NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

"Ning?"

"Siapa dia? Kenapa dadaku terasa nyeri setiap kali melihatnya?"

"Kenapa kepala terasa sakit setiap kali mengingatnya?"

Setiap kali bayangan wajah itu muncul, Ridho menahannya dengan kesibukan, kerja lebih lama, pulang lebih malam, berbicara seperlunya.

"Mas? Kamu kenapa sih?" tanya Dewi yang memperhatikan perubahan itu, Istrinya tak bodoh.

"Capek," jawab Ridho yang mulai merasa Dewi hanya penganggu. Entah kemana perasaan yang katanya cinta itu pergi. Atau memang tak pernah benar-benar ada.

"Benar hanya capek?" tanya Dewi memastikan seraya menyentuh lengan suaminya.

"Hemm."

"Aku pijit ya, Mas?" tawarnya lagi.

"Aku mau istirahat, Wi."

Dan Dewi, entah karena lelah atau percaya, memilih tak menggali.

Di sela-sela malam yang sunyi, Ridho mulai mencari tahu. Pelan-pelan. Diam-diam. Ia mengetik nama itu di ponselnya.

 Ning.

Lalu menghapusnya, lalu mengetiknya lagi. Ia membuka media sosial, menutupnya, membuka arsip lama kantor, bertanya tanpa bertanya. Tak ada hasil yang utuh. Hanya serpih, foto kegiatan sosial di sebuah desa pinggir kota, potongan komentar lama, satu dua nama yang terasa familier tapi tak punya wajah.

Yang lebih sering datang justru bayangan.

Ning duduk di bangku kayu, menunduk, jemarinya menggenggam ujung gamis. Ning tertawa kecil, menutup mulut, seolah takut suaranya mengganggu dunia. Ning menangis tanpa suara, pundaknya gemetar, kruknya tergeletak di lantai.

Setiap bayangan datang, kepala Ridho ikut menjerit.

Ia mulai minum obat pereda nyeri lebih sering dari seharusnya. Ia tahu itu bukan solusi, tapi setidaknya memberi jeda, memberi jarak antara dirinya dan wajah yang terus mengejar.

****

Hari itu pasar ramai.

Ridho sebenarnya tak berniat ke sana. Ia hanya ingin menghindari jalan besar yang macet dan memilih memutar. Namun suara pedagang, bau rempah, dan warna-warni kain membuatnya melambat. Ia memarkir mobil, turun sebentar, berniat membeli sesuatu yang tak ia butuhkan.

Dan di antara kerumunan itulah ia melihatnya.

Ning.

Berjalan pelan, kruknya menjejak tanah dengan ritme yang sama seperti dalam ingatannya.

Tok. Tok.

Ridho membeku. Pasar seakan menjauh, suara-suara melebur jadi dengung panjang. Ning mengenakan jilbab polos, wajahnya lebih cabby dari bayangan yang sering datang, tapi tak salah lagi. Ia membawa tas kain sederhana, matanya berbinar, bibirnya melekuk senyum saat bicara dengan salah satu pedagang yang dia tawar harganya.

"Ning," panggil Ridho, suaranya keluar tanpa rencana.

Ning menoleh. Sekejap. Lalu wajahnya berubah, terkejut, tegang, seperti seseorang yang tertangkap basah oleh masa lalu.

"Oh," katanya pelan. "Mas… Ridho."

Sapaan itu menusuk. Kepala Ridho berdenyut keras, membuatnya harus memejamkan mata sejenak.

"Kamu… belanja?" Ridho mencoba basa-basi, suaranya terdengar jauh di telinganya sendiri.

Ning mengangguk cepat. "Iya. Maaf, aku lagi buru-buru."

Ia berusaha melangkah pergi, tapi Ridho refleks mengikuti satu langkah di belakangnya.

"Sebentar," ucap Ridho. "Kita bisa ngobrol?"

Ning berhenti. Tangannya mengencang di pegangan kruk. "Apa yang mau diobrolkan, Mas? Enggak ada. Kita enggak sedekat itu..."

Kalimat itu belum selesai ketika dunia Ridho kembali berguncang. Nyeri menghantam kepalanya, membuat pandangannya berkunang-kunang. Ia terhuyung, tangannya meraih udara.

