NovelToon NovelToon
Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Reuni di Bawah Bayangan Pedang

Tentu, Bos. Mari kita kembali ke Kota Perdagangan Barat.

Matahari pagi di Kota Perdagangan Barat terasa berbeda hari ini. Udaranya berat, dipenuhi oleh tekanan spiritual dari ribuan kultivator kuat yang berkumpul di satu titik.

Jalanan menuju Aula Lelang Pasir Emas—gedung lelang terbesar di perbatasan—sudah dipadati manusia sejak fajar. Kereta-kereta kuda mewah berlambang klan-klan besar dari Kekaisaran Gagak Api dan Roh Azure berebut jalan.

Ye Yuan berjalan di antara kerumunan itu. Dia mengenakan jubah hitam baru yang terbuat dari Sutra Laba-laba Bayangan (yang bisa menyamarkan aura), dan wajahnya tertutup topeng perak polos yang hanya memperlihatkan matanya.

Pedang Penakluk Langit sudah dia simpan di dalam Dantian-nya, sehingga penampilannya kini terlihat seperti kultivator tangan kosong biasa. Namun, aura dingin dan tajam yang tak sengaja bocor dari tubuhnya membuat orang-orang di sekitarnya secara naluriah memberi jalan.

"Ramai sekali," gumam Ye Yuan. "Setengah dari kekuatan besar dua kekaisaran ada di sini."

Saat dia mendekati gerbang masuk VIP, langkah Ye Yuan tiba-tiba terhenti.

Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena resonansi Niat Pedang yang sangat familiar.

Di depan gerbang VIP, kerumunan terbelah seperti Laut Merah.

Sekelompok kultivator wanita berjubah putih bersih berjalan masuk. Mereka memancarkan aura dingin yang membekukan debu jalanan. Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang wanita yang kecantikannya seolah bukan berasal dari dunia ini.

Wajahnya sedingin es, matanya jernih seperti danau di puncak gunung salju. Rambut hitamnya terurai panjang, hanya dihiasi satu tusuk konde giok berbentuk pedang.

Itu adalah Mu Bingyun, Ketua Puncak Awan Biru.

Dan di sampingnya, berjalan seorang gadis muda yang Ye Yuan kenal—Su Qing, pelayan yang dulu merawatnya saat terluka.

Ye Yuan menundukkan kepalanya sedikit, menarik topeng peraknya lebih rapat, dan mencoba membaur dengan bayangan pilar gerbang. Dia belum siap bertemu muka. Statusnya adalah buronan, dan Mu Bingyun adalah Tetua Sekte yang memburunya.

Namun, saat Mu Bingyun melintas tepat di depan pilar tempat Ye Yuan berdiri, langkah kakinya berhenti.

Hening.

Para murid wanita di belakangnya bingung. "Guru? Ada apa?"

Mu Bingyun tidak menjawab. Dia tidak menoleh. Dia hanya berdiri diam, memunggungi Ye Yuan yang berjarak lima meter darinya.

Indra spiritual tingkat tinggi milik Mu Bingyun (Pembentukan Fondasi Tingkat Sembilan Puncak) menyapu area itu. Namun yang lebih tajam adalah Hati Pedang-nya. Dia merasakan getaran samar dari "Pedang Patah" yang dulu dia lihat di tangan Ye Yuan—meskipun pedang itu kini tersembunyi di dalam tubuh.

Sebuah suara dingin dan jernih bergema langsung di dalam kepala Ye Yuan (Transmisi Suara):

"Kau punya nyali besar untuk datang ke sini, Murid Murtad."

Tubuh Ye Yuan menegang. Dia ketahuan.

Ye Yuan menarik napas dalam, lalu membalas lewat transmisi suara juga, suaranya tenang namun hormat.

"Dunia ini luas, Guru Mu. Murid ini hanya mencari jalan hidup."

"Jalan hidup?" Mu Bingyun mendengus pelan dalam pikirannya. "Kau membunuh Tetua Li Batian. Kau membantai satu peleton Pasukan Elang Besi. Kau menyebut itu jalan hidup? Itu jalan Asura."

"Mereka yang ingin membunuhku, aku bunuh. Itu keadilan saya," jawab Ye Yuan tegas.

Hening sejenak. Ye Yuan bersiap-siap jika Mu Bingyun tiba-tiba menyerang. Jika wanita ini menghunus pedang, Ye Yuan tahu dia harus lari secepat kilat. Dia belum cukup kuat untuk melawan Tingkat Sembilan Puncak.

