NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:393.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Pembantu

Supermarket lantai atas nyaris kosong ketika mereka selesai memborong makanan instan dan makanan kaleng. Troli yang mereka dorong penuh dengan mi instan berbagai merek, sarden, kornet, kacang panggang, biskuit, hingga air mineral kemasan besar.

Timmy menatap isi troli dengan puas.

“Setelah ini, kita ke pasar tradisional saja. Stok beras, sayur kering, mungkin juga bahan lain yang tahan lama.”

Yura langsung memegangi perutnya. “Tunggu dulu. Lebih baik kita makan siang terlebih dahulu. Aku sudah sangat lapar.”

Sonya mengangguk setuju. “Aku juga. Kalau tidak makan, aku bisa pingsan.”

Naomi menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum kecil. “Baik. Kita makan dulu.”

Mereka pun menuju restoran hot pot di lantai yang sama. Aroma kuah kaldu yang mengepul langsung menyambut begitu mereka duduk.

Tak lama kemudian, meja mereka dipenuhi berbagai hidangan irisan daging sapi tipis, bakso ikan, tahu, sayuran segar, jamur, dan aneka saus.

Sambil menunggu kuah mendidih sempurna, Timmy menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap Naomi.

“Naomi, keluarga Atlas termasuk empat pilar negara ini, bukan? Terutama di bidang pertahanan, keamanan, dan persenjataan.”

Naomi mengangguk pelan. “Ya.”

“Kalau begitu,” lanjut Timmy, “apa kamu sudah memiliki bunker?”

Pertanyaan itu membuat Naomi terdiam sesaat. Ia menatap kuah yang mulai mendidih sebelum menjawab, “Saat ini belum. Namun beberapa hari lagi pembangunan bunker akan dimulai.”

Yura terkejut. “Serius?”

Naomi mengangguk. “Ya. Tetapi aku belum membicarakan hal ini dengan Kak Max. Ia terlalu sibuk akhir-akhir ini.”

Sonya tersenyum kecil. “Aku yakin dia akan mendukungmu.”

Belum sempat percakapan berlanjut, pesanan tambahan mereka datang. Pelayan meletakkan nampan terakhir di meja.

“Silakan dinikmati.”

Keempatnya langsung mengambil sumpit. Naomi mencelupkan irisan daging ke dalam kuah mendidih, menunggu beberapa detik, lalu mengangkatnya.

Namun tepat ketika ia hendak menyuapkan daging itu ke mulutnya tiba-tiba.

“Ternyata kamu di sini.”

Suara itu terdengar tajam dan penuh nada penghinaan.

Naomi dan ketiga sahabatnya serentak menoleh.

Di sana berdiri Kania, kekasih Carlos, bersama ibunya dan kakaknya. Kania mengenakan pakaian modis dengan tas bermerek menggantung di lengannya.

“Kebetulan sekali,” lanjut Kania sambil menyodorkan beberapa paper bag ke arah Naomi. “Aku baru saja membeli banyak barang. Cepat bawa ke mobil.”

Ketiga sahabat Naomi langsung berwajah masam.

Sonya lebih dulu bersuara, nada suaranya datar dan menusuk. “Kalian punya tangan, bukan? Bawa sendiri.”

Yura menambahkan dengan tenang, “Kecuali kalau tangan kalian buntung, mungkin kami pertimbangkan. Itu pun tergantung suasana hati. ”

Timmy menyeringai tipis. “Dan suasana hati kami sedang tidak baik.”

Ibu Kania langsung melotot. “Kalian jangan ikut campur. Yang kami suruh itu Naomi.”

Kania kembali menatap Naomi dengan angkuh.

“Ayo. Bawa barang-barang kami. Setelah itu, ikuti kami ke lantai atas. Kami masih ingin berbelanja.”

Wajah Naomi berubah dingin.

Dalam kehidupan pertamanya, ia memang rela menjadi pesuruh bagi Kania dan keluarganya demi menyenangkan Carlos. Ia berharap sang kakak kandung akan menyayanginya seperti adik sendiri.

Namun yang ia dapat hanyalah penghinaan.

Ia pernah menjadi asisten dadakan Kania, mengangkat tas, membawakan barang, bahkan dimarahi tanpa alasan. Kini, semuanya berbeda.

