NovelToon NovelToon
The Units : Bright Sides

The Units : Bright Sides

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Nonira Kagendra

Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).

Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.

Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.

---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin

## SELAMAT MEMBACA ##

Lorong-lorong fasilitas Genesis di dasar laut ini menyerupai labirin futuristik dengan dinding kaca tebal yang memperlihatkan kegelapan samudra di baliknya. Suara deru mesin oksigen yang berirama memberikan kesan claustrophobic yang nyata. Arsen memeriksa senjata bawah airnya, sementara Aira memantau sensor termal di pergelangan tangannya.

"Wira, kau masih bersama kami?" bisik Arsen.

Melalui transmisi radio yang sedikit statis, Wira membalasa, "Sinyal lemah karena tekanan air, Kak. Tapi aku berhasil memetakan area depan. Kalian sedang menuju 'Ruang Refleksi'. Hati-hati, Julian memasang sistem proyeksi di sana."

Di belakang mereka, Arkan berjalan dengan gaya yang sangat aneh—kakinya terbuka lebar dan ia terus menarik-narik bagian selangkangan baju selamnya.

"Hei, Rora! Aku rasa baju selam ini menyusut terkena air garam. Kenapa rasanya aku seperti dibungkus plastik sosis yang mau meledak?"

Sebelum menjawab, Aurora sudah menarik nafas sedalam-dalamnya. "Itu karena kau memakainya terbalik, Arkan! Resletingnya seharusnya di belakang, bukan di depan!"

Rasanya ingin mencubit ginjal bocah prik itu, batin Aurora gemas.

"Pantas saja aku susah bernapas dan dadaku terasa seperti sedang dipeluk beruang! Dan kenapa kacamata selamku terus berembun? Aku tidak bisa melihat apa-apa selain warna hijau lumut!" Jawab Arkan polos tanpa dosa. Padahal lawan bicara saat ini sedang berusaha mati-matian untuk tetap WARAS.

"Itu karena kau lupa meludahi kacanya sebelum masuk air! Dasar amatir! Sini, biar kubantu... tapi kalau kau sampai menyenggol tangki oksigenku lagi, aku akan menambatkanmu di jangkar kapal nelayan pink tadi." Rasanya ingin aku 'hiiiiiiiiii' saja, batin Aurora. Sembari membantu Arkan, mulutnya memang diam tapi dalam benak Aurora sudah berbagai nama binatang yang disematkan ke pria didepannya.

Mereka memasuki sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang berfungsi sebagai cermin. Tiba-tiba, lampu meredup dan proyektor raksasa menyala, menampilkan rekaman hitam putih dari arsip tahun 1998—tahun di mana kakek - nenek Arsen, ayah dari Arindi dan ibu dari Ankara, dinyatakan tewas dalam sebuah ledakan mobil.

Julian Thorne yang tiba-tiba suaranya menggema dari pengeras suara tersembunyi,  "Keluarga Satya selalu merasa menjadi korban, bukan? Kalian pikir ayahku, Bram, adalah iblisnya. Tapi lihatlah rekaman ini baik-baik."

Rekaman itu menunjukkan seorang pria muda yang sangat mirip dengan Galih sedang menyerahkan sebuah tas hitam kepada seorang informan, tepat sebelum mobil kakek Arsen meledak di latar belakang.

Melihat keseluruhan rekaman itu, Aira menahan napas. "Itu... Paman Galih? Tidak mungkin. Paman Galih adalah orang paling setia yang pernah aku kenal."

Sedangkan Arsen rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke layar. " Itu manipulasi, Aira. Julian sengaja memotong bagian penting untuk menghancurkan kepercayaan kita."

Julian terkekeh mendengar tentangan Arsen. "Manipulasi? Arsen, tanyakan pada Papa—mu. Kenapa selama 25 tahun ini dia tidak pernah mengizinkan siapa pun membuka berkas 'Operasi Senja'? Karena dia tahu sahabat terbaiknya, Galih, adalah orang yang menarik pelatuknya untuk mengakhiri perang... dengan mengorbankan ayahnya sendiri."

"DIAM KAU, JULIAN!" Teriak Arsen.

"Arsen, tenang! Ini yang dia inginkan. Dia ingin kita saling curiga saat oksigen kita mulai menipis!" Aira berusaha menenangkan Arsen.

Akibat emosi Arsen yang memuncak, ia menembakkan senjatanya ke arah salah satu proyektor. Ledakan kecil itu memicu sistem keamanan darurat. Pintu baja turun, memisahkan Arkan dari tim utama. Arkan terdorong masuk ke ruang mesin yang tiba-tiba mengalami kebocoran pipa air laut.

