NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Hal-Hal yang Tidak Pernah Diucapkan

(POV: Alice)

Aku tidak lagi melihat Norden sebagai tempat perlindungan.

Dan itu membuat segalanya berbeda.

Aku menyewa kamar kecil dengan jendela menghadap laut. Tidak istimewa. Tapi aku bisa membuka jendela tanpa rasa takut. Aku bisa pulang malam tanpa menjelaskan ke mana aku pergi.

Hari-hariku di galeri berjalan pelan. Aku belajar mengenal orang-orang tanpa memperkenalkan masa laluku. Dan tidak seorang pun menanyakannya.

Noah dan aku tidak langsung menjadi apa pun.

Kami bertemu di sela waktu. Kopi pagi.

Percakapan pendek. Kadang diam.

Aku menghargai itu.

Suatu sore, aku berdiri di depan bengkel, menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya. Aku memperhatikan caranya bekerja—fokus, tenang, dan tidak lagi seperti seseorang yang ingin melarikan diri dari hidupnya sendiri.

“Kau terlihat betah,” kataku.

Dia mengangkat bahu. “Aku berhenti bertanya apakah aku seharusnya berada di tempat lain.”

Aku tersenyum. “Aku juga.”

Kami duduk di tangga bengkel saat matahari terbenam.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku suatu hari pergi lagi?” tanyaku.

Dia berpikir sejenak.

“Aku akan tetap di sini,” jawabnya. “Dan itu tidak apa-apa.”

Jawaban itu tidak menyakitkan.

Justru membuat dadaku terasa ringan.

(POV: Noah)

Musim berubah tanpa drama.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa tertinggal.

Alice pindah ke kamarnya yang kecil. Galeri membuka cabang. Kota menerima perubahan itu tanpa perayaan.

Kami belajar ritme baru—bukan sebagai dua orang yang saling membutuhkan, tapi dua orang yang memilih untuk berbagi waktu.

Suatu malam, kami berjalan ke bukit tempat villa dulu berdiri.

Rumah kayu baru berdiri di sana sekarang.

Lampunya menyala hangat.

“Kau tidak menyesal menjualnya?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Tempat itu sudah menyelesaikan tugasnya.”

Dia tersenyum.

Angin berembus. Tidak ada salju.

“Kau tahu,” katanya pelan, “aku dulu berpikir berhenti berarti kalah.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku tahu,” katanya, menatap kota di bawah, “berhenti adalah bagian dari bergerak maju.”

Aku menatapnya lama.

“Alice.”

Dia menoleh.

“Aku tidak menjanjikan apa pun,” kataku.

Dia mengangguk. “Aku juga tidak.”

Kami berdiri berdampingan, bahu hampir bersentuhan.

Dan untuk pertama kalinya, jarak itu tidak terasa seperti kekurangan.

(POV: Alice)

Aku tinggal.

Tidak karena cinta.

Tidak karena pelarian.

Tapi karena aku bisa.

Dan itu mengubah segalanya.

Noah dan aku tidak memiliki definisi yang rapi.

Kami tidak membutuhkannya. Yang kami miliki adalah kejujuran yang tidak tergesa, dan pilihan yang diperbarui setiap hari.

Suatu pagi, aku membuka jendela dan melihat salju turun tipis.

Bukan badai.

Hanya serpihan kecil yang segera mencair saat menyentuh tanah.

Aku tersenyum.

Di tempat ini, salju tahu kapan harus berhenti.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—

aku juga tahu.

(POV: Alice)

Keputusan untuk kembali ke Norden tidak pernah datang dalam satu malam.

Ia terbentuk dari hal-hal kecil yang menumpuk—

kesunyian kamar hotel, galeri yang terlalu terang, percakapan yang selesai sebelum benar-benar dimulai.

Dan satu nama yang terus muncul tanpa diundang.

Noah.

Aku membaca ulang pesan terakhir darinya. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada desakan.

Jalanan di utara mulai licin. Kalau kau masih di sini, hati-hati.

Pesan yang tidak meminta balasan.

Itulah yang membuatnya sulit dilupakan.

Aku menutup ponsel dan menatap jendela. Kota ini—ibu kota—terlalu penuh. Terlalu cepat. Semua orang selalu tahu ke mana mereka pergi, atau setidaknya berpura-pura tahu.

Aku lelah berpura-pura.

Aku menelepon galeri dan meminta cuti panjang. Tidak menjelaskan ke mana aku akan pergi. Aku sendiri belum tahu pasti.

Tapi aku tahu ke mana aku akan kembali.

Perjalanan ke Norden terasa lebih panjang daripada sebelumnya.

