"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Karyawan satu persatu berpamitan pada Aya yang masih di depan komputernya yang menyala.
Mila keluar dari ruangan menatap Aya yang masih bekerja.
"Aya, sudah jam lima. Sekarang waktunya pulang, tidak ada uang lembur di sini."
"Ah, baik Bu Mila. Segera saya matikan komputernya."
Mila mengangguk kecil lalu berjalan keluar ruangan.
Feni yang masih beberes meja menatap Aya yang masih menyimpan draft yang ia kerjakan hari ini.
"Ya, pulang sama siapa? Mau ku antar?" tawarnya.
"Oh, nggak perlu fen terima kasih, aku dijemput."
Tiba-tiba..
CEKLEK
Bayu membuka pintu dan langsung masuk ke ruangan bidang keuangan. Matanya mengedar pandangan lalu berhenti melihat Aya yang masih duduk di kursi kerjanya dengan tatapan bingung ke arahnya.
Feni ikut terkejut. "Ya, aku duluan ya, " pamitnya berbisik dan buru-buru keluar.
"Permisi, Pak. Saya duluan, " ujarnya sambil mengangguk. Langkahnya makin cepat saat melintas di depan Bayu.
Bayu melihat sudah tak ada orang di ruangan itu. Hanya Aya sendiri.
Bayu menghampiri Aya sambil tersenyum tipis.
"Aya, Rama minta aku antar kamu ke rumah sakit. Om dan Tante mau bertemu denganmu. Dia masih mengurus sesuatu di kantor. Nanti dia menyusul. "
"Baik, Pak, " jawab Aya spontan sambil mengangguk.
"Pffft.. kalau nggak ada orang panggil aja Bang Bayu atau mas Bayu juga boleh. Jangan panggil Pak, " tegurnya.
"Masih penyesuaian, Bang eh...Mas aja deh."
Bayu tersenyum lagi, ia maklum Aya masih canggung karena ini baru pertemuan kedua mereka setelah acara akad dadakannya waktu lalu.
Mereka berjalanan beriringan ke lokasi parkir yang tersisa beberapa kendaraan.
Ada beberapa karyawan yang melihat Aya naik ke mobil Bayu, dan pasti saja itu menjadi pertanyaan besar untuk mereka. Terlebih lagi mereka bukan karyawan bidang keuangan tempat Aya bekerja.
"Perempuan yang sama pak Bayu tadi, karyawan mutasi itu? "
"Kayaknya iya. Mungkin baru senin besok di kenalin pas jadwal IHT."
"Kok kayaknya bukan karyawan biasa ya? "
"Biasalah, namanya juga perusahaan keluarga. Suka-suka mereka siapa yang kerja disini. Kita ikut aja, nggak usah banyak protes. Yang daftar kerja disini banyak."
Mereka yang masih nongkrong sambil ngepul asap rokok itu akhirnya sadar, situasi aneh akan jadi biasa kalau berurusan dengan perusahaan keluarga.
Namun.. tak sedikit juga yang berusaha menyuarakan ketidaksukaannya meski dengan cara yang berbeda. Obrolan hangat selalu ada di setiap grup chat whatsapp bayangan. Bahkan sampai grup chat lintas bidang. Kejadian di lokasi parkir tadi tentu tak luput dari pembahasan.
***
"Gimana Ya, Rama baik kan sikapnya sama kamu? " tanya Bayu memecah keheningan diantara mereka.
"Baik, Mas. Kenapa kok tanya begitu? "
"Hehe, nggak apa-apa. Rama itu diantara sepupu sifatnya paling keras, tapi orangnya sangat perhatian. Dia juga punya kemauan keras, makanya hubungannya sempat kurang baik dengan om dan tante."
"Ooh, Aya baru tahu soal itu. Selama ini sih, justru Aya yang keras sama dia, " ujar Aya terkekeh.
Alis Bayu mendadak meninggi.
"Oh ya?? " tanyanya tak percaya.
Aya mengangguk kecil.