"Aaarrrghh, Rora! Aku terjebak! Dan ada air muncrat dari mana-mana! Ini bukan waterpark, ini horor!"

Aurora berteriak di balik pintu baja, "Arkan! Cari katup penutupnya! Gunakan keahlianmu!"

"Keahlianku adalah makan dan menyamar, bukan jadi tukang ledeng bawah laut! Tunggu... pipanya panas! Aku butuh sesuatu untuk menyumbatnya!" Masih sempat - sempatnya dia berdrama. Dasar anak gantengnya Alan Rumi, yang absurbnya diluar angkasa— diluar nalar.

Arkan melihat sekeliling dengan panik. Ia tidak menemukan alat apa pun selain tas perbekalannya. Dengan sangat terpaksa, ia mengeluarkan koleksi kaos kaki tebal miliknya dan melilitkannya pada pipa yang bocor, lalu merekatkannya dengan lem super yang selalu ia bawa untuk memperbaiki kumis palsu.

Arkan bersorak kegirangan atas ide uniknya itu. "Yesss.....Berhasil! Kaos kaki keberuntunganku menyelamatkan fasilitas miliaran dolar! Tapi sekarang baunya seperti kaki kambing yang direbus!" Rasanya seperti ingin muntah, bukan karena masuk angin atau sakit. Namun karena mabuk kaos kaki miliknya.

---

Di ruang utama, Arsen tampak goyah. Fakta tentang kakeknya adalah titik lemahnya yang terbesar. Aira menghampirinya, memegang kedua pipi Arsen agar pria itu fokus padanya.

"Lihat aku, Arsenio Satya Madya. Tatap mataku."

"Bagaimana kalau itu benar, Aira? Bagaimana kalau seluruh persahabatan keluarga kita dibangun di atas darah kakekku?" Arsen seperti orang linglung, tak tahu harus percaya atau tidak dengan rekaman yang dia lihat saat ini secara langsung.

Aira tetap menatapnya, memberikan kekuatan dan keyakinan pada Arsen. "Sekalipun itu benar, itu adalah dosa masa lalu mereka. Kita bukan mereka. Kita adalah generasi yang memilih untuk jujur. Jika Paman Galih melakukannya, pasti ada alasan yang lebih besar. Tapi aku yakin 100%, pria yang memberiku es krim setiap kali aku menangis saat kecil itu tidak mungkin seorang pembunuh berdarah dingin."

Arsen menarik napas dalam, mulai tenang. "Kau benar. Julian sedang mencoba memecah 'The Unit' karena dia tahu dia tidak bisa mengalahkan kita jika kita bersatu."

"Sekarang, kita harus menjemput Arkan dan menghentikan Julian sebelum dia meledakkan stasiun ini. Dia di ruang kendali pusat, tepat di bawah tangki tekanan utama." Ucap Aira yang hatinya sedikit lega karena dapat menenangkan dan menyadarkan Arsen dari kegoyahan hatinya.

----

Mereka berhasil membuka pintu dan menjemput Arkan (yang kini hanya memakai satu kaos kaki). Tim bergerak menuju ruang kendali. Namun, saat mereka sampai, mereka menemukan Julian sedang berdiri di depan konsol dengan tangan di atas tombol "Self-Destruct".

Julian tidak lagi tertawa. Wajahnya penuh luka, hasil dari pelarian di London.

**Julian:** "Satu sentuhan lagi, dan Genesis akan menjadi makam bagi kita semua. Tapi sebelum itu, Arsen... ada tamu spesial yang ingin menyapamu lewat radio."

Tiba-tiba, suara Ankara terdengar, namun nadanya sangat dingin dan penuh penyesalan.

**Ankara:**"Arsen... hentikan misinya. Jangan buka berkas nomor 07. Pulanglah. Ini adalah rahasia yang harus ikut tenggelam bersama fasilitas ini."*

Deg!

Arsen dan Aira membeku. Kenapa Ankara ingin menutupi kebenaran?

"Papa, apa maksudmu? Kenapa....kenapa aku tidak boleh membukanya? Apa yang kau sembunyikan dari kami, Papa?", gumam Arsen serasa tak percaya dengan ucapan Papanya. Begitu juga dengan Aira yang hari ini seperti melewati rollercoaster dalam hidupnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu orang tua kami?", Pikiran Aira terasa sangat rumit. Dia merasa menemukan potongan puzzle yang seakan sulit untuk disatukan. Jika disatukan dapat merusak segalanya, keluarga bahkan timnya. Layaknya gema di dalam labirin yang tanpa wujud namun terdengar seolah nyata.

----

Bersambung....

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Nonira Seine: Hallo....
Selamat membaca, ya.....🤗🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!