"Aakkkhhh!" rintih Ridho.

"Mas!" Ning refleks memegang lengannya.

Sentuhan itu seperti sakelar.

Ridho tersentak, napasnya tersengal. Pasar berputar, lalu meredup. Ia merasakan lututnya melemah.

"Mas Ridho, kamu kenapa?" Ning panik. Wajahnya pucat, matanya penuh cemas yang tak dibuat-buat.

"Kepala… ku..." Ridho berusaha bicara, tapi suaranya pecah.

"Kepala? Apa jangan-jangan..."

Ning menoleh ke sekitar, mencari bantuan. "Pak! Bajaj! Tolong!"

Seorang pengemudi mendekat.

"Ada apa ini, Mbak?"

"Pak, tolong antar ke rumah sakit dekat sini, dia kesakitan," jelas Ning cepat, membantu Ridho duduk. Tanpa banyak tanya, mereka melaju menuju rumah sakit terdekat. Ning duduk di sampingnya, satu tangan menahan Ridho agar tak terjatuh, satu lagi menggenggam kruknya sendiri.

"Bertahan, Mas. Bentar lagi sampai rumah sakit," katanya pelan.

Ridho menutup mata. Dalam gelap, potongan-potongan itu kembali... lebih tajam, lebih dekat.

Ia melihat dirinya sendiri tersenyum pada Ning. Mendengar suaranya berkata, "Saya... Melamar Ning untuk jadi istri saya". Melihat Ning menunduk, air mata jatuh ke punggung tangannya. Merasakan janji yang diucapkan dengan sungguh-sungguh.

Dadanya sesak.

Di ruang IGD, lampu putih menyilaukan. Dokter memeriksa cepat. Ning hendak pergi, namun tangan Ridho sudah menahannya.

"Jangan pergi!"

Ning menatapnya sendu, sedang Ridho memohon.

"Mbaknya, teman atau keluarga?" tanya perawat.

Ning ragu. "Teman," jawabnya akhirnya.

Setelah obat diberikan dan kondisi Ridho stabil, dokter menyarankan istirahat dan pemeriksaan lanjutan. Ning mengangguk, mencatat instruksi dengan teliti.

"Mas, aku harus pergi," katanya pelan saat ruang itu mulai sepi.

Ridho membuka mata. Tangannya masih menahan pergelangan Ning. Genggamannya lemah, tapi penuh permintaan.

"Jangan," katanya serak.

Ning terdiam. Wajahnya bimbang, matanya berkaca-kaca. "Mas, aku akan telpon ibu atau istri Mas Ridho. Biar mereka yang temani Mas di sini."

Ridho menggeleng.

"Sebentar saja," Ridho memohon. "Aku… masih ingin kamu di sini. Aku takut, jika kamu pergi, kamu mungkin tak akan kembali."

Kata itu membuat Ning runtuh sedikit. Ia tatap lelaki yang pernah ada di hatinya.

"Aku tak tau kenapa bisa punya perasaan seperti ini padamu. Apa kamu bisa jelaskan? Kenapa hatiku terasa nyeri dan bungah setiap kali melihatmu? Kenapa aku begitu... Menginginkanmu ada di sisiku?"

Ning menunduk. Ridho menelan ludah susah, tenggorokannya terasa kering sekarang. Ia tak bisa meminta kebenaran dari orang lain, tapi dari Ning. Ia merasa bisa percaya.

Ning membuka mulut hendak berucap. Tapi, suara ponselnya bergetar di tas. Ia mengabaikannya. Bergetar lagi. Ia raih benda itu dari tasnya.

Nama di layar membuat jantungnya mencelos.

Mas Yuda.

