Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
.
Seminggu berlalu dari hari pertama Rini bekerja di rumah Almira dan Gilang. Hari itu, akhir pekan suasana rumah terasa Sunyi. Hanya ada Rini dan Almira di dalam rumah dan detak jam dinding yang setia menemani.
Lila si istri muda mulai menampakkan sifat egoisnya yang ingin mendominasi. Drama ngidam ia gunakan sebagai senjata.
Gilang merasa badan dan juga otaknya lelah karena seminggu dipaksa bekerja keras demi mengejar target yang dipatok oleh pimpinan pusat. Apalagi, sekarang Almira sama sekali tak mau lagi membantunya mengerjakan proposal apapun. Namun, karena Lila berkata itu adalah keinginan bayi dalam kandungannya, maka mau tak mau ia menurutinya juga.
Bu Rosidah dan Riana yang tidak ingin ketinggalan juga memanfaatkan momen hari libur Gilang untuk ikut serta jalan-jalan. Kapan lagi mereka bisa bersenang-senang. Dengan dandanan cetar membahana, mereka menatap sinis ke arah Almira yang duduk tenang di sofa.
“Kalo merasa diri tidak berguna, lebih baik duduk diam di rumah. Tidak usah ingin ini itu!" sindiran kasar dari ibu mertua.
Padahal, Almira memang tak ingin ikut. Malas dia pergi bersama dengan kaum pengkhianat.
"Sayang, kamu beneran gak papa, sendirian di rumah sama Mbak Rini aja?” tanya Gilang. Ada rasa tak nyaman karena akhir-akhir ini Almira semakin cuek. Ia juga ingin membagi waktu dengan Almira, tapi Lila selalu berhasil mengikatnya hingga tak beranjak dari sisi wanita itu.
"Apanya yang aneh dengan sendiri di rumah? Dari dulu aku juga biasa sendiri!” Almira menjawab tanpa mengalihkan fokusnya pada ponsel di tangannya.
"Mas Gilang!” Suara Riana yang melengking terdengar dari halaman. “Buruan dong, keburu panas ini!"
“Tuh, saudara mu yang udik udah gak sabar. Sana pergi!” usir Almira yang merasa jengah dengan situasi yang ada.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu nanti mau aku bawain apa?” Gilang masih berusaha mengambil hati istrinya.
“Apa aja yang kamu ingat. Kalau gak juga gak papa!"
Jleb!
Sakit terasa ulu hati Gilang. Karena kelalaiannya istri pertamanya tak lagi respek pada apapun yang ia usahakan. Menjanjikan ini dan itu untuk bisa mengambil kembali hati sang istri, tapi janji itu selalu terlupakan.
*
Almira menghela nafas panjang setelah Gilang dan yang lainnya pergi. Wanita itu memperhatikan Rini yang dengan cekatan membersihkan jendela kaca.
"Mbak Rini," panggil Almira, memecah keheningan.
Rini menoleh, senyum sopan terukir di bibirnya. "Ya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?"
Almira mengangguk pelan. "Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," bisiknya, suaranya lirih namun sarat akan makna.
Rini meletakkan botol semprot kaca dan kain lap yang ada di tangannya lalu berjalan mendekat. “Ibu mau saya bikinkan apa?" tanyanya.
Almira menghela napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian. "Sudah seminggu ya, Mbak Rini kerja di sini," ucapnya, membuka percakapan. "Gimana, betah?"
Rini tersenyum tulus. "Alhamdulillah, Bu. Saya nyaman kerja di sini. Walaupun yang lain kayak Hitler, tapi Ibu baik sama saya. Saya senang bisa kerja tetap sama Ibu."
Wanita mud yang selama ini hanya menjadi jasa kebersihan panggilan. Penghasilannya bergantung pads jika ada yang memanggil tenaganya.
Almira menatap Rini dengan wajahnya yang sendu. Tak mengucapkan apapun lalu menunduk meremat jarinya sendiri.
"Ibu kenapa?” Mbak Rini mengambil tangan Almira dan menggenggamnya.
Almira mengangkat wajahnya dan menggeleng. “Aku gak papa, Mbak. Aku cuma muak dengan mereka. Di sini rasanya sakit, Mbak," ucapnya sambil memukul-mukul dadanya sendiri.
“Kenapa harus bertahan, Bu? Kenapa tidak dilepaskan saja? Ibu berhak untuk bahagia." Mbak Rini menatap wajah Almira dengan rasa prihatin.
