NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Wakasa masih berdiri santai di dekat meja, sementara suasana mulai tenang kembali.

Diana menyipitkan mata, lalu tersenyum penuh arti.

“Menarik ya,” katanya pelan sambil menyandarkan siku ke meja,

“yang satu dari tadi gelisah gak bisa diem…”

Diana melirik Starla.

“…yang satu lagi kelihatannya tenang, tapi senyumnya itu loh—lega banget.”

Sekarang giliran Sakura yang dilirik.

Starla langsung tersentak.

“…Eh?!”

Sakura sedikit terkejut, tapi cepat menunduk, senyumnya tipis.

“…Diana…”

Diana terkekeh kecil.

“Tenang, tenang. Aku cuma bilang apa yang aku lihat.”

Starla menunduk, pipinya memerah.

“A-aku cuma khawatir… wajar kan…”

Sakura mengangguk pelan, suaranya lembut.

“…Iya. Kita semua khawatir.”

Diana menatap mereka berdua bergantian, senyumnya makin lebar.

“Hmm~ iya, iya. Khawatirnya beda-beda aja caranya.”

Wakasa menggaruk belakang kepalanya, tertawa kecil.

“Hei, jangan pada digodain gitu dong.”

Diana mengangkat bahu santai.

“Lah, aku cuma jujur.”

Starla melirik Wakasa sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Sakura tetap diam, tapi jarinya sedikit mengencang di atas meja—

lega… tapi juga menyimpan sesuatu yang tak terucap.

Diana menyandarkan punggung ke kursi, menutup situasi dengan nada ringan.

“Yang penting sekarang orangnya udah balik. Itu aja dulu.”

Suasana kembali tenang,

tapi rasa hangat dan canggung kecil masih menggantung di meja itu.

Diana meluruskan duduknya, ekspresinya sedikit berubah jadi lebih serius.

“Ngomong-ngomong,” katanya sambil menatap Wakasa,

“yang anggota kerajaan tadi… gimana keadaannya?”

Starla dan Sakura ikut menoleh ke arah Wakasa.

Suasana meja itu kembali hening, menunggu jawabannya.

Wakasa mengangguk pelan.

“Tenang saja. Mereka baik-baik saja.”

Ia menyelipkan tangannya ke saku, nada suaranya tetap santai.

“Sekarang mereka sudah berada di istana.”

Starla menghela napas lega.

“…Syukurlah.”

Sakura ikut tersenyum kecil.

“…Kalau begitu… syukurlah.”

Diana menyandarkan punggung ke kursi, ekspresinya kembali ringan.

“Baguslah , sekarang mereka baik baik aja.”

Wakasa tersenyum tipis.

“Iya , mereka tinggal memulihkan diri aja.”

Ketegangan yang sempat tersisa akhirnya benar-benar mereda.

Di meja itu, rasa lega terasa nyata—

meski mereka semua tahu, hari ini belum tentu benar-benar selesai.

--Adegan bergeser ke Fannisa dan Silka--

Malam mulai turun di kamar mereka.

Cahaya lampu kristal menerangi ruangan dengan lembut, jauh berbeda dari panas dan bau racun yang masih terbayang di kepala mereka.

Fannisa duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang.

“…Kita… selamat,” gumamnya pelan.

Silka duduk tak jauh darinya, menunduk, kedua tangannya saling menggenggam.

“…Iya… tapi…”

Kata-katanya terhenti.

Mereka sama-sama tahu.

Sembilan belas prajurit kerajaan yang ikut bersama mereka…

tak satu pun kembali.

Fannisa menutup matanya sesaat.

“…Mereka bertahan sampai akhir…”

Silka mengangguk pelan, suaranya bergetar.

“…emm…”

Beberapa saat berlalu dalam diam.

Silka akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Fannisa dengan rasa penasaran yang jelas.

“Fannisa… Wakasa itu…”

“…kalian kenal dari mana,?”

Fannisa sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil.

“…Ah… itu cerita lama.”

Ia bersandar ke sandaran ranjang.

“Aku kenal dia pertama kali di kantor petualang.”

Silka memiringkan kepala.

“Di sana?”

“Iya,” jawab Fannisa.

“Waktu itu dia datang mau menjual monster yang baru saja dia kalahkan.”

Silka mengangkat alis.

“Terus?”

“Masalahnya,” Fannisa terkekeh kecil,

“dia gak punya uang buat daftar menjadi petualangan. Padahal tanpa itu, monster itu gak bisa dijual.”

Silka menatapnya heran.

“Terus kau bantu dia?”

Fannisa mengangguk.

“Aku memberinya uang agak ia bisa menjual monster itu.”