Namun, serangan itu tidak datang.

"Kau bodoh," suara Mu Bingyun terdengar sedikit lebih lunak, meski tetap dingin. "Sekte telah mengirim Tetua Agung Penegak Hukum ke wilayah ini. Dia ada di Tingkat Pembentukan Fondasi Sempurna. Jika dia menemukanmu, kau akan mati tanpa kuburan."

Ye Yuan tertegun. Mu Bingyun... memperingatkannya?

"Kenapa Guru memberitahuku?"

"Karena aku tidak ingin melihat bakat pedang yang langka mati di tangan orang tua bangka yang kaku," jawab Mu Bingyun. "Masuklah. Jangan membuat keributan di depanku. Di dalam lelang, aku adalah Ketua Puncak Awan Biru, dan kau adalah orang asing. Jika kau menghalangiku mendapatkan Peta Naga Tulang, aku sendiri yang akan memotong tanganmu."

Setelah berkata begitu, Mu Bingyun kembali melangkah, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ayo jalan," perintahnya pada murid-muridnya.

Rombongan Puncak Awan Biru masuk ke dalam gedung. Su Qing sempat menoleh ke arah pilar tempat Ye Yuan berdiri dengan tatapan bingung, merasa familiar dengan aura di sana, tapi dia segera mengikuti gurunya.

Ye Yuan menghela napas panjang di balik topengnya. Punggungnya basah oleh keringat dingin.

"Dia melepaskanku," batin Ye Yuan. "Hutang budi ini semakin besar."

Ye Yuan menunggu beberapa saat, lalu melangkah masuk ke gerbang VIP. Dia menunjukkan kartu kristal berisi 130.000 Batu Roh kepada penjaga.

"Tuan Terhormat! Silakan, Ruang VIP Nomor 9 di lantai dua!" Penjaga itu membungkuk hormat 90 derajat. Di dunia ini, uang adalah raja kedua setelah kekuatan.

Ruang VIP Nomor 9.

Ruangan itu mewah, dilapisi karpet kulit harimau dan memiliki dinding kaca satu arah yang memungkinkan dia melihat panggung lelang di bawah tanpa terlihat dari luar.

Ye Yuan duduk di sofa empuk, meminum teh roh yang disajikan pelayan.

Dia mengamati tata letak ruangan lain.

Ruang VIP 1: Mu Bingyun dan rombongan Puncak Awan Biru.

Ruang VIP 3: Yan Lie dan Sekte Matahari Membakar. Ye Yuan bisa mendengar tawa arogan Yan Lie bahkan dari balik dinding.

Ruang VIP 5: Aura yang sangat gelap dan beracun. Kemungkinan besar Sekte Kalajengking Hitam atau kultivator jahat lainnya.

"Semua pemain besar sudah berkumpul," pikir Ye Yuan.

DONG!

Gong besar berbunyi. Lampu ruangan meredup, sorot cahaya fokus ke panggung tengah.

Seorang pria tua berjubah emas, dengan jenggot putih panjang, naik ke panggung. Aura-nya tidak kalah dengan Mu Bingyun—Pembentukan Fondasi Tingkat Sembilan. Ini adalah Kepala Lelang Kota Barat, Tuan Jin.

"Selamat datang para pendekar, tetua, dan tamu terhormat dari dua kekaisaran!" suara Tuan Jin menggelegar tanpa pengeras suara. "Hari ini, Aula Pasir Emas mempersembahkan harta-harta yang akan mengguncang dunia persilatan!"

"Tanpa basa-basi, mari kita mulai dengan barang pertama!"

Seorang gadis cantik membawa nampan berisi sebuah botol kristal kecil yang memancarkan cahaya merah.

"Darah Esensi Singa Api Tingkat Dua Puncak!" seru Tuan Jin. "Sangat berguna untuk penempaan tubuh atau membuat jimat api. Harga buka: 2.000 Batu Roh!"

"2.500!"

"3.000!"

Tawaran bersahutan. Ye Yuan hanya diam. Barang tingkat ini tidak berguna baginya. Pedangnya butuh darah yang jauh lebih kuat atau logam langka.

Lelang berlanjut. Barang demi barang terjual.

Suasana mulai memanas ketika barang ke-sepuluh dikeluarkan.

"Ini adalah potongan Logam Meteorit Es," kata Tuan Jin, menunjuk bongkahan logam biru yang mengeluarkan asap dingin. "Sangat keras, cocok untuk campuran senjata elemen air atau es."

