NovelToon NovelToon
Papan Takdir

Papan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Penyelamat / Action / Sistem
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: MENEMUKAN KEBIJAKAN BARU UNTUK KEMASIHANAN ALAM

Setelah meninggalkan desa Cemara yang kini mulai pulih dengan baik, Yin Chen, Yin Yang, dan Lan Wei melanjutkan perjalanan ke wilayah yang lebih luas di bagian utara Dataran Tinggi Biru. Mereka mendengar bahwa di sana terdapat sebuah kawasan yang dikenal sebagai *Kawasan Pelestarian Alam Raya* yang baru saja dibentuk oleh pemerintah daerah, namun kelihatannya sedang menghadapi kesulitan dalam menjaga keseimbangan alam serta memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

“Kawasan ini seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi satwa dan tumbuhan langka,” kata Yin Chen sambil melihat sekeliling kawasan yang luas dengan pagar tinggi yang mengelilinginya. “Namun dari apa yang saya lihat, ada kesenjangan besar antara tujuan awal pembentukan kawasan ini dan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.”

Mereka memasuki kawasan melalui gerbang kecil yang jarang digunakan, menghindari area yang ramai untuk menghindari gangguan yang tidak perlu. Di dalam kawasan, mereka menemukan bahwa banyak area yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru dikelola dengan cara yang terlalu ketat—hingga membuat satwa liar sulit bergerak dengan bebas dan tanaman lokal tertekan oleh aturan yang terlalu ketat.

“Saya merasa ada sesuatu yang salah dengan cara pengelolaan di sini,” bisik Lan Wei dengan suara yang penuh perhatian. Dia sudah mulai menggunakan kemampuannya untuk merasakan energi di sekitar kawasan—energi yang terasa seperti sedang ditekan oleh kekuatan yang tidak sesuai dengan alam.

Mereka berhenti di sebuah pos penjaga kecil yang dikelola oleh seorang pria muda bernama Agus. Pria muda ini dengan ramah menyambut mereka dan segera menyadari bahwa mereka bukanlah pengunjung biasa. “Kalian pasti datang dengan tujuan yang baik,” ucap Agus dengan senyum hangat. “Saya bisa merasakan energi yang berbeda dari kalian—energi yang membawa kedamaian dan keseimbangan.”

Setelah berbicara sebentar dan menjelaskan tujuan mereka datang, Agus mengajak mereka untuk melihat kondisi kawasan secara lebih dekat. Mereka melewati area yang sudah mulai dikelola dengan cara baru namun masih terasa kaku dan tidak fleksibel. Tanah yang subur justru dibuat menjadi kurang subur karena upaya untuk membuatnya “lebih terkontrol”, sementara sumber air yang melimpah diarahkan ke saluran yang dibuat secara paksa bukan mengikuti aliran alamiahnya.

“Ini adalah masalah yang sering terjadi ketika manusia mencoba mengontrol alam dengan paksa,” jelas Yin Yang dengan suara yang penuh pemahaman. “Kita sering berpikir bahwa kita tahu yang terbaik untuk alam, padahal sesungguhnya alam memiliki cara sendiri untuk menjaga keseimbangan jika kita hanya membiarkannya bekerja sesuai dengan aturannya.”

Mereka mulai melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kawasan pelestarian tersebut. Yin Chen menggunakan alat yang mereka kembangkan untuk mengukur kualitas tanah, air, dan udara di berbagai titik. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun beberapa area terlihat baik dari luar, sebenarnya ada ketidakseimbangan yang mendalam—tanah yang diberi pupuk buatan menjadi kurang subur dari waktu ke waktu, sumber air yang dialirkan secara paksa mulai mengering di bagian hilir, dan udara yang diatur suhunya justru membuat beberapa jenis tanaman dan hewan sulit bertahan hidup.

“Kita perlu mengubah cara pengelolaan di sini,” kata Yin Chen dengan suara yang penuh keyakinan. “Bukan dengan menghapus semua aturan yang ada, melainkan dengan menyelaraskan aturan tersebut dengan cara kerja alam yang sebenarnya.”

Mereka menghabiskan beberapa hari untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan berbicara dengan petugas kawasan pelestarian. Banyak dari mereka merasa frustasi karena upaya mereka untuk menjaga kawasan justru menyebabkan efek yang tidak diinginkan. Setelah mendengar penjelasan dari Yin Chen tentang bagaimana alam bekerja secara alami, banyak dari mereka mulai menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan bersedia belajar cara baru.

Pada hari kelima di kawasan tersebut, mereka mengadakan lokakarya besar yang dihadiri oleh semua petugas kawasan dan beberapa perwakilan dari desa sekitar. Yin Chen menjelaskan tentang pentingnya memahami siklus alam yang sudah ada jauh sebelum manusia ada di bumi ini. Yin Yang menambahkan penjelasan tentang bagaimana setiap elemen alam saling bergantung satu sama lain. Lan Wei menunjukkan contoh-contoh nyata dari desa-desa yang telah mereka bantu dan bagaimana perubahan kecil bisa memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat.

“Saya tidak menyangka bahwa cara berpikir kita selama ini ternyata salah besar,” ucap salah satu petugas kawasan dengan suara penuh rasa syukur. “Kita selalu berpikir bahwa mengontrol alam adalah cara terbaik untuk melindunginya, padahal justru kita yang merusaknya dengan cara itu.”

Setelah lokakarya selesai, mereka membantu membentuk tim kerja yang terdiri dari petugas kawasan dan penduduk desa sekitar untuk mengelola kawasan dengan cara yang baru—lebih sesuai dengan aturan alamiah. Mereka mengajarkan teknik bertani organik yang sesuai dengan kondisi lokal, cara mengelola sumber daya alam secara bijak, serta pentingnya menghargai keberagaman hayati yang ada.

Selama beberapa minggu berikutnya, mereka bekerja bersama dengan tim kerja tersebut untuk menerapkan perubahan yang dibutuhkan. Mereka membangun sistem irigasi yang mengikuti aliran alamiah sungai dan mata air, menanam kembali jenis tanaman lokal yang mulai jarang ditemukan, serta membantu mengembalikan habitat bagi satwa liar yang mulai hilang.

Pada hari terakhir mereka berada di kawasan pelestarian, seluruh tim kerja berkumpul untuk memberikan penghargaan kepada mereka. Mereka diberikan sebuah plakat kayu yang diukir dengan simbol-simbol kuno yang telah mereka pelajari bersama—simbol keseimbangan, kerja sama, dan rasa hormat terhadap alam.

“Kalian telah mengubah cara kita melihat dunia,” ucap pemimpin tim kerja dengan suara yang penuh rasa hormat. “Kita tidak akan pernah melupakan apa yang telah kalian ajarkan kepada kita.”

Dengan hati yang penuh rasa syukur dan semangat yang tinggi, mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah lain yang membutuhkan bantuan mereka. Jalur mereka membawa mereka melalui pegunungan yang lebih tinggi dan dataran yang lebih luas, dengan harapan untuk terus membantu menjaga keseimbangan alam dan memberikan harapan baru bagi semua orang yang mereka temui di jalan.

Di kejauhan, matahari mulai muncul dari balik bukit dengan sinar yang hangat dan penuh dengan janji akan hari yang cerah. Mereka tahu bahwa perjalanan panjang masih menunggu mereka, namun kini mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa setiap langkah yang mereka ambil akan membawa manfaat bagi dunia yang lebih luas. Dengan energi alam yang kembali seimbang dan dukungan dari semua orang yang telah mereka bantu, mereka siap menghadapi segala tantangan yang akan datang di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!