Ning menutup mata sejenak. Ia menatap Ridho. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

1
Rebecca Jaimin
aku cari ternyata dia masih perawan ngk ada tuh
Rebecca Jaimin
karya yang hebat..mengajar apa itu keredhaan,kemaafan dan keikhlasan serta keindahan didalam semuanya itu..teruskan berkarya yg mampu membuka mata hati nurani..moga kita hidup tidak didasari dgn kepahitan masa lalu,tapi menjadikan teladan dn pengalaman di titi usia untuk menjadi insin yg lebih baik dari kemarin,lebih dewasa hari ini untuk hari ini dan dewasa memotivasikan hari esok..
Marina Tarigan
semoga jgn yg nya lina lqqmembenci ningsih Dewi Ranu dan nenek
Marina Tarigan
lanjut yg tetbsik bagi mereka ksrena sdh kedal dipertengahan jln deh
Marina Tarigan
keyemu kuntilanak cantik. hi hi hiii aku cinta kamu zRanu jgn istri juda pantang kualat kamu nanti Ningsih juga ngeri dan jijik melihatmu . bagus pak Deni anakmu tdk normal
Marina Tarigan
rRanu lesong alias gila alias bodoh mencintai istri orang sadarlah tuan kamu tdk laku ya cinta sm idtri orang ningsih taat agama dia bukan jalang tolol kamu mau hancurkan keluargamu sendiri
Marina Tarigan
ranu gila ys dia sakitin yg di tabrak sampai pincang kamu perlu dijebloskan kepenjsra tanpa bertanggung jswab apapun sm korban tabrskanmu otakmu kemana larinya tolol
Marina Tarigan
la jut ceritanya
Marina Tarigan
lanjutkan semoga semua stroke kecuali ningdih
Marina Tarigan
ya elah Ranu sdh iistrimu pun bisa pisah diambil orang ini kamu tabrak dia menferita tdk punya kuasa pincang tdk punya dans berobat dlm segi apapun tdk afa hakmu persoalkan itu juds menjsga dan merswat sampai operadi juga srmbuh total tdk ada sedikitpun jasamu di tubuh ningsinh berpikir jernih lah demi ketenanganmu ningsih bukan barang bisa diofer sesuma hatimu Arun aneh otakmu
Marina Tarigan
salon ning akan berkembang jgn saling merebut harta kalau orang tuamu tdk bijak biarkan saja tinggalkan semua juga ibumu itu yg tdk tegas sejal awsl doa hanya mikirkan Arun bukan rmh tgha mu
Marina Tarigan
bagus tak usah punya saudara begitu ning nukan pacarmu Ranu gomans sekarang ibu zaanggun radakan akibst perbuatsnmu itu anakmu akan saling menghancurkan
Marina Tarigan
biadap kamu Ranu awal kehancuran keluargamu Anggun
Marina Tarigan
salahkan ibumu tdk berterus terang terus maksa ningsih terus bantu therapimu tuan kelusrgamu tdk punya adab ya kalau adst kami ssngst pantang dekat sm ipsr sendiri apalagi sempst pegang apapun ceritanya mknya sussh dekat sama orang tdl punya adsb khusus ibumu dua2 anaknya tetluka korban ningsih jgn mau lagi ningsih biadap mertuamu itu
Marina Tarigan
pindsh saja Ning sm suamimu ke Salon kalian Ranu tdk tahu ning idtri juda ibu Anggun cari masallah
Marina Tarigan
keluarga kaya raya tapi punya ibu biadap jgn2 anakmu berdua saling membunuh aru tahu rasa dan ning kembali pd ridho karena merema saling mencintai dulu
Marina Tarigan
mama anggun tfk benar seorang ibu wataknya menyakiti anak sendiri Ranu belum tahu Ning istri juda fan dulupun ning bukan pacar Ranu dia merasa bersalah karena menabrkaknya dia mencari diA tdk ning istri adiknya juda apa ibu mau menghilir ning ke anak ibu berdua ning bukan barang ibu apa mau ning punya dua suami atau ibu
Marina Tarigan
ning kan bukan pacar Ranu Ning istrimu biadap sia2 kamu pintar dan masa sangsi sm Ranu dan ning bukan barang tak ada masallah apapun ningsih idyrimu atau kamu mau sm zDewi cerita aneh
Marina Tarigan
ning kan sdj fisayang sangat dinikahi juda dan ning sdh dioperasi hingga mormal kembali pikiran keluarga ini kok picik kali
Marina Tarigan
kepoĺosanmu ning bisa bawa petala pd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!