Naomi menatap Kania lurus-lurus. “Bawa sendiri. Kalian memiliki tangan, bukan?”

Kania terkejut. Ibunya dan kakaknya saling berpandangan.

“Biasanya kamu langsung menuruti perintah, lakukan saja langsung,” celetuk kakak Kania dengan nada menghina.

Naomi tidak menanggapi. Ia kembali menatap makanannya dan menyuapkan daging ke dalam mulutnya dengan tenang.

Kania memerah karena marah. “Aku akan mengadukan ini pada Carlos!”

Naomi menjawab singkat tanpa menoleh, “Silakan.”

“Kau tidak takut Carlos akan menghukummu?” desak Kania. “Cepat bawa barang-barang kami. Kami tidak punya waktu melihatmu makan.”

Naomi tetap makan bersama teman-temannya, seolah Kania tidak ada. Merasa diabaikan, tangan wanita mengepal kuat, Kania tiba-tiba menggebrak meja.

Brak!

Beberapa pengunjung langsung menoleh begitu mendengar keributan.

Tanpa ragu, Kania menyenggol mangkuk kecil di depan Naomi hingga kuahnya tumpah dan mengenai celana jeans Naomi.

“Apa kau mendengarkanku, sialan?!” bentaknya dengan muka merah padam.

Naomi terdiam. Ia menatap mangkuknya yang terbalik, lalu menatap noda kuah di celananya.

Timmy langsung berdiri dan menunjuk Kania dengan marah. “Kau—”

Namun Naomi mengangkat tangan, menghentikannya. “Timmy, duduk.”

“Naomi, mereka sudah keterlaluan!” protes Timmy tak terima.

“Aku tahu, biar aku yang urus mereka,” jawab Naomi tenang.

Kania menyeringai, mengira Naomi akan kembali tunduk. Namun detik berikutnya Naomi mengambil sendok kuah panas dan tanpa ragu menyiramkannya ke arah kepala Kania.

Byur!

“Ahhh!” Kania menjerit keras, mundur beberapa langkah.

Belum selesai, Naomi mengangkat wadah hot pot kecil dan dengan gerakan tegas menumpahkannya ke arah paper bag dan pakaian belanjaan Kania serta ibunya.

Kuah panas membasahi tas-tas mahal itu.

Jeritan histeris terdengar.

“Apa yang kau lakukan?!” teriak ibu Kania.

Naomi berdiri perlahan. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya tajam.

“Ini balasan untuk kalian,” ujarnya datar. “Kalian bukan majikanku. Jika ingin barang diangkat, carilah pembantu. Atau jangan-jangan kalian memang tidak mampu?” ejek Naomi tajam.

Kania menatapnya dengan wajah merah dan rambut berantakan.

Naomi mengeluarkan segepok uang dan meletakkannya di meja.

“Untuk mengganti kerugian restoran,” ujarnya pada pelayan yang kebetulan ada di dekatnya.

Ia menoleh pada sahabat-sahabatnya. “Kita pindah saja. Di sini ada banyak kuman.”

Sonya tersenyum lebar. “Setuju.”

Yura berdiri sambil mengangkat tasnya. “Udara di sini mendadak tidak sehat.”

Timmy ikut berdiri. Sebelum pergi, ia mengambil segelas jus dingin dan menyiramkannya ke arah Kania.

“Biar hatimu dingin kembali. Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!” ujarnya sambil tertawa ringan.

Keempatnya berjalan keluar restoran dengan tenang, meninggalkan Kania, ibu, dan kakaknya yang basah kuyup dan menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung.

*

Begitu mereka cukup jauh dari restoran, tawa Sonya akhirnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.

“Naomi … sungguh, aku hampir tidak percaya tadi itu kamu,” katanya sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.

Yura ikut tertawa kecil, namun tatapannya penuh kekaguman.

“Kamu benar-benar berubah. Dan jujur saja, aku menyukai perubahan itu.”

Timmy berjalan mundur beberapa langkah agar bisa menghadap Naomi.

“Bukan hanya berubah. Kamu sekarang seperti… versi yang sudah tidak mau diinjak lagi.”

Naomi menatap mereka satu per satu. Wajahnya tidak lagi setegang tadi, tetapi ada ketegasan yang jelas terlihat di matanya.

“Aku sudah mati sekali,” ucapnya tenang.

