NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Yang Tidak Punya Pemenang

"Jadi Bapak dan Ibu selama ini tahu apa yang tersembunyi di desa ini?"

Fariz menatap keduanya. Suaranya pelan tapi jelas. Bukan menuduh. Hanya bertanya dengan cara seseorang yang sudah tahu jawabannya tapi tetap perlu mendengar apa yang diucapkan.

"Kamu jangan menuduh bapak dan ibumu seperti itu!" Sucipto memotong cepat. Tangannya mengepal di atas meja.

Hening sebentar.

Fariz menarik napas. "Lalu kenapa Bapak dan Ibu sekarang berubah?"

"Berubah?" Ratna mencoba mengendalikan situasi, suaranya lebih tenang dari Sucipto. "Apa maksudmu berubah?"

"Kenapa Ibu dan Bapak tidak mengizinkanku untuk mendirikan shalat Subuh?" Fariz menatap mereka bergantian. "Tidak seperti beberapa hari yang lalu."

Suasana hening seketika.

Tidak ada yang menjawab. Ratna menatap tangannya sendiri di pangkuan. Sucipto menatap kertas perjanjian di atas meja, rahangnya menegang.

Lalu Sucipto bicara. Memotong sebelum Ratna sempat membuka mulut.

"Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, Iz."

Suaranya turun, lebih rendah dari sebelumnya. Lebih berat.

"Bapak tahu kamu sering keluar malam tanpa sepengetahuan kami."

Fariz terkesiap.

Napasnya tertahan sebentar. Ia merasa saat itu situasi sudah aman karena tidak mendengar lagi suara dari kamar kedua orang tuanya. Tapi ternyata mereka tahu. Sudah dari awal. Dan sengaja membiarkan sambil mengawasi.

"Anak buah Pak Kades melihat kamu di pondok." Sucipto melanjutkan tanpa melepaskan pandangan dari Fariz. "Mereka tahu kamu mulai melihat sesuatu. Dan mereka melaporkan semuanya."

Urat di leher Sucipto mulai menegang.

"Kamu pikir Bapak tidak tahu apa yang terjadi waktu kamu berada di sawah Bu Karsih?!"

Suaranya naik satu oktaf. Bukan teriakan. Tapi cukup keras untuk membuat Ratna tersentak di sampingnya.

Hening lagi. Lebih panjang dari sebelumnya.

Fariz berdiri diam di tempatnya. Tangan di sisi tubuh, tidak tahu harus diletakkan di mana. Dadanya naik turun sedikit lebih cepat dari biasanya.

Lalu Sucipto menarik napas panjang. Suaranya turun kembali.

"Bapak mohon, Iz. Kamu jangan buat masalah di desa ini."

Fariz terdiam.

Beban di dadanya terasa semakin berat. Mimpi yang ia lihat selama ini ternyata benar. Sucipto berada dalam pengaruh kekuasaan. Dan ia harus tetap menjaganya. Sampai putranya pun tidak boleh tahu sedikit pun mengenai desa ini.

"Aku cuma ingin kebenaran, Pak." Suaranya pelan. Hampir seperti bisikan.

"Cukup, Iz!"

Sucipto berdiri. Kursinya bergeser ke belakang dengan bunyi yang keras.

"Bapak sudah berusaha menjauhkan kamu dari orang itu. Tapi kenyataannya kamu malah terus saja masuk ke pondok. Dan sekarang beban itu ada di pundak kami berdua."

Ia berhenti sebentar. Menatap Fariz dengan cara yang belum pernah Fariz lihat sebelumnya. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah harus mengatakan sesuatu yang sudah lama ia simpan.

Lalu ia melanjutkan.

"Sekarang rapikan kamar kamu atau..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi nada suaranya sudah cukup jelas.

Fariz menatap ayahnya. Lalu ke ibunya yang duduk diam dengan tangan di pangkuan, tidak berani menatap ke atas.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fariz memotong ayahnya sebelum ia selesai bicara.

"Atau aku keluar dari rumah ini."

Hening.

Ratna mendongak. Mata membelalak. Sucipto berhenti bergerak, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Baik, Pak." Fariz melanjutkan dengan suara yang lebih tenang dari yang ia rasakan di dalam. "Aku akan keluar dari rumah ini."

Ia berbalik dan masuk ke kamar.

Sucipto bergerak cepat. Mengikuti Fariz ke pintu kamar. Tapi pintu itu sudah ditutup dari dalam. Dikunci.