"Mungkin... karena dia takut Aya kabur lagi. Aya kan memang cuma pelariannya, Mas. Atau bisa di bilang tamengnya dari rusuhan orang tua. "
Ada senyuman getir saat Aya mengatakan itu. Bayu mengangguk mengerti.
"Banyak hal yang buat dia terikat hati dengan wanita itu, Ya. Makanya, mereka sulit saling melepaskan. "
"Apa Aya boleh tahu, Mas? " mintanya.
"Yang paling Aku tahu sih, saat dia masih kuliah di Purnawarman. Saat itu awal mereka ketemu. Angkatan mereka selisih 2 tahun, Rama senior. Wanita itu perantau, dengan kondisi ekonomi kurang baik. Bisa di bilang ayam kampus."
Aya terkejut. Sebutan itu selalu ada di setiap kampus.
"Tapi, Rama nggak percaya soal ini sejak dulu. Dia melihat wanita itu tulus sama Rama. Mungkin, Rama terlalu cinta mati sama dia. Wanita itu sempat menyelamatkan Rama dari kejaran preman kampus. Cuma gara-gara salah paham, Rama hampir di keroyok genk preman kampus. Wanita itu masih punya hubungan kerabat sama ketua Genknya. Jadinya dia penjamin buat Rama. "
Aya mengangguk, ia jadi paham kenapa Rama selalu tak bisa menolak kalau sudah di panggil wanita itu.
"Belakangan, banyak rumor nggak bagus soal wanita itu. Om juga sudah konfirm itu bukan rumor tapi real. Rama masih tutup telinga, makanya Om gerak cepat menjodohkan Rama sama kamu."
Aya menghela nafas. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Rama yang benar-benar menjengkelkan baginya.
"Nggak disangka, kalian malah menikah lebih cepat dari dugaan kami."
"Aku terpaksa, Mas. Aku paling nggak bisa kalau sudah berkaitan dengan orang tua. Awalnya aku juga mau menolak dengan tawaran itu, tapi situasi tante Harum saat itu akhirnya membuatku mengambil keputusan yang ku sesali sekarang."
Aya menyandarkan tubuhnya.
"Aku pikir..aku punya peluang untuk membuat bang Rama memilih aku saja. Tapi.. mendengar cerita Mas Bayu. Aku baru sadar, aku terlalu naif."
Senyuman getir itu terulas lagi di pipinya.
"Jadi bagaimana selanjutnya? "
Aya mengendikkan bahu.
"Aku sudah berusaha keras, tapi kalau akhirnya memang takdirku hanya jadi istri formalitasnya di depan umum, aku hanya bisa menerimanya."
"Bahkan kalau akhirnya dia memutuskan cerai setelah resepsi ini, aku cuma bisa pasrah. Berharap ada kompensasi sepadan dengan itu. Terutama nama baik keluargaku."
Bayu menatap nanar pada Aya. Ada rasa iba menelusup hatinya, tapi ia juga tak banyak bisa berbuat.
"Udah, ah. Mending obrolin Mas Bayu. Aku belum kenal banget, kita cuma ketemu pas di akad hari itu kan? "
Bayu mengangguk lalu menceritakan profilnya dan istri yang baru ia nikahi enam bulan lebih awal dari pernikahan Aya dan Rama. Ia cukup antusias saat menceritakan kehamilan istrinya yang menginjak usia tujuh bulan.
***
Rama melajukan mobilnya ke rumah sakit setelah urusan pekerjaannya selesai.
Suara pesan masuk ke ponselnya. Ada kiriman foto dari nomer tak dikenal. Foto yang membuat Rama mencengkram keras stir di depannya. Ia menutup aplikasi pesan itu menginjak pedal gas lebih dalam.
Sepuluh menit kemudian dia sampai di parkiran rumah sakit tepat jam enam sore. Kakinya bergegas melangkah ke ruang inap tempat kedua orang tuanya di rawat.
TOKTOKTOK
CEKLEK
Mereka bertiga spontan menoleh ke arah pintu. Rama tersenyum hambar menghampiri mereka. Foto yang baru ia lihat beberapa menit lalu cukup membuat hatinya kesal sampai tak bisa mengendalikan ekspresinya saat ini.