Bukan karena jarak.

Karena kesadaran bahwa aku tidak lagi datang sebagai pelarian.

Aku datang membawa pilihan.

Ketika kereta berhenti, aku tidak langsung turun. Aku duduk sejenak, mengatur napas, dan bertanya pada diri sendiri satu hal:

Jika aku bertemu dia lagi, apa yang sebenarnya kuharapkan?

Jawabannya tidak jelas.

Dan itu cukup jujur.

(POV: Noah)

Aku tahu Alice akan kembali sebelum ia mengatakannya.

Ada perubahan kecil dalam caraku bangun pagi.

Dalam caraku membersihkan bengkel. Dalam caraku menatap jalanan seolah menunggu sesuatu yang tidak dijanjikan.

Aku tidak menyebutkan namanya pada siapa pun.

Tapi Norden tahu.

Kota kecil seperti ini selalu tahu.

Suatu sore, saat aku hampir menutup bengkel, aku melihat sosok berdiri di seberang jalan. Mantel gelap. Rambut terikat sederhana.

Alice.

Ia tidak melambaikan tangan.

Ia menunggu.

Aku mengelap tangan dengan kain, menutup pintu bengkel, dan berjalan mendekat.

“Kau kembali,” kataku.

“Ya.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada senyum lebar.

Hanya dua orang yang saling mengakui keberadaan satu sama lain.

“Kau akan tinggal berapa lama?” tanyaku.

“Aku belum tahu.”

Jawaban itu berbeda dari sebelumnya.

Dan aku mendengarnya.

(POV: Alice)

Kami tidak langsung kembali ke villa.

Itu keputusanku.

“Aku ingin berjalan dulu,” kataku.

Kami menyusuri jalan kecil menuju laut. Angin dingin menyentuh wajahku, tapi tidak menusuk.

Norden menyambut tanpa bertanya.

“Kau terlihat berbeda,” kata Noah.

“Kau juga.”

Dia tersenyum tipis. “Aku berhenti menunggu.”

Kalimat itu tidak menyakitkan.

Justru membuatku ingin menangis.

Kami duduk di bangku kayu dekat dermaga. Aku merapatkan mantel, bukan karena dingin, tapi karena gugup.

“Aku pergi waktu itu tanpa menjelaskan,” kataku akhirnya. “Dan itu salah.”

Noah tidak langsung menjawab.

“Aku tidak marah,” katanya kemudian. “Aku hanya tidak tahu apakah aku perlu menunggumu.”

Aku mengangguk. “Aku tidak datang untuk meminta itu.”

Kami diam cukup lama.

“Aku hanya ingin jujur sekarang,” lanjutku. “Aku tidak ingin kau menjadi tempatku bersembunyi.”

Ia menoleh padaku. “Dan aku tidak ingin kau menjadi satu-satunya alasanku bertahan.”

Kami saling menatap.

Kejujuran itu tidak romantis.

Tapi terasa aman.

(POV: Noah)

Malam itu, Alice tidak langsung tinggal di villa.

Ia memilih penginapan kecil dekat stasiun.

Keputusan kecil.

Tapi penting.

Kami berpisah di depan bangunan kayu tua.

Lampu kuning redup menerangi wajahnya.

“Aku akan menghubungimu,” katanya.

“Aku di sini,” jawabku.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Saat aku berjalan pulang, aku sadar sesuatu: aku tidak merasa kehilangan saat ia masuk ke penginapan itu.

Aku merasa… tenang.

Seolah apa pun yang terjadi selanjutnya akan terjadi karena pilihan, bukan kebutuhan.

(POV: Alice)

Di kamar kecil itu, aku duduk di tepi ranjang dan akhirnya menangis.

Bukan karena sedih.

Karena lega.

Aku tidak berjanji apa pun pada Noah.

Dan ia tidak menuntut apa pun dariku.

Untuk pertama kalinya, kemungkinan terasa seperti ruang terbuka, bukan tekanan.

Aku membuka jendela. Udara dingin masuk perlahan.

Di kejauhan, aku bisa melihat cahaya dari bengkel Noah.

Dan aku tahu—apa pun yang akan kami bangun setelah ini, akan berdiri di atas kejujuran yang tidak lagi takut kehilangan.

(POV: Noah)

Keesokan paginya, salju turun tipis.

Tidak cukup untuk menutupi jalan.

Hanya cukup untuk mengingatkan bahwa musim dingin belum sepenuhnya pergi.

Dan mungkin, tidak perlu.

Karena ada hal-hal yang tidak perlu diakhiri agar bisa berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!