Mata Ye Yuan menyipit. Elemen Es. Itu cocok untuk memperkuat sisi Api Bintang Dingin pada pedangnya.

"Harga buka: 5.000 Batu Roh."

"6.000!" teriak seseorang dari lantai biasa.

"8.000!" suara malas terdengar dari Ruang VIP 3. Itu Yan Lie.

"Sekte Matahari Membakar menawar 8.000," kata Tuan Jin.

"10.000," suara dingin Mu Bingyun terdengar dari Ruang VIP 1.

Yan Lie di ruangannya mendecih. "Wanita es itu lagi. 12.000!"

"15.000," balas Mu Bingyun tanpa ragu.

Yan Lie terdiam. Dia butuh uang untuk barang utama nanti. Dia tidak mau boros di awal.

"15.000 sekali... dua kali..."

Ye Yuan menekan tombol penawar di mejanya.

"16.000."

Suara Ye Yuan yang disamarkan muncul di layar kristal panggung.

Hening sejenak. Mu Bingyun di Ruang 1 mengerutkan kening. Siapa yang berani memotongnya?

"18.000," kata Mu Bingyun dingin.

Ye Yuan tersenyum di balik topengnya. Dia tidak berniat menyinggung Mu Bingyun, tapi logam itu benar-benar dia butuhkan untuk menyeimbangkan elemen pedangnya yang baru saja menyerap terlalu banyak api dari Zhu Hong dan Jenderal Tanpa Kepala.

"20.000," tawar Ye Yuan.

Di Ruang 1, Su Qing berbisik, "Guru, orang di Ruang 9 itu cari masalah! Haruskah kita beri pelajaran?"

Mu Bingyun menggeleng. "Suaranya asing. Mungkin kultivator liar yang kaya. Lepaskan. Kita simpan uang untuk Peta Naga."

"20.000, terjual ke Ruang 9!"

Ye Yuan menghela napas lega. Dia mendapatkan item pertamanya.

Lelang terus berjalan. Barang-barang semakin langka dan mahal.

Akhirnya, Tuan Jin tersenyum misterius.

"Tuan-tuan, barang selanjutnya adalah sesuatu yang istimewa. Bukan senjata, bukan obat."

Dua pengawal membawa sebuah sangkar besi tertutup kain hitam.

Kain itu ditarik.

Di dalamnya, terdapat seekor binatang kecil yang aneh. Bentuknya seperti kucing, tapi memiliki sisik hitam dan dua ekor. Matanya besar dan berwarna emas cerdas.

"Musang Pencari Harta (Treasure Seeking Ferret)," kata Tuan Jin. "Masih bayi. Binatang ini memiliki hidung yang bisa mencium aura harta karun atau mineral langka dalam radius 10 kilometer. Sangat berguna di dalam Ranah Rahasia."

Ruangan meledak.

Binatang pencari harta! Ini adalah impian setiap petualang. Dengan binatang ini, menjelajahi reruntuhan kuno akan jauh lebih menguntungkan.

"Harga buka: 30.000 Batu Roh!"

"40.000!" teriak Yan Lie seketika.

"50.000!" seru suara serak dari Ruang VIP 5 (Sekte Kalajengking).

"60.000!" Yan Lie tidak mau kalah.

Ye Yuan menatap musang itu. Musang itu menatap balik ke arah kaca Ruang 9, seolah bisa melihat Ye Yuan. Mata emasnya berkedip, dan ekornya bergoyang.

Zing!

Pedang di Dantian Ye Yuan bergetar pelan.

"Oh? Pedangku bereaksi pada musang itu?" Ye Yuan terkejut. "Apakah musang itu memiliki garis keturunan khusus?"

Ye Yuan memutuskan. Dia butuh panduan di dalam Ranah Naga Tulang nanti. Peta saja tidak cukup.

"70.000," tawar Yan Lie dengan bangga. "Siapa yang berani melawanku?!"

"80.000," kata Ye Yuan tenang.

"KAU LAGI?!" Yan Lie berdiri di ruangannya, membanting gelas anggur. Dia mengenali suara itu—meski disamarkan, nada meremehkannya sama dengan orang yang mempermalukannya di penginapan.

"90.000!" teriak Yan Lie. "Aku akan bangkrutkan kau!"

"100.000," balas Ye Yuan tanpa jeda sesetik pun.

Seluruh aula lelang terdiam. 100.000 Batu Roh! Itu harga sebuah senjata roh tingkat tinggi! Hanya untuk seekor binatang?

