Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab20
"Aku tidak pernah merencanakan jatuh cinta perasaan itu datang perlahan tanpa tanda ia tumbuh dari hal-hal sederhana yang sering terlewat dan tanpa kusadari hatiku mulai menetap di situ.
DI RUMAH SHERLY
Ponsel berbunyi dengan keras, membuat Ibu Sherly yang sedang merencanakan sesuatu terkejut. Dia menjawab dengan nada yang tetap tenang meskipun matanya menyala dengan kemarahan.
“Siapa yang tidak becus menjalankan tugas saya?!” seru Ibu Sherly saat mendengar kabar kegagalan dari orang yang dia kirimkan. “Aku sudah jelas bilang untuk mengganggu Elona saja, bukan menyakitinya secara fisik! Kalau mereka tidak bisa melakukan apa-apa, aku akan melakukannya sendiri!”
Dia berdiri dan berjalan ke jendela, melihat ke arah jalanan yang mulai sepi. Pikirannya sudah fokus pada satu hal – bagaimana cara untuk membuat Elona hilang dari kehidupan Biru tanpa perlu melakukan kekerasan yang terlalu jelas.
“Jika tidak bisa membuat Elona mundur dengan sendirinya,” gumamnya dengan suara rendah namun penuh ancaman, “maka aku harus membuat neneknya menjadi sasaran. Sudah jelas kan bahwa nenek Elona adalah satu-satunya orang yang dia sayangi dengan sepenuh hati. Kalau neneknya ada masalah, Elona pasti akan terganggu dan tidak bisa fokus lagi pada sekolah atau pekerjaannya.”
Ibu Sherly mengambil buku catatan kecil dan mulai menulis beberapa nama serta alamat. Dia merencanakan untuk mengunjungi pasar tempat nenek Elona berjualan, atau bahkan mengganggu kegiatan neneknya dengan cara yang tidak langsung namun cukup menyakitkan hati.
DI PERJALANAN PULANG DARI CAFE
Mobil Rakai melaju dengan aman di jalanan yang mulai ramai menjelang malam. Elona duduk di sebelahnya dengan wajah yang masih menunjukkan bekas kemerahan di pipinya, namun sudah lebih rileks setelah mendapatkan perawatan di UKS.
“Kamu benar-benar kuat ya Elona,” ujar Rekai dengan suara penuh penghargaan. “Bisa menghadapi semua itu dengan tetap tenang dan tidak mau menyalahkan siapapun.”
Elona hanya tersenyum lembut sambil melihat keluar jendela mobil. “Aku hanya ingin semuanya cepat berakhir saja Kak Rekai. Tidak ingin ada masalah lagi yang menyangkut orang tua atau teman-teman baikku.”
Elona mengangguk perlahan, matanya menunjukkan rasa khawatir yang mendalam. “Aku sudah meminta pada Kak Rekai dan Kak Kalash untuk tidak memberitahu nenek tentang apa yang terjadi hari ini. Aku tidak ingin nenek khawatir atau merasa aku menjadi beban baginya.”
“Sangat benar kamu lakukan itu, Elona,” ujar Rekai dengan suara lembut. “Nenekmu sudah cukup tua dan tidak perlu tahu tentang masalah yang hanya akan membuatnya cemas.”
Mobil akhirnya sampai di depan rumah kecil Elona yang sudah mulai redup cahayanya. Elona membuka pintu mobil dengan hati-hati dan berbalik ke arah Rekai. “Terima kasih sudah mengantar aku setiap hari, Kak Rekai. Tanpamu, aku tidak akan bisa mengurus pekerjaan paruh waktu dan sekolah sekaligus.”
“Tidak apa-apa Elona,” jawab Rekai dengan senyum hangat. “Kamu adalah keluarga bagi aku, kan? Sudah sepantasnya aku menjagamu.”
Sebelum masuk ke rumah, Elona berbalik lagi ke arah Rekai. “Jangan pernah bilang pada nenekku ya tentang apa yang terjadi hari ini. Aku tidak ingin dia khawatir atau merasa aku tidak bisa menjaga diriku sendiri.”
Rekai mengangguk dengan penuh pengertian. “Tentu saja Elona. Aku akan selalu menjagamu dan tidak akan pernah memberitahu sesuatu yang tidak kamu inginkan. Tetapi jika ada sesuatu yang terjadi lagi, jangan pernah menyembunyikannya ya? Aku selalu ada untukmu.”
Elona memberikan senyum hangat sebelum masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat neneknya sudah menunggu di depan pintu dengan wajah yang penuh cinta. “Elona, kamu sudah pulang ya?” tanya neneknya dengan suara lembut.
“Ya Nenek,” jawab Elona dengan senyum yang penuh keceriaan, menyembunyikan semua rasa sakit dan kekhawatiran yang ada di dalam hatinya. “Hari ini aku hanya sedikit lelah karena kegiatan pramuka yang padat.”
Neneknya mengangguk dengan senyum puas. “Baiklah sayang, istirahat yang cukup ya. Besok masih ada kegiatan sekolah kan?”
DI RUANGAN BIRU
Biru duduk di ruang tamu rumahnya dengan wajah yang penuh perjuangan. Ayahnya sedang berdiri di depannya dengan ekspresi yang tegas.
“Kamu harus memahami, Biru,” ujar ayahnya dengan suara yang kuat. “Kita sudah sepakat dengan keluarga Sherly tentang hubunganmu dengan Luna. Ini bukan hanya tentang cinta semata, tapi juga tentang masa depan keluarga kita.”
“Tidak, Ayah!” seru Biru dengan suara yang penuh keyakinan. “Aku tidak akan pernah mau bertunangan dengan Luna jika hatiku tidak menginginkannya! Aku sudah dewasa dan bisa memutuskan sendiri tentang hidupku!”
Ayahnya menghela napas dan menoleh ke arah istri yang sedang berdiri di belakangnya. “Kita hanya ingin kamu bahagia, anak,” ujar ibunya dengan suara lembut. “Tapi jika kamu benar-benar tidak mau, kita tidak akan memaksamu lagi.”
Biru berdiri dengan tegas. “Terima kasih atas pengertianmu, Ayah, Ibu. Tapi aku hanya ingin fokus pada masa depanku sendiri dan tidak ingin terikat dengan sesuatu yang bukan pilihan hatiku.”
Sementara itu, di luar rumahnya, Kalash sedang berdiri dengan Rekai yang baru saja datang. “Kita harus selalu menjaga Elona Rekai? Jangan sampai ada yang terjadi padanya lagi.”
Rekai mengangguk dengan penuh kesetiaan. “Tentu saja, Kalash. Kita akan selalu ada untuknya.”