NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku Cerita untuk Andini

"Tenang, Mbak. Tarik napas.... keluarkan."

"Tenang, ya. Jangan panik!"

Rini memberikan instruksi pada pasien wanita yang tidak didampingi suaminya, malah ditemani Arga yang kini bernasib kurang beruntung.

"Yuk, bisa yuk! Coba ngeden lagi."

Em... Ah...

"Bu bidan, sakit sekali!" rintih wanita yang sudah berbaring di ranjang persalinan.

Beberapa detik yang lalu, Arga dan Ruslan langsung mengangkat tubuh ibu hamil itu dan membawanya ke ruangan khusus bersalin. Namun, saat akan ditinggal, tangan Arga di cengkram kuat.

Wanita itu menjadikannya sebagai pegangan.

Arga hanya bisa memejamkan mata, pasrah. Membiarkan tangannya terluka akibat kuku jari yang menancap.

"Ayo, Bu. Bismillahirrahmanirrahim dulu," kata Arga berusaha memberi semangat, meskipun dia sendiri sudah berkeringat dingin, kembali diingatkan saat-saat Nadira akan melahirkan Andini.

Dulu, bukannya menemani Nadira melahirkan, ia malah menangis tak berdaya di ambang pintu, menyaksikan wanita itu berjuang mempertaruhkan nyawa demi memberikan dia gelar seorang ayah.

"Eeeeu!"

Wanita itu kembali mengejan, tangannya bergerak liar, kini mencengkram kerah baju Arga. Namun, pria itu sepertinya sudah dalam mode pasrah.

"Ayo, Mbak. Kepalanya sudah kelihatan. Dorong lagi, yuk!" Kembali Rini memberi instruksi.

Dan, satu kali lagi mengejan, perasaan plong langsung menyergap wanita tersebut.

"Alhamdulillah... bayinya sudah keluar," kata Rini, tak seberapa lama suara tangisan memenuhi ruangan tersebut.

Tubuh wanita itu terkulai lemas sambil memandang wajah bayinya. Ia merasa lega karena berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.

"Mas Arga. Tolong adzanin, ya," pinta Rini sambil mendekatkan bayi merah itu ke hadapan Arga.

"Kok saya, Rin?" tanya Arga nampak ragu.

"Nggak ada yang lain. Mas Ruslan lagi kerja di luar," sahut Rini semakin mendekatkan bayi itu.

Arga dengan ragu meletakan sebelah tangan di depan kupingnya. Tangan yang lain memegang kepala bayi. Lantunan adzan langsung dikumandangkan.

"Allahu Akbar Allahu Akbar...."

"Terima kasih, Mas. Sekarang, Mas Arga boleh keluar. Maaf merepotkan, ya," ucap Rini sambil terkekeh kecil. Ia merasa iba melihat bagaimana tadi Arga berusaha keras melawan ketakutannya menemani ibu hamil yang bukan istrinya.

Arga segera melesat keluar sambil menghela napas lega. Di luar, Ruslan tertawa kecil melihat wajah pucat dan berkeringat Arga.

"Itu tanda, Mas. Kamu harus kasih Andini adik," goda Ruslan sambil menempelkan adonan semen di tembok.

"Kasih Andini adik gimana, Mas? Istri aja kabur," jawab Arga bergurau. Meskipun hatinya terasa pahit, diingatkan kepergian Nadira.

"Loh, jadi bener Mbak Nadira itu pergi?" tanya Ruslan, dan Arga hanya memberikan anggukan kepala sebagai jawaban.

Ia sudah tidak ingin membahas apapun lagi yang berhubungan dengan Nadira. Pria itu memilih lanjut kerja, sesekali dia berbincang ringan dengan rekannya.

"Mas Arga! Mas Ruslan! Istirahat dulu, ayo!"

Rini memanggil kedua pekerjanya setelah selesai mengurus pasien dan keluarga wanita itu sudah tiba. Dia membawa sirup dingin dan kue kaleng.