Silka terdiam sebentar, lalu bertanya lagi, nadanya penasaran.

“Monster apa memangnya… yang dia kalahkan waktu itu?”

Fannisa menjawab tanpa ragu.

“…SEMILSNAKE.”

Silka langsung membeku.

“…Apa?”

Matanya melebar, napasnya tercekat.

“Itu… monster itu… setara kuatnya dengan yang barusan kita lawan…”

Fannisa menatap langit-langit kamar, suaranya pelan tapi yakin.

“…Iya.”

Keheningan kembali menyelimuti kamar mereka.

Bukan karena lelah…

melainkan karena kesadaran betapa luar biasanya orang yang tadi menyelamatkan mereka.

Silka terdiam cukup lama setelah mendengar nama itu.

Tangannya yang tadi menggenggam seprai kini melemas perlahan.

“…SEMILSNAKE…” ulangnya pelan, seperti memastikan itu nyata.

Ia menunduk, lalu tersenyum kecil—bukan senyum lega, tapi senyum yang bercampur kagum dan heran.

“Kalau dia bisa ngalahin monster kayak itu sendirian…”

Silka mengangkat wajahnya, menatap Fannisa.

“…berarti sejak awal, dia bukan petualang biasa.”

Fannisa mengangguk pelan.

“Aku juga mikir begitu waktu itu.”

Silka menyandarkan punggung ke dinding, menarik napas panjang.

“Dan hari ini…”

“…dia datang untuk menyelamatkan kita dan mengalahkan monster itu yang bahkan kerajaan aja kewalahan.”

Ia mengingat kembali sosok Wakasa yang muncul di hadapan mereka—tenang, tanpa ragu, seolah semua itu hal biasa.

“…Dia gak cuma kuat,” lanjut Silka lirih.

Fannisa tersenyum tipis.

“…Iya. Dan dia gak pernah pamer.”

Silka menatap langit-langit kamar.

“Orang kayak gitu…”

“…biasanya paling berbahaya.”

Fannisa terkekeh kecil.

“Atau paling bisa diandalkan.”

Silka terdiam lagi, lalu mengangguk pelan.

“…Kalau bukan karena dia…”

Kalimatnya tak dilanjutkan.

Di kamar yang sunyi itu, penilaian Silka tentang Wakasa berubah sepenuhnya—

dari orang asing yang tiba-tiba muncul,

menjadi sosok yang diam-diam meninggalkan jejak besar di hatinya.

Hari telah berganti.

Pagi yang tenang menyelimuti penginapan. Cahaya matahari masuk lewat jendela kamar Wakasa, jatuh tepat di atas meja kecil tempat ia berdiri.

Wakasa menghela napas pelan, lalu memanggil status miliknya.

Matanya menyapu satu per satu.

Skill Poison Immunity —

sempurna.

Bukan cuma itu.

Hampir semua skill yang ia miliki sudah mencapai tahap maksimal.

“…Lumayan,” gumamnya pelan.

Namun tiba-tiba, ada satu bagian baru yang membuat alisnya terangkat.

New Skill Unlocked

Mass Summon (Beast)

→ Memanggil sejumlah besar hewan tanpa perlu kontrak.

Wakasa menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“…Oh, jadi ini efek sampingnya.”

Ia menarik napas kecil, matanya kembali menyapu daftar skill.

Beast Tamer

— kurang 20 poin lagi untuk sempurna.

“Hanya skill ini yang belum sempurna,” gumamnya sambil menutup status,

Wakasa merapikan pakaiannya, lalu keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju lantai bawah.

Aroma makanan hangat langsung menyambutnya.

Di dapur kecil penginapan, Bu Russi sudah sibuk menyiapkan sarapan.

“Oh, Wakasa,” katanya sambil tersenyum ramah.

“Selamat pagi.”

Wakasa membalas dengan senyum sopan.

“Selamat pagi juga, Bu Russi.”

Bu Russi menoleh sebentar dari kompor.

“Mau sarapan?”

Wakasa sedikit terkejut, lalu tertawa kecil.

“Benarkah? Tentu aku mau.”

Tak lama kemudian, ia sudah duduk dan makan dengan lahap.

Sarapan sederhana, tapi hangat—cukup untuk mengisi tenaga setelah hari kemarin yang panjang.

Setelah selesai, Wakasa berdiri dan merapikan kursinya.

“Kalau begitu, aku pamit dulu.”

Bu Russi mengangguk.

“Hati-hati di jalan.”

Wakasa tersenyum.

“Tentu.”

Ia melangkah keluar penginapan, pagi yang baru menunggunya—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!