NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pintu IGD ditutupnya pelan, nyaris tanpa suara. Begitu berada di lorong, Omar langsung menekan layar ponselnya. Jarinya bergerak cepat, menekan nomor yang sudah tersimpan. Lalu panggilan itu terangkat.

“Cari semua informasi tentang Radit,” ucap Omar tanpa basa-basi, suaranya rendah dan tegas. “Latar belakangnya, pekerjaannya, hubungannya dengan Arsy, dan terutama perempuan yang terlibat dalam perselingkuhan itu. Aku mau semuanya. Tidak ada yang tertinggal.”

Di ujung sana, suara samar terdengar mengiyakan.

“Lakukan secepat mungkin,” lanjut Omar. “Ini perintah langsung dari Tuan Syakil.”

Beberapa saat kemudian panggilan telepon pun berakhir. Omar menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya terlihat serius, matanya terlihat tajam. Dalam hati, ia tahu, begitu Tuan Syakil bergerak, tidak akan ada jalan untuk kembali. Dan lelaki bernama Radit itu baru saja masuk ke dalam masalah besar.

Sementara itu, di dalam ruang IGD, suasana kembali hening. Tangan pak Rahman bergerak sedikit, seolah mencari pegangan. Tanpa ragu, Syakil meraih tangan itu dan menggenggamnya dengan lembut namun mantap.

“Pak…” ucap Syakil pelan. “Bapak harus tenang. Jangan memaksakan diri.”

Pak Rahman tersenyum lemah. Senyum yang membuat hati Syakil terasa perih.

“Aku sudah tua, Nak,” katanya lirih. “Dan aku bisa merasakan kalau waktuku tidak akan lama lagi.”

“Jangan bicara seperti itu, Pak,” potong Syakil cepat, suaranya terdengar lebih tegas dari yang ia maksudkan. “Bapak pasti bisa sembuh. Arsy masih membutuhkan Bapak.”

Pak Rahman menggeleng pelan.

“Justru karena itulah aku merasa takut,” ucapnya. “Aku takut meninggalkan Arsy sendirian di dunia ini.”

Kalimat itu membuat dada Syakil mengencang. Tangannya menggenggam tangan Pak Rahman sedikit lebih erat. “Arsy adalah anak yang kuat,” lanjut Pak Rahman dengan suara bergetar. “Tapi sekuat apa pun seseorang, tetap tidak seharusnya menjalani hidup sendirian. Terutama setelah apa yang ia alami.”

Syakil terdiam. Matanya tanpa sadar melirik ke arah sofa panjang di sudut ruangan, tempat dimana Arsy tertidur pulas dengan jasnya yang menyelimuti tubuhnya. Wajah perempuan itu terlihat lebih damai dalam tidur, namun Syakil tahu kalau kedamaian itu terlihat rapuh. Sangat rapuh.

“Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian,” ucap Pak Rahman lagi. “Aku tidak tahu siapa yang akan menjaga Arsy setelah aku pergi.”

Kata pergi itu menggema di kepala Syakil.

Ia menelan ludah. Ada dorongan kuat dalam dirinya. Dorongan yang selama ini ia tahan, ia simpan, ia kubur dalam-dalam. Tapi di hadapan ayah Arsy, di hadapan ketakutan seorang ayah yang merasa ajalnya sudah dekat, Syakil tahu kalau ia tidak bisa lagi diam.

“Pak,” ucap Syakil akhirnya. Suaranya terdengar lebih mantap, meski hatinya berdegup kencang. “Saya tidak tahu apakah saya pantas mengatakan ini sekarang atau tidak.”

Pak Rahman menatapnya.

“Tapi satu hal yang pasti,” lanjut Syakil. “Bapak tidak perlu mengkhawatirkan soal Arsy yang sendirian di dunia ini.”

Pak Rahman terdiam. Alisnya berkerut sedikit, seolah mencoba memahami maksud Syakil.

“Kenapa?” tanyanya lirih dan membuat Syakil menarik napas dalam-dalam. Tangannya masih menggenggam tangan Pak Rahman yang kini terasa sedikit lembap oleh keringat. Namun ia tidak melepaskannya.

“Karena saya mencintai Arsy, Pak.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur dan tanpa ragu sedikitpun. Pak Rahman membelalakkan matanya sedikit, jelas terkejut dengan pengakuan Syakil. Napasnya tersendat.

“Kamu mencintai Arsy?” suaranya nyaris tak terdengar.