Ruslan dan Arga langsung bergerak menghampiri. "Duh, Bu bidan tau aja kalo cuaca panas gini paling enak minum minuman yang dingin," ujar Ruslan memuji sambil menuangkan sirup ke dalam gelas.

Rini tertawa kecil. Sebenarnya dia merasa sungkan dipanggil Bu bidan. Dia merasa masih sangat kecil, jadi tidak ingin di panggil ibu.

"Cuma ada itu di kulkas, Mas. Saya belum belanja lagi."

"Ini juga cukup. Hari ini cuacanya terik. Kasihan Andini, dia pasti pulang kepanasan," gumam Arga langsung teringat putri kecilnya yang pasti sedang dalam perjalanan pulang.

"Nyari motor, Mas. Biar bisa antar jemput Andini. Kasihan juga dia. Apalagi jarak dari rumah ke sekolah jauh," usul Ruslan sambil mengunyah kue.

"Motormu saja, Mas. Biar aku kredit," jawab Arga bergurau.

Tawa Ruslan pecah. "Bisa di kick biniku kalo itu."

"Ayah!"

Baru saja dibicarakan, sosok Andini sudah terlihat berlari mendekat. Gadis itu langsung menghambur ke pelukan Arga dan memberikan kecupan singkat di pipi ayahnya.

"Pulang sama siapa? Kok cepet?" tanya Arga memandang penampilan putrinya yang sudah berantakan.

Kerudungnya malah disampirkan ke pundak dan seragamnya sudah keluar.

"Tadi diajak sama ayahnya Sakila naik motor, Yah. Jadi, Dini nggak perlu jalan kaki," jawab gadis itu penuh semangat.

Ia menyalami tangan Rini dan Ruslan bergantian, setelah itu duduk di pangkuan ayahnya, tak peduli pakaian Arga kotor dengan semen dan pasir.

"Dini sekarang kelas satu, ya?" tanya Rini, mencairkan suasana. Ia menyodorkan segelas sirup pada gadis itu, dan Andini menerimanya dengan senang hati.

"Iya, Bu bidan. Sebentar lagi naik kelas dua. Dini udah nggak sabar pengen lulus sekolah," jawab gadis itu polos.

"Memangnya Dini mau apa setelah lulus sekolah?" tanya Rini menatap Dini dengan tatapan penuh perhatian.

"Dini mau kerja, mau bantuin ayah nyari uang," jawab Dini dengan apa adanya.

Arga tertawa kecil lalu mencubit pipi putrinya. "Kerja apa setelah lulus sekolah SD, Dini? Kamu masih harus sekolah SMP, SMA, kalo perlu, anak ayah harus jadi sarjana."

Dini mengerucutkan bibir sambil menopang dagu. "Ternyata masih lama ya, Ayah. Padahal Dini udah nggak sabar bantu ayah cari uang. Biar ayah nggak kecapean."

Arga mendekat tubuh putrinya erat. "Nyari uang itu udah jadi tugas Ayah. Begitu juga mastiin kamu sekolah tinggi. Makanya Dini sekolahnya harus jujur dan giat, biar Ayah juga semangat cari uangnya."

Andini mengangguk antusias. "Andini bakal semangat, Ayah. Nanti kalo Andini udah selesai sekolah dan kerja, Ayah nggak usah kerja lagi," ujarnya.

Arga tertawa kecil mendengar ucapan putrinya yang kelewat polos. Namun, dia bisa merasakan kasih sayang dari Andini yang begitu tulus dan besar.

"Udah, sekarang kamu fokus belajar aja. Baca juga belum lancar, udah pengen kerja."

Andini membekap mulut. Ia lalu meletakkan jari telunjuk di depan bibir ayahnya. "Ayah jangan keras-keras, Dini malu sama Bidan Rini dan Om Ruslan," bisiknya.

Tawa Ruslan meledak, sementara Rini hanya terkekeh kecil melihat tingkah Andini yang menggemaskan.

"Jadi Andini belum bisa baca?" tanya Rini, sorot matanya berbinar tulus.

Andini mengangguk singkat.

"Bu bidan punya banyak buku cerita di rumah. Kamu mau?" tawar Rini.

