'."

Mata Reza berbinar. Insting jurnalistiknya tergelitik. Skandal Vanya adalah *holy grail* bagi siapa saja yang muak dengan hierarki popularitas di SMA Cakrawala.

"Deal," Reza melempar *flashdisk* itu. Keyla menangkapnya dengan refleks yang mengejutkan dirinya sendiri. "Di situ ada pindaian kwitansi ganda dari kontraktor fiktif. Stempel yayasan, tanda tangan Haris, lengkap. Gue dapet dari tong sampah TU tiga bulan lalu pas mereka *shredding* dokumen tapi mesinnya macet."

Keyla menggenggam benda kecil itu erat-erat. Ini bukan sekadar data digital; ini adalah amunisi nuklir.

"Satu hal lagi, Key," Reza menambahkan saat Keyla berbalik hendak pergi. "Lo main api sama naga. Pak Haris itu licin. Kalau lo meleset dikit aja, lo nggak cuma di-DO, tapi bisa dituntut pencemaran nama baik. Pastiin bidikan lo tepat."

"Gue nggak akan meleset," gumam Keyla. "Gue udah ngitung trajektorinya."

***

Keesokan harinya, atmosfer SMA Cakrawala terasa berat, seolah gravitasi meningkat dua kali lipat. Keyla berjalan menyusuri koridor dengan kepala tegak. Tidak ada lagi Keyla yang menunduk, tidak ada lagi Keyla yang mencoba menjadi invisibel. Jika ia akan jatuh, ia akan jatuh seperti meteorit—terbakar terang dan meninggalkan kawah.

Di lokernya, ia menemukan secarik kertas kuning. Tulisan tangan Vanya yang rapi dan elegan.

*Tik tok, Keyla. 12 jam lagi.*

Keyla meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Saat ia menutup pintu loker, sebuah tangan menahannya. Aroma parfum maskulin yang familiar—campuran *citrus* dan *mint*—menguar. Bintang.

Keyla membeku. Ia belum siap.

"Key," suara Bintang terdengar lelah. "Kita perlu bicara. Sekarang."

Bintang menarik pelan lengan Keyla, membawanya menjauh dari keramaian koridor menuju tangga darurat yang sepi. Keyla bisa melihat gurat kekhawatiran yang dalam di wajah tampan itu. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, tanda ia juga tidak tidur nyenyak.

"Kamu kenapa kemarin marah-marah?" tanya Bintang lembut, terlalu lembut hingga membuat hati Keyla nyeri. "Aku tanya Dinda, dia bungkam. Aku tanya anak-anak lain, mereka cuma bisik-bisik soal kamu dapet SP. Apa bener? Kenapa kamu nggak bilang aku?"

"Bintang, aku..." Keyla tergagap. Keinginan untuk menumpahkan segalanya, untuk menangis di pelukan cowok itu, begitu besar. Tapi ia ingat ancaman Vanya. Jika Bintang terlibat, Vanya akan menggunakan kekuasaan om-nya untuk menghancurkan reputasi Bintang juga, atau lebih parah, membuat posisi Keyla semakin lemah karena dianggap berlindung di ketiak pacar.

"Ini masalah aku, Bin. Masalah administrasi beasiswa," Keyla berbohong, matanya menatap lantai.

"Masalah kamu masalah aku juga, Key! Kita pacaran!" Bintang menaikkan nada suaranya, frustrasi. "Gunanya aku apa kalau di saat kamu susah, kamu malah dorong aku ngejauh? Apa kamu nggak percaya sama aku?"

"Bukan gitu!" Keyla menatap mata Bintang, nanar. "Justru karena aku sayang kamu, aku harus nyelesaiin ini sendiri. Tolong, Bin. Kasih aku waktu. Jangan ikut campur dulu."

Bintang melepaskan pegangannya, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. "Oke. Kalau itu mau kamu. Tapi rasanya sakit, Key, dianggap orang asing sama pacar sendiri."

Bintang berbalik dan meninggalkan Keyla di tangga darurat. Punggung tegap itu menjauh, membawa serta sebagian nyawa Keyla. Keyla menggigit bibir bawahnya sampai berdarah untuk menahan tangis. *Maafin aku, Bin. Nanti, kalau aku menang, aku bakal jelasin semuanya.*

Keyla menyeka sudut matanya dan kembali fokus. Ia punya perang yang harus dimenangkan.

***

Jam istirahat kedua. Waktu eksekusi.

Keyla tidak pergi ke kantin. Ia melangkah pasti menuju Ruang Tata Usaha, namun bukan untuk memohon belas kasihan. Ia berbelok sedikit ke arah ruang kaca tempat Vanya dan 'dayang-dayangnya' biasa berkumpul—Ruang OSIS. Sebagai Ketua Cheerleader, Vanya punya akses bebas di sana.

Seperti dugaan, Vanya ada di sana, duduk di atas meja rapat sambil memoles kuteks, dikelilingi dua temannya yang setia tertawa pada setiap lelucon garingnya. Saat melihat Keyla masuk, tawa itu berhenti. Hening yang mencekam mengambil alih.

"Wah, lihat siapa yang datang," Vanya tersenyum miring, menutup botol kuteksnya. "Udah siap nyerah? Masih ada 5 jam sih, tapi baguslah kalau lo sadar diri lebih cepet."

