Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Getaran di Singgasana Palsu
Kilas Balik: Tahta di Puncak Sembilan Langit
Jauh sebelum ia menghirup udara bumi yang berdebu, di sebuah dimensi di mana emas adalah lantainya dan awan adalah dindingnya, Ranu dikenal dengan nama yang membuat seluruh penghuni langit bersujud.
Nama Sebenarnya: Sang Hyang Wira Candra.
Dalam bahasa kuno alam atas, Wira Candra berarti "Ksatria Rembulan yang Agung". Ia adalah penjaga keseimbangan kosmik. Nama "Ranu Wara" yang diberikan oleh Ki Garna Ayahnya secara tidak sengaja merupakan gema dari nama aslinya, sebuah ikatan takdir yang tak terputus.
......................
Di sebuah istana yang melayang di atas gumpalan awan abadi, seorang pria dengan jubah emas yang terlalu besar untuk tubuhnya tampak mencengkeram lengan singgasananya hingga retak. Pria itu adalah Dewa Amangkrat, sang pengkhianat.
Di depannya, sebuah cermin air yang menampilkan kejadian di Alun-alun Kerajaan Durja baru saja pecah berkeping-keping setelah sosok Sang Prahara musnah.
"Sialan!" geram Amangkrat. Suaranya menggetarkan pilar-pilar langit. "Prahara gagal? Bagaimana mungkin seorang iblis tingkat pangeran bisa dikalahkan oleh jiwa yang terperangkap dalam daging manusia?!"
Seorang wanita cantik dengan sayap cahaya tipis di punggungnya mendekat. Ia adalah Dewi Laksita, salah satu pengikut Amangkrat yang mulai merasa ragu. "Mungkin karena dia bukan sekadar jiwa biasa, Gusti Amangkrat. Dia adalah Sang Hyang Wira Candra. Meskipun tubuhnya fana, otoritasnya terhadap alam semesta tidak bisa dihapus hanya dengan reinkarnasi."
"Diam kau, Laksita!" bentak Amangkrat. "Dia sudah jatuh! Seharusnya dia membusuk di lumpur dunia rendah! Jika dia berhasil membuka bintang keenam, Gerbang Abadi akan merespons panggilannya, dan posisi kita di sini akan berakhir di tiang gantungan langit!"
Amangkrat berdiri, matanya memancarkan kilatan petir merah. "Utus Pendekar Tujuh Bayangan. Mereka adalah manusia yang sudah kita beri setetes darah dewa. Perintahkan mereka untuk menghancurkan apa pun yang dicintai Wira Candra di bumi. Jika kita tidak bisa membunuh jiwanya, kita akan hancurkan kewarasannya!"
Kembali ke Bumi: Pagi yang Berat
Tiga hari telah berlalu sejak pertempuran melawan Sang Prahara. Ranu akhirnya membuka matanya di dalam kamar mewah istana yang disediakan khusus untuknya. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah kekuatan dewa yang meluap, melainkan rasa kaku di sekujur lehernya.
"Aduh... kasur empuk ini malah membuat leherku terasa seperti dipelintir genderuwo," gumam Ranu sambil duduk di tepi tempat tidur.
Pintu kamar terbuka pelan. Diajeng Sekar Arum masuk membawa nampan berisi air cuci muka dan semangkuk nasi goreng yang aromanya sangat menggoda.
"Kau sudah bangun, Den Ranu?" tanya Sekar Arum dengan senyum yang bisa meluluhkan es di puncak gunung.
Ranu menoleh, matanya sempat terpaku pada kecantikan sang putri, namun perutnya lebih cepat memberikan reaksi. Kruyuuk!
"Diajeng, bisakah kau berhenti masuk ke kamarku saat perutku sedang tidak bisa diajak kompromi? Ini sangat merusak reputasiku sebagai penyelamat kerajaan," ucap Ranu sambil menyambar sendok kayu.
Sekar Arum tertawa kecil, duduk di kursi di samping tempat tidur. "Reputasimu sudah aman, Ranu. Seluruh rakyat sekarang memanggilmu 'Sang Fajar Durja'. Tapi, ada sesuatu yang harus kau ketahui. Ki Sastro dan Ki Ageng Jagat sedang menunggumu di aula. Ada pesan misterius yang datang dari benua seberang."
Ranu berhenti mengunyah. Ia merasakan getaran aneh di punggungnya, tepat di titik bintang keenam yang masih gelap. "Pesan? Atau tantangan?"
"Sepertinya keduanya," jawab Sekar Arum dengan wajah serius. "Sebuah pedang hitam tertancap di gerbang kota pagi tadi. Di bilahnya tertulis namamu... nama aslimu yang tidak pernah kami ketahui."
Ranu mengernyitkan dahi. "Namaku? Apa yang tertulis di sana?"
"Wira Candra," bisik Sekar Arum. "Siapa sebenarnya kau, Ranu? Mengapa nama itu terasa begitu berat saat diucapkan?"
Ranu terdiam sejenak, menatap nasi gorengnya yang tinggal separuh. Ia menghela napas panjang, auranya mendadak berubah menjadi sangat tua dan bijaksana.
"Diajeng, ada nama yang diberikan oleh cinta, seperti Ranu. Dan ada nama yang diberikan oleh takdir, seperti Wira Candra. Saat ini, aku lebih suka menjadi Ranu yang menyukai masakanmu. Tapi sepertinya, langit tidak mengizinkanku duduk diam terlalu lama."
Ranu berdiri, mengenakan jubah birunya yang kini terasa lebih pas di tubuh remajanya. Ia berjalan menuju aula utama. Di sana, Ki Sastro, Ki Ageng Jagat, dan Prabu Dirja sedang menatap sebuah pedang hitam yang memancarkan hawa dingin yang menusuk.
"Gusti Ranu!" seru Ki Ageng Jagat sambil membungkuk dalam. "Pedang ini... ini bukan buatan manusia. Ini adalah logam dari Kawah Neraka Langit."
Ranu mendekati pedang itu. Ia tidak menyentuh gagangnya, melainkan hanya menatap bilahnya. Di sana, tertulis dengan huruf emas yang menyala:
> "Wira Candra, Tujuh Bayangan akan menjemput kepalamu di Lembah Kematian. Jika kau tidak datang, maka Kerajaan Durja akan menjadi abu dalam tujuh purnama."
Ranu menyeringai, sebuah seringai yang membuat Ki Sastro merinding.
"Tujuh Bayangan? Amangkrat benar-benar tidak kreatif. Dia mengirim mainan lama untuk menghadapi tuan lama," ucap Ranu. Ia kemudian menoleh ke arah Ki Sastro. "Sastro, siapkan perbekalan yang banyak. Kita akan melakukan perjalanan lintas benua. Aku butuh kunci bintang keenam yang tersimpan di Kuil Matahari Tenggelam, dan sepertinya para bayangan ini mau membantuku membukanya."
"Tapi Den Ranu, perjalanan itu sangat berbahaya! Kita harus melewati Samudra Darah!" seru Ki Sastro.
Ranu menepuk bahu Sastro. "Jangan khawatir. Selama kau membawa bumbu sambal yang cukup, Samudra Darah pun akan terasa seperti kuah soto bagiku. Ayo berangkat!"
Dengan langkah mantap, Ranu keluar dari istana. Ia tahu, langkah ini bukan lagi sekadar membela kerajaan kecil, tapi langkah awal untuk menaiki tangga cahaya kembali ke puncak sembilan langit untuk merebut kembali tahta Sang Hyang Wira Candra.
......................