Mata Andini berbinar cerah. Ia menoleh pada Arga meminta izin. Setelah mendapatkan anggukan, gadis itu mengangguk ke arah Rini.

"Ayo ikut Bu bidan. Bu bidan punya banyak buku cerita dan dongeng. Andini bisa belajar membaca nanti di rumah."

Rini mengajak Andini masuk ke dalam rumahnya dan menunjukkan sekotak buku cerita bergambar.

"Banyak banget, Bu bidan. Ini semua buat Dini?" tanya Andini malu-malu, khawatir dia hanya dipinjamkan.

"Ambil aja semuanya kalau kamu mau. Tapi, karena banyak, bawa sedikit-sedikit saja. Besok, saat kamu ke sini, kamu bisa ambil lagi sebagian," kata Rini, mengeluarkan satu per satu buku dari kotaknya.

Andini melompat ceria. "Asik! Punya buku baru!" serunya. Ia memeluk beberapa buku cerita dan berlari keluar, menunjukannya pada Arga dengan antusias.

"Ayah, lihat! Bu bidan kasih Dini banyak buku cerita yang bagus. Ada cerita si kancil, kerbau, buaya. Dini suka semua ceritanya, bagus."

Arga tersenyum lebar, lega dan tenang melihat kebahagiaan di wajah putrinya. Tatapannya kemudian beralih pada Rini yang berdiri di depan pintu. Sorot matanya memancarkan rasa terima kasih yang tak terukur.

Rini sendiri hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyuman yang sama.

---

Di tempat lain...

Nadira sudah berada di toko perhiasan bersama Bima. Seharusnya mereka pergi kemarin sore, namun karena terjadi pertikaian, Bima jadi enggan pergi.

"Lihat, Dira. Aku membelikan semua yang kamu inginkan. Jadi, aku harap kamu jangan ngeluh lagi saat aku minta tolong untuk jaga Mama," kata Bima dengan arogansi.

"Mas, kamu punya banyak uang, kenapa nggak pekerjakan perawat?" Nadira membalas dengan pertanyaan. Meksipun dia tunduk dan patuh, tetap saja hatinya jengkel.

"Kalo gitu, kita batal saja beli perhiasan. Uangnya biar aku gunakan buat bayar orang yang akan ngurus Mama," jawab Bima telak.

"Eh, jangan dong. Aku juga kan pengen punya perhiasan. Udah lama banget aku nggak pake emas kayak gini," cegah Nadira.

Ia membeli sepaket perhiasan dan sepasang cincin kawin. "Kalo aku tiba-tiba muncul di hadapan Mas Arga memakai perhiasan seperti ini, dia pasti akan merasa menderita dan iri."

"Jandanya bisa menjadi istri dari pria kaya," batin Nadira sembari memakai satu per satu perhiasannya.

Nadira mengamati pantulan dirinya di depan cermin. Terlihat sangat cantik dan mewah dengan kalung emas yang terlihat mencolok, melingkar di lehernya yang jenjang dan putih.

"Sudah cukup, kan? Jam istirahatku sudah akan habis. Kamu bisa langsung pulang, aku akan kembali ke kantor," ucap Bima merasa tak sabar menemani Nadira yang sejak tadi pilih-pilih perhiasan.

Nadira memutar tubuh, dadanya sedikit membusung merasa kepercayaan dirinya naik. Ia mendekat dan mengusap lengan Bima.

"Mas, aku boleh minta satu hal lagi?" ucapnya manja.

"Apa? Cepatlah!"

"Aku mau hp baru, Mas. Hp lamaku sudah ketinggalan zaman. Yang ini, mau aku berikan saja pada Dini, biar aku bisa berkomunikasi dengan dia tanpa melalui ayahnya."

Wajah Bima mendadak merah padam. Dia menyeringai sinis. "Kamu bisa dapatkan apapun yang kamu mau, Nadira. Tapi, aku ingin kamu memutus semua hubungan dengan masa lalu kamu. Ingat! Keluargaku tau-nya kamu itu gadis yatim piatu."

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!