Yan Lie gemetar. Uangnya tersisa 150.000. Jika dia menawar lebih, dia tidak akan bisa bersaing untuk Peta Naga.

"Baik... Baik! Ambil saja tikus itu! Aku ingin lihat apakah kau masih punya uang untuk barang utama nanti!" Yan Lie duduk kembali dengan wajah merah padam.

"100.000, terjual ke Ruang 9!"

Ye Yuan tersenyum tipis. Uangnya tinggal 10.000 Batu Roh (setelah dipotong pembelian logam tadi). Dia sudah "miskin" lagi.

Tapi dia tidak khawatir.

Karena dia tidak berniat membeli Peta Naga Tulang itu.

Barang utama pun dikeluarkan.

Sebuah gulungan kulit naga kuno yang memancarkan aura purba diletakkan di panggung.

"Inilah dia... Kunci menuju Ranah Rahasia Naga Tulang," bisik Tuan Jin. "Di dalamnya terdapat warisan Ras Naga, dan konon... setetes Darah Naga Asli yang bisa membuat seseorang menembus ke Ranah Inti Emas!"

"Harga buka: 100.000 Batu Roh!"

Perang harga sesungguhnya dimulai. Mu Bingyun, Yan Lie, dan Sekte Kalajengking saling membantai dengan angka.

Ye Yuan bersandar di kursinya, meminum tehnya sampai habis.

"Silakan bertengkar," gumam Ye Yuan. "Siapapun yang menang... akan kutunggu di luar kota."

Dia sudah menandai aura pemenangnya nanti. Rencananya sederhana: Menjadi nelayan di air keruh.

Saat harga menyentuh angka gila 250.000 Batu Roh, pintu masuk utama aula lelang tiba-tiba meledak.

BOOM!

"Hentikan lelang ini!"

Sebuah suara yang mengandung tekanan Pembentukan Fondasi Sempurna (Setengah Langkah Inti Emas) mengguncang gedung.

Seorang pria tua berjubah abu-abu dengan lambang pedang patah di dadanya melayang masuk. Matanya setajam elang, dan aura pembunuhnya mengunci seluruh ruangan.

Itu adalah Tetua Agung Penegak Hukum Sekte Pedang Surgawi.

"Kami menerima laporan bahwa buronan Ye Yuan ada di kota ini!" teriak Tetua Agung itu. "Tutup semua pintu! Tidak ada yang boleh keluar sampai kami memeriksa setiap orang!"

Di Ruang 9, Ye Yuan meletakkan cangkir tehnya. Cangkir itu retak.

"Sial," umpat Ye Yuan. "Anjing tua itu datang lebih cepat dari dugaan Guru Mu."

Situasi berubah dari lelang menjadi pengepungan.

[Bersambung ke Bab 30]

Poin Ringkas Bab 29:

Reuni: Ye Yuan bertemu Mu Bingyun. Dia tidak menangkapnya, malah memberi peringatan tentang Tetua Agung.

Lelang: Ye Yuan membeli Logam Meteorit Es (Upgrade Pedang) dan Musang Pencari Harta (Pet/Guide).

Rivalitas: Ye Yuan mengalahkan Yan Lie dalam perang harga, mempermalukannya lagi.

Klimaks: Saat lelang mencapai puncaknya (Peta Naga), Tetua Agung Penegak Hukum menyerbu masuk dan mengunci gedung.

1
Nanik S
pergi ke Benua Timur
Nanik S
Ronde dua pembantaian
Nanik S
Sial benar mereka berdua
Nanik S
apakah Ye Yuan dan Mu Bingyun bisa lolos dari mereka
Nanik S
Mu Bingyun peka sekali
Nanik S
Ye Yusn licin seperti belut
Nanik S
Bisakah Yuan selamat
Nanik S
Mu Bingyun... apakah Ye Chen akan pulang bersama Mu Bingyun
Nanik S
Kenapa tidak diambil cincin Komandan Zhu
Nanik S
Ye Chen.... jangan biarkan mereka membunuh Kakek Gu dan Jin Jinoi
Nanik S
Akirnya pedangnya yang patah kini telah utuh
Nanik S
Maaantap
Nanik S
Yuan ada saja.. ngakak main petak umpet di Neraka 🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata kota itu adalah Kuburan para Dewa dan Iblis
Nanik S
Perjalan baru di reruntuhan kuno
Nanik S
Harusnya menemui Tetua Mu
Nanik S
Mantap Tor... 👍👍👍
Nanik S
Semua masuk jebakan Yuan
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Shiiiip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!