“Saya sudah mencintainya sejak lama, pak.” lanjut Syakil. “Sejak kami masih sekolah. Tapi saya tidak pernah memberitahu Arsy. Setelah lulus SMA, saya ikut orang tua saya pindah ke Kairo. Dan itu adalah penyesalan terbesar dalam hidup saya.” Syakil menghela napas panjang, matanya terasa panas. “Saat saya kembali dan melihat Arsy lagi hari ini, melihatnya hancur, sendirian, dan menahan semua rasa sakitnya sendiri…” suara Syakil bergetar. “Saya sadar, Pak. Saya tidak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya.”

Pak Rahman menatap Syakil cukup lama. Tatapan pak Rahman terlihat dalam, penuh pertanyaan, dan penilaian seorang ayah.

“Kamu tahu,” ucap Pak Rahman pelan, “Arsy baru saja dikhianati. Hatinya hancur. Kepercayaannya runtuh.”

“Saya tahu,” jawab Syakil tanpa ragu. “Dan justru karena itu, saya ingin berada di sisinya. Bukan untuk memaksa, bukan untuk menuntut. Tapi untuk menjaga dan mencintainya.” Syakil menunduk sedikit, suaranya kini lebih rendah dan tulus. “Saya ingin menikahi Arsy, Pak,” ucapnya. “Jika suatu hari nanti dia bersedia. Jika hatinya sudah siap.”

Pak Rahman terdiam lama. Dadanya naik turun pelan. Air matanya kembali menggenang.

“Apakah kamu benar-benar sangat mencintainya?” tanya Pak Rahman lirih yang membuat Syakil mengangguk tanpa ragu.

“Lebih dari apa pun,” jawabnya. “Dan saya berjanji, Pak. Selama saya hidup, saya akan melakukan apa pun untuk membuat Arsy bahagia. Saya akan menjaganya. Melindunginya. Dan tidak akan pernah menyakitinya seperti yang orang lain lakukan.”

Suasana di antara mereka kembali hening. Hanya suara mesin monitor jantung yang terdengar pelan, berdetak pelan namun stabil.

Pak Rahman memejamkan matanya perlahan. Air matanya jatuh, kali ini bukan hanya karena kesedihan—melainkan juga karena sedikit kelegaan. Tangannya menggenggam tangan Syakil, lebih erat dari sebelumnya.

“Kalau memang itu niatmu…” ucap pak Rahman dengan suaranya yang nyaris berbisik. “Tolong jaga Arsy, Nak. Jangan pernah sekali-kali kau menyakiti hatinya.”

Syakil menunduk lebih dalam. Dadanya terasa penuh oleh emosi yang sulit dijelaskan.

“Saya bersumpah, Pak,” jawabnya mantap. “Saya akan menjaga Arsy dengan baik. Selalu.”

Pak Rahman masih menggenggam tangan Syakil ketika napasnya mulai sedikit lebih tenang. Matanya terpejam, namun wajahnya tidak lagi setegang sebelumnya. Ada ketenangan tipis yang perlahan menggeser kecemasan di raut wajahnya. Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu Pak Rahman membuka matanya kembali dan menatap Syakil dengan sorot mata yang berbeda. Tidak lagi sekadar ketakutan seorang ayah yang cemas akan masa depan putrinya, melainkan sorot mata seseorang yang baru saja menemukan secercah harapan.

“Nak…” ucapnya pelan yang membuat Syakil segera mendekat sedikit.

“Iya, Pak?”

Pak Rahman menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan sesuatu yang penting.

“Besok pagi,” katanya lirih namun tegas. “Aku akan bicara dengan Arsy.”

Jantung Syakil berdegup lebih kencang.

“Maksud Bapak?” tanya Syakil hati-hati, meski di dalam dadanya sudah tumbuh rasa berdebar yang sulit ia sembunyikan.

“Aku akan meminta Arsy untuk mempertimbangkan menikah denganmu,” lanjut Pak Rahman. “Bukan untuk memaksa. Tapi sebagai seorang ayah aku ingin memastikan dia tahu bahwa ada laki-laki yang tulus mencintainya. Laki-laki yang siap bertanggung jawab atas hidupnya.”

Syakil terdiam beberapa detik. Rasanya seperti ada sesuatu yang hangat sekaligus menyesakkan di dadanya. Ia tidak menyangka Pak Rahman akan mengambil langkah sejauh itu.

“Pak…” suara Syakil terdengar pelan. “Saya—”

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!