Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Sayang
Pagi di Timur disambut dengan kicauan burung yang jauh lebih merdu daripada di Barat. Sinar matahari menelusup masuk melalu ventilasi yang terbuka.
Qinqin bangun dengan perasaan segar, meski tubuhnya masih sedikit kaku. Ia membasuh wajah dengan baskom berisi air yang dibawakan oleh pelayan paruh baya. Setelah itu, ia bergegas melepas seluruh pakaian nya dan mandi dengan air dingin.
Wanita itu juga membasuh luka nya dan mengobati dengan salep yang dibawa oleh pelayan. Setelah selesai, Qinqin segera menuju keluar untuk melihat keadaan ayahnya.
Namun, langkahnya terhenti saat melewati ruang makan terbuka. Di sana, Wu Lian sudah duduk dengan tegak, sedang memegang cangkir teh. Jenderal itu sudah rapi dengan jubah perangnya yang berwarna hitam kelam, seolah-olah siap terjun ke medan tempur kapan saja.
Qinqin tersenyum tipis dan menghampirinya tanpa suara. "Pagi, Jenderal Kaku. Tidur nyenyak semalam? Atau sibuk memikirkan kecantikan Qinqin?
Wu Lian hampir saja tersedak tehnya. Ia meletakkan cangkir dengan suara denting yang cukup keras. "Kau.....tidak bisakah kau memberi salam dengan normal seperti wanita pada umumnya?"
"Salam normal itu membosankan," sahut Qinqin sambil duduk di depan Wu Lian dan mulai mengambil bakpao hangat. "Lagipula, kita sudah melewati banyak hal. Masih mau pakai topeng kaku begitu?"
Wu Lian mengalihkan pandangan, menatap ke arah kolam ikan. "Ayahmu sudah jauh lebih baik. Tabib keluarga Xu sudah memeriksa ramuan yang kau berikan semalam. Mereka terkejut karena racun yang mengendap bertahun-tahun bisa luruh begitu cepat."
"Tentu saja. Itu usaha mati-matian di Gunung Qingyun," jawab Qinqin. Ia kemudian menatap Wu Lian dengan serius. "Terima kasih sudah ikut ke gunung itu. Aku tahu kau punya banyak urusan di barak."
Wu Lian berdeham, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Jangan salah paham. Aku hanya memastikan harta Kekaisaran, yaitu ayahmu, tidak mati sia-sia."
Qinqin memutar bola matanya. "Alasan klasik. Oh iya, bicara soal harta, apa kau sudah mendengar kabar dari penjara bawah tanah? Nyonya Bai pasti sedang sangat marah."
"Huo Lu sudah menjaganya. Tapi ada satu hal yang mengganggu," Wu Lian merendahkan suaranya. "Beberapa pengawal pribadi Nyonya Bai menghilang semalam. Sepertinya mereka membawa sisa harta yang disembunyikan untuk menyewa tentara bayaran. Mereka mungkin akan menyerang saat kita dalam perjalanan kembali ke Barat."
Qinqin berhenti mengunyah. Matanya berkilat. "Jadi wanita itu masih punya taring? Menarik. Biarkan saja mereka datang. Aku ingin mencoba teknik belati baru yang kau ajarkan."
Wu Lian menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Kau ini benar-benar bukan Xu Qinqin yang dulu. Terkadang aku berpikir, apakah kau benar-benar manusia atau roh rubah yang menyamar?"
Qinqin tertawa lepas, suara tawa yang begitu jernih hingga membuat Wu Lian terpaku sesaat. "Kalau aku roh rubah, kau pasti sudah kumakan sejak lama, Jenderal. Sayangnya, aku cuma wanita yang sudah bosan ditindas."
Tiba-tiba, seorang pelayan berlari tergesa-gesa menghampiri mereka. "Nona Muda! Jenderal! Tuan Besar Xu sudah bisa duduk dan ingin bicara dengan Anda berdua!"
Qinqin segera berdiri. Ia hampir lupa tujuan utama nya untuk bertemu sang ayah karena keasyikan mengobrol dengan Wu Lian.
Sebelum melangkah, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Wu Lian, membisikkan sesuatu di telinga pria itu. "Ayo, Jenderal. Ayahku pasti ingin melihat betapa ku dan menantu nya saling menyayangi. Jangan lupa pasang wajah ramah, atau aku akan bilang bahwa kau sering memelototiku."
Wu Lian hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menahan diri agar tidak meledak karena kesal sekaligus malu. Ia berdiri dan mengikuti langkah Qinqin dengan geraman rendah. "Setelah urusan di Timur selesai, aku akan benar-benar menghukum lidah tajammu itu, Xu Qinqin."
"Kutunggu janji hukumanmu, Sayang," sahut Qinqin tanpa menoleh, sambil melambaikan tangan dengan santai.
Wu Lian tertegun di tempat. Sayang? Wanita itu benar-benar ingin membuatnya gila.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