Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Pagi itu aku bangun sebelum adzan Subuh berkumandang.
Kamar kontrakan masih gelap.
Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan menemani sunyi.
Aku duduk sebentar di tepi kasur tipis, menarik napas panjang.
Hari ini aku harus lebIh kuat dari kemarin.
Aku mengambil wudhu dengan air yang terasa dingin menyentuh kulit.
Lalu berdiri menghadap kiblat.
Dalam sujudku, aku berdoa lebih lama dari biasanya.
“Ya Allah… kuatkan aku. Jaga ibu di rumah. Jaga Alfa.
Jangan biarkan aku pulang dengan kegagalan.”
Air mataku menetes tanpa suara.
Di kota sebesar ini,
aku tidak punya siapa-siapa selain doa.
Setelah sholat, aku melipat mukena dengan rapi.
Langit di luar mulai berwarna biru pucat.
Dari dapur kecil, aroma nasi goreng tercium hangat.
Kak Rita sudah bangun lebih dulu.
“Kamu nggak tidur lagi?” tanyanya sambil mengaduk wajan.
“Sudah cukup, Kak.”
Ia menatapku sekilas.
“Kamu makin kurus.”
Aku tersenyum kecil.
“Kerja bikin cepat dewasa, Kak.”
Ia terkekeh pelan.
Di meja kecil, ia sudah menyiapkan sarapan sederhana:
nasi goreng, telur mata sapi, dan segelas teh hangat.
Aku makan perlahan.
Makanan hangat di pagi buta selalu terasa seperti pelukan.
“Kamu hati-hati ya di pabrik,” kata Kak Rita tiba-tiba.
Aku terdiam sebentar.
Ia pasti sudah mendengar soal kejadian kemarin.
“Aku nggak akan cari masalah, Kak.”
“Masalah kadang datang sendiri,” jawabnya pelan.
Aku hanya mengangguk.
Kak Rita berangkat lebih dulu bersama suaminya.
Jam kerja mereka lebih pagi dariku.
Aku berdiri di depan pintu, melihat mereka naik motor dan menghilang di tikungan jalan sempit.
Kini tinggal aku sendiri lagi.
Kamar terasa sunyi.
Aku meraih tas kecilku, memastikan kartu karyawan sudah tergantung di leher.
Sebelum keluar, aku menatap bayanganku di cermin.
Wajahku masih muda.
Tapi mataku… terasa lebih tua dari usiaku.
“Aku harus kuat,” bisikku pada diri sendiri.
Udara pagi di jalanan kota terasa dingin.
Kabut tipis masih menggantung di antara gedung-gedung.
Aku berjalan menuju halte dengan langkah pasti.
Di pabrik, mesin-mesin sudah mulai berdengung saat aku tiba.
Beberapa pekerja menatapku sekilas.
Ada yang biasa saja.
Ada yang berbisik pelan.
Kabar soal CCTV kemarin pasti sudah menyebar.
Aku menarik napas dalam.
Hari ini aku tidak akan goyah.
Saat melewati meja kerja, Lani berdiri tak jauh dariku.
Tatapannya dingin.
“Kamu hebat ya. Berani minta CCTV,” katanya lirih namun tajam.
Aku menatapnya tenang.
“Aku cuma nggak mau dituduh.”
Ia tersenyum miring.
“Kita lihat saja berapa lama kamu bisa bertahan.”
Kalimat itu seperti ancaman halus.
Tapi aku tidak menunduk.
Karena setiap pagi, sebelum langkahku sampai di sini,
aku sudah menyerahkan rasa takutku dalam sujud.
Dan perempuan yang sudah berdoa dengan air mata…
tidak mudah dihancurkan.
Aku duduk di meja perakitan.
Mesin mulai bergerak.
Lampu-lampu putih menyala terang.
Tanganku kembali bekerja.
Satu lampu.
Dua lampu.
Sepuluh lampu.
Di antara suara mesin dan cahaya yang menyilaukan,
aku tahu satu hal—
Perjuanganku belum selesa.
Dan hari ini.
mungkin ujian yang lebih besar sedang menunggu.
...****************...
Malam akhirnya datang.
Lampu-lampu jalan menyala redup di gang sempit tempat kontrakan Kak Rita berada.
Aku berjalan pelan, tubuh terasa remuk setelah seharian berdiri.
Langkahku berat.
Tapi setidaknya hari ini aku pulang tanpa surat peringatan.
Aku membuka pintu kontrakan perlahan.
Ruangan kecil itu terasa hangat dan sunyi.