Teman-teman Vanya terkikik. Keyla tidak gentar. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah map cokelat di atas meja, tepat di sebelah tangan Vanya yang lentik.

"Gue nggak datang buat nyerah, Van. Gue datang buat negosiasi ulang."

Vanya tertawa renyah, suara yang terdengar seperti lonceng retak di telinga Keyla. "Negosiasi? Lo nggak punya posisi tawar, *Sweetheart*. Lo itu nol besar."

"Buka dulu," perintah Keyla dingin. Tatapannya tajam, setajam sorot mata Bintang saat di lapangan basket.

Vanya mendengus, lalu dengan malas membuka map itu. Detik demi detik berlalu. Senyum mengejek di wajah Vanya perlahan luntur, digantikan oleh kerutan di dahi, lalu memucat menjadi ekspresi horor murni. Tangannya gemetar saat membalik halaman yang berisi salinan kwitansi dan aliran dana mencurigakan yang mengarah ke rekening pribadi om-nya, Pak Haris.

"D-dari mana lo dapet ini?" desis Vanya, suaranya hampir tak terdengar.

"Hukum ketiga Newton," jawab Keyla tenang, dadanya bergemuruh oleh adrenalin. "Setiap aksi ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Lo neken gue, gue tekan balik. Ini bukti penggelapan dana renovasi aula dan laboratorium bahasa tahun lalu. Totalnya ratusan juta. Kalau berkas ini sampai ke Yayasan Pusat atau Dinas Pendidikan... Om lo nggak cuma dipecat, Van. Dia bisa dipidana."

Keyla mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap manik mata Vanya yang kini dipenuhi ketakutan. "Dan lo tahu apa yang terjadi sama lo kalau pelindung utama lo hancur? Posisi lo sebagai ketua *cheers*, status sosial lo, semuanya bakal runtuh."

"Lo... lo ngegertak!" Vanya berdiri, mencoba merebut map itu, tapi Keyla menahannya.

"Itu cuma salinan. Aslinya aman di tempat yang nggak bakal bisa lo jangkau," Keyla berbohong dengan wajah datar yang meyakinkan. "Sekarang, pilihannya di tangan lo. Cabut SP1 gue, balikin status beasiswa gue hari ini juga, dan berhenti ganggu hubungan gue sama Bintang. Atau... kita sama-sama hancur. Gue keluar sekolah karena miskin, lo keluar sekolah karena om lo koruptor."

Ruangan itu sunyi senyap. Teman-teman Vanya saling pandang dengan bingung, tidak tahu apa isi dokumen itu tapi merasakan pergeseran kekuasaan yang drastis. Sang Ratu Sekolah baru saja disudutkan oleh gadis yang selama ini dianggap debu.

Vanya menggertakkan gigi, napasnya memburu. Ia menatap Keyla dengan kebencian murni, tapi di balik itu, ada kekalahan yang tak terbantahkan. Ia tahu seberapa kotor permainan om-nya, dan ia tidak menyangka Keyla cukup gila untuk menggali sejauh itu.

"Keluar," desis Vanya.

"Gimana keputusannya?" desak Keyla.

"GUE BILANG KELUAR!" jerit Vanya, membanting botol kuteks ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Gue bakal urus beasiswa sialan lo itu! Puas lo?!"

Keyla tersenyum tipis. Bukan senyum kemenangan yang angkuh, tapi senyum lega seorang penyintas. Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

Namun, saat ia menutup pintu Ruang OSIS, ia tidak menyadari sepasang mata yang mengamatinya dari ujung koridor. Dinda berdiri di sana dengan mulut sedikit terbuka, baru saja hendak menyusul Keyla untuk memberikan dukungan moral, tapi malah menjadi saksi bisu transformasi sahabatnya.

"Gila..." bisik Dinda dengan logat Suroboyoan-nya yang kental, takjub sekaligus ngeri. "Arek iku... medeni (anak itu... menakutkan)."

Keyla bersandar di dinding koridor, kakinya terasa lemas seketika. Adrenalinnya surut, menyisakan gemetar hebat di tangannya. Ia berhasil. Ia menyelamatkan masa depannya. Tapi saat ia merogoh saku untuk mengambil ponsel, sebuah notifikasi berita sekolah masuk.

Bukan dari Reza. Tapi dari akun gosip anonim sekolah.

*HOT NEWS: Bintang Rigel terlihat bertengkar hebat dengan Keyla Aluna di tangga darurat. Isu putus merebak. Apakah sang Pangeran akhirnya sadar?*

Dan di bawahnya, sebuah foto buram yang diambil diam-diam: Bintang yang berjalan menjauh dengan wajah kecewa, meninggalkan Keyla sendirian.

Keyla merosot ke lantai. Ia memenangkan pertempuran melawan Vanya, tapi ia mungkin baru saja kehilangan alasan kenapa ia memulai perang ini sejak awal.

1
Mariana Silfia
😍😍😍
Mariana Silfia
eh ya ampun si othor iki sllu bisa bikin dag dig dug kok w🤣🤣 ok ok lanjut kak q setia menunggu bab selanjutnya
Mariana Silfia
kak q nunggu'n bab lanjut nya yak tolong jangan di gantung🤭q gak bisa tdr ini klo blm tau ending nya
Mymy Zizan
bagussssssssss
S. Sage: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!