Aya tengah mengupas apel untuk kedua mertuanya.
"Bayu mana? " tanyanya memecah kecanggungan.
"Langsung pulang, tadi cuma turunin Aya depan rumah sakit, " jelas Aya tak menatap Rama. Ia masih fokus mengupas kulit apel di tangannya.
"Undangan sudah di sebar, Ram? " tanya Jaka sambil menikmati potongan apel.
"Sudah, Pa. Tinggal untuk karyawan kantor pusat sama kantor Aya. Dekat-dekat aja supaya nggak ganggu kerjanya Aya."
"Papa, Mama kapan bisa pulang kata dokter."
"Papa sudah minta besok tapi diminta tunggu sampai hari senin. Harus ketemu dokter orthopedi dulu lagi keluar kota. Senin baru kembali. Mama juga tapi sebenarnya, Mama masih lama harusnya disini. Apa mama lihat dari rekaman streaming aja gimana? "
Harum mendadak cemberut mendengar usulan suaminya. Rama dan Aya tertawa geli melihat Jaka berusaha menenangkan Harum bahwa itu hanya candaan.
"Adikmu sudah di rumah. Siang tadi dari bandara langsung ke sini. Kelihatannya di kecapean makanya mama suruh dia ke rumah, " ujar Harum setelah merasa lebih baik.
"Oh, oke, " jawab
"Adik? " tanya Aya bingung menatap Harum.
"Loh, Rama nggak cerita adiknya pulang dari luar negri? " tanya Harum.
Aya menggeleng.
Jaka dan Harum kompak menatap kesal pada Rama.
"Maaf, lupa Ma, " jawab Rama sambil menggosok tengkuknya.
Setelah sholat berjamaah di rumah sakit, Aya dan Rama pamit pulang.
"Besok ke sini lagi ya, Sayang. Mama kesepian."
"Lah, terus Papa apa dong? patung? " seloroh Jaka masih menggoda.
"Papa tu kerjaannya bikin Mama kesel terus. Mama mau ngobrol banyak sama mantu."
Rama dan Aya tersenyum, " In syaa Allah, Ma. Nanti Aya ke sini lagi."
Mereka saling bersalaman bergantian. Keduanya lalu keluar ruangan menuju parkiran.
Suasana di dalam masih terasa canggung, padahal pagi tadi mereka bersemangat seperti biasa.
Hari yang mereka lalui cukup membuat mood mereka masing-masing berubah dengan cepat.
Rama menarik nafas panjang mengendalikan emosinya.
"Bagaimana tadi, semua lancar? " tanya Rama akhirnya.
Aya mengangguk, "Lancar."
"Apa Bayu mengganggumu? " tanyanya lagi penasaran.
"Nggak, semua masih terlihat wajar. Aku baru ingat kalau dia sepupumu saat perkenalan tadi. Kenapa dia terlihat lebih tampan tadi daripada pertemuan pertama saat akad waktu itu?"
Rama spontan menoleh ke arah Aya saat mendengar kata Tampan keluar dari mulutnya.
"Aya," panggil Rama seolah tak Terima Aya memuji Bayu di depannya.
"Hmm? "
"Bayu sudah menikah, istrinya hamil sekarang. "
Aya bingung dengan pernyataan itu.
"Aku tahu, dia sudah cerita, " jawab Aya santai.
"Terus, kenapa santai banget muji dia tampan didepanku? "
"Emang tampanan dia dari abang. Kenapa sewot? "
Rama mendengus, ia merasa menyesal sudah bertanya soal Bayu pada Aya.
"Cumi muji aja abang.. bukan berarti aku niat jadi pelakor, " sambung Aya.
Rama tak menggubris, hatinya terlanjur kesal. Tapi dia baru sadar, ada nada sarkas dari penjelasan itu.
"Eh, ngomong-ngomong kenapa abang tak cerita kalau punya adik? Laki-laki atau perempuan? di luar negeri ngapain? "
Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat Rama kesal sampai ke ubun-ubun. Ingin sekali dia lompat dari mobil menghindar dari pertanyaan yang membuatnya makin cemburu.