"Iz, buka!" Suaranya keras, mengetuk pintu dengan telapak tangan. "Bapak harus bicara dengan kamu!"

Dari dalam, Fariz mengabaikan suara itu.

Keputusannya sudah mantap. Dan ia tahu harus pergi ke mana jika dirinya terusir dari rumah ini. Lembar-lembar kertas pemberian Rahman segera dimasukkan ke dalam tas bersama pakaiannya. Buku Kyai Salman yang tebal. Semua yang tidak boleh ditemukan oleh siapa pun.

Tangannya bergerak cepat. Melipat baju, memasukkannya ke dalam ke tas, mengambil sajadah yang masih terbentang sejak tadi pagi tapi tidak sempat dipakai.

Di luar, suara Sucipto masih terdengar. Lebih pelan sekarang. Lebih seperti memohon dari pada memerintah.

Fariz selesai. Mengangkat tas ke bahu. Menarik napas sekali. Lalu membuka pintu.

Sucipto dan Ratna sudah berdiri di sana.

Tidak mengira putra mereka akan mengambil sikap seperti ini. Padahal selama ini ia anak penurut yang tidak pernah membangkang. Yang selalu memilih diam daripada melawan. Yang selalu menunduk daripada menatap balik.

Tapi sekarang Fariz berdiri di hadapan mereka dengan tas di bahu dan mata yang tidak menunduk.

"Bapak pernah bilang kalau aku tidak bisa jadi anak yang penurut, maka aku harus pergi dari rumah ini."

Suaranya tidak gemetar. Tidak marah. Hanya menyatakan fakta.

Sucipto terdiam.

Tidak mengira ancaman itu akan diambil sepihak. Padahal itu hanya cara agar Fariz tidak membangkang. Tapi kenyataannya malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Ia mencoba bicara. Tapi yang keluar pertama kali bukan kata-kata yang ia rencanakan.

"Kamu nggak akan ngerti, Iz."

Suaranya lebih pelan dari biasanya. Hampir putus asa.

"Kyai Salman hanya memanfaatkan kamu untuk merusak desa ini."

Fariz mengepalkan tangannya di sisi tubuh.

Rahangnya menegang. Napasnya keluar sedikit lebih keras. Tapi ia tidak langsung menjawab. Membiarkan kalimat itu menggantung di udara beberapa detik sebelum ia bicara.

"Lalu kenapa imam masjid diusir dari desa ini?"

Suaranya bergetar sedikit di ujung. Bukan karena takut. Tapi karena menahan sesuatu yang lebih besar dari marah.

Sucipto menarik napas panjang. Menurunkan nada bicaranya.

"Dengarkan Bapak, Iz."

Ia melangkah lebih dekat. Ratna masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak, hanya menatap mereka berdua dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Dua puluh tahun lalu, desa ini diserang wabah."

Sucipto bicara pelan sekarang. Seperti sedang menceritakan sesuatu yang menyakitkan untuk diingat.

"Setiap warga terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Demam tinggi yang tidak turun-turun. Badan membengkak. Napas sesak. Tidak ada yang bisa menolong."

Ia berhenti sebentar. Melirik ke arah Ratna.

"Ibumu hamil tujuh bulan saat wabah itu datang."

Ratna menunduk. Tangannya naik ke wajahnya, menutupi mulut seperti sedang menahan isak.

"Perutnya membengkak lebih besar dari seharusnya. Napasnya sesak sampai dia tidak bisa tidur. Bapak sudah ke mana-mana, tapi tidak ada yang bisa sembuhkan."

Sucipto menatap Fariz sekarang. Matanya berkaca tapi tidak jatuh.

"Semua itu terjadi karena kehadiran manusia seperti Kyai Salman yang ingin mengubah sistem yang sudah lama berjalan di desa ini."

Fariz mengerutkan dahi.

Ada sesuatu yang tidak pas dari cerita ini. Ia ingat tulisan Kyai Salman di lembar-lembar kertas itu. Kyai Salman tidak pernah menulis bahwa ia yang menyebabkan wabah. Justru sebaliknya. Ia datang karena merasakan ada sesuatu yang salah di desa ini.

Tapi Fariz tidak bicara. Hanya diam. Membiarkan Sucipto melanjutkan.

