Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Menentukan
Langit Jakarta mendung ketika Ragnar melangkah masuk ke sebuah kafe klasik di kawasan Menteng. Tempat itu menyimpan banyak kenangan—terutama kenangan yang kini ingin ia akhiri.
Clara sudah duduk di sudut ruangan, mengenakan blazer krem dengan rambut pirang tergerai rapi. Wajahnya tetap cantik seperti dulu, tapi sorot matanya kini berbeda. Lebih tajam. Lebih penuh perhitungan.
“Kamu datang juga,” ucap Clara pelan.
“Aku memang berniat datang,” jawab Ragnar tenang.
Tak ada senyum hangat. Tak ada sapaan penuh nostalgia. Hanya dua orang dewasa dengan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
“Aku langsung saja,” Clara menyilangkan tangan. “Ayahku kecewa. Proyek Rotterdam bisa batal kalau kamu menikah dengan gadis itu.”
“Namanya Yasmin,” potong Ragnar.
Clara terdiam sejenak, lalu mengangguk tipis. “Baik. Yasmin.”
Ragnar menatap Clara dengan tatapan lurus. “Aku tidak pernah setuju dengan perjanjian itu.”
“Kamu tidak menolaknya juga waktu itu,” balas Clara cepat.
“Karena waktu itu aku belum mengenal Islam. Aku belum mengenal diriku sendiri.”
Kalimat itu membuat Clara tersenyum pahit. “Jadi semua tahun-tahun kita bersama tidak berarti?”
Ragnar menunduk sebentar. “Berarti. Tapi tidak cukup untuk membuatku mengorbankan keyakinanku.”
Keheningan menggantung di antara mereka.
“Apa kamu mencintainya?” Clara bertanya pelan.
Pertanyaan itu sederhana, tapi berat.
Ragnar terdiam beberapa detik. “Aku belum mengenalnya lama. Tapi aku melihat ketenangan bersamanya. Aku melihat arah yang jelas.”
Clara tertawa kecil, getir. “Ketenangan tidak membayar tagihan, Ragnar.”
“Iman tidak diukur dengan angka,” jawabnya mantap.
Clara menatapnya lama. Ada luka di matanya—luka yang mungkin belum benar-benar sembuh sejak Ragnar memilih menjadi mualaf.
“Ayahku tidak akan diam,” ucap Clara akhirnya. “Jika kamu memutuskan ini, kerja sama kita selesai.”
Ragnar mengangguk. “Kalau itu harga yang harus dibayar, aku siap.”
Clara bangkit dari kursinya. “Kamu berubah.”
Ragnar tersenyum tipis. “Aku berharap begitu.”
Perempuan itu pergi tanpa menoleh lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Ragnar merasa benar-benar bebas.
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin sedang mengajar anak-anak mengaji ketika pikirannya melayang. Huruf-huruf hijaiyah yang biasa terasa ringan kini seperti kabur di hadapannya.
Ia teringat kata-kata Clara.
“Pilihan bisa menghancurkan banyak orang.”
Selesai mengajar, Yasmin duduk di tangga masjid kecil. Sahabatnya, Siti, menghampiri.
“Kamu kelihatan capek,” kata Siti lembut.
Yasmin tersenyum tipis. “Cuma banyak pikiran.”
Siti duduk di sampingnya. “Tentang calon itu?”
Yasmin mengangguk pelan.
“Min, kamu takut apa sebenarnya?”
Yasmin terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Takut tidak sepadan. Takut jadi beban. Takut tidak bisa mengikuti dunianya.”
Siti menggenggam tangannya. “Kalau dia benar-benar ingin kamu, dia pasti sudah mempertimbangkan semuanya.”
Yasmin menghela napas. “Tapi kalau karena aku keluarganya rugi besar?”
Siti tersenyum bijak. “Rezeki bukan cuma lewat satu pintu.”
Kalimat itu seperti penguat kecil di tengah badai.
________________________________________
Sementara itu, di rumah besar keluarga Ragnar, suasana memanas.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak ayahnya ketika Ragnar menyampaikan hasil pertemuan dengan Clara.