Langkah mereka sedikit melambat.

Naomi melanjutkan dengan suara rendah namun mantap, “Aku sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya. Dikhianati, direndahkan, dianggap tidak berarti. Aku tidak akan mau mati untuk kedua kalinya.”

Tidak ada nada dramatis dalam suaranya. Hanya kepastian.

Yura mengangguk pelan. “Kamu benar.”

Sonya menatap Naomi dengan serius. “Kamu benar-benar memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan.”

Timmy menyeringai kecil, tetapi kali ini tanpa candaan. “Tidak semua orang mendapat kesempatan kedua. Dan tidak semua orang cukup berani untuk menggunakannya.”

Naomi tersenyum tipis. “Kesempatan itu tidak akan berarti jika aku tetap menjadi orang yang sama.”

Yura menyentuh lengan Naomi dengan lembut. “Dan kamu sudah bukan orang yang sama.”

Sonya menambahkan, “Kami bangga padamu.”

Timmy mengangkat tangan seperti memberi sumpah. “Dan mulai sekarang, kalau ada yang mencoba menginjakmu lagi, mereka akan berhadapan dengan kami juga.”

Naomi menatap ketiga sahabatnya. Untuk sesaat, ketegasan di matanya berubah menjadi kehangatan.

“Terima kasih,” katany.

1
personal taste
ya eyalahhh
Si Topik
Good Ending.. semua sudah menemukan kebahagiaan 😊
beberapa pergi dg penyesalan dan maaf, dan ada yg berakhir dg ending yg buruk 🙂
Si Topik
aku ngebayangin nya peradaban semi-futuristik
dunia yg baru, kehidupan baru, dan tantangan yg juga baru ☺️
Si Topik
alam mempunyai cara nya sendiri tuk pulih ☺️
Nining Chili
👍
Si Topik
asli, butterfly effect itu Fenomena mengerikan 🥲
kita tidak bisa menebak hal kecil yg keliatan nya sepele, bisa menjadi efek besar dimasa mendatang 🥲🥲
Si Topik
astaga, aku sampai lupa soal kiamat es nya euyy :"-V

ternyata ini gejala awalnya, ku kira lah serangan musuh 😭
Si Topik
Maxim : Tuhan, kalau dia jodoh orang, buatlah orang itu aku ya Tuhan 😭
Husna
heiii... ini bisa kita siapkan dr sekarang....
denger-denger world war 3 bentar lagi walaupun Indonesia katanya tdk masuk sasaran tp pasti kena dampaknya jg...

5 poin ini bisa kita aplikasikan di dunia nyata loh, bisa mulai dr sekarang
Si Topik
yang kata nya sejak Piyik di didik bisnis? nyata nya kosong, sama kek isi kepala nya, kosong 😂😂
tau nya menghamburkan uang, selamat menumpuk hutang Viviane wkwkwk 😂
Si Topik
semoga Naomi tidak luluh dan tidak kembali dg keluarga durjana ini 😐

memaafkan mungkin, tapi untuk kembali, Big No ☺️
Si Topik
penyesalan mah emang selalu belakangan, klo diawal nama nya pendaftaran :-v
Si Topik
wkwkwk kau tidak bisa mengalahkan orang tua sepuh yg kenyang dg berbagai asam garam pengalaman biawak 😂
Si Topik
Yeeeyyy Mamah Arumi mulai memancing awkwkwk 😂😂
Si Topik
biasa nya orang kek gini mesti dipancing dulu biar ketar ketir 🙂
Si Topik
awokwokwok koplak emang 😂😂
Si Topik
nangkep elu lah Tim, apalagi wkwk 😂
Si Topik
apa yg terjadi yaa kalo Volkov tau keterlambatan nya karena ulah Timmy dan bestie2 nya wkwkwk 😂
Si Topik
owalahhh.. maka nya kata si asisten di awal " tuan ingin penyelidikan tidak diketahui Nona Cecilia? "

ternyata oh ternyata ada udang dibalik bakwan ☺️
Si Topik
nama nya penyelidikan ya kali di umbar2 bjirr, tentu dilakukan dgn senyap tanpa terendus :"-v
yakali mau menyelidiki suatu individu, diberi info dulu
Si A : " heeii si B, aku mau menyelidiki kamu.. hati hati yaa "

si B : hohoo baiklah ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!