Belum sempat aku melepas sepatu,
ponsel lamaku tiba-tiba bergetar di dalam tas.
Namanya tertera di layar.
Ibu.
Dadaku langsung menghangat.
Rasa lelah seolah hilang sekejap.
Aku cepat mengangkatnya.
“Assalamualaikum, Bu…”
“Waalaikumsalam, Kak… ini aku, Alfa.”
Suaranya bukan suara ibu.
Dan suaranya… gemetar.
“Alfa? Kenapa? Ibu mana?”
Di seberang sana terdengar napas terengah.
“Kak… ibu bertengkar sama Kak Rini. Kak Rini dorong ibu ke dinding. Sekarang ibu lagi aku bawa ke bidan…”
Dunia seperti berhenti.
Tanganku tiba-tiba dingin.
“Apa? Kenapa bisa? Ibu kenapa? Luka di mana?”
“Tadi kepala ibu kebentur tembok… ibu pusing, Kak…”
Suara Alfa pecah.
“Tolong beritahu yang lain ya, Kak…”
Telepon terputus.
Ruangan mendadak terasa sesak.
Kakiku lemas.
Aku terduduk di lantai.
Kepalaku berputar.
Kak Rini.
Nama itu seperti bara yang dilempar ke dadaku.
Selama ini ia memang sering bersuara keras.
Sering merasa paling benar.
Tapi mendorong ibu?
Sampai jatuh?
Aku menggenggam ponsel kuat-kuat.
Tanganku gemetar.
“Ibu…”
Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.
Di kota ini aku berdiri sendiri.
Dan di kampung sana… ibu terluka.
Aku merasa gagal.
Aku pergi untuk melindungi mereka.
Tapi justru saat aku jauh, ibu disakiti.
Pintu kontrakan terbuka.
Kak Rita masuk dan langsung berhenti melihatku terduduk di lantai.
“Senja? Kenapa?”
Aku menatapnya dengan mata basah.
“Ibu… didorong Kak Rini. Sekarang di bidan.”
Wajah Kak Rita berubah tegang.
“Ya Allah…”
Ia langsung duduk di sampingku.
“Kamu sudah telepon lagi?”
Aku menggeleng.
Tanganku terlalu gemetar untuk menekan nomor.
Kak Rita mengambil ponselku dan mencoba menghubungi kembali.
Beberapa kali tidak terangkat.
Setiap nada sambung terasa seperti jarum menusuk jantungku.
Akhirnya tersambung.
Suara bidan terdengar di seberang.
“Tidak apa-apa, hanya benturan ringan. Tapi harus istirahat. Jangan banyak pikiran.”
Benturan ringan.
Kalimat itu seharusnya menenangkan.
Tapi hatiku tetap tidak tenang.
Karena yang lebih sakit bukan benturannya.
Melainkan kenyataan bahwa ibu disakiti oleh darah dagingnya sendiri.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku duduk di dekat jendela kecil kontrakan.
Lampu jalan di gang berkedip pelan.
Kota tetap bising di kejauhan.
Seolah tidak peduli dengan hatiku yang runtuh.
Kenapa setiap kali aku mencoba bangkit,
selalu ada ujian yang lebih berat?
Aku memeluk lututku sendiri.
Aku ingin pulang.
Ingin memeluk ibu.
Ingin berdiri di depan Kak Rini dan bertanya—
“Kenapa?”
Tapi aku tahu.
Jika aku pulang sekarang,
aku mungkin tidak bisa kembali lagi ke kota.
Dan semua perjuanganku akan sia-sia.
Air mata kembali jatuh.
Namun kali ini, aku tidak menangis lama.
Aku berdiri.
Mengusap wajahku.
Tidak.
Aku tidak boleh lemah.
Jika aku ingin melindungi ibu,
aku harus lebih kuat dari semua ini.
Lebih kuat dari jarak.
Lebih kuat dari konflik keluarga.
Lebih kuat dari dunia.
Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Alfa:
Jaga ibu. Jangan tinggalkan ibu sendirian. Kakak akan kirim uang besok. Apa pun yang terjadi, kamu tetap tenang.
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Iya, Kak. Aku tunggu kakak sukses.
Dadaku terasa sesak sekaligus hangat.
Di kamar sempit ini,
aku sadar satu hal—
Perjuanganku bukan hanya melawan dunia luar.
Tapi juga luka di dalam rumah sendiri.
Dan mulai malam ini…
aku tidak hanya bekerja untuk mimpi.
Aku bekerja untuk melindungi.
Namaku Senja.
Dan jika ada yang berani menyakiti ibuku lagi—
aku tidak akan tinggal diam.