“Aku hanya mengakhiri sesuatu yang memang tidak pernah aku setujui.”
“Kau tahu berapa nilai proyek itu?”
“Lebih kecil dari nilai prinsipku,” jawab Ragnar tenang.
Ayahnya berdiri dengan wajah merah. “Kau egois!”
Ragnar menatapnya tanpa gentar. “Egois karena ingin memilih jalan hidup sendiri?”
Ibunya masuk ke ruangan, mencoba menenangkan.
“Sudah cukup,” katanya tegas. “Biarkan dia bertanggung jawab atas pilihannya.”
Ayahnya terdiam, napasnya berat. “Kalau perusahaan ini goyah, jangan salahkan aku.”
Ragnar tahu ancaman itu bukan sekadar kata-kata.
Namun anehnya, ia merasa lebih ringan.
________________________________________
Malam itu, Ragnar menelepon Yasmin lagi.
“Aku sudah bertemu Clara,” katanya.
Yasmin memejamkan mata. “Dan?”
“Aku mengakhiri semuanya.”
Hening beberapa detik.
“Apa dampaknya?” Yasmin bertanya pelan.
“Kerja sama bisnis kemungkinan besar batal.”
Yasmin menggigit bibir. “Ragnar…”
“Aku tidak ingin kamu merasa bersalah,” potongnya lembut. “Ini keputusanku.”
“Tapi aku bagian dari keputusan itu.”
“Bukan. Kamu bukan penyebabnya. Kamu hanya alasan kenapa aku berani memilih.”
Air mata Yasmin jatuh tanpa ia sadari.
“Kenapa kamu begitu yakin?” tanyanya.
Ragnar menatap langit malam Jakarta. “Karena aku pernah hidup tanpa arah. Dan aku tidak ingin kembali ke sana.”
Yasmin terdiam, merasakan ketulusan dalam suaranya.
“Tapi jalannya tidak akan mudah,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Perbedaan budaya kita besar.”
“Aku tahu.”
“Keluargamu belum tentu menerima sepenuhnya.”
“Aku juga tahu.”
“Dan aku masih banyak kurangnya.”
Ragnar tersenyum. “Kita sama-sama belajar.”
Keheningan kali ini terasa hangat.
________________________________________
Namun badai belum selesai.
Keesokan harinya, berita mengejutkan muncul di media bisnis: keluarga Van Der Meer menarik investasi dari perusahaan Ragnar.
Saham perusahaan langsung turun.
Telepon di kantor berdering tanpa henti.
Tekanan datang dari berbagai arah.
Beberapa direksi mulai mempertanyakan kepemimpinan Ragnar sebagai calon penerus.
“Apa semua ini karena keputusan pribadimu?” tanya salah satu komisaris dalam rapat darurat.
Ragnar berdiri dengan tenang.
“Keputusan bisnis tidak boleh bergantung pada rencana pernikahan,” katanya tegas. “Jika kerja sama kita hanya kuat karena perjanjian keluarga, maka itu bukan fondasi yang sehat.”
Beberapa wajah terlihat tidak puas.
Namun di dalam dirinya, Ragnar tahu ia tidak bisa mundur lagi.
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin membaca berita itu dari ponsel Siti.
Dadanya terasa sesak.
Ini baru permulaan.
Ia sadar, jika mereka melanjutkan, tekanan akan semakin besar. Mungkin hinaan. Mungkin fitnah. Mungkin penolakan terbuka.
Dan untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar takut tidak sepadan.
Apakah ia cukup kuat menjadi istri seorang pria yang hidupnya dikelilingi badai seperti ini?
Sementara Ragnar, di tengah rapat yang penuh ketegangan, tiba-tiba teringat wajah Yasmin saat tersenyum malu-malu di beranda rumah kayu.
Sederhana.
Tenang.
Seperti rumah yang ingin ia bangun.
Namun untuk sampai ke sana, ia harus melewati ombak yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia hadapi.
Dan pertanyaan terbesar kini bukan lagi tentang Clara.
Melainkan:
Apakah Yasmin akan tetap berdiri di sisinya ketika dunia mulai berbalik melawannya?