"Dan Bapak..." Sucipto melirik ke Ratna lagi. "Bapak harus melakukannya karena Bapak tidak mau kehilangan kamu."

Suaranya mulai retak di ujung kalimat terakhir.

"Sampai Darma Wijaya datang dengan tawaran. Keselamatan untuk ibumu. Keselamatan untuk kamu yang belum lahir. Dengan satu syarat."

Ia tidak perlu melanjutkan. Fariz sudah tahu syarat apa itu. Ia sudah membacanya di kertas perjanjian dengan cap darah sidik jari dan noda aneh di bawahnya.

Hening panjang.

Lalu Sucipto melangkah lebih dekat lagi. Suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa didengar Fariz.

"Kalau kamu terus seperti ini, bukan cuma kamu saja yang akan masuk ke dalam situasi berbahaya."

Ia menatap Fariz langsung ke mata.

"Ibumu juga. Dan Bapak tidak bisa melindungi kalian berdua kalau kamu terus membangkang."

Kalimat itu jatuh di antara mereka dengan berat yang berbeda dari semua yang tadi diucapkan.

Bukan ancaman kosong. Bukan gertakan. Tapi kenyataan yang Sucipto sampaikan dengan suara yang gemetar karena ia sendiri takut dengan kenyataan itu.

Fariz merasakan dadanya seperti ditekan dari dalam.

Ia menatap ibunya yang masih berdiri di belakang Sucipto, wajahnya tertunduk, bahu bergetar pelan. Lalu ke ayahnya yang menatapnya dengan mata yang memohon tanpa kata-kata.

Dan untuk pertama kalinya, Fariz mengerti sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

Tinggal di rumah ini tidak melindungi ibunya.

Tinggal di rumah ini justru membahayakan ibunya.

Karena selama ia di sini, Darma Wijaya punya alasan untuk terus menekan Sucipto. Dan Sucipto akan terus terikat pada perjanjian itu karena ia takut kehilangan keluarganya.

Tapi kalau Fariz pergi...

Kalau ia tidak lagi di sini...

Mungkin tekanan itu akan berkurang. Mungkin ibunya akan lebih aman.

Fariz menarik napas.

"Maaf, Pak."

Suaranya pelan tapi tegas.

"Tapi aku tidak bisa tinggal di sini lagi."

Sucipto terdiam.

Lalu lututnya mulai bengkok.

Perlahan. Seperti sesuatu yang berat menariknya ke bawah. Tangannya naik, menyentuh bahu Fariz, gemetar, seperti sedang mencoba memegang sesuatu agar tidak jatuh lebih jauh.

Lalu ia berlutut.

Sepenuhnya.

Di hadapan anaknya sendiri.

"Iz, Bapak mohon."

Suaranya pecah di tengah. Tidak bisa menahan lagi.

"Jangan berikan beban kepada kami yang tidak sanggup kami tanggung."

Ratna menangis sekarang. Tidak berisik. Hanya air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

Fariz berdiri di situ, tas masih di bahu, menatap ayahnya yang berlutut di hadapannya dengan tangan yang masih memegang bahunya.

Dadanya sesak. Napasnya pendek. Matanya mulai panas tapi ia menahan agar tidak jatuh.

Ini pilihan yang paling berat yang pernah ia buat.

Bukan karena ia tidak mencintai mereka.

Tapi justru karena ia mencintai mereka.

"Maaf, Pak. Maaf, Bu."

Ia melepaskan tangan ayahnya dari bahunya. Perlahan. Dengan hati-hati. Seperti melepaskan sesuatu yang sangat berharga tapi harus dilepaskan.

Lalu ia berbalik.

Dan berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi.

Pintu tertutup di belakangnya.

Sucipto masih berlutut di lantai. Ratna duduk di sampingnya, wajah tertutup tangan, bahu bergetar.

Di atas meja, kertas perjanjian dengan cap darah dan noda aneh masih tergeletak.

Dan di luar, Fariz berjalan di jalan desa yang mulai di tutupi oleh awan gelap, tas di bahu, langkah yang tidak terburu tapi tidak berhenti.

Ia tidak tahu pasti ke mana ia akan pergi.

Tapi ia tahu satu hal.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memilih sesuatu bukan karena disuruh. Bukan karena tidak punya pilihan lain.

Tapi karena ia memutuskan.

Dan meski dadanya sesak, meski matanya panas, meski setiap langkah terasa seperti meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan...

Ia tetap melangkah.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!