“Aku juga mau, Mbak. Tapi sebelum itu, maukah Mbak Rini menolongku?” tanya Almira.
Rini mengangguk sigap. “Apa yang bisa saya lakukan, Bu. In Syaa Allah kalau saya bisa saya pasti mau,” jawab Rini.
"Jadi istri ketiga suamiku!”
Jeduar!
Mata Rini terbelalak dengan mulut terbuka lebar. “Apa maksud Ibu?"
Almira menggenggam tangan Rini erat. "Menurut Mbak Rini, apa aku pantas diperlakukan seperti ini? Mbak Rini bisa lihat sendiri, kan? Bagaimana perlakuan mereka padaku. Bahkan suamiku yang katanya akan berlaku adil, nyatanya hanya di bibir.”
"Tapi saya tidak ingin menjadi PELAKOR.” Rini menarik tangannya dari genggaman Almira.
"Tolong aku, Mbak.” Almira menangkupkan dua telapak tangannya. "Setidaknya sampai aku bercerai dengan Gilang dan keluar dari rumah ini. Setelah itu, semua terserah pada Mbak Rini."
Rini mengangkat wajahnya, menatap Almira dengan tatapan bingung.
"Maksud Ibu?" tanyanya lirih.
"Maksudku," lanjut Almira, "Setelah aku keluar dari rumah ini, jika kamu mau lanjut hidup bersama dengan Gilang, silahkan. Tapi jika kamu ingin mundur dan menjalani hidupmu sendiri, aku juga takkan memaksa. Pilihan ada di tanganmu."
Rini terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Almira. "Tapi, Bu," ucap Rini ragu.
Almira tersenyum, menenangkan. "Sebagai imbalan atas kerja keras Mbak Rini, aku akan membantu seluruh biaya sekolah adiknya Mbak Rini, sampai nanti dia kuliah.”
Rini terkejut, matanya membulat. "Biaya sekolah sampai kuliah" bisiknya tak percaya. Selama ini karena adik laki-lakinya yang saat ini masih duduk di bangku SMP dia rela bekerja keras siang malam. Demi kerabat satu-satunya yang masih tersisa di dunia setelah kepergian kedua orang tua mereka. Janji itu sungguh menggiurkan.
“Biaya pendidikan bisa aku berikan sekarang juga dalam bentuk tabungan.” Almira merasa senang rencananya membujuk Rini mulai berhasil.
“Bagaimana kalau aku tambah dengan sertifikat rumah ini. Rumah ini akan menjadi milik Mbak Rini setelah aku pergi." tambah Almira karena sepertinya Rini masih terlihat ragu.
“Rumah ini?!" Rini semakin terbelalak.
Almira mengangguk. "Jadi, setelah misi selesai, Mbak Rini bisa membawa adik Mbak Rini untuk tinggal di sini. Gak perlu ngontrak lagi. Atau kalau Mbak Rini takut mereka akan mengusik mbak Rini, mbak Rini bisa menjualnya.”
"Tapi bukankah rumah ini…?”
"Rumah ini tidak berarti apa-apa lagi bagiku," sahut Almira dengan nada getir. "Aku sudah tidak bahagia di sini. Yang ada justru kenangan buruk."
Rini terdiam, tak mampu berkata-kata. Ia bingung dengan tawaran Almira. Di satu sisi ia tak mau jadi PELAKOR, tapi di sisi lain tawaran itu begitu menggiurkan. Bayangan adiknya yang saat ini tinggal sendirian di kontrakan...
"Pikirkan baik-baik, Mbak," ucap Almira sambil menepuk bahu Rini. "Anggap saja Mbak Rini membantu saya mendapatkan keadilan!”
Rini menunduk, menyembunyikan kegugupannya. "Saya… saya tidak tahu caranya, Bu," lirihnya. "Saya tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya."
Almira memegang tangan Rini, menggenggamnya erat. "Aku akan membantumu," ucapnya, mencoba meyakinkan. "Kamu hanya perlu mengikuti instruksiku. Lagipula, ini juga demi kebahagiaan adikmu. Apa kamu tidak mau, melihat adikmu meraih cita-citanya?"
Rini terdiam. Ia tidak ingin masuk ke dalam rumah tangga orang lain. Tapi di sisi lain, ia ingin membantu adiknya meraih masa depan yang lebih baik.
"Baiklah, Bu," ucapnya akhirnya, suaranya bergetar. "Saya akan mencoba.
Almira tersenyum puas, matanya berbinar penuh kemenangan. "Alhamdulillah… terima kasih, Mbak."
semangat thor